Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Terlalu Cepat


__ADS_3

Di balik kepergian Candrawati dari dunia ini, memberikan hikmah besar dalam hidup Diatma. Dia melihat Cazim kini berdiri di halaman rumahnya setelah melayat ke pemakaman. 


Bukan tanpa alasan Cazim bisa berada di sana sekarang, smeua itu karena Chesy. Mungkin mulut Chesy telah berbuih saat menyampaikan pada Cazim bahwa hidup Candrawati sudah berakhir, orang mati tidak layak mendapat dendam. Tidak ada lagi yang perlu dibenci. Manusianya sudah ke alam lain. 


Diatma juga sudah menyesali perbuatannya, setiap kesalahan berhak mendapatkan kesempatan kedua. Ini perkara akhlak. Dosamu memang kamu yang tanggung, tapi aku akan kelamaan nungguin kamu dibakar di neraka kalau kamu nggak mau memikirkan ini. Itulah yang dikatakan Chesy. 


Sebenarnya Cazim masih memendam dendam dan kebencian, namun entah kenapa kebencian dan dendam itu luntur setelah Candrawati meninggalkan dunia. Itulah yang membuatnya kini berada di halaman rumah Diatma setelah ikut melayat ke pemakaman. Chesy bersama dengannya. Anak- anak masih sekolah.


"Cazim, terima kasih kau sudah menghadiri pemakaman omamu," ucap Diatma. 


Cazim diam saja, lidahnya masih enggan untuk banyak bicara. 


"Chesy, terima kasih kau sudah menemani Cazim kemari."


Chesy mengangguk senang.


"Mengenai harta milik papa, semua ini untuk kalian dan cucu- cucuku. Ini mungkin terlalu cepat membicarakannya, tapi kondisi papa tidak sebugar dulu. Kesehatan jantung papa juga tidak seperti manusia lainnya. Usia tidak tahu entah kapan akan berakhir," sambung Diatma. 


Satpam melongo melihat Cazim dan Chesy menghadap majukannya. Bahkan Diatma juga memgakui dironya sebagai papanya Cazim. Ternyata benar Cazim adalah anaknya Diatma yang hilang. Satpam ingat pernah berantem dengan dua insan itu, pernah lempar- lemparan dan bahkan mengumpati sepasang suami istri itu. Waduh! Ia mendadak tegang dan merasa terancam.


Pandangan Cazim tertuju ke arah satpam.


Saat itulah Satpam langsung menunduk. 


Diatma mengikuti arah pandang Cazim. "Oh ya, itu satpam yang kau ceritakan itu. Papa belum sempat ambil tindakan apa pun karena sibuk dengan pemakaman omamu." Diatma melambaikan tangan ke arah satpam. "Kemari kau!"


Satpam berlari mendekati bosnya. "Ada apa, bos?"

__ADS_1


"Kau harus tahu bahwa ini adalah anakku, Cazim. Dan ini menantuku, Chesy. Itu saja yang perlu kau tahu. Mulai hari ini, kau boleh angkat kaki dari sini. Kau cari pekerjaan lain. Kau pernah mengusir anakku kan?"


Satpam terkejut, namun pasrah. Ia bisa apa?  Ia menunduk. Lalu balik badan.


"Tunggu!" ucap Cazim membuat satpam terhenti.


"Jangan pecat dia, Pa!" pinta Cazim.


"Kenapa? Dia sudah menjadi penyebab hingga kau tidak bisa bertemu denganku," tanya Diatma.


"Ini bukan kesalahannya. Dia satpam yang setia, taat pada peraturan papa. Tidak layak untuk dipecat. Dia hanya menjalankan tugas. Kalau pun ada kesalahan di sini, itu karena papa. Papa yang membuat orang lain tidak mengenaliku sebagai putramu, maka bukan salah satpam ini yang sudah mengusirku." Cazim menatap satpam.


Yang ditatap menunduk setelah melempar senyum dan anggukan kepala ke arah Cazim.


"Kau tidak mau dipecat kan?" Cazim merangkul pundak satpam sambil mengguncangnya kuat. 


Hmm, dia sudah memanggil bos sekarang setelah dulu memaki Cazim.


"Sebentar lagi aku akan mematahkan lehermu jika kau mengulangi kesalahanmu padaku!" bisik Cazim di telinga satpam itu, sengaja bikin jantung satpam ketar ketir.


Satpam menunduk, makin menunduk.


"Badan gagah begini, harus berani!" Cazim menepuk keras punggung satpam membuat satpam tersebut terbatuk kecil. 


Pukulan Cazim keras sekali.


"Cepat cuci mobilku sekarang!" titah Cazim.

__ADS_1


"Ba baik, pak bos." Satpam langsung menangkap kunci mobil yang dilempar oleh Cazim dengan gesit. 


Satpam bergegas membawa mobil ke samping rumah untuk dicuci.


Tidak ada komentar dari Diatma, pria itu diam saja melihat tingkah Cazim yang ngerjain Satpam.  Terserah Cazim saja mau melakukan apa. 


"Jadi, sekarang papa minta kau pikirkan bagaimana kau mau menjalankan bisnis papa, lanjutkan ini. Dan teruskan untuk anak- anakmu," ucap Diatma. 


"Ini belum saatnya. Aku belum punya waktu untuk memikirkan itu. Lagi pula, itu bukan bidangku. Aku tidak tertarik menjalankan bisnis perusahaan raksasa seperti punya papa. Aku pergi." Tatapan Cazim kemudian tertuju kepada Rebecca yang ada di sisi Diatma. Sebentar saja manik matanya menatap wajah itu, kemudian berlalu pergi diikuti oleh Chesy.


"Eh, kita naik apa? Mobil kan sednag dicuci sama satpam itu." Chesy menghentika langkah, membuat Cazim pun berhenti juga. Pria itu sampai lupa kalau mobil sedang dicuci.


"Pakai saja mobil papa. Ini kuncinya." Diatma menyerahkan kunci mobil kepada Cazim. Tak lain Lamborghini. "Besok biar supir antar mobil kalian."


Cazim mengambil kunci. Kemudian masuk ke mobil.


"Apakah kamu akan ambil tawarannya papa?" tanya Chesy saat sudah duduk di sisi Cazim. 


"Melanjutkan bisnis papa?" Cazim balik tanya. Ia sebenarnya malas membahas ini. Tapi Chesy membuatnya mengupas topik yang menurutnya tidak penting ini. 


Chesy mengangguk.


"Entahlah. Aku tidak tertarik untuk saat ini. Aku capek dengan situasi ini. Ini terlalu cepat. Lusa akan bisa dibicarakan. Tidak sekarang."


"Aku mengerti."


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2