Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Sah


__ADS_3

Sepersekian detik kemudian, Chesy baru tersadar dengan siapa ia sedang berbicara. Cazim. Ya, itu dia lelaki yang dia sebut biadab. Bahkan ia tidak percaya tadi sempat bertukar pikiran dengan lelaki itu, berbicara seperti sesama sahabat yang sedang memberi support. Mata di dekatnya itu cokelat. Jika saja tidak ada titik kebencian di hati Chesy yang tertanam sangat dalam, ia pasti sudah mengakui betapa wajah di hadapannya itu sangat menawan. Eksotik dan berkharisma.


Sayangnya kebencian dalam dirinya telah membunuh pandangan matanya hingga segala sesuatu dalam diri Cazim terlihat memuakkan. Tidak ada sedikit pun yang menarik dari Cazim.


"Lepaskan!" hardik Chesy saat sadar lengan kokoh Cazim berada di pinggangnya, melingkar nyaman. Pantesan saja jarak pandang mereka sangat dekat, rupanya lelaki itu sedang di posisi seperti memeluknya sejak tadi.


Cazim segera melepaskan lingkaran lengannya dari pinggang Chesy dan mundur dua langkah untuk menjauh.


"Jangan modus kamu!" bentak Chesy.


Cazim tidak membalas. Padahal lengannya melingkar di linggang Chesy karena posisi urgent sejak menarik tubuh Chesy keluar dari kamar. Jika Chesy tidak segera dibawa paksa keluar, dokter akan terlambat menangani Yunus. Sebuah keterpaksaan baginya mengangkat tubuh Chesy keluar dengan cara itu. Tidak lucu jika ia menggendong Chesy dengan cara dipikul. Jadi itulah yang ia lakukan tadi. Tapi percuma dia menjelaskan, kemarahan Chesy sedang memuncak. Penjelasan apa pun pasti akan disangkal.


"Pulanglah! Aku nggak membutuhkanmu di sini!" ketus Chesy.


"Tidak. Aku akan tetap menunggu."

__ADS_1


"Kamu menunggu kabar kapan abiku mati kan? Saat kabar itu terdengar, saat itulah kamu akan bahagia."


"Semua itu kecelakaan. Tidak ada unsur kesengajaan."


"Jadi benar kan kamu yang nabrak abi?"


"Motorku tidak sengaja menabrak. Semua murni kecelakaan."


"Aku nggak akan pernah percaya pada lidah busukmu. Jelas kamu mengatakan akan mencelakai orang yang aku sayangi, lalu inilah yang terjadi. Kamu bermasalah denganku, tapi tega kamu celakai abi." Chesy emosi bukan kepalang.


Cazim tidak membalas lagi. Pria itu diam dan memilih untuk menelan semua kata- kata yang seharusnya ia ucapkan. Tidak untuk saat ini.


***


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Chesy Caliana binti Yunus dengan maskawinnya yang tersebut, tunai.” Cazim dengan tegas mengucap qabul.

__ADS_1


Di ruangan berbau obat, tempat dimana Yunus terbaring lemah dengan peralatan medis yang menempel di tubuh dan wajahnya, Cazim mengucap ijab qabul. Suaranya tegas dan lantang.


Dengan hanya mengenakan pakaian seadanya, kebaya putih yang dibeli oleh Sarah, Chesy berdiri di sisi Cazim, menunduk dengan raut tak senang. Jantungnya berdegup tak karuan, matanya terpejam, berharap saat ia membuka mata, semuanya lenyap dan kejadian itu hanya mimpi.


Tapi tidak, saat ia membuka mata, semua manusia di hadapannya masih ada, lengkap.


Benarkah ia akan menikah dengan Cazim? Ini seperti mimpi. Hati Chesy retak. Tak pernah ia punya angan- angan akan menikah dengan orang yang sangat dia benci. Kehidupan di neraka akan segera dimulai.


Disaksikan oleh dokter dan saksi seperlunya, ijab qabul terlaksana dengan khidmat.


"Bagaimana saksi?" tanya penghulu.


"Sah."


Bersambung ....

__ADS_1


Setuju Chesy nikah sama Cazim?


Cung yang setuju! 👆


__ADS_2