
"Abi tidak tahu sampai kapan abi sanggup menuntun dan membimbing mu, jangan biarkan abi menelan pil pahit dengan menerima azab karena tidak benar dalam mendidikmu, biarkan Cazim yang mengarahkanmu. Abi percayakan semuanya padanya. Dia akan menjadi suami yang baik untukmu," lirih suara Yunus diantara dengusan napasnya yang terbata- bata.
Air mata Chesy berderai deras sekali. Ditengah amukan badai yang menerjang benaknya tentang kemurkaannya terhadap Cazim, malah inilah permintaan ayahnya. Sangat bertentangan.
Sebegitu buruknya Chesy di mata Yunus sampai- sampai ayahnya itu takut akan memikul azab pedih atas perilaku Chesy yang dianggap tidak sesuai dengan syariat dan Yunus turut mempertanggung jawabkan kegagalannya dalam mendidik anak. Ketakutan Yunus berlebihan. Chesy tidak seburuk itu.
"Me menikahlah dengan Cazim, untuk abi!" Yunus terbata.
Chesy hanya bisa sesenggukan menatap wajah pucat ayahnya, wajah yang pias seperti tak berdarah lagi. Lau sebenarnya apa yang telah terjadi dengan ayahnya? Apakah Yunus benar- benar ditabrak secara sengaja oleh Cazim, atau memang itu hanya kebetulan sebuah kecelakaan?
Rasanya mustahil ini kecelakaan jika memang pelakunya adalah Cazim, pasti dia sengaja melakukannya. Namun Chesy tidak mau menanyakan hal itu pada Cazim hanya demi mendapat penjelasan dari mulut penjahat itu.
Mana mungkin Cazim akan berkata jujur, pasti dia akan membela diri jika memang dia adalah pelakunya. Percuma bertanya pada maling, pasti dia tidak akan mengakui pencuriannya. Kalau maling ngaku, penjara bakalan penuh.
"Abi jangan bicara lagi. Jangan, abi." Tangis Chesy makin pecah.
Suara yang bersumber dari monitor terdengar mengerikan ketika Yunus kembali memejamkan mata.
"Abiiii...." Chesy histeris.
__ADS_1
Cazim memencet tombol di atas bed dan meminta bantuan.
"Pasien kritis!" ucap Cazim yang langsung dijawab oleh suster di seberang.
"Baik, kami akan segera datang bersama dengan dokter."
Tak lama kemudian dokter dan seorang suster muncul dengan tergesa.
"Tolong Anda keluar dulu, kami akan tangani pasien," ucap dokter.
Cazim menarik tangan Chesy saat melihat gadis itu masih tampak meratapi Yunus dan seperti tak ingin menjauh dari sana. Tubuh Chesy terasa berat saat ditarik, gadis itu tidka mau melepaskan pelukannya pada tubuh Yunus yang membujur lemas. Cazim lalu melingkarkan lengan kokohnya pada pinggang Chesy dan menggeret tubuh kecil itu keluar kamar.
"Abi! Abi!" Tangis Chesy pecah.
Cazim menatap lekat tangisan gadis itu, pilu sekali. "Tenanglah! Tenang! Abimu akan baik- baik saja. Percayakan semuanya pada dokter. Mereka akan menangani abimu dengan baik. Jangan panik, itu hanya akan mengurangi energimu," bujuk Cazim dengan suaranya yang tetap dingin.
"Enggak. Aku nggak bisa melihat abi seperti itu. Abi harus sembuh. Harus sembuh!" Chesy sesenggukan, ia histeris dan ketakutan. Membayangkan kematian ayahnya, sama seperti ia sendiri yang mebghadapi maut. Sangat menakutkan. Ia benar- benar tidak siap. Jangan sekarang!
"Kau pasti tau apa yang harus dilakukan disaat kondisi seperti ini!" ucap Cazim.
__ADS_1
"Aku nggak mau apa pun, aku hanya mau abi sembuh." Chesy masih histeris.
"Bukan dengan cara ini abimu akan sembuh. Kehisterisanmu justru akan membuatnya makin parah, maka tenanglah!" Cazim menyentak lengan Chesy kuat, membuat gadis itu terdiam dan menatap Cazim.
"Aku mau abi sembuh." Chesy terisak.
"Iya, aku tau. Jangan menangis. Itu tidak akan menyelesaikan masalah." Cazim menatap mata Barbie itu lekat, mata yang membalas tatapannya itu sembab.
"Aku takut, aku takut abi akan meninggalkan aku."
"Tidak. Apa pun yang terjadi, abimu tidak akan meninggalkanmu. Dia hanya butuh doamu."
Chesy akhirnya mengangguk.
"Berdoalah untuknya!" bisik Cazim.
Mereka bertukar pandang. Chesy mengangguk lagi masih dengan wajah sembab.
Cazim pun ikutan mengangguk.
__ADS_1
Bersambung