Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Vonis


__ADS_3

Akhirnya tiba dimana Cazim menjalani proses persidangan. 


Negosiasi Cazim untuk menjadi justice collaborator disetujui, namun tetap ia harus menjalani proses hukum.  Bahkan permintaan pengacaranya yang menyatakan supaya Cazim menjadi tahanan bebas pun tidak disetujui meski dijamin dengan banyak ragam cara.  Cazim benar-benar kehabisan waktu dan tenaga mengurus persidangan tersebut.  


Jaksa penuntut umum menjatuhkan tuntutan hukuman penjara selama dua puluh tahun menimbang Cazim sebagai penegak hukum justru turut serta dalam kejahatan narkoba, melindungi kejahatan dan menyelewengkan tugas.


Setelah pembacaan JPU, Cazim dan pengacaranya bekerja keras untuk melakukan pembelaan, banyak ungkapan yang disampaikan oleh Cazim saat membacakan pledoi.  Beberapa bulan bolak-balik sidang tidak lantas membuat Cazim merasa tersudut.  Dia memang seperti baja, semuanya terlihat biasa saja.


Hanya satu yang ada di pikiran Cazim, yaitu Chesy.  Apa kabar Chesy?  Apakah wanita itu sudah kembali kepada abinya? Tidak ada kabar apa pun dari Chesy.


Fatih pun sama sekali tidak membesuk.  Ayahnya itu benar- benar sudah terpukul.


Dan Senja, sahabatnya itu pun tidak muncul lagi.


Lalu… Diatma. Kemana dia?


Tepat disaat putusan hakim, Cazim siap menerima konsekuensi akhir dari putusan yang disampaikan.  Dan hakim memutuskan Cazim akan menjalani masa hukuman penjara selama satu tahun tiga bulan atau disebut dengan lima belas bulan, dikurangi masa tahanan, ini putusan yang sangat jauh dari tuntutan, salah satu alasan adalah dijadikannya Cazim sebagai JC dalam menyelesaikan kasus besar yang ditangani pihak yang berwajib. 


Selama menjalani hukuman, maka Cazim diijinkan untuk menjalankan tugas jika diperlukan untuk kerja sama dalam pemberantasan narkoba. Cazim juga tidak dicopot dari jabatannya.  Hanya dimutasikan saja. intinya, setelah masa tahanan usai, maka Cazim masih bisa kembali meniti kariernya di dunia kepolisian.


Terdakwa diijinkan untuk banding.  Namun Cazim tidak mengambil kesempatan banding, ia sudah merasa puas dengan putusan hakim.


Gembong narkoba benar-benar tertangkap setelah kerja sama dengan Cazim terlaksana.  Selama empat bulan masa tahanan yang dia jalani selama ini, maka ia tinggal melanjutkan sisa hukuman sebelas bulan ke depan. 


 


***


Beberapa bulan kemudian.


Cazim tengah berada di dalam mobil yang melaju, Hamdan menyetir mobil tersebut.  Ini adalah hari pertama bagi Cazim menghirup udara segar setelah sekian lama ia berada dalam tahanan, meski pun bisa dihitung beberapa bulan saja ia mendekam dalam tahanan, namun hal itu tidak berpengaruh apa pun bagi Cazim.  Ia bahkan terkejut saat dinyatakan bebas, karena mengira hukumannya masih lama.  Ia mendapat remisi dua bulan.  Sehingga hukumannya hanya terhitung tiga belas bulan saja.  


“Kita ke rumah ayahku dulu!” ajak Cazim.

__ADS_1


“Oke.”


“Kau tahu dimana keberadaan Chesy?”


“Tidak.  Apakah selama kau dipenjara dia tidak pernah menjengukmu?”


“Tidak.”  Hamdan mengedikkan pundak.


“Barangkali dia sudah melupakanmu dan mencari penggantimu.”


Cazim diam saja.  Ia pernah meminta Chesy untuk menceri kebahagiaan lain yang pantas, maka sudah sewajarnya wanita itu melakukannya. Hanya saaj, ia ingin melihat bagaimana kondisi Chesy saat ini, juga kondisi anaknya.


“Aku terlalu sibuk dengan tugasku sehingga aku tidak bisa memantau kondisi keluargamu,” ucap Hamdan.  “Kalau Chesy sudah melupakanmu, bagaimana?”


“Itu lebih baik.  Aku tidak pantas untuknya.”


“Kalau merasa tidak pantas, lalu kenapa kau masih mau menemuinya?”


“Allahu Akbar, jadi Chesy sedang dalam keadaan hamil saat kau tinggalkan?”  Hamdan kaget bukan main.


“Iya.”


“Haduuuh… kenapa kau tidak bilang?”


“Apa fungsinya kalau aku mengatakannya kepadamu?  Apa kau mau membayar perawat untuk anak dan istrimu?”


“Tidak juga.  Oh ya, usia kandungan Chesy berapa bulan saat kau tinggalkan?” tanya Hamdan.


“Sekitar tiga bulan.”


“Kalau begitu bayinya sudah lahir.  Ya ampun, sayang sekali kau tidak menyaksikan proses persalinan istrimu.  Kau juga tidak menimang bayimu saat baru terlahir ke dunia.  Ini momen yang tidak akan mungkin bisa terulang.”


Cazim hanya memutar mata, menatap keluar, melihat anak-anak yang berlarian di sekolah yang dilintasi.

__ADS_1


“Semoga saja kelak aku akan merasakan momen dimana istriku melahirkan, aku bisa menimang anakku di hari pertama dia terlahir ke dunia,” ucap Hamdan.


“Carilah istri dulu, baru kau bisa bicara seperti itu.”


“Nah, itu dia maksudku.  Aku tidak bisa terlalu fokus mengurus masalahmu saat kau berada di tahanan karena aku sibuk dengan pernikahanku.”


Cazim terbatuk.  Kabar itu membuatnya tersedak.  “Menikah?  Sungguh?”


“Ya.”


“Ooh… aku tidak menyangka jika ternyata makhluk sepertimu laku juga.  Apa burungmu hidup?”


“Wah, pertanyaan konyol!  Apa kau butuh bukti?  Istriku sudah membuktikannya.”


“Perkenalkan dia padaku.”


“Tentu.”


Tak lama kemudian mobil yang mereka naiki sampai ke rumah Fatih.


“Aku tunggu di sini saja,” ucap Hamdan yang ingin memberikan waktu privasi kepada Cazim untuk berbagi kisah dengan Fatih.  Butuh banyak kata untuk Cazim mampu meluluhkan hati ayahnya.  Maka Hamdan tidak ingin menjadi saksi untuk membuat situasi mereka menjadi canggung, lebih baik menjauh.


Cazim melangkah mendekati pintu rumah.  Seorang lelaki asing menyembul keluar dari rumah itu sebelum Cazim sempat mendorong pintu.


Loh, dia siapa? Kenapa malah ada orang asing di rumah itu?  


Menyusul Pak RT yang menyembul keluar.


Sepertinya di rumah Fatih sedang didatangi tamu.  Tapi ada urusan apa sampai- sampai RT pun ikut berurusan?  Apakah Chesy masih tinggal di sini dan dilamar orang?  Ah, kenapa pikiran Cazim menerka-nerka begini?


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2