
Akram menghantamkan stik baseball ke kaki dan punggung Rival tanpa ampun dan berakhir dengan satu pukulan tepat mengenai leher belakang Rival, seketika Rival tak sadarkan diri.
***
"Aku sendiri yang akan masukkan kamu ke liang lahat," geram Akram kembali mengayunkan stik baseball, menghantamnya berulang secara brutal. Tak cukup sampai disitu dengan amarah yang memuncak Akram mulai kalap, dia mengeluarkan pisau yang disimpannya dibalik jaket kulitnya.
Dia kembali mengayunkan benda di tangannya, membuat ancang-ancang
"Stoppp!" henti Revalina sambil menunjuk wajah Akram dengan jari tangannya.
Mendengar teriakan Revalina, Akram langsung terdiam menghentikan aksinya. Perlahan menurunkan pisau di tangannya dengan wajah shock sekaligus kebingungan.
"Kenapa Reva, jangan bilang kau cinta sama laki-laki brengsek ini?" tanya Akram mulai meradang dengan sikap Revalina.
"Bodoh, kau mau jadi laki-laki pengecut sudah tahu lawan terkapar tak berdaya masih mau dihajar juga, lantas apa bedanya kau sama dia," ucap Revalina kesal.
"Terus mau mu apa, kita biarkan dia tetap menikmati hidupnya meninggalkan janji kita pada Rajani?" tanya Akram makin naik darah.
Revalina terdiam sejenak menenangkan hati dan pikirannya agar tak tersambar kobaran amarah, ia tak ingin membuat hubungan persahabatan goyah hanya karena perdebatan semacam ini.
"Akram, dia nggak akan bisa hidup lagi. Lihat saja pukulan mu mengenai dada kirinya dan lihat juga memar di sekujur tubuhnya, mustahil jika dia tetap hidup. Tinggalkan saja biar dia rasakan penderitaan sampai tiba ajalnya," ucap Revalina dengan hati-hati.
Akram menggeleng tak setuju dengan ucapan Revalina, raut wajahnya makin kusam, masam namun tangan kanannya mulai menyimpan kembali senjata tajamnya.
"Aku mau kubur dia hidup-hidup, supaya aku bisa tenang melihatnya benar-benar mati hari ini," ujar Akram dengan gelora amarah yang perlahan menurun.
"Jangan, biarkan saja dia di sini kita tinggalkan. Percayalah dia akan mati dengan sendirinya," tolak Revalina kekeh dengan kemauannya.
Alhasil Akram merenung beberapa menit sambil memandangi Rival yang sudah tak sadarkan diri, berjalan mengelilingi tubuhnya sambil memperhatikan pada titik-titik luka yang sudah dibuatnya.
"Baiklah kalau itu mau mu, aku harap dia segera menyusul Rajani biar sisanya Rajani sendiri yang hajar di atas sana," ucap Akram akhirnya setuju dengan ucapan Revalina.
Tak ingin membuang waktu di sana, Revalina bergegas menggerakkan tungkainya keluar dari gedung tua itu membawa sisa-sisa amarah yang masih begitu menyiksa dada.
"Kemasi semua barang bukti, jangan ada yang tersisa," pinta Revalina berjalan sambil memunguti barang-barang di sana termasuk ember yang ia gunakan untuk mengguyur Rival.
Entah apa yang Akram lakukan di belakang namun rasanya dia terus berjalan sambil mendongakkan kepala, merasa puas telah membalaskan dendam Rajani hari ini.
Mereka berdua pergi dari sana, berpisah dari pertigaan jalan membawa masing-masing barang bukti. Awalnya Revalina bersikap egois, enggan lagi memikirkan apa yang sudah terjadi hari ini, berusaha mengelabui pikirannya jika tidak terjadi apa-apa hari ini. Tapi makin lama ia tak bisa membohongi perasaan gundah gulana, coba menepis berkali-kali namun perasaan itu terus saja menguasai pikirannya.
"Ada apa dengan ku, kenapa aku seperti berat meninggalkan gedung tua itu apa ada sesuatu yang lupa aku bawa pulang," ucap Revalina bertanya-tanya.
__ADS_1
Dari kaca mobil yang berada di hadapannya ia coba melirik beberapa barang yang sudah ia bawa pulang, nampak ember dan baseball itu sudah berada di jok mobil belakang.
"Apa yang aku khawatirkan, semua barang bukti sudah ada ditangan ku kalaupun pisau yang ketinggalan kan Akram sudah bawa balik," gumam Revalina bingung dengan perasaannya sendiri.
Namun tiba-tiba ia teringat dengan sapu tangan, matanya terbelalak cepat-cepat kedua tangannya secara bergantian mengecek di kedua sisi sakunya dan betapa terkejutnya Revalina tak mendapati sapu tangan itu di kantung celananya.
"Ya Tuhan, aku harus balik sekarang juga," ucap Revalina dengan cepat memutar balik arah kembali ke gedung tua itu.
Dalam perjalanan ia terus menggerutu sebab dirinya sudah jauh meninggalkan gedung tua tapi baru ingat salah satu barang tertinggal di sana, terpaksa ia harus ambil sebelum makin ribet urusannya.
Beberapa lama kemudian akhirnya Revalina tiba di gedung tua, ia harus berjalan kembali menyusuri gedung tua itu melintasi pilar-pilar yang nampak masih kokoh.
Sepanjang jalan ia terus menaikkan atensinya berpikir kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi yaitu sapu tangan itu terbang jauh saat dirinya hendak pergi, tapi sayang beberapa puluh meter melangkah, ia tak menemukan apapun.
Kini satu-satunya tempat yang mereka singgahi adalah ruangan tepat dimana Rival di sekap, terpaksa Revalina masuk ke sana dan kembali melihat Rival. Namun betapa terkejutnya ia melihat kursi yang di duduki Rival kosong, ruangan itu hanya ada kursi tergeletak sementara Rival entah kemana perginya.
"Kemana dia, mana mungkin dia bisa kabur," ucap Revalina bertanya-tanya.
"Ting ting ting ting," dering telepon diiringi cahaya layar ponsel yang menyala dari samping kursi.
Saat itu Revalina baru sadar jika di ruangan itu ada ponsel jatuh tapi bukan ponsel miliknya, dengan cepat ia coba mendekati mengambil ponsel yang ia kira milik Rival namun minat casing dengan logo aneh ia terkejut.
Namun tak lama ada sesuatu yang membuatnya terkejut, ia melihat nama kontak nomor yang tengah menghubungi Akram adalah Dalsa, ipar dalang kematian dari aksi keji terhadap Rajani.
"Untuk apa Dalsa mengubungi Akram? bukannya Akram sangat benci dengannya, dan yang aku tahu kalau Akram sudah benci, jangankan saling menghubungi, menyapa saja tak mau," ucap Revalina kebingungan sambil terus menatap layar ponsel Akram.
Niatnya untuk langsung mencari sapu tangan lalu bergegas pergi dari gedung itu terhambat akibat melihat Dalsa tengah coba menghubungi Akram.
Tak ingin terus menerka-nerka, bingung akan apa yang terjadi kini Revalina mulai mengangkat panggilan telepon itu.
Dalsa: "Hallo Akram, aku lagi bingung sekarang. Sebenernya aku ingin mengajak mu bertemu dari kemarin-kemarin tapi aku sangat sibuk sekali di tambah Mama sekarang pulang aku nggak bisa meninggalkannya."
Sontak kedua mata Revalina mendelik terkejut dengan ucapan Dalsa yang sudah seperti seorang teman dekat yang gagal mengajak teman dekatnya untuk bertemu.
'Apa ini maksudnya, apa mereka selama ini sering keluar bersama dan apa selama ini mereka berteman. Tak-tik macam apa ini kenapa aku nggak pernah dikasih tahu sama Akram,' ucap Revalina dalam hati bertanya-tanya.
Dalam isi kepalanya masih tersisa hal positif pada Akram, ia memilih terus diam membiarkan Dalsa terus berbicara sendiri.
Dalsa: "Aku tuh mau cerita kalau aku lagi bingung dari dua hari yang lalu sampai sekarang, asal kau tahu, sebelum menikah, Kak Rival itu sempat berenang dan aku kaget lihat tato di punggungnya. bisa-bisanya dia mentato tubuhnya, aku kan tahu betul bahwa dia nggak mungkin mentato tubuhnya."
Seketika Revalina langsung memutar bola matanya, merasa Dalsa adalah orang yang bodoh, bak menganggap Kakaknya orang yang paling alim.
__ADS_1
Dalsa: "Tapi yang buat aku kaget setengah mati itu karena tato di punggungnya itu sama persis dengan tato di punggung mu."
Blarrrrrrr.
Seketika jantung serasa tersambar petir di siang bolong, darah seakan berhenti mengalir saat itu juga raga seperti tak berisi nyawa. Ia shock setengah mati mendengar ucapan Dalsa dari sebrang sana, dengan bibir yang masih bergetar kaku ia tetap terdiam menunggu Dalsa kembali berbicara.
Dalsa: "Akram, ih kenapa diam terus dari tadi. Apa kamu lagi kaget nggak bisa berkata-kata, kaget kan kalau Kak Rival punya tato."
Revalina masih terdiam kaku, ia tak percaya dengan apa yang sudah didengarnya. Tapi apa yang dikatakan Dalsa sudah jelas bahkan sangat teramat jelas menyebut Akram.
Dalsa: "Asal kau tahu beberapa bulan yang lalu aku nggak lihat tato itu tapi entah kemarin tepat sehari sebelum menikah aku lihat dengan mata kepala ku sendiri dia punya tato itu, aku tahu dia nggak mungkin mau pakai tato. Masa dia sudah salah bergaul, jangan-jangan bergaul dengan mu."
Dalsa: "tapi nggak mungkin ya Kak Rival mau bergaul sama kamu secara kamu tuh sahabatnya Revalina, dia pernah bilang sama aku kalau dia itu kesal kamu terlalu dekat sama Revalina memang ya si kutu kupret itu maunya semua lelaki tertuju padanya sok kecantikan maunya jadi pusat perhatian."
Dalsa: "Ah sudahlah dari tadi aku mengomel terus jadi laper, mau makan ahh Bye."
Dalsa menutup teleponnya.
Tak terasa air mata mulai mengguyur membasahi pipi, ia begitu merasa bersalah dan menyesal saat ini telah salah melampiaskan dendam pada orang yang tidak tahu apa-apa.
Semua yang ia ketahui sekarang bagaikan mimpi, tak diduga justru orang terdekatnya lah yang melakukan itu semua namun dengan liciknya melimpahkan kesalahan dengan memfitnah Rival sebagai salah satu pelaku.
"Aku tak bisa seperti ini, aku harus tebus kesalahanku," ucap Revalina dengan derai air mata.
"Nggak lain lagi ini pasti kelakuan Akram, pasti dia yang bawa Rival," tebal Revalina yang kali ini mustahil meleset.
Tak ingin membuang waktu lama-lama Revalina berlari kembali ke dalam mobil, melaju kencang ke arah yang kemungkinan besar dilintasi Akram siang itu.
Bermenit-menit di jalan Revalina hampir putus asa sebab tak menemukan mobil Akram, tak lama tiba-tiba truk di depannya mulai menyalip mobil yang ada di depan pula saat itu juga Tuhan seperti tengah membukakan jalan untyk Revalina, mobil yang baru saja di salip truk itu adalah mobil Akram.
"Terimakasih ya Allah, akhirnya aku menemukan dia," ucap Revalina berterimakasih atas pertolongannya.
Tak ingin kehilangan kesempatan dengan beraninya Revalina menyalip mobil Akram lalu memutar setir secara mendadak menghentikan mobilnya secara paksa.
Dakakk.
Tak sanggup mengerem mobil Akram langsung menghantam mobil Revalina.
Brakkkkk.
Bersambung
__ADS_1