
"Bisa. Aku yakin pasti bisa, ini sudah sering aku lakukan saat bertugas dalam keadaan genting." Hamdan meyakinkan.
"Tapi kamu nggak akan tahu seberapa dalam peluru itu menembus, dan dimana pelurunya bersarang. Kalau di jantung bagaimana? Kamu nggak bisa lakukan ini dengan manual."
"Aku tahu seberapa tekanan peluru yang kau tembakkan. Ayolah, percayakan padaku!" Hamdan menyingkirkan tangan Chesy, kemudian kembali memulai aksinya, menusukkan pisau pada bagian luka.
Chesy memalingkan pandangan, tak ingin menyaksikan adegan mengerikan itu, ia memejamkan mata. Menangis terisak. Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali menangis. Antara takut dan panik berbaur menjadi satu. Kalau pun ia membenci seseorang, percayalah ia tidak akan mungkin sanggup untuk melenyapkan nyawanya. Tidak mungkin.
Alando membantu Hamdan.
Entah sudah berapa menit mereka berdua melakukan operasi itu, Chesy tidak tahu. Sampai akhirnya Chesy mendengar Alando berkata, "Syukurlah. Semuanya sudah dikeluarkan."
"Sudah selesai!" Hamdan memberitahukan kepada Chesy.
__ADS_1
Dan saat Chesy menoleh baju Cazim sudah dalam keadaan digunting, pria itu bertelanjang dada dengan perban membalut bagian luka.
"Apa kamu yakin dia akan baik- baik saja?" Chesy menatap dengan pandangan ragu.
"Ya." Hamdan mengangguk. "Aku sudah sering melakukan ini. Percayakan padaku." Hamdan menatap Alando dan berkata, "Al, ayo bantu aku angkat tubuh Cazim ke kasur."
Kedua pria itu lalu mengangkat tubuh Cazim ke atas kasur.
Lelaki bertubuh bulat yang tak tahu apa- apa itu pun mengangguk. Ia mengambil kain pel dan mengelap lantai. Membungkus baju yang sudah disobek ke kantong plastik.
"Chesy, aku minta kerja samamu, biarkan ini menjadi rahasia kita! Jangan sampai bocor. Kasus penembakan tidaklah baik, kau bisa kena masalah karena ini. Apa lagi jika sampai Cazim dilarikan ke rumah sakit dan hal ini tercium wartawan, maka masalahnya akan menjadi panjang. Bukan kau saja yang bermasalah, tapi aku juga. Paham kan?" ucap Hamdan.
Chesy masih diam. Ada banyak pertanyaan di benaknya yang semuanya hanya bisa dia telan dalam hati.
__ADS_1
"Jika ada apa apa pada Cazim, kau panggil saja Alando, Alando pasti akan cepat menghubungiku dan aku akan berikan pertolongan secepatnya. Cazim butuh obat- obatan untuk meredakan nyeri pada lukanya, juga untuk membuat darahnya cepat beku sehingga lukanya tidak terus mengeluarkan darah. Aku akan carikan obatnya. Nanti Alando akan kirimkan kemari!" Hamdan melangkah menuju pintu.
Namun kemudian langkah Hamdan terhenti, ia kembali menoleh ke arah Chesy. "Oh ya, kau harus kondisikan keadaan di sini. Kursi pelaminan kosong, pasti cepat atau lambat ayahmu atau siapa pun akan kemari menjemputmu, meminta supaya kau keluar dan kembali bersanding mengingat waktu persandingan masih lama."
Chesy hanya menatap saja, membisu. Sebenarnya masih sangat banyak yang ingin ia tanyakan pada Hamdan, tapi batal. Pikirannya hanya tertuju pada Cazim saat ini.
"Aku percaya kau bisa menangani kondisi di sini, jangan sampai ada yang melihat kondisi Cazim, termasuk ayahmu," pesan Hamdan lagi.
"Bukankah ini yang kaku harapkan dari Cazim, kamu tadi ingin menembaknya bukan? Dan dia sekarang sidah tertembak melalui tangan orang lain, kenapa kamu malah menyelamatkannya?" tanya Chesy.
Bersambung
Klik like dulu baru next
__ADS_1