
Cazim masih mematung. Beberapa menit kondisi masih sama. Pelukan tangan kecil Chesy masih melingkar di perut rata Cazim.
Sunyi.
Hanya terdengar sayup- sayup suara perbincangan di luar.
Hingga akhirnya Cazim memilih untuk balik badan, membuat pelukan tangan Chesy terlepas begitu saja. Mereka bertukar pandang dengan tatapan yang dalam. Lekat, Cazim menatap mata hitam Chesy.
Pria itu mengangkat tangannya, meraih pundak Chesy. Tak tahu mengapa, Cazim lega melihat Chesy bisa berdiri tegak di hadapannya. Ketakutan dan kecemasan yang sejak tadi menghantui tidak terjadi. Dan Cazim merasa nyaman.
Cazim menarik pundak Chesy dan membawa ke pelukannya.
Seketika Chesy memejamkan mata merasakan pelukan pria itu.
Cazim memeluknya? Chesy masih tidak yakin. Pelukan itu hangat sekali. Elusan lembut di punggungnya pun kian menambah kesan haru. Cintanya membuncah. Benar- benar dahsyat efek dari pelukan pria yang dia cintai itu. Hatinya berdebar. Hanya ada kenyamanan di hati Chesy.
Dan itu membuatnya seperti melayang entah kemana. Chesy menempelkan kepalanya ke dada bidang Cazim, membalas pelukan Cazim dengan erat. Posisi ini pepet maksimal. Mengharukan sekali. Bahkan Chesy mampu mencium aroma tubuh lelaki itu. Biarkan saja keadaan begini terus. Biarkan sampai beberapa menit berlalu. Jangan lepaskan!
"Beristirahatlah!" Cazim melepas pelukan.
Loh kok dilepas? Sebenarnya Chesy masih ingin berada di pelukan Cazim, tapi malah dilepaskan.
"Kamu nggak marah lagi?" lirih Chesy dengan tatapan menelisik.
Cazim membimbing Chesy menuju bed tanpa mengatakan apa pun. Membantu wanita itu terbaring. Lidahnya masih berat untuk bicara.
__ADS_1
Tatapan Chesy tertuju pada wajah Cazim yang datar, sulit ditebak. Apa yang terjadi pada pria itu. Dia tidak memberi respon apa pun terhadap pengakuan Chesy.
Tapi sudahlah, Chesy tidak berharap hal itu. Ia sudah mengungkapkan perasaannya, itu sudah cukup lega.
Cazim melangkah meninggalkan bed.
"Kamu mau kemana?" Chesy menatap punggung Cazim yang sudah sampai pintu.
Pria itu menoleh, tidak mengatakan apa pun. Hanya diam lalu menutup pintu.
"Senja?" Cazim menatap gadis yang berdiri di sisi pintu.
"Aku mau pergi," lirih Senja dengan kedua tangan memeluk lengannya sendiri, tatapannya lurus ke depan tanpa menatap Cazim di sebelahnya. "Aku tidak akan pernah kembali untukmu lagi."
"Apa maksudmu? Kau mengatakan akan pulang ke rumah dan kembali lagi kemari bukan? Lalu?"
Cazim membisu, menatap gadis di depannya nanar.
"Aku sudah lama mencintaimu, Cazim. Aku memendam rasa ini. Dan saat kamu mengakui kalau kamu mencintaiku, aku hibahkan hidupku hanya untukmu. Lalu apakah semuanya harus berakhir setelah tragedy yang hampir merenggut maut? Apakah tragedi itu mengubah segalanya? Baiklah, kamu boleh menentukan pilihan dan biarkan aku pergi untuk selamanya. Hatiku sakit. Hancur." Senja menangis dan berlaku pergi.
Namun Cazim menarik tangan Senja hingga tubuh gadis itu berputar dan membentur tubuh Cazim. Pria itu memeluk Senja.
"Jangan pergi! Aku mencintaimu."
Senja memejamkan mata, lalu membalas pelukan Cazim.
__ADS_1
Benak Cazim diliputi rasa yang campur aduk. Dan ia masih sulit memisahkan rasa yang membaur itu. Sekian lama Cazim memendam cinta dan berharap bisa mendapatkan cinta Senja, kini setelah ia mendapatkannya, apakah ia akan melepaskannya begitu saja? Namun separuh hatinya seperti terisi dengan hal lain. Kepikiran Chesy yang mau tidak mau telah mengurangi porsi rasa terhadap Senja. Cazim masih butuh waktu untuk menentukan perasaannya.
"Kalau begitu lepaskan Chesy."
"Tidak. Beri aku waktu!"
"Untuk apa? Kamu menikah dengannya karena kamu mengira tidak akan bertemu lagi denganku bukan? Lalu sekarang kamu sudah bertemu denganku, maka biarkan dia lepas darimu."
"Tidak sesepele itu. Kau akan mengerti saat aku ceritakan masalah yang sebenarnya," jawab Cazim.
"Kalau begitu katakan sekarang. Alasan kenapa kamu menikahinya. Apa hanya karena permintaan abinya Chesy yang saat itu sekarat? Itu sajakah? Sekarang abinya Chesy sudah sembuh, jangan pikirkan hal itu lagi."
Cazim diam.
"Atau kamu takut dengan pamormu di depan banyak orang? Kamu sebagai pemuka agama akan kelihatan buruk di depan semua orang jika menceraikan istri dan menikah dengan wanita lain, begitu?" Senja menatap intens.
"Aku janji akan katakan semuanya kepadamu, tidak sekarang."
Senja menghela napas lelah.
"Pergilah! Sebentar lagi Pak Yunus akan datang. Kau tidak seharusnya di sini," titah Cazim.
"Kamu nggak punya waktu banyak. Aku nggak bisa bertahan lama di sini hanya untuk sesuatu yang tidak pasti, kau tahu kalau aku di sini hanya untukmu bukan?" Senja kemudian pergi.
Di balik pintu, Chesy menyenderkan punggung di dinding mendengar perbincangan itu.
__ADS_1
Bersambung