Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Miris


__ADS_3

Tiba-tiba saja Rafa tersedak setelah ia mengatakan dugaannya, sepertinya dia terkejut dan kemungkinan besar duganya ini memang benar adanya.


"Pelan-pelan makannya, kenapa buru-buru sih nggak ada yang minta juga," tegur Chesy khawatir melihat Rafa yang kini batuk akibat tersedak tadi.


Tak lama Chesy kembali duduk di kursinya namun terus memandangi Rafa, nampak jelas masih begitu khawatir. Sedangkan Revalina masih terduduk santai melihat polah salah tingkah Rafa sekarang.


"Kenapa panik begitu Kak, santai saja," ledek Revalina sembari tersenyum-senyum.


Rafa mengecap, mengusap sisa air di sudut bibirnya lalu perlahan membenarkan posisi duduknya dan kembali meraih sendok dan garpu miliknya.


Nampak jelas Rafa tengah salah tingkah, menghindari kontak mata dengan siapapun dia terus menunduk menatap makanannya.


"Kenapa anak Umi yang satu ini?" tanya Chesy tersenyum-senyum mengusap kening Rafa yang mulai mengeluarkan keringat dingin.


"Coba tebak Mi, diterima atau ditolak," ucap Revalina dengan nada meledek.


Chesy terus menatap Rafa yang coba menyembunyikan wajahnya, semakin disembunyikan Chesy semakin mencari selah untuk terus menatap paras putra sulungnya.


"Waduh Umi nggak bisa jawab ini, cuma Kakakmu yang bisa," jawab Chesy sambil terus tersenyum-senyum.


"Apaan sih Reva, orang cuma beli macaron dikira baru nembak perempuan," gerutu Rafa kesal.


"Nggak baik tahu yang benar itu langsung ta'aruf bukan nembak-nembak yang ada mati nanti," sambung Rafa berakhir candaan.


"Percaya Kak percaya," ledek Revalina sembari menganggukkan kepalanya.


Candaan itu terus berlanjut sampai malam tiba, berpindah ke ruang tengah sampai lupa waktu. Mereka bertiga tertawa bersama jika biasanya tawa paling keras adalah dirinya kini beralih Rafa yang lebih keras tawanya.


Melihat tawa Rafa saat ini membuat Revalina miris dengan pemikiran suaminya, sekarang ia baru paham ucapan banyak orang di media sosial tentang dua kepala apalagi dua keluarga susah bersatu di sini ujian sebenarnya dalam rumah tangga.


'Aku akan sangat marah kalau Mas Rival masih menuduh Kakakku berbohong untuk urusan sepele seperti ini,' ucap Revalina dalam hati.


Semakin lama ia semakin nyaman berada di rumah Chesy, dari awal pun begitu. hingga tiba pada pukul 21.20 ia sengaja terus diam tak kunjung menyudahi obrolan sengaja berlama-lama di rumah orang tuanya.


'Enaknya aku menginap di sini atau gimana ya, aku malas sekali pulang,' ucap Revalina dalam hati bertanya-tanya.


"Reva, sudah malam suami mu pasti lagi menunggumu di rumah," tegur Chesy sembari menatap serius.


"Enggak akan ditungguin Umi," sahut Revalina keceplosan.


Sontak kedua bola mata Revalina mulai membesar, terkejut dengan mulutnya yang bisa-bisanya keceplosan padahal sejak terbesit niatnya untuk datang ke rumahnya Chesy tak ingin membahas apapun yang menjurus ke permasalahannya dengan Rival.


"Ada apa sama kalian berdua?" tanya Chesy mulai curiga.


"Nggak ada apa-apa Mi," jawab Revalina dengan cepat.

__ADS_1


"Ada apa Rafa?" tanya Chesy pada Rafa.


Karena dirinya dan Rafa dalam satu kantor, Chesy lantas menanyakan tentang ia dan Rival pada Rafa.


"Nggak tahu Ma, seharian ini aku nggak perhatikan mereka," jawab Rafa kebingungan.


Sekejap pandangan Chesy kembali beralih ke Revalina, menatap sendu pada putri bungsunya ini.


"Nggak ada apa-apa Mi, aku tadi cuma asal bicara saja," ucap Revalina dengan jelas.


Chesy langsung menggelengkan kepalanya, enggan percaya dengan ucapan Revalina bahkan sejak pertama kali menjawab pertanyaannya.


"Kalau nggak ada apa-apa, kenapa kamu main ke rumah Umi sampai semalam ini?" tanya Chesy.


"Mana habis pulang kantor langsung kesini," sambung Chesy sembari mengerutkan keningnya.


Sejak tadi ia tak berekspektasi akan adanya pertanyaan sepeti ini, terpaksa kini harus memutar otak dengan cepat mencari jawaban yang tepat dan aman.


Sialnya tatapan kecurigaan itu tak hanya dari Chesy saja melainkan dari Rafa pula membuatnya semakin tak enak hati dan kembali menyalahkan Rival atas apa yang terjadi hingga detik ini.


"Kepengen saja Mi, aku kangen pengen ketemu Umi," jawab Revalina.


Otaknya sudah benar-benar buntu, entah jawaban ini mampu membuat kecurigaan Chesy mereda atau tidak yang jelas ia sudah menjawab dari pada mengulur-ngulur waktu untuk menjawab malah membuat Chesy semakin curiga.


"Kalau cuma kangen sejam dua jam sudah cukup Reva, nggak perlu sampai malam begini. Kalau saja kamu ajak Rival juga kesini Umi pasti minta kamu buat menginap di sini," ucap Chesy menatap khawatir.


"Nggak ada Umi," jawab Revalina.


Ting ting ting ting.


Dering telfon berbunyi dari ponsel Chesy yang tergeletak di atas meja. Dengan cepat Chesy mengambil benda pipihnya itu tak langsung mengangkatnya justru masih melongo entah apa yang tengah dilihatnya.


"Rival," sebut Chesy membaca nama kotak yang tengah coba menghubunginya.


Chesy pun mulai mengangkat telfon.


"Halo Rival, assalamualaikum," ucap Chesy.


Seketika kedua mata Revalina terbelalak mendengar nama suaminya di sebut, langsung teringat dengan ponsel miliknya yang sejak pulang dari kantor sengaja ia nonaktifkan.


'Pasti sekarang Mas Rival lagi mencariku, ah kenapa juga sih bikin aku kena marah Umi saja,' gerutu Revalina dalam hati kesal.


"Iya Reva ada di sini," ucap Chesy.


"Kalian nggak lagi kenapa-kenapa kan?" tanya Chesy pada Rival yang ada di sebrang sana.

__ADS_1


"Iya Umi suruh dia pulang sekarang juga," ucap Chesy.


"Wassalamu'alaikum," tutup Chesy.


Sesaat setelah menutup telfon kedua mata Chesy langsung menyorot tajam ke arahnya, saat itu juga degup jantung mulai berdegup sangat kencang.


"Gimana Umi?" tanya Rafa penasaran.


"Dua-duanya nggak mau mengaku sama Umi, memang ini masalah rumah tangga mereka tapi Umu harap sana Reva harus bisa dewasa menghadapi setiap masalah jangan pernah kabur jangan pernah pulang ke rumah orang tua harus hadapi masalah itu selesaikan baik-baik," jawab Chesy berujung teguran pada Revalina.


Sejak Rival mengubungi Chesy, malam itu juga ia mendapatkan banyak nasehat dari Chesy dan Rafa. Tak sedikitpun ada pembelaan dari keduanya justru begitu menyudutkan dirinya. Dalam hari tentu ada sedikit rasa kesal karena kemarahannya pada Rival juga demi membela Rafa tanpa dia tahu.


Setelah kenyang dengan nasehat barulang, Revalina pulang ke rumah menjalankan nasehat Umi dan Kakaknya untuk segera menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik.


Tiba di rumah tepatnya di ruang tamu semua berkumpul tak terkecuali Candini yang biasanya jam segini masih di luar kini bisa-bisanya ikut duduk bersama di ruang tamu itu.


"Assalamualaikum," ucap salam Revalina.


"Waalaikumsalam," jawab salam semua.


Melihat mereka semua berkumpul di ruang tamu sudah dapat dipastikan ada yang dinanti, dan orang yang dinanti itu adalah dirinya.


Perlahan Revalina ikut bergabung bersama mereka, duduk di sebelah Sarah bersebrangan dengan Rival dan Candini.


'Beraninya keroyokan, aku juga bisa kalau keroyokan begini,' gerutu Revalina dalam hati.


"Reva, dari mana saja kamu?" tanya Candini.


"Dari rumah Umi," jawab Revalina lirih, takut.


"Sudah malam begini belum pulang-pulang juga, suami ku khawatir tahu nggak. Sekarang kamu sudah jadi seorang istri harus tahu waktu kalau mau main," tegur Candini dengan tegas.


"Iya Ma," sahut Revalina singkat.


"Sudahlah Ma jangan dimarahi, Reva pasti masih butuh adaptasi dia juga masih sangat muda untuk menjalani sebuah pernikahan," ucap Sarah sembari merangkul pundak Revalina.


"Mama nggak marahi cuma kasih tahu saja supaya besok-besok tahu waktu, kasihan kan Rival kalau terus-terusan khawatir," jelas Candini pada Sarah.


Mendengar ucapan Candini yang hanya memarahinya tentang dirinya yang tak tahu waktu tanpa menyinggung sedikitpun masalah inti antara ia dengan Rival membuatnya menjadi berpikir bahwa mereka semua harus tahu apa yang terjadi.


"Oh, syukurlah Mas Rival belum cerita sama semuanya. Kalau cerita bisa habis aku di keroyok calaan sudah pasti mereka semua membela Mama,' ucap Revalina dalam hati.


"Oh iya Reva, berhubung besok aku di kasih libur sama kantor jadi untuk fisioterapi Rival besok aku saja yang antar," ucap Yakub mulai mengalihkan pembicaraan.


"Boleh Kak silahkan," sahut Revalina sembari tersenyum.

__ADS_1


"Ini fisioterapinya di rumah sakit mana Kak?" tanya Revalina penasaran.


Bersambung


__ADS_2