Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Jelek dan Pantas Dihukum


__ADS_3

"Gadis ceroboh! Apa yang ada di pikirannya? Lihat saja, jangan panggil aku Rival jika dia tidak bisa kubawa pulang sebagai calon istri. Aku butuh dia untuk memperluas bisnis abangku. Setidaknya dia membawa manfaat. Sudah banyak hal yang dilakukan oleh Bang Yakub kepadaku sampai aku menjadi seperti ini, bahkan urusan bisnisnya pun akan dipercayakan kepadaku, lalu apa yang tidak bisa aku lakukan untuknya? Pikir Rival.


Ia kemudian menelepon seseorang. "Kirim kemeja ukuran biasa ke kampusku!"


"Ke kampus? Tidak ke alamat rumah, Mas?" sahut suara di seberang. Tak lain pemilik butik.


"Aku minta ke kampus. Sekarang. Jangan pakai lama."


"Warna apa, Mas?"


"Terserah. Yang penting tidak norak. Kamu sudah tahu ukuran bajuku."


"Tentu. Pelanggan setia tentu saya sangat hafal. Baik, akan segera kami antar sekarang, secepatnya. Ditunggu, Mas Rival."


Rival meninggalkan toilet, berjalan menuju ke ruangannya. Ia sempat berpapasan dengan dosen wanita yang malah terbengong dan menatap takjub pada postir badan Rival yang tampil bak model celana dalamm. 


Sadar menjadi pusat perhatian atas tampilannya yang tanpa baju, Rival bergegas masuk ke ruangannya. Ia menggantung kemeja ke gantungan di dinding dan duduk di kursi putar dengan frustasi. Mengingat kejadian tadi, saat gelas berisi kopi panas menyiram kemejanya, ia merasa sangat ingin menjewer telinga gadis itu. Benar- benar tidak bisa diampuni. 


Tok tok...


"Masuk!" titah Rival mendengar pintu ruangannya diketuk.


Revalina menyembul masuk.


"Saya bawakan kemeja bapak. Ini tadi ada pegawai toko yang mencari ruangan bapak, katanya mau menyerahkan kemeja ini, dan dia menitipkan kemeja ini ke saya." Revalina menyerahkan kemeja yang dilapisi plastik kaca itu.


Rival menyambar kemeja dan segera mengenakannya. Ia melepas ikat pinggang dan menurunkan resleting di posisi miring dari hadapan Revalina, membuat Revalina menjerit dan berkata, "Ini di kampus, Anda bisa berbuat kurang ajar! Hentikan!"

__ADS_1


Rival tak peduli atas teriakan Revalina. Ia memasukkan ujung kemeja ke celana supaya rapi, lalu kembali memasang resleting dan ikat pinggang dengan benar. Kini penampilannya kembali rapi.


Eh? Revalina memutar mata. Pkirannya sudah sangat sensitif sekali sejak tadi. Ini semua gara- gara pikirannya hanya tertuju pada Rajani. Teringat perilaku para lelaki biadab yang sudah menghancurkan kehidupan kembarannya itu. Rival tidak boleh mati dengan cepat, Revalina harus menggali informasi dari Rival tentang motif peleceh*n terhadap Rajani, jika memang ada lagi orang lain yang terlibat, maka orang itu harus ditangani juga. Semisal Dalsa, atau siapa pun.


Tidak perlu melibatkan pihak yang berwajib, Revalina akan menanganinya sendiri, sama seperti kasus yang sudah- sudah yang berjalan dengan mulus.


“Kamu sudah membuat saya malu di hadapan banyak orang.” Rival menggemeletukkan giginya.


Revalina diam saja.  matanya menatap ke bawah.  Tak sudi menatap wajah Rival, wajah itu membuatnya sangat ingin mencelakainya saja.


Rival menulis sesuatu di sebuah karton berukuran HVS.


‘Saya jelek dan pantas dihukum’.


Tulisan itu ditulis dengan huruf besar- besar menggunakan spidol.  Lalu diberi tali rafia di sisi dua sudut atasnya.  Ia mengalungkan tali rafia itu ke leher Revalina, karton tepat menggantung di dadanya.


“Kelilingi gedung kampus ini!  Sekarang!”  Rival marah sekali.  Ia bahkan sangat ingin menghukum Revalina lebih dari itu.  Mengingat ia tadi seperti jadi ajang pameran gara- gara tidak pakai baju dan menjadi pusat perhatian semua orang.   Bukan hanya dingin yang menjalari kulit saja yang membuatnya emosi tingkat tinggi, tapi juga malu.


“Apa lagi yang kau pikirkan?  Keluar!” titah Rival.


“Kita bernegosiasi.”


“Tidak.”


“Bapak mau saya jadi calon istri bapak kan?  kalau begitu saya mau jadi calon istri bapak.”


Seketika Rival mengernyit.  Ada angin apa ini?  Kenapa mendadak saja Revalina bersedia menjadi calon istrinya?  Bukankah kemarin dengan tegas Revalina menolaknya?  Membuat Rival yang datang dengan digandrungi rasa percaya diri itu merasa harga dirinya pun dijatuhkan sejatuh- jatuhnya sampai ke dasar lautan samudera. Dia meyakini satu hal, wanita mana yang tidak tertarik padanya?  Tapi ternyata rasa takaburnya itu dibalas dengan kontan.  

__ADS_1


Dan sekarang, tiba- tiba Revalina bernegosiasi, minta supaya Rival menerimanya menjadi calon istri.  


Senyuman manis terbit di wajah tampan Rival.  Seandainya saja tidak dalam kondisi sangat membenci, seharusnya Revalina menangkap senyuman itu sebagai senyuman dahsyat seorang pria.  Sangat eksotik dan menambah ketampanan Rival.


“Tapi jangan hukum saya speerti ini.  Bagaimana?” tawar Revalina dengan muka lempengnya.  Tatapan datar. Dagu terangkat.


“Jadi, kamu memintaku supaya mau menjadikanmu sebagai calon istri hanya karena kamu tidak mau dihukum seperti ini?” Rival mengernyit.  Betapa dangkalnya alasan yang diajukan oleh Revalina untuk menjadi calon istri seorang Rival.


Sayangnya Rival tidak tahu, ada rencana tersendiri yang sedang dibangun di pikiran Revalina.  Jika dengan menjadi calon istri Rival maka ia bisa menguak seluruh rahasia yang tercipta tentang kematian Rajani, kenapa tidak?  Rival adalah saksi kunci terakhir tentang siapa saja yang terlibat dalam kasus itu, maka Revalina rela menjadikan dirinya sbagai tumbal untuk menguak misteri ini.


Demi Rajani, apa pun akan ia lakukan.  Saat ini isi kepalanya tidak ada hal lain selain ditimbun oleh peristiwa menyayat yang menimpa Rajani.  Semua terjadi di depan matanya, bagaimana mungkin ia akan bisa melupakan hal itu begitu saja?


“Dangkal sekali alasan persetujuanmu ini, Revalina!”  Rival menyeringai.


“Bapak jawab saja, mau atau enggak?  Kalau nggak mau, ya udah saya nggak maksa.  Saya akan jalani hukuman ini, tapi jangan harap saya akan berubah pikiran.  Kesempatan nggak datang dua kali.”


“Kamu pikir saya berharap sekali bisa menjadi calon suamimu?”


“Oh… Baiklah.  Aku akan keliling gedung kampus.”  Dalam hati Revalina sempat menjerit kesal, apa jadinya saat ia mengelilingi gedung kampus dengan tali gantungan seperti ini di lehernya?  Pasti semua orang akan menertawakannya, kemudian memvidiokannya, lalu diviralkan.  


Apa lagi Dalsa, pasti dia akan menertawakan dan menghujat Revalina sepuasnya.  Ini tidak mudah.  Bagaimana pula Revalina bisa kembali menjadikan Rival sebagai calon suami jika pria itu sudah menolaknya begini?  padahal Revalina berharap bisa masuk di kehidupan Rival supaya bisa mencari semua nama yang terkait dalam kasus kematian Rajani.  Jangan sampai Rival mendapat hukuman mati, tapi pihak yang menjadi dalang malah tertawa terbahak karena tidak ketahuan.


Revalina melangkah menuju pintu.  Namun ia terkejut saat tiba- tiba kalung dengan bandul karton di lehernya ditarik dengan sekali sentakan dan terlepas dari gantungannya.  Revalina menoleh ke arah Rival, pelaku yang menarik karton tersebut.


“Kamu jadi calon istriku mulai sekarang!” Rival melenggang pergi meninggalkan Revalina yang mematung.


 

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2