Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Harus Bersabar


__ADS_3

"Aku nggak tau bagaimana harus menyikapi situasimu ini, sebab aku nggak tahu detil masalah ini. Tapi dari yang aku dengar, kamu menyimpan luka dan dendam." Chesy menghela napas. "Mas Cazim, kalau kamu beranggapan bahwa ayah adalah orang yang kamu sayangi dan satu-satunya orang yang kamu anggap orang tuamu, seenggaknya kamu jangan kecewakan dia. Kita udah kecewakan ayah sejak menikah tanpa sepengetahuannya, bahkan aku hadir di hidupmu pun membawa kekecewaan buat ayah. jadi jangan tambah lagi kekecewaannya dengan rasa kecewa yang baru," ucap Chesy.


Cazim mengangkat wajah dan menatap Chesy lekat. Dahinya terlipat seakan mempertanyakan apa maksud perkataan Chesy.


"Kalau kamu ikuti perkataan ayahmu, mungkin ini akan mengurangi rasa kecewanya padamu," imbuh Chesy.


"Perkataan yang mana?" 


"Tanyain aja ke ayah, maunya ayah sekarang bagaimana untuk meleburkan kekecewaannya. Lalu ikuti kemauannya."


"Kecuali menyuruhku menemui papa, maka aku akan ikuti."


"Itu sama aja kamu masih memegang keegoisan. Singkirkan dulu keegoisanmu. Demi mendapat perhatian ayah."


"Entahlah, aku membenci papa dan selamanya tidak akan pernah bisa memaklumi situasi ini." Cazim mengusap wajahnya kasar.


"Jadi sekarang kamu mau hubungan kita ini lanjut atau enggak? Kalau kamu masih memegang keegoisanmu itu, maka selamanya masalah ini nggak akan selesai. Kamu pun nggak akan pernah mendapat ridha dari abi." Suara Chesy meninggi. Ia balik badan, memunggungi Cazim.


Cazim menoleh, menatap punggung istrinya. 


"Huuufth..." Cazim melepas napas berat. Dan entahlah ... Kenapa ia merasa tidak nyaman saat melihat Chesy ngambek begini. Urusannya bakalan panjang jika istri sudah ngambek. Padahal Cazim biasanya tidak peduli dengan kemarahan seseorang jika itu menentang kehendaknya. Tapi kenapa ia tidak berkutik saat melihat Chesy ngambek begini? Dunianya terasa sempit sekali. Apa memang begini nasib para lelaki saat istrinya marah? Haduuh...

__ADS_1


Lalu sekarang Cazim harus berbuat apa?


Beberapa kali Cazim menghela napas, berusaha mempraktikkan ilmu seperti yang disampaikan ayahnya memang sulit. Berzikir untuk mencoba ikhlas. Nyatanya ikhlas itu sulit. Apa lagi jika harus ikhlas menerima masa lalu papanya.


Cazim menggeser duduk mendekati Chesy, lengan mereka menempel sempurna.


"Aku akan coba pikirkan ini." Cazim memegang tangan Chesy.


"Bukan untuk dipikirkan, tapi dikerjakan," ketus Chesy.


"Baiklah. Aku akan ikuti kemauan ayah."


Wiiih, jurus ngambeknya Chesy berhasil membuat Cazim takluk. Chesy bersorak dalam hati. Horeee... Memang harus pakai jurus ngambek dan marah untuk istri menaklukkan suami. 


Pagi hari, sepulang dari pasar, Fatih yang berbelanja banyak ragam untuk keperluan mengolah bakso, segera menyuruh anak buahnya untuk mengelola bahan- bahan yang sudah dibeli. 


Beginilah rutinitas kesehariannya Fatih. Setelah shalat subuh, ia ke pasar untuk berbelanja. Kemudian ia dan anak buahnya akan mengolah bahan- bahan itu menjadi bakso sekaligus bumbunya. Setelah bakso siap saji dan bumbu giling pun siap pakai, anak buahnya akan mengantar bakso dan bumbu tersebut ke warung bakso milik Fatih yang jaraknya tidak jauh dari kediamannya. 


"Ayah!" Chesy mendekati mertuanya ketika melihat mertuanya itu tengah duduk beristirahat.  Ia duduk di sisi mertuanya. 


Fatih sekilas menatap Chesy, tatapannya dingin saja. Tidak ada kehangatan sama sekali. 

__ADS_1


Sabar, Chesy. Tatapan dingin itu menang menyakitkan, tapi ia harus berjuang untuk mendapatkan ridha, seperti yang dikatakan Cazim kemarin.


"Ini minum, Yah." Chesy meletakkan gelas berisi teh. Mungkin ini salah satu caranya mengambil simpati mertua, dengan menyuguhkan minuman. Memang sepele, tapi setidaknya memberi kesan baik.


Fatih hanya menoleh saja tanpa memberi jawaban.


Oke, wajar saja Fatih bersikap dingin begini. Disebabkan Chesy bukanlah sosok yang dia harapkan, maka sambutan begini dianggap wajar saja. Asalkan tidak menaboki mukanya, maka sikap itu dianggap lumrah. 


"Sekarang maunya ayah bagaimana?" tanya Chesy berusaha selembut mungkin.


Fatih mengangkat kedua lengannya beriringan dengan pundaknya yang juga terangkat. Menandakan ia pun tidak tahu harus mengatakan apa.


"Tuhan mungkin memang menjadikan aku sebagai jodoh Mas Cazim. Mungkin aku bukan sosok yang ayah harapkan, tapi Tuhan memiliki rencana lain," ucap Chesy.


"Kamu ndak perlu menasihati ayah, ayah sudah paham itu. Ini hanya butuh waktu saja." Fatih masih terlihat dingin.


"Baiklah, ayah. Tapi pada intinya. Aku sekarang adalah menantu ayah. Nggak peduli ayah angkat atau apa pun itu, intinya Mas Cazim sangat menghormati ayah sebagai orang tuanya, maka dari itu aku pun mengharap keridhaan dari ayah."


Manik mata Fatih barulah tertuju ke wajah Chesy. Tatapan itu tidak sedingin tadi. 


"Kamu pergilah bersama dengan Cazim menemui orang tua kandungnya, walau bagaimana pun, ikatan darah ndak akan pernah bisa lebur. Jadi pertemukanlah orang tua kandung Cazim pada orang tuamu. Mereka berbesanan. Ayah ini hanya orang lain. Jangan berpikir apa pun atas keputusan ayah ini, keputusan ini bukan karena kemarahan, tapi karena kenyataan."

__ADS_1


Chesy mengangguk. "Aku mengerti, yah."


Bersambung


__ADS_2