Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Isak Tangis


__ADS_3

Rival menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum, terlihat senyuman itu tersisip ledekan yang tertuju pada Revalina.


"Bisa-bisanya bilang kena asam lambung itu takdir, itu karena kecerobohan manusianya saja jangan bawa-bawa takdir," ledek Rival.


"Tapi mau seceroboh apapun kalau aku nggak ditakdirkan kena asam lambung juga nggak akan kena Mas, ini itu memang karena takdirnya sudah begini," elak Revalina enggan mengalah.


"Memang susah kalau sudah berdebat sama wanita," ucap Rival pasrah.


"Emang susah kalau sudah berdebat sama mantan Dosen," sahut Revalina menirukan ucapan Rival, tetap tak mau kalah.


"Ya Tuhan," ucap Rival sembari menghembuskan nafas beratnya.


Begini jika bertemu selalu ada pertengkaran kecil, ada saja yang diperdebatkan tapi sekalinya dipisah keduanya sama-sama resah, menangis bahkan hilang semangat hidup.


Perlu ia akui setelah bertemu kembali dengan Rival kondisi Revalina semakin membaik tak ada lagi rasa pusing di kepalanya bahkan bekas jahitan kecil yang ada di kening tak terasa sama sekali, mungkin ini yang dinamakan kekuatan cinta.


Pagi setengah siang Revalina telah menyantap habis makanan yang ada di piring besar itu karena suapan Rival, dan setelah dari pertemuan itu akhirnya Chesy luluh memperbolehkan Revalina kembali pada Rival.


Sore harinya mereka kembali berkumpul, kali ini di ruang tengah yang dingin namun terasa hangat dengan adanya dua pihak keluarga yang sama-sama mencari jalan tengah untuk permasalahan ini.


"Tapi aku nggak kau sampai Reva satu rumah sama Tante Candini," ucap Rafa memberi syarat pada Rival.


"Untuk saat ini Mama pergi dari rumah jadi Reva nggak akan ketemu sama Mama," sahut Rival menatap Rafa.


"Nggak akan ketemu kalau Mama mu nggak pulang, tapi kalau Mama mu pulang?" tanya Rafa dengan nada bicara yang kembali tinggi.


"Rafa," tegur Chesy menyentuh lembut bahu putra sulungnya.


"Kita pasti jaga Reva, aku dan Sarah akan tinggal di rumah Mama. Kalau kita tetap pindah ke rumah Rival justru aku yang nggak bisa karena kantor tempat kerja ku sangat jauh jika ditempuh dari rumah Rival dan aku rasa Reva juga merasakan hal yang sama," ujar Yakub dengan panjang lebar menjelaskan.


"Sudahlah Rafa yang terpenting adikmu aman, kalau pun ada Candini pasti mereka semua bisa jaga. Nanti Umi sendiri yang akan jemput Reva kalau sampai Candini pulang," ucap Chesy mencoba bernegosiasi dengan putranya sendiri.


"Ayolah Kak, aku nggak akan kenapa-napa lagi," bujuk Revalina sembari menggoyang-goyangkan lengan tangan Rafa.


Ia sudah seperti anak kecil yang tak di kasih permen oleh Kakaknya, terus merengek sampai Rafa mengiyakan keputusannya ini.


"Nggak perlu Tante Chesy jemput Reva, kalau sampai Mama pulang aku sendiri yang akan langsung cepat-cepat pindahkan Reva dari rumah itu," ucap Yakub dengan nada serius.


"Aku mohon Kak, kasih aku kesempatan," pinta Rival dengan segala hormat.


Rafa mulai mengembuskan nafas berat, beratnya hembusan nafas itu sampai terasa pada Revalina yang mengerti perasaan Kakak kandungnya ini yang tak ingin adiknya kembali terluka.


"Baiklah, aku pegang janji mu. Kalau sekali lagi aku lihat ada luka sedikit saja pada Revalina, kau harus siap dengan segala resikonya termasuk memulangkan Revalina padaku," ucap Rafa dengan nada serius.


"Aku janji Kak, aku janji akan jaga Reva. Terimakasih untuk kepercayaan yang Kakak kasih padaku," sahut Rival.


Seketika gemuruh dalam dada yang mengendap sejak semalam kini akhirnya terlepas bersamaan dengan masuknya kebahagiaan buah dari kesabaran yang tak sia-sia.


Akhirnya hari itu juga Revalina kembali pulang bersama Rival, moment haru detik-detik terakhir ketika Revalina hendak hengkang dari rumah Chesy diiringi isak tangis persis ketika ia menikah dan ikut Rival.


Saat tengah berpamitan terlihat Yakub dengan sigap memasukkan koper milik Revalina ke dalam bagasi, sementara Rival tetap berada disampingnya.


"Jaga diri baik-baik ya Nak, jangan lupa makan," pesan Chesy sembari mengusap pipi ranum Revalina.


"Pasti Mi, Umi juga jaga diri baik-baik," sahut Revalina sembari tersenyum.

__ADS_1


Ia enggan menunjukkan kesedihanmu pada Chesy dan Rafa, karena sesungguhnya berpisah dengan mereka ia tak mau tapi berpisah dengan Rival juga tak mau tapi hidup adalah pilihan. Tinggal bersama Rival bukan berarti tak bisa bertemu keluarganya lagi.


Setelah berpamitan dengan Chesy, Revalina beralih mendekati Rafa yang nampak lebih berat melepas kepergiannya.


"Kak, aku pamit," ucap Revalina dengan bibir bergetar menatap muka kusut Rafa.


"Iya, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku," sahut Rafa menatap kedua mata Revalina.


Usapan lembut dari tangan Rafa mulai mendarat di kepala Revalina sebagai penutup.


Setelah berpamitan Revalina bergegas masuk ke dalam mobil, diikuti yang lainnya. Tak lama Yakub mulai melajukan mobilnya dengan perlahan keluar dari kawasan rumah Chesy.


Dari kaca spion Revalina terus memandangi Chesy dan Rafa yang masih berdiri di sana memandang kepergiannya.


'Aku nggak boleh sedih, ini yang aku mau,' ucap Revalina dalam hati.


Perlahan tangan Rival mulai menggenggam tangannya, mentransfer kekuatan untuknya.


"Nanti kita sering-sering ke rumah Umi ya," ucap Rival sembari tersenyum.


"Iya," sahut Revalina sembari tersenyum.


Langkah pertamanya ke rumah keluarga Rival, ia merasakan hawa yang berbeda. Iya, hawa yang berbeda sebab tak ada Candini di sini. 


Meski ia merasa sedikit bebas tapi pada relung hati terdalam ia merasakan kesepian, nama Candini sudah terlanjur ada dalam hatinya sebagai sosok Ibu kedua baginya.


"Reva, istirahat dulu kau pasti lelah," ucap Sarah ditengah keriwehan Yakub yang tengah mendorong koper Revalina sekaligus mendorong kursi roda Rival agar menghadap ke arah Revalina.


"Iya, kau istirahat saja," ucap Rival mengatakan hal yang sama.


"Istirahat terus ih, aku mau masak-masak atau ngapain gitu," sahut Revalina.


"Eh jangan," larang Sarah dengan cepat.


Sementara sorot mata Rival berubah tajam sesat setelah Revalina berucap.


"Jangan macam-macam ya, kau ini masih sakit," tegur Rival dengan nada serius.


"Tapi orang sakit jadi makin sakit kalau cuma istirahat terus, harusnya itu gerak-gerak kek," elak Revalina masih dengan bibir manyunnya.


"Pokoknya nggak ada ya kamu lakukan aktivitas berat, jangan buat aku kehilangan kamu lagi," tegur Rival makin tegas.


Mendengar teguran Rival kali ini seketika membuat Revalina meleleh, ia pun tak mampu menahan senyumannya yang kini perlahan menular pada Sarah.


Akhirnya Revalina menuruti teguran Rival, ia tak melakukan aktivitas berat namun tak juga beristirahat. Saat ini ia tengah terduduk manis di ruang tengah, menyalakan televisi menonton film.


"Lho lho lho, bukannya istirahat tapi malah nonton televisi," ucap Sarah baru kembali dari kamar mandi belakang.


"Husttt," desis Revalina sembari melirik-lirik ke arah teras depan rumah.


Kedua mata Revalina mendelik memberi isyarat pada Sarah bahwa suami-suami mereka tengah berada di teras rumah.


"Apa, kenapa?" tanya Sarah lirih bingung.


Percuma sudah ia memberi kode padanya, ternyata Sarah tak mengerti bahasa isyarat tubuh.

__ADS_1


"Jangan keras-keras, Mas Rival ada di depan sama Kak Yakub," pinta Revalina berbisik lirih.


Seketika raut kebingungan di wajah Sarah berubah jadi senyum kembali, dia sadar dan tahu apa yang tengah Revalina bicarakan.


Perlahan Sarah mulai bergabung duduk di sofa panjang itu, menemani Revalina menonton film.


"Aku tau, kau pasti takut kalau ketahuan Rival padahal tadi sudah pamit mau istirahat di kamar," ucap Sarah sembari tersenyum-senyum melihat kenakalan adik iparnya ini.


"Hehehe tahu saja," sahut Revalina terkekeh malu.


"Memang kamu ini bandel, paling nggak bisa disuruh istirahat," gerutu Sarah mulai kesal.


"Padahal di kamar kan ada televisi, kau bisa nonton sambil rebahan tapi malah milih nonton di sini," ucap Sarah menatap heran.


Reflek Revalina menggaruk-garuk kepala belakangnya sambil tersenyum malu, sementara itu wajah Sarah makin terlihat mirip seperti Yakub pada saat meledek terlihat begitu mengenakan.


"Enak di sini Kak, udaranya juga lebih enak," ucap Revalina sembari tersenyum lebar.


"Ah enak apanya, justru enak di kamar," elak Sarah terus kontra dengan pembelaan yang Revalina katakan.


*********


POV Candini


Siang itu untuk pertama kalinya sejak semalaman bermalam di rumah Cindy, ia baru saja keluar dari kamar dengan kedua mata memerah dan sedikit sembab bekas tangisan semalam.


"Akhirnya kamu mau keluar kamar juga Mbak, aku sudah mau cari tukang buat dobrak pintu kamarmu," ucap Cindy menghembuskan nafas leganya sesaat setelah melihat Candini keluar dari kamar.


Sementara itu Candini terus melenggang pergi menuju ke ruang makan yang tak jauh dari kamar tamu yang ditempatinya, ia langsung meraih gelas lalu menyangkan air secukupnya untuk dirinya minum.


Melihat dirinya yang beralih tempat tanpa bersuara, Cindy terus mengikutinya tanpa ada rasa kesal. Agaknya Cindy punya feeling yang kuat ketika melihat posisinya sekarang ini yang tak mungkin jika tak punya masalah, dan tak mungkin masalah itu hanya masalah remeh.


"Ceritakanlah sama aku Mbak," bujuk Cindy untuk yang kesekian kalinya.


"Kamu ada masalah apa, cerita ke adik mu ini jangan kau pendam sendiri terus mengurung diri di kamar seharian," ucap Cindy terus berusaha membujuk Candini.


"Apa kamu nggak dengar kabar dari anak-anak?" tanya Candini mulai mengangkat dagunya menatap Cindy dengan sejajar.


"Kabar apa, anak-anak nggak bilang apa-apa ke aku," jawab Cindy kebingungan.


"Aku nggak tahu apa-apa, kalau begini terus aku jadi cemas gimana caraku bantu kalau aku saja nggak tahu permasalahannya," ujar Cindy sembari mengerutkan keningnya.


"Sebenarnya di rumah lagi ada masalah, aku tahu anak-anak terakhir kesini menanyakan keberadaan ku. Memang selama ini aku gunakan alasan berkunjung ke rumah mu sampai tengah malam ke anak-anak agar aku bisa menemui Dalsa," jelas Candini pada awal permasalahan yang pasti membuat bingung adik kandungnya ini.


"Memangnya Dalsa tinggal di mana, dia sudah punya rumah sendiri?" tanya Cindy masih gagal paham.


Mendengar hal itu Candini mulai menceritakan duduk permasalahan dari awal hingga akhir, dalam sekejap saja tatapan Cindy nampak berubah padanya begitupun dengan reaksi pada ekspresi mukanya terlihat begitu kentara menyikapi cerita Candini.


"Aku nggak mau anak kesayanganku dipenjara, aku nggak mau," ucap Candini kembali menangis histeris.


Saat itu juga Cindy menyediakan bahunya untuk bersandar, perlahan Candini pun tersadar di sana lalu tak lama disusul oleh usapan lembut pada lengan tangannya.


"Yakub jahat sekali, dia bukannya ikut membantu sembunyikan Dalsa tapi justru dia yang menyeret Dalsa ke kantor polisi. Dia sama saja seperti keluarga Revalina yang selalu berusaha mengusik kebahagiaan aku dan anak-anakku," ujar Candini tanpa henti menyalahkan semua orang.


Seketika Cindy menatap Candini dengan matanya yang langsung memicing tajam.

__ADS_1


__ADS_2