
Chesy berbaring dengan gelisah di atas kasur king size. Tubuhnya terasa ngilu dan linu- linu. Ini pasti efek dari proses tabrakan pagi tadi sehingga meninggalkan nyeri begini. Chesy tidak menelan obat anti nyeri yang sempat disarankan oleh perawat, akibatnya tubuh pun rasanya jadi tak karuan, nyaris seperti ditinju oleh puluhan kepalan tangan.
Sesaat setelah aksi tabrakan, memang tidak ada rasa ngilu di badannya, hanya rasa sakit pada bagian luka saja yang dia rasakan, namun setelah beberapa jam berlalu, rasa ngilu itu baru terasa di sekujur tulang badannya. Efek bantingan keras itu memang tidak terjadi secara spontan, justru akan terasa setelah waktu berlalu cukup lama.
Chesy gelisah, membolak- balikan badannya ke kiri dan ke kanan, sedangkan Cazim yang sejak tadi belum terpejam, masih di posisi duduk sambil fokus pada hape itu mulai memperhatikan Chesy. Heran melihat Chesy yang gelisah seperti orang terkena alak di pasar. Guling sana guling sini.
"Kau kenapa?" tanya Cazim.
"Bukan urusanmu!" Chesy malas sekali bicara dengan Cazim.
"Sejak tadi gelisah."
Chesy tidak menanggapi.
"Sini kalau mau dipeluk."
Chesy membelalak mendengar ucapan itu. Ia memalingkan wajah, sekaligus memunggungi Cazim.
"Kukira kau sedang ingin," celetuk Cazim enteng.
"Ingin apa maksudmu?" gertak Chesy makin muak.
"Entahlah. Kegelisahanmu soalnya kelihatan berbeda."
"Diamlah! Jangan banyak mengomentari!" Chesy kesal sekali. Ingin rasanya melemparkan bantal guling ke arah Cazim dan membuat pria itu membungkam.
__ADS_1
Chesy memejamkan mata, ia mengantuk sekali, tapi rasa linu linu di sekujur badan membuatnya kesulitan tidur. Mata berat namun tanpa sadar mulutnya terus merintih dan meracau.
"Ada apa denganmu? Kau mengigau terus," ucap Cazim sambil menepuk pipi Chesy.
Mata Chesy sedikit terbuka, berat sekali. "Tadi pagi aku ketabrak motor, sakit semua," lirihnya tanpa sadar.
Cazim mengecek kondisi badan Chesy dengan cara membuka pakaian wanita itu, menyingkapnya ke atas. Ia melihat pinggul istrinya membiru, di punggung juga lebam. Bagian betis pun lebam.
Cazim mengambil minyak zaitun dan menuangkan sedikit demi sedikit ke bagian yang lebam. Kemudian telapak tangannya mulai menyentuh, mengurut pinggul Chesy dengan perlahan.
Sentuhan tangannya di kulit pinggul Chesy tidak membuat wanita itu terjaga, pria itu melakukan aksi urut dengan lembut. Chesy di posisi menelungkup dengan baju dinaikkan sampai ke atas sehingga Cazim leluasa mengurutnya.
Ternyata wanita keras kepala ini memiliki kulit yang putih dan halus! Cazim.menggelengkan kepala memikirkan isi kepalanya.
Setelah selesai mengurut punggung dan pinggul, pria itu menyingkap celana Chesy sampai ke paha, ia mengurut betis sampai paha istrinya.
Malam terus berjalan hingga pagi pun mengganti malam. Chesy terkejut menatap wajah Cazim yang berada di jarak dua centi dari mukanya. Wajah yang ternyata begitu cool saat dalam keadaan tertidur pulas. Mulutnya sedikit terbuka dengan tubuh di posisi menelungkup memeluk bantal guling.
Dengan cepat telapak tangan Chesy mendorong muka itu supaya menjauh darinya.
Cazim hanya menggeliat, tidak terganggu meski didorong oleh Chesy.
Dan satu lagi yang membuat Chesy membelalak adalah satu paha Cazim yang ternyata teronggok manis di atas pinggangnya.
"Menjauh sana!" Chesy menyingkirkan paha Cazim.
__ADS_1
Gerakan itu membuat Cazim terjaga, ia membuka mata merasakan satu kakinya didorong cukup kuat.
"Jangan peluk peluk aku!" ketus Chesy muak sekali.
Cazim tidak menanggapi. Ia mengusap wajah dan menggelengkan kepala untuk membuang kantuk yang masih menyerang. Subuh sudah menjemput.
Cazim bangkit duduk, menurunkan kaki ke lantai.
"Sudah enakan badannya?" tanya Cazim dengan kepala menunduk dan mata terpejam. Masih ngantuk.
Chesy baru sadar kalau tubuhnya sudah tidak linu linu lagi. Dan ia juga merasakan sesuatu yang licin di badannya, yaitu minyak zaitun. Memangnya ada yang mengurutnya tadi malam? Badannya sudah enak sekali.
"Eh, tunggu. Siapa yang mengurut badanku?" tanya Chesy dengan raut tegang, takut kalau Cazim yang melakukannya.
"Aku," jawab Cazim sambil berjalan ke kamar mandi.
Chesy membelalak. Enteng sekali Cazim mengatakannya. Chesy meraba pinggul dan punggungnya yang terasa licin terkena minyak zaitun. Artinya bagian itulah yang sudah melewati momen urut. Kulitnya meremang membayangkan telapak tangan Cazim yang menyentuh- nyentuh kulit badannya.
Bruk!
Chesy melempar bantal guling ke arah pintu kamar mandi yang spontan langsung tertangkap oleh tangan Cazim yang baru saja keluar dari kamar mandi.
***
Bersambung ...
__ADS_1
Demi kalian, akhir bulan Emma Shu update banyak banget. Kasih koin untuk menambah energi... Salam sayang selalu