
Chesy meletakkan tiga piring ke hadapan tiga putra dan putrinya yang sudah duduk manis di meja makan. Setelahnya, Chesy memberikan mi eke setiap piring dengan ukuran yang sama. Jangan sampai ada yang lebih banyak atau pun lebih sedikit. Harus sama. Mereka akan protes dan mengakibatkan kegaduhan jika porsi makan berbeda.
Setelah mie, menyusul sosis, telur ceplok dan nugget yang menjadi hiasan di atasnya. Lalu terakhir tomat.
“No, I don’t like tomatoes!” ucap Revalina.
Chesy pun mengangkat kembali tomat yang sudah diletakkan di atas mie milik Revalina. Bocah yang satu itu memang sedikit berbeda. Banyak protes dan suka cari perhatian dengan segala tingkahnya, galak juga.
“Ayo, kalian makan! Malam ini Umi hanya masak mie. Masaknya ringkas, mudah dan cepat.” Senyum Chesy mengembang.
“Kami akan cepat lapar saat makan mie saja, umi!” celetuk Revalina meski langsung menyantap mei tersebut.
“Eits, udah baca doa belum?”
Pertanyaan Chesy membuat Revalina langsung mengangkat tangan dan membaca doa setelah bertukar pandang dengan kedua saudara kembarnya.
Rafa dan Rajani tertawa cekikikan.
“Baik, setelah baca doa, sekarang udah boleh makan,” ucap Chesy.
Ketiga bocah itu mulai menyantap dengan lahap.
“Tenang aja, kalian nggak bakalan kelaparan kok, soalnya ada telur ceplok, nugget dan sosis yang bakalan membuat perut awet kenyang. Dan juga ada susu.” Chesy menyuguhkan satu per satu gelas susu ke hadapan tiga anak- anaknya. Hanya Revalina yang meminum susu cokelat, sedangkan yang lain susu putih semua.
Selera Revalina memang selalu berbeda.
“Makanannya Umi mana?” tanya Rajani yang melihat Chesy hanya duduk saja memperhatikan anak- anaknya makan tanpa mengunyah apa pun.
“Tentu ada. Umi senang melihat kalian lahap makan.” Chesy lalu mengambil piring miliknya yang sudah disediakan. Ia mulai makan.
“Kenapa hanya mie aja? Nggak ada sosis dan nugget?” tanya Rajani lagi. Bocah yang satu itu memang memiliki perhatian khusus.
“Nugget dan sosisnya habis. Cukup untuk kalian aja.” Chesy sedang malas memasak banyak, menambah porsi masak hanya akan membuatnya dua kali kerja, jadi ia menggoreng nugget dan sosis hanua cukup untuk anak- anak saja.
“Ini untuk umi.” Rajani menusuk nugget miliknya dengan garpu dan menyodorkannya ke arah Chesy, membuat Chesy membelalak dengan senyum.
__ADS_1
“Enggak. Umi nggak mau. Itu untuk Rajani. Makanlah!”
Rajani kembali meletakkan nugget ke piringnya. Makanan di piringnya masih banyak, ia makan cukup lambat. Sedangkan yang lainnya sudah tinggal sedikit.
Rafa berlari meninggalkan meja makan seusai makan. Menyusul Revalina yang juga meninggalkan meja makan.
“Halooo… kenapa piringnya nggak diangkat ke wastafel? Setiap selesai makan, bawa piring masing-masing ke wastafel!” seru Chesy yang mengajarkan anak- anaknya pada tanggung jawab sejak kecil, namun suaranya tidak digubris. Kedua anaknya itu sudah menghilang.
Menyaksikan itu, Chesy hanya mengedikkan pundak. Tidak perlu marah. Mereka belum terlatih.
“Mie nya tinggal sedikit. Tapi Rajani nggak bisa habiskan, Umi,” ucap Rajani menunjuk mie yang masih tersisa.
“Kenapa?”
“Kenyang. Minum susu aja udah kenyang.”
“Ya udah, nggak apa-apa. Sini sisa mie nya biar umi makan. Nggak boleh buang- buang makanan ya! Mubajir.” Chesy menuangkan sisa mie milik Rajani ke piringnya.
Rajani cepat menumpuk piring kotor miliknya dengan dua piring kotor milik REvalina dan Rafa, lalu membawanya ke wastafel.
Selalu begitu. Rajani terlihat bertanggung jawab.
Prang! Suara barang- barang berhamburan terdengar berisik sekali. Lemparan bola dan benda lainnya membahana. Disusul suara pertengkaran hebat antara Revalina dan Rafa. Tak lama kemudian pertengkaran itu berubah menjadi tawa saling sahut- sahutan.
Selalu begitu!
Ya Tuhan, beri kesabaran! Chesy terus mencuci piring tanpa peduli dengan keributan yang ada. Yang penting mereka tidak saling jedotin kepala ke dinding, tidak saling hantam dan tidak ada seorang pun yang dilempar keluar dari jendela.
Selesai membereskan dapur, Chesy menuju ke ruang tamu yang sudah seperti kapal pecah. Semuanya berantakan.
“Ayo ayo, masuk kamar! Harus setor hafalan sama umi baru boleh bobok. Siapa yang hafalannya ketinggalan jauh, harus cepet kejar ya!” Chesy menggiring anak- anaknya masuk kamar yang coraknya bernuansa kamar anak-anak. Ada gambar pemandangan di dinding, gambar doraemon, boneka Barbie dan mobil-mobilan.
Ada tiga ranjang kecil yang masing- masing ditempati oleh pemiliknya.
Pertama, Chesy merangkul Rajani dan mengajaknya duduk di atas kasur.
__ADS_1
Dua anak lainnya duduk di kasur masing- masing.
Rajani kemudian memberikan setoran hafalan, juz tiga puluh sudah hafal. Ia kini menghafal jus dua puluh Sembilan.
“Oke, Rajani sekarang boleh bobok.” Chesy membantu Rajani berbaring dan menyelimutinya sampai ke dada.
Wanita itu pindah ke kasur Revalina. “Ayo, hafalan Revalina baru dapat lima bela surat loh. Juz tiga puluh belum kelar. Mesti semangat biar cepat lolos ya!”
Revalina mengangguk. Ia kemudian setor bacaan. Tersendat-sendat, banyak lupa. Sehingga surat itu diulang-ulang terus.
“Eits, Rafa, belum boleh tarok kepala di atas bantal ya. Rafa belum dapat giliran,” tegur Chesy yang melihat putranya menguap dan membaringkan badan.
Rafa pun kembali duduk.
Sedangkan Revalina kesulitan menyelesaikan hafalannya. Membuat Chesy memotong, “Besok diulang lagi ya! Semangat!” ia membantu Revalina berbaring dan menyelimuti anak itu.
Chesy pindah ke kasur Rafa. Ia terkejut melihat putranya sudah di posisi nungging. Mendengkur.
Bagaimana bisa Rafa setor hafalan jika sudah ngantuk berat begini? padahal ia tadi barusan teriak- teriak bersenda gurau di ruang tamu.
Chesy membetulkan posisi tidurnya Rafa. Menyelimutinya dan mencium keningnya. Ia mematikan lampu dan membiarkan lampu tidur saja yang menyala, lalu keluar dan menutup pintu.
Langkahnya menuju ke ruang tamu. Melihat ruangan itu berantakan, Chesy sebenarnya cukup frustasi. Inilah keseharian yang kerap dia lakukan. Tapi ia tetap menjalaninya.
Niatnya ingin membereskan ruang tamu, tapi rasanya lelah sekali. Ia malah terduduk lemas di atas sofa. Kepalanya nyender di punggung sofa, tertidur.
Tok tok…
“Selamat malam!”
Suara dari luar membuat Chesy terjaga. Ada tamu?
Chesy bergegas menuju pintu. Sebenarnya belum terlalu malam, masih jam delapan, tapi siapa yang bertamu malam begini?
Chesy menyibakkan sedikit tirai jendela, mengintip keluar, memastikan siapa yang datang sebelum ia membuka pintu.
__ADS_1
Matanya membulat sempurna melihat tamu yang datang.
Bersambung...