Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Mata Elang


__ADS_3

"Aku ikut Pak Joseph saja," ucap Revalina buru-buru masuk ke dalam mobil.


Tak peduli supir Joseph menatapnya seperti apa,  yang terpenting sekarang adalah dirinya sendiri ia tak mau bertemu dengan sosok hantu di jalan seorang diri.


Tak lama Joseph masuk ke dalam mobil, duduk berdampingan dengan Revalina sembari tersenyum-senyum.


"Jalan Pak!" perintah Joseph pada supir.


"Siap Pak," sahut supir itu perlahan mulai melajukan mobil.


Dalam perjalanan pulang tak henti-hentinya Joseph tersenyum, sayangnya ia bukan orang bodoh yang tak bisa membedakan mana senyum bahagia dan mana senyum meledek dan kali ini senyuman Joseph tengah tersenyum meledek.


"Bapak kenapa sih dari tadi senyum-senyum terus, apa nggak kering itu gigi?" tanya Revalina dengan nada kesal.


"Hihihi," Joseph justru terkekeh.


"Tidak mungkin kering, memangnya gigi ku dijemur," sahut Joseph membalas pertanyaan Revalina dengan candaan.


"Kalau sudah begini berarti besok pagi aku jemput saja, kita sama-sama berangkat ke bandara," ujar Joseph mulai membahas hal yang serius.


"Terimakasih Pak, aku bisa berangkat sendiri," sahut Revalina sembari tersenyum ke arahnya.


"Lah, orang mobil mu ada di kantor. Kau mau ambil kapan sementara pagi -pagi buta kita harus berangkat," ucap Joseph terkejut menatap Revalina.


Seketika jantung seperti tersambar petir, ia baru sadar jika saat ini dirinya tengah meninggalkan mobil miliknya di kantor. Kedua netranya terbelalak takut bagaimana cara menghadapi Rival besok, sementara saat ini saja sudah menunjukkan kecemburuan butanya.


"Yah, gimana ini Pak?" tanya Revalina panik.


"Ya nggak gimana-gimana besok aku jemput," jawab Joseph dengan santainya.


Revalina masih ling-lung bingung mau berkata apa, sepetinya kata-katanya hari ini sudah habis termakan kebingungan dan kepanikannya sekarang.


Kini bukan hantu lagu yang menjadi ketakutan Revalina tapi Rival, sekarang ini detik-detik kepulangan ke rumah membuat jantungnya serasa mau copot saja. Tak sanggup kepala ini membayangkan Rival mengetahui jika ia diantar oleh Joseph. Semuanya pasti akan kacau. Ia harus menjaga perasaan Rival.


'Pati Mas Rival bakal marah sekali, aku juga sih kenapa nggak mikir-mikir dulu tadi main masuk mobil saja. Kalau sudah begini mending aku ketemu setan sepuluh dari pada ketemu Rival malam ini,' ucap Revalina dalam hati.


Tak lama kemudian akhirnya mereka tiba di kediaman Candini yang kini jadi tempat tinggalnya juga besana Rival. Saat ini jantungnya bukan kali berdegup kencang melainkan seperti terkena gempa berkekuatan tinggi.


"Sudah, sampai sini saja Pak," ucap Revalina pada supir pribadi Joseph.


"Kurang mau sedikit lagi ini," protes Joseph.


"Stop, sudah di sin!" perintah Revalina lebih tegas lagi.


Mobil Josoeh langsung terhenti beberapa meter dari gerbang utama rumah Candini, sengaja seperti menghindari tatapan orang di rumah terutama Rival tak melihat langsung dirinya diantar oleh atasannya.


"Terimakasih buat tumpangannya Pak, selamat bertemu besok," ucap Revalina cepat-cepat keluar dari mobil.


"Sama-sama," sahut Joseph.


Baghhh.

__ADS_1


Pintu mobil kembali ditutup olehnya, setelah itu ia pun segera berlari kecil menuju ke rumah.


Tok tok tok tok.


Revalina mulai mengetuk pintu rumah dengan perasaan takut tak karuan, sungguh ketakutannya kali Iki dua kali lipat lebih besar dari pada ketakutannya sholat seorang diri di mushola kantor tadi.


Klek klek.


Terdengar dari dalam rumah seseorang tengah memutar kunci, lalu perlahan membuka pintu rumah.


"Assalamualaikum," ucap salam Revalina.


"Waalaikumsalam," sahut Rival dengan wajah datar.


Revalina mulai mencium punggung tangan Rival, perlahan masuk ke dalam rumah. Di sana Rival ternyata hanya seorang diri menunggu dirinya.


"Sendirian Mas, Mbak Sarah mana?" tanya Revalina sembari melirik kesana kemari.


"Sudah pulang dari tadi," jawab Rival.


"Oh, ya sudah kalau begitu kita langsung ke kamar yuk. Kamu pasti capek nungguin aku dari tadi ya," ajak Revalina dengan ceria.


Perlahan Revalina pun mendorong kursi roda Rival menuju ke kamar, sembari mendorong kursi rodanya Revalina coba memutar otaknya lebih keras mencari cara untuk bisa mengambil hati sang suami.


"Mas, gimana terapi mu tadi pagi?" tanya Revalina mulai membuka perbincangan di antara dirinya dan Rival.


"Lancar," jawab Rival singkat.


"Syukurlah," ucap Revalina seolah lega mendengar jawaban Rival.


"Kamu sudah makan belum Mas?" tanya Revalina kembali.


"Sudah," jawab Rival singkat lagi.


Melihat sang suami terus begini lama-lama Revalina jadi jenuh, sisi lain seorang perempuan dalam dirinya tak bisa dihilangkan ia tetap makhluk rumit dengan segala keegoisan dalam dirinya.


Akhirnya makam itu Revalina meninggal Rival untuk bersih-bersih, setelah selesai bersih-bersih Rival terus mendiamkannya di atas ranjang mereka.


Keduanya terbaring sama-sama menatap melamun ke arah plafon, benar-benar tak ada perbincangan.


'Katanya kalau ada masalah harus selesai sebelum tidur, lah ini kenapa belum juga diselesaikan, aku sudah keburu mengantuk ini,' ucap Revalina dalam hati.


Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya untuk memancing mulut Rival berbicara lebih dulu dari pada dirinya.


Ia mulai menarik selimut, memposisikan tubuhnya miring ke kiri memunggungi Rival.


"Reva, jangan tidur dulu," ucap Rival sesaat setelah Revalina menarik selimutnya.


Dari balik punggungnya Revalina tersenyum-senyum merasa berhasil membuat Rival lebih dahulu bersuara, melihat kesempatan damai ini perlahan ia pun mulai membalikkan badan menatap Rival yang juga tengah menatapnya.


"Kenapa Mas?" tanya Revalina memasang wajah polosnya.

__ADS_1


"Harus berapa kali aku bilang, jangan pernah bawa masalah sampai tidur. Kita harus selesai permasalahan hari ini pada malam ini juga," ujar Rival dengan tegas.


Ketegasan nada bicaranya sedikit membuat Revalina sakit hati, sungguh ia benar-benar seperti burung dalam sangkar jika begini cara mainnya.


"Kenapa kamu sama Bos kamu itu bisa lembur barengan?" tanya Rival.


Sudah ia duga sejak masih berada di kantor, sang suami akan mempermasalahkan hal ini.


"Ya gimana Mas, aku ini ajudan dia dan dia itu CEO kita itu satu kesatuan yang masing-masing pekerjaaan itu berkesinambungan. Mungkin memang aku tadi lebih banyak pekerjaan yang belum selesai dan Pak Joseph lebih dulu selesai tapi semua tanda tangan pada berkas itu kan tetap butuh tanda tangan Pak Joseph. Harusnya kamu itu lega karena aku ada yang temani di kantor, asal kamu tahu selama beberapa jam aku nggak tahu ada Pak Joseph yang masih di kantor, aku ketakutan seorang diri," ujar Revalina panjang lebar dengan sejelas-jelasnya.


"Masalahnya kalian ini bukan muhrim, harus tahu batasan," tegur Rival kembali. "Kalian tidak bisa setiap waktu selalu berdua. Setidaknya ada orang lain yang juga bersama dengan kalian."


Kening Revalina mulai mengerut tajam, ia semakin tak mengerti dengan setiap ucapan Rival yang seakan terus memojokkan dirinya sementara yang terjadi saat itu tak ada yang perlu dibesar-besarkan.


"Aku tahu itu Mas, aku juga masih punya akal buat berpikir," sahut Revalina dengan nada ketus.


"Mulut mu bisa bilang begitu, tapi aksimu berbeda Reva. Kau mau diantar pulang sama Pak Joseph padahal kau sendiri bawa mobil, sebelum kau banyak alasan padaku aku bisa kasih opsi lain, kau bisa pesan taxi kenapa harus diantar Joseph segala," ucap Rival, lirih menusuk.


Terkejut, tak disangka Rival tahu jika ia tadi di antara oleh Joseph padahal ia sudah meminta Jodoh untuk berhenti sedikit menjauh dari pagar rumah agar tak terlihat dari dalam rumah, ternyata sama saja.


Namun kali ini Revalina benar-benar sudah lelah, rutinitas di dalam kantor sudah membuatnya hampir gila dan ketika pulang mencari tempat ternyaman untuk melepaskan penat justru diusik dengan permasalahan seperti ini lebih baik tidur saja.


"Mas, kalau kau cuma mau mengajakku berdebat mendung besok saja karena aku harus tidur malam ini karena besok aku mau keluar kota," ucap Revalina kembali memunggungi Rival.


Seketika mulut Rival kembali terdiam, entah diam karena bersalah atau diam melanjutkan amarah dalam diam, ia harus beristirahat malam ini juga tak peduli dengan masalah yang selalu timbul entah dari mana asalnya.


Keesokan harinya sebelum subuh Revalina baru mempersiapkan keperluannya, membawa beberapa baju santai dan baju formal, tak lupa membawa satu heals yang senada dengan beberapa baju formal yang dibawanya.


"Aku harus bawa laptop juga, pasti Pak Joseph marah kalau aku nggak bawa laptop," gumam Revalina.


Lantas ia pun segera meraih laptop yang ada di laci meja, tak memasukkan benda penting itu ke dalam koper.


"Ya Tuhan, aku hampir lupa bawa flashdisk," ucap Revalina baru teringat pesan Joseph padanya.


Pagi itu Revalina benar-benar kerepotan sendiri, tak disangka kerepotannya membuat Rival terbangun dari mimpi indahnya.


"Kau jadi berangkat pagi ini?" tanya Rival menatap ke arah Revalina yang ada di ujung ranjang dengan posisi dirinya yang terbaring.


"Iya," jawab Revalina singkat.


"Nanti kamu jangan lupa makan, karena beberapa hari aku ada di luar kota sibuk dengan pekerjaan ku kamu harus bisa makan sendiri tanpa harus diingatkan," ucap Revalina memberi pesan pada sang suami.


"Iya," sahut Rival.


Semarah apakah dirinya pada Rival, tetap saja tak bisa untuk tak memikirkannya. Lewat teguran Ia berharap Rival bisa merubah kebiasaan selama dirinya berada di luar kota.


"Kau berangkat jam berapa memangnya?" tanya Rival kembali.


"Setelah sholat subuh aku langsung berangkat," jawab Revalina.


Setelah menjawab pertanyaan Rival, Revalina mendadak gusar. Ia pun kembali mengecek ponselnya, memastikan keberangkatannya pagi ini agar bisa tepat waktu.

__ADS_1


"Berangkat sama Pak Joseph?" tanya Rival menyorot Revalina dengan tatapan elangnya.Dahi bertaut.


Bersambung


__ADS_2