
Oh my God! Mimpi apa semalam sampai akhirnya bisa melihat wajah itu? Chesy balik badan, menyenderkan punggung ke pintu dengan degupan jantung tak menentu. Degupan itu sepersekian detik lebih kencang dari keadaan normal. Napasnya pun terengah cepat.
Tok tok...
Suara ketukan pintu kembali diulang dari luar.
Tak ingin salah lihat, Chesy mengulang pandangannya ke luar. Oh ya ampun, ternyata ia tidak salah lihat. Cazim. Itu adalah Cazim. Pria berwajah tampan dengan tubuh gagah di balik seragamnya itu tidak berubah meski sudah tujuh tahun berlalu. Rambutnya khas potongan polisi.
Chesy bingung. Apa yang harus ia lakukan? Bertemu dengan ayah dari anak- anaknya setelah sekian lamanya berpisah bukanlah hal mudah. Banyak sekali pertimbangan matang. Banyak yang harus dipikirkan. Apa yang akan ia katakan ketika Cazim mempertanyakan tentangnya. Ia belum siap memberikan jawaban.
Chesy masuk ke kamar, menyambar cadar, kemudian keluar.
Atur napas, atur detakan jantung. Lalu menekan handle pintu dan membukanya.
"Selamat malam!" sapa Cazim dengan suara khas seorang perwira. Tegas dan berwibawa.
"Malam," jawab Chesy dengan suara rendah, mengubah suara supaya tidak dikenali.
"Benar ini kediaman anak bernama Revalina?" tanya Cazim.
Hah? Kenapa Cazim mencari nama anaknya? Apalah Cazim sudah tahu bahwa Revalina adalah putrinya?
"Benar, itu putriku. Ada apa?" Chesy mulai gelisah. Takut Cazim sudah mencurigai keberadaan putri kandungnya.
"Bisakah kami bertemu sebentar?"
"Bertemu dengan putriku? Sekarang?"
__ADS_1
"Ya, ada hal penting yang ingin kami tanyakan. Kami bertugas sebagai pihak yang berwenang untuk menanyakan sesuatu pada Revalina. Harap Anda sebagai orang tuanya untuk kooperatif dan membantu kewenangan kami."
"Masalah apa?" tanya Chesy.
"Mengenai penganiayaan yang terjadi di SDIT."
Chesy terkejut. Kenapa Revalina harus ditanyai mengenai kasus itu?
“Anak saya terlibat apa dengan kasus itu?” tanya Chesy dengan resah.
“Hanya untuk ditanyai saja. sebab Ananda Revalina ada di lokasi kejadian saat peristiwa itu terjadi. Sedikitnya, pernyataan dari Ananda Revalina akan sangat membantu untuk penyelidikan ini mengingat di lokasi kejadian tidak ada cctv.”
Ketegangan pun memudar. "Mm... Anak saya sudah tidur. Bisakah menemui anak saya besok saja?"
Cazim menatap arloji di tangannya. Belum terlalu malam. Tapi anak itu sudah tidur.
“Umi, haus! Minta minum!” rengek bocah yang keluar dari kamar dengan rambut acak-acakan, mata setengah merem dan lemas. Revalina.
Chesy jadi canggung melihat bocah itu keluar. Baru saja ia mengakui bahwa Revalina sudah tidur, tapi bocah itu malah keluar kamar.
“Ya, akan Umi ambilkan.” Pandangan Chesy kini tertuju pada Cazim. “Masuklah!”
Cazim dan seorang temannya melangkah masuk, duduk di sofa sebelum tuannya mempersilakan. Kakinya sudah pegal sejak tadi berdiri di depan pintu, sudah saatnya untuk duduk.
“Sebentar, saya ambilkan minum untuk anak saya dulu.” Chesy ke dapur mengambil air mineral. Ia termenung sebentar, menatap kosong ke arah gelas berisi air mineral.
Tujuh tahun silam, Chesy merasa sangat sakit dan hancur atas pernyataan Cazim yang mengaku untuk memintanya kembali pada orang tua saja dan memilih untuk menyerah. Sudah sejauh itu perjuangan Chesy demi keutuhan rumah tangga mereka, namun pada akhirnya Cazim malah menyerah dan mengalah oleh keadaan.
__ADS_1
Chesy kemudian menelepon Yunus.
“Abi, bisakah aku minta tempo waktu lagi kepada Abi untuk Mas Cazim menyelesaikan urusannya?” Chesy harap-harap cemas.
“Laki- laki itu yang dipegang omongannya, kalau omongannya saja sudha tidak bisa dipertanggung jawabkan, maka jangan harap segala urusan pun akan baik bila dipegang olehnya.” Yunus to the point. “Ini bukan soal bisa atau tidak. Tapi soal komitmen. Rumah tangga saja dibangun berdasarkan komitmen. Kalau tidak pegang komitmen, maka semuanya akan musnah. Cazim tidak perlu kembali ke rumah ini jika dia tidak bisa memenuhi kesepakatan yang sudah dia buat. Keputusan abi sudah bulat.”
Yunus berucap tegas, mendominasi dan tidak bisa dinggaggu gugat lagi.
Fix, Chesy tidak akan mungkin kembali ke rumah Yunus. Ia sudah memilih untuk pergi dari rumah dan menemani Cazim. Lalu sekarang, tidak mungkin ia kembali ke rumah Yunus tanpa Cazim. Ia tidak mau mengabarkan pada Yunus bahwa Cazim sedang ditahan.
Beberapa bulan menetap di rumah Fatih, membuat Chesy merasa sungkan mengingat ia tidak bekerja, tidak memiliki penghasilan, hingga ia seperti menjadi beban bagi Fatih. Sama halnya Cazim datang hanyalah meninggalkan beban untuk Fatih dengan menarih Chesy di rumah itu.
Merasa tak nyaman, Chesy pun berpamitan meninggalkan rumah Fatih, memilih tinggal di kontrakan murah. Tabungannya amsih ada untuk bertahan hidup.
Nasib baik berpihak padanya. Ia bertemu dengan wanita tua yang membutuhkan tenaga untuk mengelola restoran, Chesy bekerja sama dengan wanita tua itu. ia meyakinkan bahwa ia sanggup mengelola restoran milik wanita tua itu dengan bekal keyakinan dan obral omongan halunya yang setinggi langit, juga dengan membawa- bawa motto orang- orang cerdas yang pantang menyerah hingga membuat wanita tua meyakininya.
Chesy juga memberikan ide menu masakan yang berbeda, unik, sesuai dengan seleranya. Padahal Chesy sendiri sama sekali tidak bisa memasak. Tidak pernah tahu menahu dengan urusan masak memasak.
Lalu saat wanita tua itu memberikan kepercayaan pada Chesy, sepenuhnya Chesy berjuang dari nol. Ia merekrut lima belas orang karyawan untuk mengelola restoran.
Mulai dari tukang masak abal- abal yang dibantai habis-habisan supaya bisa memasak dengan benar, belajar memasak menu masakan supaya memberikan khas lezat. Chesy benar-benar memulai dari nol, perjuangannya keras. Ia tidak terjun sebagai pekerja, namun sebagai bos alias pemimpin di restoran yang bertugas mengatur segala urusan mulai dari A sampai Z.
Ternyata restoran yang dibangun dari perjuangan jungkir jumpalitan itu berhasil. Pelanggan banyak, ramai kunjungan dan menghasilkan banyak cuan. Chesy mendapat gaji besar, bonus pun mengalir setiap kali omset naik.
Chesy disibukkan dengan restoran, setelah itu disibukkan pula dengan proses persalinan, berikutnya kesibukannya makin hebat dengan mengurus tiga bayi sendirian.
Meski demikian, ia masih memantau restoran dan sering mendatangi restoran dengan membawa tiga bayinya yang masing- masing menggunakan troli bayi. Ada kamar khusus di restoran yang disediakan untuk tiga bayinya.
__ADS_1
Bersambung