
Revalina masih berusaha mencerna baik-baik kalimat tersebut, masih berusaha mencari celah agar pikirannya tetap positif.
'Mungkin maksud dia supaya lebih akrab, anggap saja dia seperti teman yang nggak ada batas layaknya CEO dengan ajudan,' ucap Revalina dalam hati.
Siang itu Revalina cepat-cepat mengerjakan pekerjaannya sebelum jam istirahat tiba, selain itu ia tak ingin meninggalkan Rival terlalu lama di ruangan kerjanya seorang diri.
Tok tok tok tok.
Terdengar suara ketukan pintu, reflek Revalina mengangkat dagunya melirik ke arah pintu.
"Masuk!" seru Joseph dari dalam ruangan.
Terlihat sosok di balik pintu perlahan mulai masuk ke dalam ruang kerja Joseph, tak disangka Rafa lah yang masuk dengan menenteng dua map berwarna putih.
Dia terkejut melihat Revalina ada di ruangan Joseph, lantas menunjuknya dengan jari-jari tangan sembari ternganga.
"Loh di sini kamu," ucap Rafa terkejut.
"Iya, habisnya tadi nggak bisa, jadi aku kesini terus Pak Joseph kasih aku laptop buat kerjain sekalian," jelas Revalina dengan santainya.
"Apa nggak menganggu Jo?" tanya Rafa beralih menatap Joseph.
"Enggak lah, ada-ada saja pertanyaan mu itu," jawab Joseph gilirannya terkejut.
Terlihat jelas Rafa mulai menghembuskan nafas leganya setelah mendengar jawaban Joseph, dia pun langsung menyodorkan map yang dibawanya ke meja kerja Joseph sembari terus memandangi sang adik.
"Kalau dia sampai membuat mu terganggu apapun itu jangan sungkan buat usir, aku Kakaknya jadi aku takut bagaimana ribetnya dia kalau sudah mengomel," ucap Rafa pada Joseph.
"Enggak lah, adikmu ini pandai sekali. Aku baru jelaskan sekali saja dia sudah paham itu pun dia masih harus kembangkan sendiri kalimat yang aku jelaskan tadi," sahut Joseph justru menuju Revalina setinggi mungkin.
Ia sedikit melirik sinis ke arah Rafa yang begitu tega padanya di kantor ini, berbeda dengan Joseph yang justru lebih bisa menghargainya.
'Awas saja nanti aku adukan Umi,' gerutu Revalina dalam hati.
Tak lama mereka berdua memasang wajah serius membahas sesuatu sembari menunjuk-nunjuk kearah map yang Rafa bawa, semakin lama semakin lirih semakin tajam pula pembahasan.
Ketikan suara mereka semakin lirih, sebisa mungkin Revalina tak memperhatikan perbincangan mereka dengan cara mempertajam fokusnya pada pekerjaannya sekarang.
Di jam 12 lebih sedikit akhirnya Revalina berhasil menyelesaikan pekerjaannya, ia pun bergegas beranjak dari duduknya menghampiri Joseph.
"Psk, ini sudah selesai tolong di cek dulu," ucap Revalina sembari menunjukkan hasil pekerjaannya pada sang CEO.
Joseph langsung menaik turunkan kursor, meneliti pekerjaan Revalina dengan sangat hati-hati tak lama senyumnya mulai terpancar ketika berada di lembar terakhir.
"Bagus Reva, tinggal cetak saja tapi nanti. Sekarang kau istirahat dulu," ucap Joseph sembari menatap Revalina yang berdiri di sampingnya.
"Terimakasih Pak, saya pamit," sahut Revalina berujung pamit.
"Jangan keluar ya Rev, lagi macet jam segini," tegur Rafa ketika langkah sang adik mulai digerakkan.
"Iya Kak," sahut Revalina sembari menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Setelah itu ia langsung bergegas keluar dengan membawa berkas lama tadi, sedangkan file yang ia kerjakan sudah ada di ponsel tinggal memindahkan di word komputer yang ada di ruang kerjanya.
Tiba tepat di depan pintu ruang kerjanya seketika kaki terhenti memikirkan bagaimana respon Rival ketika dirinya kembali dalam waktu yang lama, sedangkan dia menunggu seorang diri di dalam ruangan.
"Nanti Rival marah nggak ya," ucap Revalina bertanya-tanya dalam dirinya.
"Ah, hadapi saja lah dari pada buang waktu di sini yang ada Rival makin marah," ucap Revalina langsung menekan gagang pintu ruangannya.
Klekkkk.
Perlahan pintu mulai ia buka perlahan demi perlahan, nampak Rival sudah berada di sofa tengah memandang ke arah pintu dengan kedua matanya yang membesar setelah mengetahui Revalina yang tengah masuk ke dalam ruangan Rival langsung menghembuskan nafas leganya.
"Aku pikir siapa tadi," ucap Rival lirih.
"Maaf aku nggak ketuk dulu tadi," ucap Revalina baru tersadar akan hal itu.
"Nggak papa, cuma kaget saja aku karena dari tadi sunyi dan nggak ada orang masuk," sahut Rival sambil tersenyum ke arah Revalina.
Dengan cepat Revalina menghampiri Rival, ikut duduk bersamanya di atas sofa panjang itu.
"Mas, aku pesan makanan saja ya buat makan siang kita hari ini. Tadi Kak Rafa bilang kalau jalanan macet aku diminta buat nggak pergi siang ini padahal pengen sekali ajak Mas ke resto apung," ucap Revalina dengan sedikit merengek.
"Iya aku ikut apa mau mu saja, larangan Kak Rafa juga ada benarnya. Lain kali saja kita ke sana ya," sahut Rival masih dengan senyumannya.
Sungguh di luar ekspektasi, tak disangka Rival tak marah sema sekali padanya, justru terus tersenyum juga menanggapi perkataanya dengan sangat baik.
'Cari mati kalau aku bahas sekarang tentang kenapa aku lama nggak balik-balik, sudah adem ayem begini aku harus bisa diam tutup rapat mulutku,' ucap Revalina dalam hati.
Semua potongan rekaman dosa-dosa memenuhi isi kepala sampai lepas ketika ia mulai bersujud meminta ampun pada Allah serta meminta keadilan atas kaburnya Dalsa dari jerat hukum.
Di rakaat kedua sampai dengan terakhir ia sudah merasa bebannya semakin berkurang dan semain berkurang, lama-lama ia telah berhasil melepas bebannya itu meski sedikit.
"Reva, aku mau ke toilet," pamit Rival sembari menggerakkan kursi rodanya.
"Iya Mas, aku antar ya," sahut Revalina langsung mengambil alih pegangan yang ada di belakang kursi roda suaminya.
"Sampai ke depan pintu saja, aku bisa sendiri," ucap Rival.
Karena posisi mereka yang jauh dari ruang kerja terpaksa memakai toilet umum yang ada di kantor, sama-sama bersih hanya saja milik umum.
Perlahan Revalina memasukkan Rival berserta kursi rodanya masuk ke dalam toilet, memastikan kursi itu terkunci dengan sempurna mengingat lantai yang licin rawan akan terjatuh.
"Gimana Mas, bisa?" tanya Revalina khawatir.
"Bisa, sudah tinggalkan saja," jawab Rival.
Mendengar hal itu Revalina perlahan keluar dari toilet, menutup pintu itu rapat-rapat dan sekarang dirinya seperti orang linglung mondar-mandir di depan wastafel sembari melipat kedua tangannya.
"Aman nggak ya tadi, tapi sebenarnya Rival sudah bisa berpindah sendiri buktinya dia tadi bisa beralih duduk di sofa sendiri," gumam Revalina lirih.
"Reva," panggil seseorang dari belakang.
__ADS_1
Sontak Revalina terkejut langsung memutar badannya, tak disangka orang itu adalah Rafa dia seperti habis dari toilet ini juga.
"Kaget aku, kenapa kau bisa ada di toilet laki-laki?" tanya Rafa dengan kedua matanya yang masih terbelalak.
"Aku antar Mas Rival ke sini Kak," jawab Revalina mulai cemas.
Rafa langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, sejak awal Revalina sadar akan posisinya namun semua sudah terlanjur.
"Kenapa nggak di toilet dalam ruangan kerja mu saja, aku sudah siapkan semua untuk kenyamanan kalian malah nggak di gunakan?" tanya Rafa dengan nada kesal.
"Aku sama Mas Rival itu baru saja sholat Kak, terus Mas Rival langsung minta buat di antar ke toilet. Aku pikir kalau ke ruangan kerja ku dulu yang ada malah nggak keburu," jelas Revalina enggan disalahkan.
"Bisa-bisanya, kalau ada laki-laki lain di sini kau bisa di tuduh macam-macam," gerutu Rafa tanpa henti.
"Mana berani nuduh begitu, aku bisa minta HRD pecat orang-orang yang menuduhku," sahut Revalina tetap tak mau kalah.
Tiba-tiba Rafa menoyor kepala Revalina dengan lembut sembari terkekeh mendengar ucapan adik kesayangannya.
"Kau pikir bisa mecat orang seenak jidat, semua ada aturannya. Begini nih kalau kuliah cuma sampai pagar habis itu cabut ngopi," ledek Rafa sambil menyelipkan sedikit penjelasan pada Revalina.
"Eh, enak saja aku selalu masuk ya. Nggak ada tuh ceritanya bolos ke cafe," bantah Revalina dengan sejelas mungkin.
Tak lama di tengah perbincangan yang salin meledek, tak sadar kini pembicaranya telah sampai pada perkara sensitif ke keluarga mereka.
"Gimana, Dalsa sudah ada tanda-tanda balik belum?" tanya Rafa pada Revalina.
Revalina menggeleng cepat, ia tak menemukan tanda-tanda itu meski kondisi kesehatan Candini yang memburuk itu sudah tersebar seantero negri tapi tetap saja tak membuat Dalsa keluar dari sarang persembunyiannya.
"Kalau dia sudah balik, kabari aku. Aku mau sederet sediri dia ke polisi dan aku nggak akan kasih damai supaya dia jera dan mau bertaubat," ucap Rafa dengan nada bicaranya yang menggebu-gebu.
Sebagai sesama saudara dari Rajani, Revalina paham dengan perasaan Rafa sekarang. Tak bisa dipungkiri siksa yang diberi Dalsa untuk Rajani bukan main-main sampai mengantarkan Rajani ke sakaratul mautnya. Kesadisan itu lah yang membuat semua meradang tanpa terkecuali Chesy pun begitu.
"Kau juga harus waspada sama mertua mu itu, dia bisa balas dendam ke kamu kapan saja mengingat kondisi mentalnya yang sudah acak-acakan," tegur Rafa menatap cemas.
"Iya Kak," sahut Revalina.
Sesampainya di rumah Revalina terus memikirkan teguran Rafa dan segala perbincangannya tadi, tak terbayang bagaimana jadinya jika ia senasib dengan Rajani hanya saja beda tangan yang mengerjakannya.
"Bisa saja, tapi apa dia sudah kehilangan akal sehat kalau sampai hal itu terjadi," gumam Revalina terus memikirkan hal terburuk yang akan di lakukan Candini pada dirinya.
"Reva, di panggil Mbak Sarah tuh," ucap Rival sembari perlahan masuk ke dalam kamar dengan kursi rodanya.
"Iya Mas," sahut Revalina segera beranjak melenggang cepat menuju ke arah Sarah berada.
Terlihat Sarah tengah duduk santai di ruang tengah sembari membaca secarik surat yang sepertinya surat dari Dokter.
"Mbak Sarah, ada apa panggil aku?" tanya Revalina setibanya di hadapan Kakak iparnya ini.
Sarah langsung menurunkan surat itu dari hadapannya, lalu menyodorkannya pada Revalina. Saat itu juga Revalina langsung terduduk dengan raut muka kebingungan.
"Surat apa ini Mbak?" tanya Revalina kebingungan.
__ADS_1
"Baca saja," jawab Sarah singkat.