
POV Rival.
Balok kayu dari lantai atas jatuh tepat pindah Revalina, Rival tak berhasil melawan kecepatan jatuhnya balok tersebut.
Seketika Revalina langsung tak sadarkan diri, saat itu juga Rival begitu terpukul dengan kejadian ini. Akan tetapi dirinya sudah tak punya waktu untuk menyalahkan diri sendiri, dengan cepat ia mulai menggendong tubuh Revalina membawanya pergi dari resto yang tengah mengalami kebakaran hebat itu.
"Argghhh," rintih Rival sembari terus melangkah maju menembus kepulan asap yang semakin pekat sembari terus waspada menghindari puing-puing yang bisa jatuh kapan saja.
"Mana jalan keluar," teriak Rival dengan nada kesal.
Ia hampir frustasi mencari jalan keluar dari Resto tersebut namun tak lama di tengah keputusasaannya tiba seorang damkar menariknya keluar dari sana.
Dengan berbagai upaya penyelamatan akhirnya Rival berhasil keluar bersama dengan Revalina yang masih tak sadarkan diri.
Di luar sudah banyak korban-korban yang tak sadarkan diri dan mengalami luka-luka, beberapa masih tergeletak di halaman Resto bahkan sampai ke parkiran mobil sementara itu ambulans yang dikerahkan tak mampu memenuhi kebutuhan yang ada.
Tanpa pikir lama lagi, Rival begegas menggendong Revalina menuju ke pinggir jalan mencari taxi ataupun tumpangan yang bisa membawanya ke rumah sakit, namun tak kunjung ada yang menolongnya meski ia sudah berteriak minta tolong seribu kali.
Makin lama tangannya makin tak kuat menggendong Revalina dalam jangka waktu yang lama, meski tak dalam posisi tubuhnya yang perlahan melemah Rival masih berusaha untuk terus berdiri sembari sesekali melirik mencari tempat yang tepat untuk meletakkan Revalina.
Namun tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya, sontak Rival mengerahkan sisa kekuatannya untuk terus kuat menggendong Revalina.
"Rival," panggil Rafa keluar dari mobil dengan tatapan terkejut.
Sama seperti Revalina, Rafa pun reflek memandangi Rival dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Rival, kau sudah bisa?" tanya Rafa terhenti ketika menyadari siapa yang berada dalam gendongan Rival.
"Reva," ucap Rafa shock melihat Revalina tak sadarkan diri.
"Tolong Kak, bawa Reva ke rumah sakit," pinta Rival memohon-mohon pada Kakak iparnya ini.
"Masuk-masuk!" perintah Rava cepat-cepat membuka pintu mobilnya.
Tanpa perlu bertanya apapun pada Rival, Rafa langsung membantu mengantarkan mereka ke rumah sakit.
Dalam perjalanan Rival tak berhenti mengusap tangan Revalina yang begitu dingin, ia sangat ketakutan melihat kondisi Revalina sekarang.
"Bangun sayang, bangunlah," pinta Rival menatap wajah Revalina dalam pangkuannya.
Sesekali Rival menatap ke depan melihat sudah sampai mana mereka sekarang, tak sengaja ia mendapati berulang kali Rafa memenanginya dari arah kaca spion mobil.
"Kak, tolong dipercepat lagi aku takut Revalina kenapa-napa," pinta Rival cemas.
"I-iya," sahut Rafa mendadak gugup.
Tak hanya Rival yang panik sekarang, Rafa pun panik tapi harus tetap mengendarai mobil dengan fokus yang tinggi.
Tak lama akhirnya mereka tiba di rumah sakit terdekat yang ternyata juga menjadi rujukan para korban kebakaran restoran black hole itu, petugas medis dengan sigap menerima Revalina lalu membawanya ke ruang IGD yang sudah dipenuhi pasien.
Sepanjang perjalanan menuju ruang IGD Rival enggan melepas genggaman tangannya pada tangan dingin Revalina, ia terus mengikuti kemana arah ranjang pesakitan itu di arahkan. Sementara itu dari sisi berhadapan Rafa terus mengusap kepala Revalina dengan kedua mata berkaca-kaca, melihatnya seperti ini Rival jadi merasa bersalah karena sudah lalai dalam menjaga istrinya sendiri.
"Reva, bangun Reva," pinta Rafa lirih.
Tiba-tiba ranjang itu berhenti jauh dari pintu ruang IGD, salah seorang perawat membuka salah satu ruangan dengan berdinding triplek dan lantai paving, jelas itu bukan ruang IGD menurut Rival.
"Sus, ini istri saya nggak di bawa ke ruang IGD?" tanya Rival kebingungan.
"Iya Sus," sahut Rafa dengan nada tinggi.
"Karena unit utama ruang IGD sedang penuh jadi istri Bapak saya bawa ke ruang IGD darurat yang sudah di pakai setahun lebih untuk menangani kasus masal seperti ini," jelas Suster dengan terburu-buru.
Baru dari luar ruangan saja Rival merasa tak nyaman apalagi dari dalamnya, merasa tak enak tanpa pikir panjang Rival berlari untuk melihat ruangan itu dan tak disangka langsung di susul oleh Rafa.
__ADS_1
"Fasilitasnya sama, cuma aku masih nggak nyaman saja," gumam Rival sembari memandangi unit darurat itu yang lebih pas di sebut posko.
"Sama aku juga nggak suka," sahut Rafa.
Sekejap Rafa langsung kembali dan bernegosiasi singkat, dan pada akhirnya Revalina di bawa ke ruangan khusus dengan di temani seorang Dokter dan manager rumah sakit itu. Sepetinya Rafa mulai menggunakan powernya untuk adiknya namun dengan aturan yang masih sama yaitu keluarga pasien dilarang masuk ketika penangangan berlangsung.
Di ruang tunggu tepatnya di sofa sepanjang di luar ruangan itu Rival tak bisa tenang memikirkan Revalina, begitupun Rafa kini tengah kalut sampai membuatnya segan untuk bertanya.
"Ya Tuhan, kenapa kau kasih cobaan terus ke adikku kapan dia bahagianya Tuhan," ucap Rafa lirih sedih.
Mendengar ucapan Rafa seketika membuatnya merasa telah gagal sebagai seorang suami, flashback dari sebelum kejadian buruk ini menimpa ada banyak kesusahan Revalina selama menikah dengannya rasanya ia tak pernah membuatnya tertawa bahagia.
Sekarang ia baru sadar kenapa waktu itu Rafa memintanya untuk mengembalikan Revalina, ternyata sesusah itu hidup adik seorang Rafa yang punya kuasa dan saham tertinggi di perusahaan keluarga dengan dirinya yang kontras berbeda.
'Maafkan aku Reva, selama hidup dengan ku kau jadi susah begini,' ucap Rival dalam hati.
Setelah beberapa lama menunggu akhirnya Rafa mau meliriknya, entah sengaja atau tidak.
"Rival, gimana ceritanya kau sama Revalina bisa makan di situ malam-malam begini bukanya resto itu jauh dari rumah mu?" tanya Rafa dengan nada kesal.
"Revalina lembur Kak, kita baru pulang di jam 9 dan sepulang dari sana langsung mampir ke resto," jawab Rival dengan sebenar-benarnya.
"Hah lembur," Rafa terkejut, kedua bola matanya terbelalak.
"Kurang ajar Joseph, katanya cemas sama Reva nyatanya malah suruh kerja sampai lembur begini," gerutu Rafa kesal.
Tak disangka akan ada orang yang disalahkan dalam lembur yang Revalina jalani bukannya hanya menyalahkan restoran itu.
Terllihat Rafa menggigiti bibirnya mengisyaratkan kegeramannya pada Joseph.
"Awas saja kalau ada apa-apa sama Reva, aku bakal kasih pelajaran ke Joseph," ucap Rafa dengan tatapan sadisnya.
Kali ini kemarahan Rafa sudah tak bisa lagi untuk di diamkan, terpaksa Rival harus meredamnya dengan perlahan.
"Ini musibah Kak, kau nggak bisa salah-salah kak siapapun aku dan Revalina dengan sadar memilih resto itu untuk makan malam," ujar Rival tengah kemarahan Rafa pada Joseph yang tak tahu apa-apa.
Mereka semua sama-sama terkejut melihat dirinya bisa berdiri dan jalan lagi, bahkan sangking bahagianya Yakub meminta Rival untuk mencoba berjalan.
Sadar bahwa Yakub sangat bahagia melihatnya bisa jalan kembali lantas Rival menuruti dengan membuat kakinya berjalan kesana kemari.
"Terimakasih Tuhan, ditengah duka kau hadirkan kebahagiaan yang tak terkira," ucap Yakub lirih sedih.
Kesedihan Yakub lantas berhenti tepat dalam pelukan Rival.
Dari arah belakang Chesy memberinya selamat tanpa suara, terlihat dalam kesedihannya Chesy masih bisa memberinya selamat sekaligus semangat untuknya.
Perlahan Yakub melepaskan pelukannya lalu meminta Rival untuk menceritakan semuanya, di hadapan mertua dan Kakak iparnya Rival tentu tak menceritakan secara jujur dia berusaha menutupi agar tak di salahkan dalam segi hal apapun.
Setelah beberapa lama menunggu akhirnya mendapat instruksi dari Dokter untuk bisa membesuk Revalina untuk pertama kali.
Terlihat sekarang ini Revalina tengah mengenakan oksigen setelah melakukan pembersihan dalam paru-paru.
"Reva, sayang gimana Nak mana yang sakit?" tanya Chesy sembari mengusap lembut kepala Revalina.
Revalina langsung menggeleng.
"Nggak ada Mi, cuma nafas ku sedikit sesak," jawab Revalina.
Chesy langsung melirik dokter yang masih mendampingi, terlihat sejak tadi begitu santai membuktikan tak grasak-grusuk menjadi seorang dokter selama ini.
"Tenang Bu, tak lama lagi Ibu Revalina juga akan kembali membaik. Butuh proses untuk kembali melihat Ibu Revalina agar lekas membaik.
"Seorang Mama disuruh tenang menghadapi ini semua mana bisa," sahut Chesy lirih.
__ADS_1
Malam itu juga Revalina langsung dipindahkan menuju ke kamar rawat inap karena nafasnya tak stabil juga, tak mengambil resiko, akhirnya pihak keluarga meminta untuk Revalina di rawat inap.
Saat sedang di rawat tangan Revalina tak lepas menggenggam tangan Rival, tatapannya tak lepas pula menatapnya seperti ini.
"Mas, kau tak kenapa-napa kan. Ada yang luka nggak?" tanya Revalina khawatir.
"Nggak kenapa-napa alhamdulilah," jawab Rival sembari tersenyum ke arah Revalina.
"Ada yang luka nggak?" tanya Revalina kembali mengulang pertanyaannya dengan nada bicara yang berbeda.
"Nggak ada sayang, kamu malah menghawatirkan aku. Lihat dirimu sekarang terbujur di atas ranjang rumah sakit begini," jawab Rival dengan jelas.
Dalam hati Rival sangat bersyukur dengan keselamatan yang sudah diberi Tuhan pada dirinya juga pada Revalina, ia juga sangat bersyukur Revalina tak marah padanya ketika melihat dirinya bisa berjalan tanpa Revalina tahu prosesnya.
Malam itu semuanya menjaga Revalina tak terkecuali Yakub dan Sarah pun begitu, di dalam kamar rawat inap itu Chesy lebih dahulu merasakan jika mereka butuh karpet.
Lalu entah dari mana datangnya, kini semuanya terbaring di atas karpet tersebut Yakub dan Sarah terlihat lebih dahulu menjajal karpet tersebut.
"Enak juga Tante karpetnya empuk," puji Sarah sembari tersenyum ke arah Chesy.
"Masih tipis ini, ada yang lebih empuk lagi tapi di rumah," sahut Chesy sembari menekan-nekan karpet itu.
"Oh ya, aku jadi penasaran," ucap Sarah dengan wajah terkejut.
"Kapan-kapan main ke rumah Tante, nanti Tante tunjukkan karpet ya," ucap Chesy sembari tersenyum ke arah Sarah.
"Siap Tante," sahut Sarah.
Malam itu Chesy terbaring di atas sofa bersama dengan Sarah sementara Yakub dan Rafa di karpet sedangkan Rival tidur dengan posisi duduk sementara kepalanya bersandar di ranjang Revalina.
*********
POV Revalina.
Dalam tidur suaminya, ia terus memandangi paras tampannya tanpa henti sembari sesekali tangannya mengusap rambut lepek Rival bekas melalui kebakaran semalam.
"Alhamdulillah Mas, kau sekarang sudah bisa jalan. Tapi sejak kapak Mas, sudah sejak lama atau baru semalam kau bisa," ucap Revalina berujung pertanyaan besar di kepalanya.
"Tapi kalau baru semalam rasanya nggak mungkin kamu bisa gendong aku, aku merasakan antara sadar dan tak sadar kau itu gendong aku Mas," sambung Revalina.
Revalina merasa ada kejanggalan dengan suaminya dengan tak menodai adanya mukjizat Tuhan, ia tetap mencurigai dalam batas kewajaran.
Lagi pun Yakub juga mengatakan bahwa dia baru saja melihat Rival bisa berjalan yang berarti memang Rival bisa dalam waktu dekat ini.
"Apapun itu aku bersyukur Mas," ucap Revalina perlahan menutup mata.
Keesokan harinya semuanya sudah disibukkan dengan pemanggilan Dokter ke ruangan, dan sarapan pagi. Rafa berangkat ke ruangan dokter, Chesy beberes mempersiapkan kepulangan Revalina sementara Yakub dan sarah mencari makanan untuk sarapan.
"Kamu makan bubur dari rumah sakit saja ya, jangan nanti-nanti takutnya kena Maag," bujuk Rival.
"Enggak, aku mau tunggu Mbak Sarah saja," sahut Revalina dengan bibir monyongnya menunjukkan kekesalan.
Chesy yang berada di ujung sana langsung melirik tajam.
"Reva, jangan susah-susah ya. Cepat makan!" perintah Chesy dengan tegas.
"Makan ya," ucap Rival mulai mengambil mangkuk bubur itu.
Takut dengan Chesy akhirnya Revalina terpaksa mau disuapi bubur dari rumah sakit yang tak ada rasanya sama sekali.
Klekkkkk.
Pintu kamar rawat inap Revalina terbuka, Rafa masuk ke dalam sembari membawa map yang sudah terbuka.
__ADS_1
"Mi, lihat ini," ujar Rafa menunjukkan isi dalam map tersebut pada Chesy.
Bersambung