
Cazim jadi bingung kalau sudah melihat wanita menangis. Dia akan terkesan sebagai lelaki pengecut saat terus memojokkan wanita yang sedang menangis.
Chesy terduduk di pinggir kasur dengan tubuh lemas saat ingatannya tiba- tiba melayang pada satu kejadian yang membuatnya kini terdampar di perumahan itu. Beberapa tahun silam, Chesy bukanlah warga di komplek perumahan itu. Sebuah tragedi besar terjadi di kehidupannya. Dan itu tidak pernah bisa ia lupakan.
“Mamaku meninggal dengan jalan yang nggak diduga, nggak sakit dan nggak ada tanda- tanda apa pun," lirih Chesy dengan suara bergetar. Bayangan masa lalunya menari di kepala. "Ismail adalah abangku, dia kecanduan narkoba. Waktu itu, dia sedang tinggi dan obatnya nggak ada, disitulah dia ketahuan nyandu dan ibu syok berat. Abangku melarikan diri dari rumah lalu dikejar oleh ibu. Nggak taunya dia ke markas tempatnya sering membeli obat terlarang. Dia lalu overdosis dan meninggal. Sayangnya ibu juga nyasar masuk ke markas para pemadat, lalu..." Chesy menangis sesenggukan. "Lalu ibu ditembak dan meninggal. Ibu ditemukan dalam keadaan membeku setelah orang- orang yang berdosa itu memasukkan jasad ibu ke lemari pendingin."
Chesy menelan untuk menjeda. tenggorokannya terasa sakit.
"Mirisnya, nenekku pun menyusul ibu, ia terkena serangan jantung setelah mendengar kabar buruk tentang meninggalnya ibu dan Ismail. Tiga nyawa sekaligus berakhir karena manusia jahanam yang disebut dengan pembunuh."
Tangan Chesy bergetar saat menyapu air mata di wajahnya.
"Zoya, adalah ibuku yang ditemukan membeku di lemari pendingin, membuat hatiku kebas dan kelu setiap kali merasakan suhu dingin. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana tubuh ibu membeku diantara uap dingin yang mengelilinginya. Ini perbuatan terkutuk. Mereka biadab. Dan aku selalu menyumpahi mereka semoga neraka dunia dan akhirat akan membakar mereka. Aku nggak kuat dengan dingin semenjak itu. Bukan fisikku yang nggak kuat, tapi mentalku." Chesy berusaha menahan sesenggukannya, namun tetap saja suara itu terdengar menggangu.
__ADS_1
Chesy menunduk, mengusap usap wajahnya.
"Aku dan abi pindah kemari karena ingin meninggalkan masa lalu kelam itu. Kami ingin melupakan itu supaya bisa memulai hari depan. Apa kau masih mau membuatku menggigil kedinginan lagi? Hiks..."
Cazim duduk di sisi Chesy, meraih pundak wanita itu, lalu menyenderkan kepala Chesy di dada bidangnya.
"Tidak. Aku tidak akan melakukannya. Aku bersalah padamu."
"Kenapa wanita harus menangis dulu, harus tersakiti dulu baru laki- laki mengerti dengan kondisinya?" Chesy merasakan jemarinya digenggam erat, tangan itu terasa hangat sekali.
"Di sini aku yang bersedih, kenapa malah kamu yang baper?" Chesy mendorong tubuh Cazim supaya menjauh darinya.
Pria itu sedikit memundurkan badan. Tiba- tiba ia terlihat kalem.
__ADS_1
"Sekali lagi kamu membuatku kedinginan, aku nggak akan mau tidur bersamamu di kamar ini lagi. Biarkan saja abi tau kita pisah kamar, sebab aku nggak mau kedinginan."
"Maaf soal tadi. Baiklah, mulai sekarang kau boleh katakan apa saja yang kau inginkan, aku pasti kabulkan untukmu!" ucap Cazim sambil mengenakan kaos dan melangkah keluar.
“Cazim, apa Chesy sudah bangun?” Suara Yunus menyambut Cazim yang baru saja keluar dari kamar.
“Sudah!”
“Bagus! Abi percaya padamu. Ayo, kita ke belakang, ada tempat bagus untuk kita buka kajian tentang Islam.”
“Ya.”
Chesy mengintip keluar, melihat Cazim yang berjalan beriringan dengan Yunus. Mereka akrab sekali.
__ADS_1
Bersambung
Ramein doong... Boleh kasih hadiah koin yah buat penyemangat 🥰🥰