
Chesy sedang menulis di kantor, tepatnya menulis sesuatu yang penting untuk urusan sekolah di kursinya. Tekanan demi tekanan ujung pena terus bergerak di atas kertas. Tulisan yang seharusnya rapi, malah jadi berantakan.
Suasana hati Chesy sedang tidak baik- baik saja. Galau dan gundah. Ia terus saja teringat peristiwa saat Cazim bersama dengan Senja. Suaminya itu merasa nyaman dengan wanita lain.
Kenapa perasaan itu harus tumbuh? Andai saja Chesy masih merasa benci pada Cazim, tentu ia tidak akan seperti sekarang ini. Tentu akan dengan mudah dia menyikapi masalahnya itu, tinggal lapor ke Yunus tentang perilaku Cazim yang dianggap selingkuh dan berpisah. Alasan yang tepat untuknya berpisah dari pria itu. Tapi ketika perasaan cinta itu tumbuh, bagaimana mungkin ia dengan mudah minta pisah?
Sambil menangis, Chesy terus menulis dengan tekanan ujung pena yang kuat. Kertas sampai hampir robek akibat tekanan itu.
Duh, kenapa dadanya jadi sesak setiap kali mengingat itu? Bawaannya pingin nangis. Lebih baik nangis sepuasnya.
"Chesy, ada apa? Kamu nangis?" Sarah muncul dan langsung duduk di depan Chesy dengan raut cemas.
"Enggak."
"Lah, itu air matanya keluar."
__ADS_1
"Ini lagi ketawa." Chesy mengusap air matanya kasar.
"Dih, aku serius. Kamu ada apa? Kenapa nangis?"
Chesy meletakkan pena dengan sentakan kuat ke meja.
"Apa salah ya kalau aku jatuh cinta?" kesal Chesy.
"Hah? Jatuh cinta? Sama siapa? Cazim?"
"Ya Tuhan. Gemes banget aku dengernya. Kalian itu so sweet. Terus masalahnya dimana? Bagus dong kamu jatuh cinta sama suami sendiri."
"Masalahnya, sejak dulu aku beranggapan bahwa pernikahanku itu nggak sungguhan, bahkan aku menganggap Cazim itu bukan suami bagiku. Dan sekarang, setelah perasaanku berbalik dengan cinta, aku malah baru tahu kalau Mas Cazim itu suka sama perempuan lain."
"Waduh, berabe nih. Bisa panjang urusannya. Emangnya perempuan lain itu siapa? Aku?"
__ADS_1
Chesy menatap Sarah tajam. Kok bisa Sarah pe de sekali mengatakan itu. Chesy menoyong kening Sarah, membuat kepala sahabatnya itu terhuyung.
"Perempuan itu adalah Senja," ucap Chesy.
"Senka, si pirang itu? Waduh, rambut pirang emang sih katanya antara dua, kalau nggak janda ya pelakor."
"Aku nggak tau mesti bilang apa, nyatanya Mas Cazim lah yang justru lebih memiliki harapan besar ke Senja. Andai saja aku nggak punya perasaan cinta ini ke Mas Cazim, aku akan dengan mudah menyelesaikan masalah ini. Aku bisa ngaduin ke abi kalau Mas Cazim punya perempuan lain, dengan begitu aku dan Mas Cazim bisa pisah. Tapi nyatanya sekarang ini aku malah nggak rela Mas Cazim bersama dengan wanita lain. Aku pinginnya Mas Cazim jadi suamiku beneran. Aku nggak mau pisah dari dia. Aku mau menjalani pernikahan ini dengan semestinya."
"Kamu yakin mencintai Cazim? Meskipun kamu nggak tau latar belakangnya Mas Cazim?"
"Setiap orang punya masa lalu, setiap orang juga punya masalah. Dan aku akan berusaha menerima masa lalu dan menjadi bagian dari masalahnya suamiku sendiri. Meskipun masalah itu terjadi sebelum dia mengenalku, tapi aku akan tetap mendampingi orang yang aku cintai," ucap Chesy.
Bersambung
Klik like
__ADS_1