
Chesy tidak langsung pulang, ia mampir ke rumah Sarah terlebih dahulu. Sebab sebelum sampai ke rumah, terlebih dahulu ia melewati rumah Sarah.
Chesy memasuki halaman rumah sederhana itu. Ia lalu mengucap salam ketika sudah sampai di teras.
Seorang wanita paruh baya menyembul keluar dan membalas salam. Tak lain ia adalah ibunya Sarah.
"Bu, Sarah mana ya?" tanya Chesy yang mencemaskan keberadaan sahabatnya.
"Keluar. Belum pulang sejak tadi," jawab ibu itu.
"Tapi pulang kerja tadi dia ke rumah kan bu? Dia baik- baik aja kan?" Chesy takut kalau Sarah sempat dipergoki Cazim saat berdiri di belakang rumah Cazim seperti mata- mata.
"Baik - baik aja kok. Pulang kerja tadi dia memang telat, agak sorean pulangnya. Terus dia keluar lagi. Belum pulang tuh sampai sekarang. Oh iya, Sarah nggak bisa dihubungi ya kan? Soalnya udah seminggu hape nya lagi disita sama bapaknya."
__ADS_1
Chesy pun tahu soal itu, makanya ia tidak menelepon Sarah, sebab ia tahu hal itu akan percuma. Gara- gara ketahuan pacaran, Sarah dihukum dan hape nya disita. Begitulah hukuman untuk anak unik seperti dia, diam- diam malah pacaran, padahal bapaknya melarang hal itu.
"Ya sudah, Bu. Aku permisi pulang. Sampaikan salam ke Sarah ya, Bu. Salam sayang. He heee .." Chesy berlari pergi. Ia langsung menuju ke rumah yang jaraknya cukup dekat.
"Assalamualaikum, Abi. Abiiii.... aku pulang." Suara Chesy terdengar keras membahana. Ia berlari memasuki halaman rumah. Ia sudah tidak sabar ingin menunjukkan rekaman video tentang Cazim pada abinya. Kalau sudah lihat rekaman itu, pasti Yunus akan pingsan menggelepar. Momen itu pasti unik sekali, dan itu akan menjadi sejarah terheboh di sepanjang hidupnya. salah- salah, Chesy malah tertarik untuk merekam reaksi abinya saat melihat bukti rekaman itu.
"Abiii...." panggil Chesy sambil masuk ke rumah. Namun ia membelalak kaget saat melihat abinya sedang duduk di sofa menghadap tamu. Tamu itu tak lain adalah Cazim.
Lah? Lelaki ini sudah ada di rumah? Yunus tampak sangat senang atas kehadiran Cazim, ia mengobrol hangat dan memuliakan tamunya. Tatapannya kemudian tertuju pada Chesy yang baru saja masuk dan kini berdiri di ambang pintu.
"Udah. Tapi abi nggak dengar." Tatapan Chesy tertuju ke wajah Cazim, wajah lelaki yang terlihat sopan seperti biasanya, wajah itu dipenuhi senyum bak senyuman manis ala bapak Soeharto, mantan presiden republik Indonesia yang memiliki ciri khas senyum berkharisma itu.
Tak peduli pada senyuman Cazim, Chesy menatap lelaki itu dengan tatapan yang tak pernah berubah, tajam. Ia berjalan mendekati ayahnya.
__ADS_1
"Ada apa lelaki ini kemari?" tanya Chesy menunjuk Cazim dengan dagu.
"Eh eh, loh kok begitu nanyanya." Yunus tampak tak enak hati pada Cazim mendengar nada bicara Chesy yang ketus dipadu sikapnya yang garang. "Duduklah!" Yunus menarik lengan Chesy supaya duduk, namun tubuh Chesy tetap bertahan di posisi berdiri di sisi sofa abinya. ia tidak mau duduk.
"Chesy, ini Cazim kemari atas undangan abi."
"Undangan?" Chesy mengernyit.
"Iya, abi sengaja memanggil Cazim kemari supaya mulai sekarang kamu belajar menjadi muridnya."
"Hah?"
Bersambung
__ADS_1
Hayuk, jangan lupa klik like dan jangan lupa pula kasih poin supaya cemungut lanjutin. Poinnya jangan dianggurin, kasih ke Chesy aja ya?