
"Salah. Karena kehidupanku bukanlah ranahmu. Dan kamu nggak perlu mencampurinya!" hardik Chesy.
"Loh, kok marah? Aku cuma bantuin Mas Yunus kok."
"Hei, nggak sopan. Kamu sama aku umurnya nggak beda jauh, palingan cuma beda lima tahun. Jangan panggil abiku dengan sebutan Mas. Panggil Pak! Abi jauh lebih tua darimu! Celamitan banget sih?"
"Chesy, makin kamu nggak suka sama aku, aku makin seneng. Abimu itu nggak pernah percaya sama kamu. Dan dia lebih percaya sama aku. Mudah aja bagiku memancing emosimu dan bikin bama kami jelek di mata abimu lebih parah dari ini."
Wah, makin berani dia!
"Apa yang kamu lakukan sampai bisa memata- matai aku dan kasih info ke abi? Jangan sampai aku bikin laporan kalau kamu mengusik privasiku ya, sampai sampai semua pergerakanku diketahui olehmu," gertak Chesy.
"Aku nggak memata- mataimu. Aku cuma mendatangi rumah Cazim karena curiga di sana ada apa- apa saat lihat kamu keluar masuk ke rumah itu. Dan saat aku menguping di samping kamar Cazim, aku dengar pembicaraan antara Cazim, Alando dan dokter. Jadi ya udah, aku sampaikan aja ke abimu."
"Udah ya, jangan lagi kamu campuri urusanku. Kamu itu bukan siapa- siapa."
"Aku calon istri Mas Yunus. Wajar dong aku ikut campur, aku kam calon ibumu."
"Gila kali ya kalau aku punya ibu kayak kamu. Lagi pula abi nggak akan mungkin mau sama perempuan kayak kamu." Chesy melangkah pergi.
Saking kesalnya pada Mimin, Chesy berjalan dengan muka cemberut. Kemudian tergelincir dan terjerembab saat tak sadar sudah menginjak lubang. Kakinya terkilir.
"Aduuh... " Chesy terduduk di pinggir jalan. Ia mencoba untuk bangkit berdiri, namun ambruk lagi karena pergelangan kakinya ternyata sakit sekali.
Chesy tak mungkin bisa pulang jalan kaki jika begini caranya. Ia lalu mengambil hp dan menelepon Cazim.
__ADS_1
"Mas, kamu dimana?" tanya Chesy setelah sambungan telepon terhubung.
"Di rumah." Cazim tengah berbaring di kasur sambil mengunyah kacang telur.
"Mas, jemput aku!"
Cazim memejamkan mata setelah meneguk minum. Ia meletakkan hp di dekat telinga. "Aku ngantuk."
"Aku terkilir dan nggak bisa jalan. Jemput aku cepat!"
"Kalau hanya terkilir pasti masih bisa jalan. Tidak apa- apa jalan saja." Cazim memutus sambungan telepon sepihak.
"Keterlaluan! Kok dimatiin?" Chesy geram sekali. Ia pun kembali bangkit berdiri untuk memulai jalan kaki, namun belum sempat tegak berdiri, tubuhnya kembali ambruk. Proses terkilir lumayan berat hingga mengakibatkannya jadi kesulitan berjalan begini.
Dengan mata berat oleh kantuk, ia membaca chat masuk. Matanya langsung membelalak. Chat dari Senja.
.
Cazim, bisa jemput aku tidak? Aku di kafe dan kesulitan cari kendaraan umum.
.
Cazim segera membalas chat.
.
__ADS_1
Oke. Aku jemput kamu.
.
Cazim mengirimkan pesan dan bangkit secepatnya dari kasur. Kantuknya hilang entah kemana. Ia menyambar kemeja dan berlalu keluar.
Baru saja ia menghampiri motor yang terparkir di depan rumah, ia melihat di kejauhan sana Chesy tertatih berjalan menyusuri jalan dengan kaki pincang. Wanita itu kesulitan melangkahkan kaki.
Cazim memalingkan pandangan. Tujuannya adalah menemui Senja. Ia yakin Chesy bisa berjalan kaki sendiri sampai rumah.
Baru saja Cazim menusukkan kunci motor ke lubangnya, ia melihat Yunus keluar dari rumah dan berkata, "Loh, itu Chesy kenapa? Kok jalannya begitu? Kamu jemput sana cepat!"
Ah ya ampun! Cazim terpaksa mengangguk. Ia beberapa kali mengengkol motornya namun mesinnya tidak menyala. Akhirnya ia malah batal mengendarai motor. Ia meninggalkan motor dan berjalan menjemput Chesy yang tampak terduduk sendiri di pinggir jalan.
Sekitar dua ratus meter, Cazim setengah berlari mendekati Chesy. Pria itu langsung jongkok di hadapan Chesy. "Cepat naik! Akan aku gendong!"
Chesy menatap punggung pria itu. Ia akan digendong? Ada rasa kikuk saat harus mendekat ke punggung itu.
"Kenapa diam? Ayo!" Cazim menunjuk punggungnya sambil menoleh ke arah Chesy.
Melihat Chesy yang hanya diam, Cazim pun menarik tangan Chesy dan mengalungkannya ke lehernya. Ia mengangkat badan mungil yang menempel di punggung dan menggendongnya. kedua paha Chesy yang berada di pinggang kiri dan kanan Cazim itu ditahan oleh kedua lengan kokoh Cazim.
Percayalah, jantung Chesy berdebar saat berada di posisi tanpa jarak begini. Jangan sampai Cazim merasakan debaran itu di punggungnya.
Bersambung ...
__ADS_1