
"Hust," desis Rival sembari cepat-cepat menarik mundur Revalina.
Dengan tubuh pasrah kini Revalina duduk di kursi yang saling berhadapan dengan Rival hanya berbatas meja kecil namun panjang. Menyadari jarak yang terlalu dekat jika saling berhadapan seperti ini Rival dengan sadar mengalah untuk menggeser posisi duduk.
"Pak, kenapa kita harus makan di sini kan resto banyak?" tanya Revalina lirih tahu ucapannya akan menyinggung perasaan penjual mi ayam di hadapannya.
"Pelit sekali kamu bawa anak orang makan cuma di pinggir jalan," gerutunya tanpa henti.
Rival hanya terdiam memandangi Revalina, berkedip dengan jarak cukup lama membuat Revalina mulai tak nyaman.
Tak lama mi ayam pesanan mereka datang. Secara bergantian Revalina dan Rival meracik saus, sambal dan kecap di atas mi.
"Terpaksa aku makan, marah juga butuh tenaga," getutu Revalina sambil menuangkan saus.
Rival tetap tak bergeming, ia sibuk mengaduk mi nya yang sudah jadi.
Lama-lama terus menggerutu sendirian membuatnya merasa jika Rival kini tengah sengaja mendiamkannya, membiarkan terus menggerutu seperti orang gila.
'Memang laki-laki aneh, bukannya kasih yang terbaik buat perempuannya ini malah begini mana aku sekarang didiamkan terus,' gerutu Revalina berpindah ke dalam hati.
Beberapa kali Revalina menyuapi mulutnya dengan mi ayam tak sengaja netranya melihat jari jemarinya hampa tak ada cincin yang melingkar di sana.
"Pak Rival," panggil Revalina masih menatap jarinya.
"Ya," sahut Rival singkat. Kata-kata pertama yang keluar setelah mendiamkannya beberapa menit.
"Lihat jari ku sepi nggak ada cincin melingkari, ini semua gara-gara cincin itu hilang," Revalina menunjukkan jari-jari di tangan kanannya.
"Terus?" tanya Rival dengan entengnya.
"Ya ganti lah, buat jari ku nggak kosong lagi," jawab Revalina sedikit ngegas.
__ADS_1
Rival terkejut, kedua netranya sedikit terbelalak menatap Revalina.
"Aneh, yang menghilangkan siapa tapi yang di minta ganti rugi siapa," sahut Rival sambil menggeleng.
"Tapi ini kan tanggung jawab mu," Revalina enggan mengalah, meski hanya sekedar berkata.
Rival kembali terkejut, namun kali ini bercampur antara terkejut dan kesal yang tertahan. Kali ini sorot matanya begitu tajam, menyorot bagai elang tengah membidik mangsa.
"Kamu yang menghilangkan otomatis itu jadi tanggung jawab mu bukan malah tanggung jawab ku, kalau jari mau kembali rame ya beli cincin sendiri belajar tanggung jawab sedikit," jelas Rival sambil memetak-metakan tangannya ketika bercerita.
"Hihh, rengek Revalina kesal.
"Cuma satu saja, itu hanya mengurangi ujung belakang saldo mu," bujuk Revalina lebih enteng lagi dari pada pertanyaan Rival sebelumnya.
"Huh," Rival menghembuskan nafas beratnya, mengolak-alik mi yang ada di hadapannya.
"Memang dasar ceroboh, cincin bisa hilang. Memangnya kau taruh mana?" tanya Rival sambil menyuapkan mi ke mulutnya.
"Benar-benar ceroboh, aku tidak mengerti lagi harus berkata apa," Rival menggeleng pasrah.
"Kamu nggak perlu berkata apa-apa, cukup belikan baru. Sudah itu saja lebih dari cukup," sahut Revalina tiba-tiba menarik senyum di kedua sudut bibirnya.
Lagi-lagi Rival menggeleng-gelengkan kepalanya dengan hembusan nafas berat untuk yang kesekian kali, entah apa yang ada di pikirannya sekarang menanggapi permintaannya.
Kini dia nampak terus mengolak-alik seperti sudah tak selera, namun tiba-tiba tundungan matanya kini terangkat tegap menatap Revalina laksana elang.
"Pak, jangan menatap ku seperti itu," pinta Revalina lirih sambil menutup sebagian mata nya dengan tangan.
Di liriknya Rival masih menatapnya dengan tatapan yang sama.
"Kamu tuh, sudah kubilang jangan menatap ku seperti itu," rengek Revalina tak kuat mendapat tatapan seperti itu.
__ADS_1
"Re, aku ingin meluruskan sesuatu tapi aku minta tak ada yang berubah dari mu setelah ini," ucap Rival dengan tatapan dalam.
Tanpa penasaran dengan ucapan Rival, Revalina langsung mengangguk.
"Sebenarnya aku tidak punya uang sebanyak yang kamu pikir," ujar Rival dengan tatapan datar.
Sontak Revalina memundurkan kepalanya, bukan terkejut bukan karena percaya melainkan karena tidak percaya.
"Ah masa, kemarin saja belikan aku cincin mahal sekali," sahut Revalina mengelak ucapan Rival.
Rival mengedip berbarengan dengan hembusan nafas beratnya, dia mulai sedikit merubah posisi duduknya.
"Aku bisa beli cincin itu karena pinjam dana dari Yakub," jelas Rival dengan sedikit menekan.
Perasaan Revalina tiba-tiba tidak enak mendengar penjelasan Rival kali ini, netranya tak mampu mengedip sekarang terus menatap Rival. Ia benar-benar terkejut sekarang. Mau dibilang bohong tapi Rival begitu meyakinkan, mau dibilang betulan tapi ia tak rela.
"Aku hanya seorang Dosen, gaji Dosen juga berapa sih Re. Tidak seberapa, dan aku pun belum bisa menjalankan bisnis ku dengan Mas Yakub karena belum ada uang," jelas Rival kembali.
Deg, tiba-tiba jantung serasa tertusuk tombak di siang bolong disusul pompaan kencang dari kantungnya, tak hanya itu tenggorokannya itu terasa tertusuk saat itu. Ia merasa sedih dan sangat bersalah telah meminta ganti pada Rival untuk cincinnta yang hilang parahnya tak a sudah menghilangkan cincin tersebut dimana Rival mendapatkan cincin itu dengan bersusah payah berhutang pada Yakub demi dirinya.
'Ya Allah, jahat sekali aku dalam kasus ini, kenapa aku tidak bisa melihat perjuangan Pak Rival, dan kenapa aku setidak punya hati itu meminta lagi cincin yang sudah aku hilangkan," gumam Revalina dalam hati.
'Tidak hanya itu saja, aku sedari awal sudah begitu menyakiti Rival. Menggerutu ketika di ajak makan di pinggir jalan, merengek dan bahkan mengatainya dengan sebutan pelit. tapi ternyata...' ucap Revalina kembali dalam hatinya.
Kali ini, khusus untuk kali ini ia menyadari kecerobohannya dan untuk kali ini ia pun menyadari keegoisannya sebagai seorang wanita. Kini Revalina tak sanggup lagi menatap mata lelah Rival, ia terus tertunduk dengan rasa malu dan kasihan. Jalanan jadi saksi betapa hebatnya mata menahan tanggul tangis, ia benar-benar merasa sangat bersalah.
"Tapi tenang saja Re, kalau nanti aku sudah punya banyak uang. Aku akan bahagiakan kamu, aku harap kau tidak khawatir dengan masa depan kita, aku akan usahakan itu," ucap Rival lebih dalam lagi.
Mendengar hal itu kini dada semakin terasa sesak, Rival kembali menghantamnya dengan kebaikan yang agaknya tak mampu ia balas dengan jutaan kalimat terimakasih. Rasa bersalah itu terus berkecamuk memenuhi kepala, semua sudah terkumpul bahkan sudah berada di ubun-ubun. Satu lagi, ia jadi bimbang dengan kebaikan Rival padanya. Pada akhirnya menimbang ulang dugaannya pada Rival dengan gemuruh isi kepala yang terus mengecoh.
'Kenapa lelaki yang sudah memperkosa Rajani justru sebaik ini padaku, kenapa orang yang memperlakukan Rajani dengan segitu sadisnya justru memberi perhatian khusus begini?' ucap Revalina dalam hati bertanya-tanya.
__ADS_1
Bersambung