
Pintu mobilnya digedor oleh pria berpakaian serba hitam. Jaket, celana, kaus tangan, helm, sampai masker pria itu berwarna hitam.
Baiklah, jika memang takdir Tuhan mengatakan bahwa ia akan mati saat itu, maka matilah dia.
Revalina membuka pintu dan keluar. Dengan santai menemui para pria yang sudah mengelilinginya.
Salah seorang pria menyingkirkan tubuh Revalina dan membungkuk untuk memasukkan badannya ke mobil, memeriksa bagian dalam mobil. Pria lainnya memeriksa mobil dari pintu lain. Mereka menggeledah. Kemudian mengambil kotak perhiasan.
"Ketemu!" Salah seorang memperlihatkan kotak cincin.
Pria lain masih tampak sibuk menggeledah.
Revalina tidak bisa berbuat apa- apa. Lebih baik merelakan barang miliknya yang diambil dari pada harus dirinya yang terluka atau bahkan nyawa taruhannya. Mereka mungkin hanya akan merampok barang berharga saja, dan Revalina memilih untuk mengalah. Ia tidak mau nekat. Nyawanya lebih berharga. Bisa saja mereka khilaf menebas lehernya jika ia sampai melawan atau bahkan melakukan perlawanan. Mengalah lebih baik.
"Apa lagi yang kau cari?" seru salah seorang pria menegur temannya yang tampak asik menggeledah isi mobil.
"Siapa tau masih ada yang lain."
"Halah, kalau ada pasti tidak akan terpisah. Ayo cepat!" Para pria itu pun berhamburan menaiki motor ketika sebuah mobil melaju mendekat dan menghampiri. Seorang pria keluar dari mobil dan berlari mengejar si penunggang motor yang baru saja membonceng setelah merampas kotak perhiasan. Tak lain adalah Rival.
"Kembalikan benda itu!" Rival menarik kerah belakang jaket si perampok.
Tubuh si perampok terjatuh, ambruk ke belakang. Rival cepat melayangkan tinju. Lalu merampas kotak cincin dari tangan si perampok, namun gagal saat ia menyadari ada serangan dari arah belakang hingga ia harus cepat menunduk.
Pria lain menyerbu dan menendang Rival dari arah belakang. Rival cepat berkelit hingga tendangan hanya mengenai angin.
Rival baku hantam dengan dua pria. Sementara soso lain menusukkan benda tajam ke pinggang Rival seiring dengan teriakan Revalina.
"Cabut!" Salah seorang memberi komando.
Semuanya menghambur dan naik ke motor masing- masing. Mereka kabur.
"Hei, jangan lari!" Rival mengejar sambil memegangi pinggangnya yang berdarah. Darah segar itu mencuat ke sela jari yang memegangi luka dengan erat.
"Pak, sudah! Jangan dikejar!" Revalina mencegah. Ia menarik lengan Rival. "Crazy! Sudah sekarat dan hampir mati begini pun masih mau mengejar perampok. Mentingin nyawa apa cincin sih?"
__ADS_1
Revalina terkejut, kenapa ia malah mempedulikan kondisi Rival? Bukankah seharusnya ia tertawa terbahak melihat kondisi Rival saat ini?
"Kamu ini bisanya bicara saja!" sungut Rival kesal. "Kamu tidak tahu bagaimana aku harus merelakan uangku hanya untuk membeli cincin itu!"
"Udah. Jangan bahas sekarang! Obati saja dulu luka bapak. Bapak nggak mau kan mati kekurangan darah?"
***
Revalina sedang berada di klinik praktik dokter sekarang, ia mengantar Rival untuk mengobati lukanya.
Sesekali Revalina yang menunggu di kursi tunggu itu menatap ke jam tangan. Sudah dus puluh menit berlalu. Ternyata proses penjahitan luka lumayan lama juga. Bosan.
Rival keluar dari ruang praktik dengan ujung kemeja yang sudah keluar dari celana, ujung kedua lengan kemejanya pun dilipat naik. Ia tampak sedikit kacau. Padahal biasanya dialah dosen paling rapi, yang selalu mengutamakan penampilan di setiap waktu. Sepertinya proses pengobatan tadi membuatnya menjadi sekacau ini.
"Carikan aku kemeja. Ini sudah sobek dan ada darahnya juga!" pinta Rival pada Revalina.
"Uangnya mana? Biar saya carikan!" Revalina menyodorkan telepak tangan.
Rival tidak memiliki uang cash, uang di rekening juga tinggal satu juta. Lalu ia harus berbuat apa? Kalau pun ada uang cash di dompet, hanya ada tiga ratus ribu.
"Segini doang?" tanya Revalina.
"Itu cukup untuk membeli kemeja."
"Kemeja jelek? Iya cukup. Harga seratus ribu palingan dapat kemeja jelek."
"Aku kasih dua ratus ribu, Re." Rival geram. Uang dia lembar kok dianggap seratus ribu.
"Pak, saya butuh bensin untuk jalan muter- muter nyari kemeja. Emangnya bapak nggak kasih saya uang jalan gitu?"
"Ataghfirullah..." Rival sampai beristighfar melihat tingkah Revalina. "Disaat aku sedang dalam keadaan genting begini pun kamu masih mau cari kesempatan? Dimana akhlak kamu?"
"Loh loh, kok malah sampai ngatain ke akhlak segala sih? Ini perkara uang loh. Bapak belum jadi apa- apa aja udah kikir bin pelit gini, ngasih uang bensin aja keberatan sedangkan bapak suruh saya jalan pakai mobil, gimana kalau saya jadi istri bapak? Biasanya lelaki kalau udah nikah tuh kan perhatiannya kutang eh kurang."
"Sudahlah. Tidak perlu beli kemeja." Rival kembali menarik uang dua ratus ribu miliknya dari tangan Revalina. Saking kuatnya menyambar uang, gerakan itu membuat perban di pinggangnya terbuka. Ia pun mengerang kesakitan.
__ADS_1
"Kenapa pak?" tanya Revalina mihat Rival mengerang.
"Ini perbannya terbuka. Kamu rekatkan lagi!" Rival duduk ke kursi.
Beberapa orang di sekitar sana yang tengah duduk di kursi antrian menatap ke arah Revalina dan Rival.
Mendapat tatapan orang- orang di sekitar, Revalina kadi canggung untuk merekatkan perban itu mengingat ia harus mengangkat ujung kemeja Rival.
"Sini Pak," ajak Revalina sambil menggandeng Rival keluar klinik, mereka menuju ke taman samping klinik. Ada kursi panjang yang bisa digunakan untuk duduk.
Rival menurut saja mau dibikin apa, yang penting perban di pinggangnya akan kembali dilengketin.
Rival sudah duduk di kursi. "Cepat!" titah Rival yang melihat Revalina malah hanya diam.
Revalina pun duduk di samping Rival, ia mengangkat ujung kemeja Rival, lalu mulai melekatkan perban yang terbuka.
"Jangan- jangan para perampok itu adalah kawanan bapak ya? Bapak sengaja kirim orang untuk mengambil kembali cincin yang udah bapak belikan buat saya karena bapak nggak mau rugi?" tebak Revalina.
"Kamu pikir aku gila? Mereka bawa senjata tajam dan menusukku. Ini tusukan sungguhan. Apa kamu pikir aku mau ditusuk begini hanya demi drama?" Rival tampak tenang, namun geram.
"Saya pikir bapak nggak rela beli cincin semahal itu sehingga kirim orang untuk merampasnya kembali dengan cara seperti tadi." Revalina mengangkat alis.
"Aku tidak gila."
"Lagi pula kenapa bapak mesti mempertahankan cincin itu sampai harus terluka begini. Nyawa itu lebih mahal dari pada apa pun. Cincin seharga itu nggak akan bisa menggantikan nilai nyawa."
Rival melirik tajam dengan kesal. Lalu memutar mata jengah.
"Jangan mati dulu, Pak. Masih banyak yang belum bapak selesaikan!" ucap Revalina enteng.
"Lalu bagaimana dengan cincin itu? Sekarang sudah hilang. Cincin itu hilang di tanganmu, jadi itu tanggung jawabmu. Jangan kamu suruh aku beli cincin baru. Kamu ganti cincin itu!" Rival melenggang pergi.
Ganti cincin? Ganti nyawa saja kamu nggak bisa. nyawa Rajani tidak bisa hanya diganti dengan senilai cincin itu.
***
__ADS_1