
"Bu Reva, mobilnya sudah siap," ucap security pada Revalina.
Sontak Revalina terkejut, mengalihkan pandangan matanya ke arah mobil yang kini sudah berada di depan dan seorang security yang ia mintai bantuan.
"Terimakasih Pak," ucap Revalina.
"Sama-sama Bu," sahut security.
"Pak, saya pulang dulu ya," pamit Revalina bergegas menuju ke.mobil meninggalkan Joseph yang masih berdiri di lobi sana.
Revalina tak benar-benar pulang, ia berbelok arah menuju ke lapas untuk menjenguk adik iparnya. Sebenarnya ia tak pernah berpikir akan menjenguk Dalsa seorang diri tapi karena kejadian tadi padi dan kini siangnya mendapat peluang untuk pulang cepat alhasil ia pun memanfaatkan waktu yang ada dengan membesuk ****** itu.
Tiba di lapas, seperti pada umumnya ia diperiksa dari ujung Rambut hingga ke ujung kaki. Beruntung ia tak membawa masuk apapun termasuk ponsel sekalipun.
"Silahkan," ucap petugas mempersilahkan masuk Revalina ke ruang besuk.
"Terimakasih," sahut Revalina mulai mengerakkan tungkainya masuk ke dalam.
Setibanya di ruang besuk Revalina harus menunggu cukup lama untuk bertemu dengan Dalsa, entah bagaimana cara polisi-polisi itu menjemput Dalsa sampai selama ini.
"Lama sekali, jangan-jangan Dalsa ngamuk nggak mau keluar pas tahu aku yang jenguk dia," ucap Revalina mulai menduga-duga.
Makin lama Revalina semakin kesal saja, lelah rasanya menunggu Dalsa keluar dari sel tahanan padahal ia hanya ingin berbincang sedikit saja. Namun di tengah kekesalannya, ia masih berusaha untuk bersabar dengan harapan tak lama lagi Dalsa keluar menemuinya.
Beberapa lama kemudian akhirnya harapan Revalina terwujud, Dalsa keluar dengan tangan terborgol keluar bersama dengan seorang polisi.
Terlihat wajah Dalsa begitu kusut dan makin kusut saat mendapat bentakan dari polisi penjaga lapas untuk duduk, dengan terpaksa Dalsa duduk di hadapan Revalina.
'Kejam juga orang-orang di sini nggak melihat gender siapapun dibentak kalau ada kesalahan sedikit saja, bagus,' ucap Revalina dalam hati.
Setelah mendudukkan Dalsa, polisi itu langsung bergegas pergi memantau ruangan tersebut dari kejauhan.
Dengan kedua tangan menyangga di atas meja, kedua sorot mata Dalsa terus menusuk Revalina dengan sangat tajam.
"Apa maksud kedatanganmu kesini, kau kau lihat kesengsaraanku di sini lalu kau tertawakan bersama keluargamu?" tanya Dalsa lirih kesal.
Revalina tak terkejut lagi mendengar pertanyaan tak mengenakkan seperti ini keluar dari mulut Dalsa, baginya sudah makanan sehari-hari mendapatkan perlakuan seperti ini. Namun anehnya wajah Dalsa nampak lesu, bicaranya pun terdengar malas seperti orang yang kelelahan tak seperti Dalsa dulu yang selalu menggebu-gebu.
"Aku cuma mau mengajakmu berbicara tentang lawyer mu yang dua kali datang ke rumah," jawab Revalina membalas tatapan tajam itu.
Seketika raut wajah Dalsa berubah dari yang semula kusut dasar kini tiba-tiba tersenyum ketika Revalina menyebut lawyer.
"Kenapa kamu takut?" tanya Dalsa sembari memutar bola matanya.
Seketika ia pun mendengus kesal dengan pertanyaan Dalsa yang seakan dia tak takut dan bahkan lebih ke menantang, saat itu juga ia jadi semakin yakin bahwa memang Dalsa tak akan berubah dan tak akan pernah meminta maaf darinya dan keluarganya.
"Kenapa aku harus takut sama lawyer mu dan kenapa aku harus takut sama perkara yang sudah jelas akan kumenangkan," sahut Revalina sambil tersenyum.
Sebenarnya dalam hati ia sangat kesal sekali dengan Dalsa, akan tetapi melihatnya begitu menyebalkan akhirnya ia pun membalasnya dengan sikap yang sama.
Tak peduli akan berapa lama ia bersikap seperti Dalsa, entah siapa yang betah sampai akhir, kita lihat saja.
"Hemhh," decih Dalsa mengalihkan pandangan matanya ke kir sembari terus terkekeh.
"Sombong sekali, belum tentu menang juga banyak cakap kau," gerutu Dalsa dengan nada kesal.
"Sudah tentu, kalau nggak menang kan aneh berarti ada yang bermain," sahut Revalina dengan pedenya.
__ADS_1
Dalsa langsung memalingkan muka, terlihat semakin kesal dengan Revalina namun berusaha dia tahan entah karena polisi yang saat ini terus mengawasinya atau karena hal lain.
"Jaga bicaramu, kamu sudah renggut kebebasanku. Aku mendekam di sini gara-gara kamu, sekali-kali pakai otak kalau mau bicara sekarang mana bisa aku bermain bagaimana caraku bermain," ucap Dalsa mulai meninggikan nada bicaranya.
"Hemhhh," desah Revalina tersenyum tipis mendengar kalimat konyol dari Dalsa.
Rasanya ingin sekali menguliti satu persatu kalimat tersebut, namun melihat polisi yang ada di ujung ruangan memberi kode padanya bahwa waktu besuk
"Aku bukan orang bodoh, aku tahu akal busuk mu. Kau mau pakai cara apapun aku akan tetap menang, ingat itu!" ujar Revalina lirih tegas.
Revalina langsung beranjak pergi meninggalkan Dalsa di ruangan besuk itu, ia telah menghabiskan waktu kurang dari yang ditentukan. Saat akan keluar dari sana Revalina menyapa polisi penjaga tersebut dengan senyum manisnya.
"Tolong awasi tahanan itu Pak," pinta Revalina lirih.
"Tanpa Ibu minta seperti itu saya sudah lakukan karena dia suka buat masalah di dalam sel," sahut polisi.
Mendengar hal itu Revalina terkejut, kedua netranya membesar seakan tak percaya kehidupan Dalsa di luar dan di dalam penjara tenyata sama saja.
'Nggak berubah juga orang itu, aku pikir kalau di dalam sel digabung sama tahanan lain dia bakal ciut tenyata masih ada tanduknya,' gumam Revalina dalam hati.
Setelah dari lapas, Revalina bergegas pulang ke rumah. Namun mampir sebentar ke toko kue, membeli beberapa kue untuk orang rumah.
Di etalase terlihat banyak macam kue, Revalina bingung mau pilih yang mana alhasil semua macam kue ia beli semua termasuk kue macaron yang ia beli dengan jumlah cukup banyak.
Pulang-pulang Revalina membawa paper bag cukup banyak hingga ia kewalahan, beruntung Sarah yang tengah bersantai di teras rumah tengah membersihkan bunga aglonema kesayangannya langsung sigap membantu Revalina.
"Ya ampun Reva, kau bawa apa ini?" tanya Sarah terkejut reflek langsung meraih beberapa paper bag ditangan Revalina.
Meski sudah dibantu Sarah akan tetapi rasanya pada kedua tangannya masih terasa berat, dengan cepat Revalina pun berlari kecil masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam," sahut Sarah dari belakang membuntutinya.
Di saat yang bersamaan Rival keluar dari kamar sembari membawa laptop dengan keadaan terbuka dan menyala, Rival melongo kebingungan memandangi Revalina.
"Ya ampun Reva, kau ini bawa apa?" tanya Rival shock.
Brekkkk.
Akhirnya penderitaan telah usai, Revalina telah meletakkan semua paper bag berisi kue itu ke atas meja ruang makan tak lama disusul Sarah yang juga meletakkan di atas sana.
"Huhh akhirnya," ucap Revalina sembari menghembuskan nafas leganya.
Setelah berhasil meletakkan paper bag itu ke atas meja barulah Revalina sadar Rival dan Sarag tengah menatapnya dengan tatapan kebingungan.
"Ini kue Mas, Mbak. Tadi itu pas pulang kantor aku kau kue tiba di toko kue aku bingung mau pilih mana ya sudah aku beli semua jenis," jelas Revalina sembari tersenyum-senyum.
Meski telah dijelaskan Rival dan Sarah masih menatap bingung pada semua belanjaan kue Revalina.
"Kamu ini sudah seperti mau syukuran saja," ledek Sarah sembari menggelengkan kepalanya.
"Siapa yang mau habiskan kue sebanyak itu?" tanya Rival menatap Revalina.
"Ya kamu lah sama Mbak Sarah," jawab Revalina dengan santainya.
"Hah," ucap Rival dan Sarah kompak saling menatap.
Lucu sekali melihat reaksi terkejut mereka berdua membuatnya terus terkekeh, tak lama ia mulai mengeluarkan semua kue-kue itu dari paper bag dibantu Sarah sementara Rival memilih mengerjakan pekerjaannya di ruang tengah dengan alasan pusing melihat belanjaan Revalina.
__ADS_1
"Rival, nanti makan malam sama kue saja ya," ucap Sarah dengan senyum meledek.
Rival tak menjawab, hanya merespon ucapan Sarah dengan gelengan kepalanya sembari satu tangan memegang kening.
"Hahahaha," tawa renyah Sarah lepas tak terkendali.
Revalina yang melihat hal itu juga ikut tertawa, ia sendiri baru sadar ternyata kue yang dibelinya banyak juga pantas kalau Sarah tertawa sekencang ini juga Rival yang pusing melihat barang belanjaannya.
Setelah semua berhasil ia keluarkan dari paper bag, Revalina baru berpikir beberapa kue yang dibelinya ada yang bisa tahan berhati-hati tapi banyak yang hanya tahan sehari.
"Kak, kayaknya hari ini kita harus habiskan ini," ucap Revalina sembari menunjuk ke segerombolan kue yang sudah dipisahkan berdasarkan ketahanan.
Perlahan Sarah mulai melirik ke arah yang ditunjuk Revalina, menatap baik-baik pada setiap kue yang ada lalu salah satu kue tersebut diambil lalu dibukanya.
"Sepetinya kalau di masukkan kulkas masih bisa ini mah," ujar Sarah.
"Yah tapi kan kualitasnya jadi buruk dan nggak akan enak lagi Kak," sahut Revalina.
"Duh, lagian kamu kenapa beli banyak sekali. Begini nih kalau laper mata," keluh Sarah sembari mengerutkan dahinya.
"Jangan masak malam ini ya," pinta Revalina.
"Jadi gagal diat hari ini," gumam Sarah lirih.
Malam harinya semua sudah berkumpul di ruang makan, menunggu Yakub pulang lalu menyantap makan malam bersama-bersama.
Di tengah meja sudah ada berbagai jenis kue berjejer dengan beraneka warna, salah satu dari mereka enggan menyentuh sebelum Yakub pulang.
"Mbak, ini Kak Yakub masih lama?" tanya Rival.
"Sebentar aku coba telfon dulu," sahut Sarah mulai mengutak-atik ponselnya.
Akhirnya setelah menunggu hampir sejam lamanya Sarag mau berinisiatif menelfon suaminya.
"Mas, kau mau coba macaron dulu?" tanya Revalina menawarkan kue yang ia sembunyikan di meja dapur.
"Aku tadi beli dua box ukuran besar, kita ambil satu saja," bujuk Revalina.
"Terserahlah, aku sudah lapar ini," jawab Rival.
Mendengar jawaban Rival, Revalina pun bergegas pergi ke dapur untuk mengambil kue macaron miliknya.
"Kamu lembur ya malam ini?" tanya Sarah pada Yakub yang ada di sebrang sana.
"Kenapa nggak pulang juga, ini semua lagi pada nungguin kamu mau makan malam bersama seperti biasa," ujar Sarah.
Revalina melenggang kembali menyodorkan box itu ke hadapan Rival yang sudah kelaparan.
"Buka Mas," suruh Revalina.
Rival pun dengan cepat membuka bos tersebut yang di ikat rapi dengan pita cantik berwarna pink.
"Ya Tuhan, terus sekarang keadaannya gimana masih di rumah atau malah di ruang sakit?" tanya Sarah pada Yakub terkejut reflek menutup mulutnya.
Sontak seluruh pasang mata tertuju pada Sarah, ia dan Rival terkejut dengan pertanyaan Sarah pada Yakub kali ini.
Bersambung
__ADS_1