Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Maaf


__ADS_3

“Ayo!”  


Chesy terkejut mendengar suara di dekat telinganya.  Cazim sudah membukakan pintu untuknya, tersenyum mengajaknya turun.


Chesy sampai tidak sadar anak- anaknya pun sudah berjejer di luar menunggunya saking termenung menatap rumah sejak tadi.  Ia merasa gugup saat melangkah mengikuti Cazim menuju pintu.  Anak- anak menyusul di belakang.


“Aku sempat menemui abi beberapa tahun lalu, setelah aku keluar dari tahanan, abi marah padaku dan mengusirku,” bisik Cazim.  “Sekarang aku datang tidak sendirian.  Aku bersamamu, juga anak- anak kita.”


“Kamu yakin semua akan baik- baik aja?” bisi Chesy.


“Baik atau pun buruk, kita harus hadapi.  Harus!”


Chesy mengangguk.  Ia menggenggam jemari Cazim.  Tangannya terasa dingin sekali, seperti es.


Cazim mengucap salam sambil memencet bel.


Pintu terbuka.


Bik Parti menyembul dari balik pintu.  Dia ternyata masih setia bekerja di rumah Yunus.  Wanita yang tampak smakin tua itu terkejut melihat dua sosok manusia yang sudah sangat lama menghilang bak ditelan bumi, kini muncul lagi.  


“Non Chesy, Den Cazim.”  Bik Parti takjub.  Matanya berembu terharu.  Kemudian tatapannya tertuju pada tiga bocah menggemaskan seperti barby.  “Masyaa Allah… Mari masuk.  Sebentar, saya panggilkan tuan besar dulu!”  Bik Parti menghambur masuk. Ia menjerit memanggil Yunus.


Cazim dan Chesy sudah masuk, berdiri memegangi ketiga putrinya yang berjejer di depan mereka.


Tak lama kemudian sosok tua yang kini semakin terlihat tua itu melangkah keluar, ekspresi wajahnya berubah drastis ketika melihat wajah Cazim dan Chesy, terakhir tiga anak lucu- lucu yang menggemaskan.  


“Abi!” panggil Cazim.  “Maaf, aku baru datang kemari.  Dan aku tidak berhasil menyelesaikan misi seperti yang abi harapkan.  Aku datang kemari membawa anak dan istriku.  Mereka sangat ingin bertemu denganmu.  Ijinkan mereka untuk memelukmu.”

__ADS_1


Yunus diam saja.  tatapannya tegas ke arah Chesy.


Segera Chesy menghambur dan memeluk Yunus, tangisnya pecah.  Pundaknya bergetar hebat seiring dengan tangis.  


“Abi maafkan aku!  Aku pendosa.  Aku durhka.  Aku jahat.  Aku kejam.  Aku anak nggak berguna.”  Chesy menyesali.


Yunus masih diam membeku.  Tidak ada tanggapan apa pun.


“Abi, jika bersimpuh akan menjadi akses untuk abi memaafkan kami, maka kami akan melakukannya,” ucap Cazim menambahkan.  Ia mendekati Yunus, menunduk hendak menjatuhkan lututnya ke lantai, namun ditahan oleh Yunus.  Dia cengkeram erat lengan kokoh Cazim yang terasa keras digenggamannya.  Ditahan dengan cengkeraman yang kuat hingga tubuh gagah Cazim tidak terjatuh ke bawah.


“Tidak!” lirih Yunus.  Dia rengkuh tubuh Chesy dan Cazim, memeluk keduanya erat.  Tangisnya pecah.  


Mendapat pelukan itu, Chesy dan Cazim terkejut.  Tak menyangka justru sambutanya begini.  mereka mengira akan mendapat hujatan, makian atau bahkan tamparan.  Tapi ternyata tidak.


“Kalian anak- anak abi.  Kalian tetap anak- anak abi,” ucap Yunus dengan suara bergetar hebat.  Dia lepas pelukan dan menatap wajah sepasang suami sitri di hadapannya itu.  “Apa pun yang terjadi, abi tidak akan mungkin tidak memaafkan kalian.  Kalian akan tetap menjadi anak abi.  Abi memang marah, tapi abi tidak bisa mendendam.  Sudah, lupakan semua itu.  jika kita mengikuti kemarahan, mengikuti rasa sakit hati, maka semua ini tidak akan pernah berakhir.  Yang terpenting sekarang adalah masa depan kalian, juga masa depan cucu-cucu abi.”  


“Kemarilah, cucu kakek.  Ini kakek, sayang!”  Yunus merentangkan lengan.


Ketiga bocah itu bertukar pandang.  


“Kita ke sana?” bisik Revalina.


“Iya.  Dipanggil kakek tuh.”


“Itu kakek kita?” tanya Revalina lagi.


“Iya, o’on.  Nanya mulu!” jawab Rafa ngegas.

__ADS_1


Mereka bertiga mendekati Yunus. 


Dengan penuh nuansa sayang, Yunus memeluk ketiga cucunya sekali rengkuh.  “Ya Allah, begini rasanya memiliki cucu.  Kakake bahagia sekali.  Terima kasih Ya Allah Ya Rabb.  Rejeki dana nugerahm- Mu sungguh Maha besar.”


“Kek, jangan kenceng- kenceng peluknya.  Susah napas!” jerit Revalina nyeplos.


“Oh maaf.  Maaf.”  Yunus segera melepas pelukannya dan tertawa kecil.  Gemas melihat wajah- wajah manis itu.  “Kakek sayang sama kalian.  Kalian senang kan bisa ketemu kakek?”


Ketiga kepala kecil itu mengangguk cepat.


“Ayo, main!  Di sana lebar!” ajak Revalina tanpa peduli dengan perkataan Yunus.  Pikirannya hanya tertuju pada permainan.


“Ayo!”  rafa berlari duluan ke ruangan lain, menyusul Revalina.


Rajani masih mematung.  Ia menatap Yunus polos. “Kek, kakek nggak apa- apa ya kalau kami main di sini?”


“Tentu.  Kalian boleh main apa saja.  tapi di rumah kakek tidak ada mainan.”


“Kan bisa main petak umpet atau main kejar-kejaran.  Tapi nanti kalau ruangannya jadi berantakan, gimana?” tanya Rajani cemas, takut kakek yang asing di matanya itu akan marah.


“Tidak apa-apa.”  Yunus tersenyum.


“Rajani main dulu ya, Kek.”  


Yunus mengangguk.


Rajani menghambur menyusul yang lainnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2