
"Kenapa teriak-teriak begitu, kau pikir aku ini setan apa?"
Suara itu terasa tak asing di telinganya yang seketika membuat teriakannya terhenti tiba-tiba, perlahan dengan rasa takut yang masih menguasai perasaan dan pikirannya dari sela-sela jari Revalina mulai melirik siapa yang datang malam ini di ruangannya dan betapa terkejutnya ia melihat sosok Joseph ada di tengah pintu ruangannya.
"Pak Joseph," panggil Revalina lirih lemas.
Tak lama Joseph mulai menutup pintu ruangan, melangkah ke arahnya laku terduduk tepat di hadapannya.
"Aku cuma mau ajak makan malam," ucap Joseph sembari meletakkan paper bag ke atas meja.
"Lah, Pak Joseph memangnya belum pulang?" tanya Revalina kebingungan mengingat ruangan Joseph tadi gelap gulita.
"Enggak, aku masih di sini cuma selepas sholat aku cepat-cepat ke bawah buat ambil pesanan makanan," jawab Joseph dengan jelas.
"Sudah jangan bingung begitu, ayo kita makan," ajak Joseph mulai membuka isi dalam paper bag itu.
Joseph memesan ayam tepung dengan nasi, air mineral serta makanan ringan. Anehnya dia memberinya ayam bagian dada, pas sekali dengan kesukaannya.
"Terimakasih Pak," ucap Revalina sembari tersenyum.
Mereka mulai menyantap makanan itu bersama-sama, sesekali secara tak sengaja Revalina melihat Joseph tengah mencuri-curi pandang padanya.
"Menurut mu aku baik nggak?" tanya Joseph sembari tersenyum-senyum.
"Baik lah," jawab Revalina dengan cepat.
"Kalau baik kenapa kamu bilang ke setan buat salahkan aku?" tanya Joseph sembari tersenyum-senyum.
Seketika pertanyaan Joseph membuat Revalina terdiam kaku, bibirnya terasa berat untuk menjawab pertanyaan sulit itu.
'Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan itu sedangkan aku saja spontan bilang begitu ke setan yang ternyata nggak ada, ih menyesalnya aku,' ucap Revalina dalam hati.
"Panik Pak, emm saya sendiri nggak ingat tadi bicara apa," jawab Revalina lirih, lemas.
"Tadi itu bukannya bicara lagi tapi teriak histeris, aku saja sampai bingung," ralat Joseph pada satu kalimat Revalina.
Revalina terkekeh malu, tak dapat ia bayangkan jika CEO nya ini bukan orang yang friendly dan sabar mungkin ia akan diadukan Rafa sejak kemarin-kemarin.
'Kali ini aku akui Pak Joseph orangnya baik dan sabar, yang tadi aku ucapakan salah. Ini yang betul," ucap Revalina dalam hatinya sembari tersenyum lega.
Ting ting ting ting.
Tiba-tiba dering telfon memotong pembicaraannya dengan Joseph, terlihat Rival yang tengah menghubunginya melalui video call. Tanpa berpikir panjang Revalina langsung mengangkat panggilan video call itu.
"Halo Mas, assalamualaikum," ucap Revalina sembari memandangi wajah Rival dari layar ponselnya.
"Waalaikumsalam," sahut Rival.
"Masih lama lemburnya?" tanya Rival sembari mengerutkan kening.
"Enggak, cuma tinggal sedikit lagi habis itu aku langsung pulang," jawab Revalina terus menyantap makanannya.
"Okelah asal jangan sampai kemalaman saja, aku khawatir pasti kamu sendirian di kantor," ucap Rival.
"Wih, lagi makan apa itu?" tanya Rival.
__ADS_1
"Ini lagi makan ayam tepung yang pernah kita beli waktu itu sekarang dibelikan Pak Joseph, kamu jangan khawatir karena aku di kantor sama Pak Joseph jadi nggak sendirian," jawab Revalina sembari mengarahkan kamera ponselnya ke arah Joseph.
Seketika raut wajah Rival langsung berubah datar dan seperti tak lagi bersemangat.
"Ya sudah, selesaikan pekerjaan mu dan cepat pulang," pinta Rival.
"Siap Mas," sahut Revalina terus tersenyum.
"Assalamualaikum," ucap salam Rival.
"Waa," sahut Revalina terhenti.
Tutttt.
Rival langsung menutup telfonnya tak menunggu dirinya selesai menjawab salam.
"Alaikumsalam," sambung Revalina mendadak termenung memikirkan sang suami.
Ia benar-benar bingung sekarang ini, Rival jadi lebih sensitif ketika ia berkerja sedikit-sedikit marah seperti saat ini.
Rasanya seakan-akan Rival tengah membatasi ruang geraknya sebagai seorang ajudan CEO, sekali dua kali bisa dibilang lucu karena cemburu itu tanda cinta namun makin lama justru malah membuatnya lelah dengan keadaan.
Jujur saja Revalina juga iba pada Rival, dia ingin suaminya bahagia. Dan dia juga bisa berada di kantor ini atas ridha sang suami.
"Kenapa Reva?" tanya Joseph menatap cemas.
"Nggak papa Pak," jawab Revalina kembali menyantap makanannya.
"Bilang nggak papa tapi termenung begitu," singgung Joseph.
Tak mungkin ia bercerita pada Joseph tentang Rival, jelas dalam agama dilarang dan secara moral pun begitu karena itu bisa memicu keretakan rumah tangganya.
"Habis ini Pak Joseph ada lagi kerjaan atau langsung pulang?" tanya Revalina kembali khawatir dengan dirinya sendiri.
"Langsung pulang sepetinya," jawab Joseph sembari melirik ke sudut kanan atas.
Seketika Revalina langsung menghembuskan nafas beratnya, tak menyangka Joseph akan menjawab pertanyaannya dengan jawaban itu padahal dalam Lubuk hati terdalam menginginkan CEO muda itu kembali lembur sampai dirinya selesai.
"Yah, jadi aku sendirian lagi di kantor ini," ucap Revalina dengan nada kekecewaannya.
"Kenapa kau justru takut sama setan di dalam bangunan, padahal yang lebih menakutkan itu setan yang ada di jalan," ucap Joseph bertanya-tanya. "Setan di jalan menyerupai manusia, bahkan bisa mencelakai. Kamu tidak takut, hm?"
Tiba-tiba seluruh bulu kuduknya merinding mendengar ucapan Joseph, serasa setan-setan dalam kantor ini terpanggil dengan ucapan Joseph barusan.
"Pak, jangan menakut-nakuti seperti itu. Aku pulang sendiri nggak seperti Bapak pulang sama supir," rengek Revalina dengan nada kesal.
"Aku bukan menakut-nakuti, aku bicara fakta," sahut Joseph dengan muka meyakinkan.
"Terus gimana Pak, masa aku harus terbang?" tanya Revalina semakin gusar.
"Hahaha, nggak terbang juga Reva. Sekarang kau selesaikan dulu pekerjaan mu, aku tunggu di sini sampai kau selesai," jawab Joseph.
Mendengar jawaban Joseph, dengan cepat Revalina menghabiskan makanannya dan berlanjut mengerjakan sisa pekerjaannya.
Sungguh banyak hal tak terduga malam ini, berkat kebaikan Joseph akhirnya Revalina mampu menuntaskan pekerjaan tepat di jam 9 malam.
__ADS_1
Mereka pun segera keluar dari kantor yang makin malam semakin menyeramkan dan begitu mencekam apalagi ketika di dalam lift berdua bayangan setan terus menghantui pikirannya.
"Pak, besok-besok kasih kebijakan buat yang lembur harus ditemani satpam, dikawal sampai pulang," ucap Revalina pada Joseph.
"Kebijakan macam apa itu?" tanya Joseph dengan nada meledek.
"Ih aku serius, takut juga kalau kantor sepi gelap begini. Nanti kalau nggak ada kebijakan seperti itu bisa-bisa karyawan di sini bisa kena serangan jantung nanti perusahaan juga yang repot," bujuk Revalina.
"Kau bicarakan saja sama Kakak mu, aku tak mau buat kebijakan konyol seperti itu,* sahut Joseph sembari tersenyum-senyum.
Tiba-tiba lift terhenti di lantai 2, membuat Revalina dan Joseph bertanya-tanya namun ketika pintu lift terbuka secara otomatis tak ada siapapun di sana.
"Ada orang nggak Pak?" tanya Revalina mulai ketakutan.
Joseph coba menengok keluar lift, menengok kanan kiri lalu tak lama kembali masuk sembari menutup pintu lift.
"Nggak ada Pak?" tanya Revalina dengan mata memicing ketakutan.
Joseph menggeleng, reflek Revalina langsung melompat mencengkeram lengan tangan CEO muda itu sebagai pelampiasan ketakutannya.
"Aaaaaaa," teriak Revalina histeris.
Tepat ketika teriakannya menggema, lift kembali terbuka namun di lantai 1. Sontak para security yang berjaga di depan langsung masuk ke dalam kantor berlari dengan paniknya.
"Hust," desis Joseph memberi kode pada Revalina untuk menghentikan teriakannya.
Tepat ketika kedua kakinya selangkah menapak keluar dari lift, saat itu juga mulutnya terkunci bukan karena desisan Joseph melainkan karena melihat dia orang security yang berlari ke arahnya.
"Ada apa Bu Reva?" tanya Security dengan sangat panik.
Melihat security yang sangat panik itu, seketika membuat Revalina merasa bersalah apalagi salah satunya sudah mulai mengeluarkan senjata seakan siap menyerang musuh.
Di saat yang bersamaan ia batu sadar jika tangannya masing mencengkram lengan Joseph, ia pun langsung melepas cengkraman tangannya lalu cepat-cepat memberi jarak di antara dirinya dengan Joseph.
"Hihihi, nggak ada apa-apa Pak. Tadi cuma kaget saja ada cicak di dalam lift," jawab Revalina sembari terkekeh malu.
"Hah, cicak?" tanya Security kebingungan.
Keduanya terlihat kebingungan, saling menatap satu sama lain.
"Kalian cek ya, jangan sampai ada cicak lagi di lift bahaya buat Bu Reva yang penakut ini," perintah Joseph pada kedua security.
Revalina terkejut mendengar ledekan Joseph padanya, seketika ia langsung memberi sorotan mata tajam ke arah CEO muda yang menyebalkan itu.
'Enak saja aku dibilang penakut, balum tahu saja aku waktu SMA pernah ikut uji nyali,' gerutu Revalina dalam hati.
Akhirnya mereka pun melenggang keluar dari kantor, ketika sudah berada di lobi terlihat mobil Joseph sudah siap dengan supir yang terlihat duduk bersandar di mobil.
"Ayo aku antar pulang," ajak Joseph sembari tersenyum ke arah Revalina.
Ajakan pulang itu membuat Revalina terkejut, tak disangka ini adalah solusi yang dimaksud Joseph tadi namun terlalu beresiko untuknya.
"Terimakasih Pak, tapi saya bawa mobil," sahut Revalina menolak ajakan Joseph dengan sangat halus.
"Yakin mau bawa mobil sendiri?" tanya Joseph sembari memasang muka meledek.
__ADS_1
Sontak kedua mata Revalina terbelalak teringat ucapan Joseph tadi di ruangan kerjanya, lagi-lagi buku kuduknya mendadak merinding.
Bersambung