Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Gara-gara Tato


__ADS_3

“Memangnya salah ya aku nanyain asal usul suamiku sendiri?  Memangnya salah aku mau kenal keluarganya?  Kenapa dia malah marah dan membentakku?  Dia itu penjahat yang datangnya entah dari mana.  Mana mungkin sih ada perempuan yang mau dinikahin sama laki- laki nggak jelas asal- usulnya kayak dia?  Hanya karena sifat kealimannya yang memukau mata abi, kemudian abi sangat percaya kalau dia itu orang baik tanpa mau tau latar belakangnya gimana.  Aku sendiri aja bingung bagaimana menyikapi manusia yang nggak jelas asal- usulnya itu.”


“Chesy, aku tahu banget dengan posisimu.  Kamu pasti teraniaya banget.  Abi kamu pasti meras asudah mengambil keputusan yang tepat, soalnya charisma seorang Cazim itu kan ngena banget buat orang yang melihatnya.  Dia kelihatan sebagai lelaki baik.  Ini stempel yang dimiliki Cazim dan perlu kamu tahu.”


“Aku muak banget dengan kekasaran Cazim.  Setelah dia membentakku, aku tinggalkan saja dia.  Aku berlari sampai sekolah, dan ternyata dia juga nggak ngejar aku.  Dia nggak berusaha keras buat membujuk aku.  Artinya, dia memang marah sama aku hanya karena aku ini terus menanya- nanyai dia.  Wajar kan aku mau tahu siapa keluarganya?  Masak sih sebagai istri aku nggak boleh tahu siapa keluarganya.  Kalau ternyata dia itu pelaku pembunuhan berantai, bagaimana?”


“Sabar, Chesy.  Sabar.  Kita mesti cari tahu ini dengan kepala dingin, dengan kecerdasan.  Jangan gegabah.”


Chesy mengangguk.  “Nanti aku pulang bareng kamu ya!”


“Iya.  Siap.”


“Jangan sampai Cazim yang jemput aku dan aku mesti bonceng sama dia.  Aku nggak mau ada drama yang sama seperti pagi adi.”


Sarah terkekeh sambil mencuil hidung Chesy.

__ADS_1


***


Sore itu Chesy berjalan dengan pincang, melangkah mendekati Yunus yang tengah asik menghitung omzet kekayaannya di sebuah buku dan laptop di depannya,  pendopo di belakang rumah menjadi tempat duduk ternyaman baginya.


“Ini untuk abi!”  Chesy meletakkan pisang goreng ke samping duduk Yunus.


“Ya.  Makasih, Nak.  Siapa yang goeng?  Bik Parti ya?”  Yunus masih asik mencatat- catat tanpa menoleh ke arah Chesy.


“Iya.”


“Oke, ada apa ini nemuin abi kemari?”  Yunus melipat laptop dan mengemas bukunya.  Lalu menumpuk laptop di atas buku dan menyingkirkannya ke samping.  Ia mengambil sebuah pisang goreng dan menyantapnya lahap.


“Abi, pernah nggak abi tanyakan ke Mas Cazim siapa orang tuanya?  Diaman keberadaan mereka?  Apakah abi nggak ingin mengenali besannya abi?  Kapan kita ketemu dengan mereka?”


Yunus tersenyum.  “Tentu saja.  abi juga sudah pernah bicarakan ini dengan Cazim. Dia pasti akan mengenalkan keluarganya kepada kita.  Tapi tunggu waktu yang tepat, soalnya ayahnya sedang di luar kota sekarang.”

__ADS_1


“Abi percaya?”


“Kenapa tidak?  Kamu meragukan itu ya?  Kamu tidak percaya pada Cazim kan?  Sudah, jangan cemas, Cazim itu orang baik, keluarganya juga pasti adalah keluarga baik- baik.”


Sebegitu yakinnya Yunus terhadap Cazim sampai- sampai segala tentang Cazim tidak ada yang perlu diragukan lagi.  Mungkin jika Chesy tidak memergoki Cazim malam itu, Chesy juga melakukan hal yang sama seperti Yunus.  Ini masalahnya Chesy sudah tahu semuanya.  Bahkan ada banyak kejanggalan yang terjadi pada Cazim.  Dia jelas bukan orang baik.


“Sudahlah, Chesy.  Jangan ragukan suamimu.  Abi janji akan mengajak kamu berkenalan dengan keluarganya Cazim.  Cazim juga sudah mengatakan hal itu pada abi, tapi kan kita tidak bisa mendesak atau pun terburu- buru, butuh waktu dan kita harus pahami itu.  cazim menikah denganmu kan juga atas permintaan abi.  Dia menikah tanpa speengetahuan orang tuanya demi abi.  Itu sudah merupakan sebuah tindakan mulia.  Cazim tidak salah dalam hal ini.”


“Abi, tato itu nggak boleh kan dalam ajaran kita?  Tapi Mas Cazim ada tato.  Aku kan istrinya, aku lihat sendiri, abi!”  Muka Chesy memanas saat mengatakan hal itu.  ia yakin abnya pasti mengira kalau ia sudah saling melihat antara suami dan istri sehingga Chesy bisa melihat tato itu.  biarkan saja abinya salah menduga, padahal Chesy melihat tato ketika ia belum menikah dengan Cazim.


Muka Yunus mulai menegang.  “Masak sih?  Betul kamu lihat tato di badan Cazim?”


“Betul.  Seseorang yang mengerti agama, pasti nggak akan membiarkan badannya dikasih tato kan?”


Yunus mulai tampak bimbang.

__ADS_1


 Bersambung


__ADS_2