Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Kenapa Harus Pulang


__ADS_3

Yakub dan Sarah kompak menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan Revalina dengan ekspresi wajah yang begitu meyakinkan, terlebih Sarah.


"Aaaaa, aku jadi takut. Kita pindah rumah saja. Aku nggak mau tinggal sama hantu," rengek Revalina ketakutan.


"Tenang Reva, hantu itu pasti sudah pergi orang rumahnya aku obrak-abrik. Dia sudah nggak bisa duduk di atas pohon itu lagi," ucap Yakub dengan santainya.


"Pergi kemana Kak, jangan-jangan malah perginya masuk ke rumah ini," duga Revalina.


"Jangan begitu Reva, aku jadi ikutan takut," ucap Sarah dengan mata memicing, perlahan mulai mencengkeram lengan Yakub.


Revalina dan Sarah masing-masing mencengkram lengan suami, ketakutan membayangkan apa yang terjadi di film akan terjadi di rumah ini.


"Aku nggak mau tinggal sama hantu Mbak," rengek Revalina menatap Sarah yang ada di ujung sofa tengah mencengkram lengan Yakub.


"Sama, aku juga nggak mau," sahut Sarah menggeleng ketakutan.


Ditengah rasa ketakutan yang mencekam ditambah film horor yang ia tonton terus berputar, anehnya tak lama Rival tertidur dengan posisi tubuh yang makin lama makin lurus terlentang.


Melihat hal itu Revalina perlahan melepaskan cengkraman tangannya, membiarkan Rival terlelap dalam tidurnya.


"Tidur dia Rev?" tanya Sarah.


"Hussttt," desis Revalina, langsung memberi kode pada Sarah.


Ia tak ingin Rival terbangun karena suara bising antara dirinya dengan Sarah, maka dari itu desisan itu keluar sebagai kode.


"Syukurlah," ucap Sarah lirih.


'Bisa-bisanya dalam situasi begini, lagi nonton film horor pula dia malah tidur,' gerutu Revalina dalam hati.


Setelah semua melihat Rival tertidur pulas, tak lama Yakub mulai mengawali pembicaraan penting di antara mereka bertiga.


"Mumpung Rival lagi tidur, kita bahas sekarang saja," ucap Yakub sembari menatap Revalina dan juga Sarah.


Revalina mengangguk setuju tak lama di susul anggukan Sarah yang nampak ragu-ragu sembari memandangi Rival.


"Aman Mbak, dia tertidur sangat pulas," ucap Revalina berusaha menenangkan kecemasan Sarah.


Tak lama setelah merasa tenang, Sarah kembali menatap Yakub beradu pandang entah hanya saling beradu pandang atau saling berbicara melalui mata.


"Jadi, tadi gimana Rev?" tanya Yakub penasaran.


Seketika Revalina langsung tahu apa yang tengah Yakub tanyakan sekarang ini.


"Tadi itu parah Kak, belum apa-apa Dokter yang menangani Rival si Dokter Vandy itu marah sampai mengancam ku katanya mau dibawa ke jalur hukum," jawab Revalina lirih dengan kedua matanya yang mulai membesar.


"Gila, ini kau sudah tanyakan tentang kondisi Rival yang sesungguhnya?" tanya Sarah menggeleng kesal.


"Iya Mbak, sudah. Tapi dia tetap kekeh bilang kalau memang hasil fisioterapi dua hari terakhir ini Rival mengalami kemajuan pesat, katanya kalau kenyataannya di rumah masih nggak bisa jalan itu bisa saja terjadi karena Rival masih belum terlalu lancar jalannya," jawab Revalina panjang lebar.


"Dan kau percaya itu?" tanya Yakub sembari menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


Revalina langsung menggeleng, ia tetap pada pendiriannya tak mempercayai ucapan Dokter itu yang tak rasanya tak masuk akal.


"Masalahnya, Rival itu berdiri saja susah Kak. Gimana aku mau percaya," jawab Revalina beralih menatap Yakub.


"Selama dua hari terakhir ini, kamu lihat sendiri nggak moment pas dia fisioterapi ada perubahan?" tanya Yakub masih penasaran.


"Beberapa fisioterapi yang dijalani Rival akhir-akhir ini aku kan cuma bisa antar dia, habis itu aku tinggal-tinggal," jawab Revalina.


Yakub langsung menundukkan kepalanya, tangan kanannya perlahan mulai memegangi keningnya yang terlihat kencang dengan urat-urat otot yang sejak tadi meronta.


"Sekarang kalau misalnya memang ada peningkatan Rival pasti cerita ke kita, dan kalau memang benar sudah pasti Rival belajar jalan sekarang bukannya terus mengandalkan kursi rodanya," jelas Sarah pada Revalina dan Yakub.


"Nah, aku juga mikir begitu Kak. Makanya aku tadi langsung rampas obat-obat dari rumah sakit itu, aku curiga kalau ini semua trik rumah sakit untuk urusan bisnis," sahut Revalina sepakat dengan pemikiran Sarah.


Setelah mendengar ucapannya, Yakub langsung meradang. Posisi duduknya yang semula menunduk kini mendadak tegap dengan dada membusung seperti petinju yang sedang terbakar amarah oleh lawan main.


"Kalau benar begitu, kurang ajar sekali itu rumah sakit. Katanya rumah sakit terbaik tapi nggak bisa kasih bukti, cuma omong kosong," gerutu Yakub dengan nada kesal.


Sore itu perbincangan mereka berlanjut sampai ke rencana pemindahan tetapi ke rumah sakit lain, ada banyak rumah sakit rekomendasi Sarah namun belum ada satu kun yang disetujui Yakub. Agaknya Yakub trauma dengan rumah sakit sebelumnya yang memiliki rekam jejak yang sangat bagus namun tidak ketika menangani adiknya.


Semua ini butuh pertimbangan yang matang, juga keberanian untuk membujuk Rival agar mau dipindahkan ke rumah sakit lain.


Matahari mulai tenggelam, menyisakan sinar-sinar redup yang masih terlihat indah di ujung barat sana. Tak lama disusul suara adzan magrib.


"Mas, sudah magrib. Bangun," ucap Revalina sembari menggoyang-goyangkan pipi Rival.


"Emmhh," desah Rival sembari menggeliat namun hanya pada kedua tangannya saja, sedangkan kakinya tak bergerak sama sekali.


"Reva, ya ampun aku sampai ketiduran," ucap Rival cepat-cepat beranjak dengan sekuat tenaga menyeret tubuhnya untuk bisa duduk.


Dengan sigap Revalina membantu suaminya yang nampak kesulitan, kondisi Rival yang seperti bini membuat hatinya teriris bagaimana bisa orang yang sedang lemah begini dimanfaatkan oleh banyak orang.


"Jadi tadi filmnya gimana Rev?" tanya Rival sembari menarik kursi rodanya.


"Hah, em. Bagus Mas cuma masih kalah serem sama hantu belakang rumah sepertinya," jawab Revalina sedikit gelagapan.


"Hihihihi, kalau itu jelas lah orang yang asli itu yang di belakang rumah," sahut Rival sembari terkekeh.


Kini mereka bergegas masuk ke dalam kamar, mengambil wudhu dan sholat bersama. Di dalam sujudnya Revalina mengadu pada Tuhan atas kedzaliman orang-orang kepada suaminya, ia meminta petunjuk kemana harus mencari pengobatan untuk Rival ia pun juga menyelipkan doa untuk kesembuhannya.


Setelah sholat Maghrib mereka beralih ke ruang makan untuk makan malam bersama, setelah meletakkan Rival di sana duduk bersama Yakub dan Candini. Revalina langsung bergegas menuju ke dapur untuk membantu Sarah menyiapkan makan malam kali ini.


"Tumben kamu nggak bawa obat mu, sudah habis atau memang lupa nggak dibawa?" tanya Candini menatap heran.


Revalina yang mendengar pertanyaan Candini itu seketika ketakutan, degup jantung tiba-tiba mulai tak beraturan. Ia sangat takut jika Candini tahu bahwa ia lah yang merampas obat itu.


"Ada kabar kalau merk obat yang aku pakai itu berbahaya Ma, jadi aku nggak pakai dulu," jawab Rival tanpa melibatkan nama Revalina di dalam jawabannya.


"Huhhh," Revalina langsung menghembuskan nafas leganya.


"Ya ampun, kok bisa apotek rumah sakit kasih obat yang berbahaya. Kerjanya apa sih mereka kenapa nggak cek ulang setiap obat yang masuk," gerutu Candini kesal.

__ADS_1


"Terus kau sendiri bagaimana, ada keluhan sakit nggak?" tanya Candini khawatir.


Rival menggeleng dengan santainya "nggak ada Ma, paling cuma kaki masih sakit kalau dipaksa buat berpijak."


Seketika Revalina dan Sarah yang tengah memotong-motong sayur dan bumbu masakan langsung saling menatap.


"Tuh kan Kak, apa aku bilang," bisik Revalina.


"Aku rasa pun begitu, makanya waktu itu kau ku panggil," sahut Sarah lirih juga.


Setelah beberapa puluh menit memasak, akhirnya semua selesai dan kini saatnya menghidangkan di ruang makan.


"Kalau Sarah yang masak pasti enak," puji Candini sembari memandangi cumi saus padang yang baru saja diletakkan Sarah.


"Em, kalau ini yang masak Reva Ma. Aku tadi cuma masak tumis kangkung sama ikan goreng," sahut Sarah.


Tumis kangkung itu justru berada di tangan Revalina, perlahan dengan perasaan campur aduk melihat ekspresi ketus Candini ia mulai meletakkan masakan Sarah ke atas meja.


"Oh kamu masak tumis kangkung, bagus Sarah ini lebih enak dan sehat. Kalau cumi itu malah bikin aku kolestrol," ucap Candini menutupi rasa malunya.


"Justru yang kolestrol begini paling enak," puji Rival sembari membalikkan piringnya.


Seketika wajah murung Revalina berganti dengan senyum ceria melihat antusias Rival akan masakannya yang belum apa-apa sudah dibuly habis-habisan.


"Aku ambilkan Mas," ucap Revalina sigap melayani sang suami.


Tak hanya Rival yang suka dengan masakannya, Yakub pun begitu. Sampai pada akhirnya masakannya pada malam itu ludes dilahap mereka termasuk Sarah. Justru ia menyantap masakan Sarah.


"Em, enak Reva. Besok-besok kalau masak agak banyakan ya tahu sendiri aku orangnya rakus," ucap Sarah dengan lahap menyantap makanan itu.


"Iya Mbak," sahut Revalina sembari tersenyum.


"Ini masakan Mbak Sarah juga enak, kalau bukan karena ini sudah malam pasti aku nambah," puji balik Revalina pada Sarah.


"Ah masa," ucap Sarah menggoda Revalina.


"Biasa Mbak, diet," ledek Rival.


"Bukan diet, tapi jaga porsi makan," rakat Revalina dengan cepat.


Di tengah perbincangan tak jelas ini, sekilas Revalina salah fokus dengan ekspresi Candini melihat anak-anaknya lahap menyantap masakan Revalina. 


'Aku yakin pasti Mama mau coba masakan ku tapi gengsi saja,' ucap Revalina dalam hati, menahan tawanya.


"Sarah, setelah makan malam kita langsung pulang ya," ajak Yakub.


Suasana yang semula tenang mendadak tak enak mendengar ajakan Yakub yang diikuti anggukan Sarah, Revalina terkejut sekaligus panik mendengar hal itu.


"Kenapa harus pulang?" tanya Revalina dengan nada kesal.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2