
“Istri?” Fatih membelalak. Mendadak ekspresi wajahnya menjadi frustasi.
“Maafkan aku, ayah. Aku tidak mengabari ayah terlebih dahulu soal ini,” sambung Cazim.
“Tapi kenapa? Kenapa kamu menikah diam-diam? Ayah ini adalah orang tua yang membesarkanmu, Cazim. Kenapa kamu menikah tanpa sepengetahuan ayah? Ini sama saja kamu tidak menghargai ayah.” Fatih menunduk sedih. Satu-satunya anak yang dia besarkan dengan keringatnya, dengan menjadi ibu sekaligus ayah bagi Cazim, tiba-tiba saat dewasa, malah menikah secara diam-diam.
“Itulah sebabnya aku minta maaf pada ayah terlebih dahulu.”
Fatih menatap Chesy, kemudian kembali menatap Cazim. “Ayah kecewa.” Fatih melenggang masuk ke dalam dengan paras sedih.
Cazim mengusap wajah.
“Ayahmu marah. Aku pikir kita kemari akan membawa kabar gembira untuk ayahmu, tapi ternyata enggak.” Chesy menunduk sedih, juga kesal. Kesal pada situasi, kenapa jadi begini? padahal kedatangannya ke rumah itu adalah bermaksud untuk membawa orang tuanya Cazim menghadap pada Yunus. Tapi kalau Fatih malah ngambek, bagaimana urusannya?
“Ayah hanya kecewa. Biarkan ayah sendiri dulu. Nanti juga ayah bakalan mengerti saat hatinya sudah tenang.”
“Ada banyak hal yang membuat ayahmu merasa kecewa. Pertama, kamu nggak nikah sama perempuan yang dia harapkan menjadi menantunya. Kedua, kamu menikah diam- diam. Ketiga, perempuan yang kamu nikahi nggak sesuai dengan ekspektasi ayahmu. Aku pulang aja,” sungut Chesy. “Toh, aku juga nggak diharapkan kok disini.”
“Chesy, tunggu! Jangan marah dulu. Kita bicarakan ini dengan kepala dingin.” Cazim menarik lengan Chesy, menahan wanita itu supaya tidak pergi.
“Seharusnya kamu menemui ayahmu sendiri aja. Aku nggak usah ikut.”
Cazim menghela napas. Dia jadi bingung saat menghadapi wanita ngambek. Ternyata menghadapi wanita ngambek lebih sulit dari pada harus meghadapi preman jalanan.
“Kupikir wajar ayah kecewa,” ucap Cazim. “Aku dibesarkan olehnya dengan susah payah, ayah banting tulang dan memeras keringat untuk membesarkan aku sendirian. Ibuku sudah tiada sejak lama. Dan ayah tidak mau menikah lagi karena trauma. Ayah menyekolahkan aku dan menjadikan aku sebagai seorang polisi, dia berharap banyak dariku, tapi harapannya terkubur. Apa lagi kalau ayah tahu bahwa aku ini menyelewengkan pekerjaanku, bahkan kini aku pun tidak aktif lagi di dunia kepolisian, pasti itu akan semakin mengecewakannya. Aku harap kau bisa memahami situasi ayah.”
“Tapi ayahmu hanya mengharapkan Senja, bukan aku,” lirih Chesy rendah diri.
“Berjuanglah untuk hal itu. kita akan lakukan sesuatu untuk membuat ayah menerimamu dan melupakan Senja. Hubungan ayah dengan Senja memang sudah sangat dekat sekali. Ayah memintaku untuk menikahi Senja, namun aku belum sempat ungkapkan perasaanku ketika masalah besar menimpa dan aku melarikan diri. Mungkin sudah takdirnya aku dan Senja tidak berjodoh. Dan memang sudah jelas kau adalah jodohku. Jadi kita lalui ini bersama-sama.” Tatapan Cazim teduh.
__ADS_1
Mendengar bujukan itu, hati Chesy terenyuh. Huh, ternyata belajar sabar dan ikhlas itu berat.
“Ayah adalah orang baik. Tapi orang baik itu tidak serta merta tidak bisa terluka, sedih atau pun kesal. Kita bicarakan hal ini nanti secara baik- baik sama ayah, nanti pasti ayah akan mengerti. Kau mau kan berjuang bersama aku?” sambung Cazim.
Chesy hanya menunduk.
“Kuharap ayah akan cepat memahami sehingga kita bisa langsung pulang ke rumahmu bersama dengan ayahku.”
***
Di ruang makan yang tidak begitu luas, sudah berkumpul tiga orang yang sedang makan malam bersama. Chesy, Cazim dan Fatih. Suasana terkesan kaku.
Semuanya diam membisu, hanya terdengar suara klentang klenting piring dan sendok beradu.
Sesekali Chesy melirik ke arah Cazim, suaminya itu fokus dengan makannya. Lahap sekali. Seperti kelaparan saja.
Oh iya, sejak siang tadi, mereka memang tidak makan. Hanya makan ubi rebus buatan Fatih.
Chesy sejak sore hanya berdiam diri di kamar, tidak keluar. Sebab ia tidak mungkin ikut membantu mertuanya masak, ia tidak bisa memasak. Bikin dadar telur pun gosong, bagaimana mungkin ia bisa duduk berdua bersama sang mertua untuk memasak bersama-sama? Yang ada ia malah merepotkan.
Dan satu lagi, hubungannya dengan sang mertua juga kurang baik. Mana mungkin ia bekerja di dapur bersama dengan kecanggungan yang ada. Ditambah lagi, ia sedang hamil muda, bawaannya mual mencium aroma bawang dan bumbu- bumbu dapur.
“Ehm!” Chesy pura-pura berdehem, kakinya menyenggol kaki Cazim di bawah meja. Ia memberi kode pada Cazim supaya bicara. Setidaknya membicarakan masalah mereka supaya urusan cepat clear. Jika didiam-diamkan saja, mana mungkin masalah mereka akan kelar.
Manik mata Chesy bergerak ke arah Fatih, memberi kode pada Cazim.
Melihat mata Chesy yang bergerak-gerak, Cazim pun bertanya, “Kenapa? Kelilipan?”
Duh, nih laki malah ngak tanggap. Chesy memutar mata sambil menggeleng.
__ADS_1
“Oh, minum?” Cazim menatap ke arah gelas berisi air mineral yang ada di depan Fatih. Gerakan mata Chesy ke arah gelas itu, sehingga ia beranggapan kalau Chesy minta minum.
Cazim mengambilkan minum dan mendekatkannya ke arah Chesy.
Segera Chesy menyambut gelas itu ketika tatapan Fatih tertuju ke aranya. Chesy meneguk minum.
Sikap Fatih benar-benar jauh berbeda. Tadinya dia terlihat hangat dan penuh kegembiraan saat menyambut kepulangan Cazim, tapi kini mendadak jadi kaku dan datar.
“Ayah, aku minta maaf jika kehadiranku di hidup Mas Cazim sudah membuat ayah marah,” ucap Chesy. Mengharap Cazim membuka pembicaraan juga tidak terkabul.
Sontak pandangan Cazim tertuju kepada Chesy.
Sedangkan Fatih masih terus makan, tanpa menatap Chesy.
“Aku menikah dengan Mas Cazim karena keadaan. Maksudku, Mas Cazim yang hadir sebagai lelaki baik membuat abiku menyukainya. Abi berharap aku mendapatkan suami sebaik Mas Cazim, sehingga ketika abi kecelakaan tertabrak oleh Mas Cazim dan kritis, abi meminta supaya aku menikah dengan Cazim. Itulah permintaannya saat kritis,” sambung Chesy.
Fatih menyudahi makan. Ia meneguk air mineral.
“Demi abi, aku dan Mas Cazim memenuhi permintaan itu. kami menikah. Lalu saat inilah kami baru punya waktu untuk menghadap ayah. Berharap ayah bisa menemui abi untuk bersilaturahmi sebagai besan dan memberikan restu kepada kami,” imbuh Chesy.
Fatih masih diam.
“Aku sadar, aku bukanlah menantu yang ayah harapkan. Ayah berharap gadis seperti Senja- lah yang menjadi menantu ayah, tapi takdir berkata lain. Akulah kini yang menjadi istrinya Mas Cazim,” sambung Chesy lagi.
“Ayah, aku membawa Chesy kemari karena ingin mendapat restu dari ayah,” ucap Cazim menambahkan. “Ayah membesarkan aku dengan pendidikan agama. Ayah mengupas ilmu agama untuk bekalku. Dan aku memahami ilmu agama berkat ayah. Meski pun aku sadar ilmu itu aku pahami namun tidak aku terapkan, tapi untuk kali ini, aku minta ayah bisa memahami situasiku, juga Chesy.”
Sejak kecil, Cazim dibesarkan oleh Fatih dengan pendidikan ilmu agama yang ketat. Sayangnya Cazim tidak menerapkan ilmu yang dia dapatkan dari ayahnya. Kehidupan yang menggiurkan membuatnya sejenak melupakan tentang ayat-ayat Tuhan dan menjadi mafia di tubuh polri.
Fatih menghela napas. Ia menatap Cazim dan Chesy bergantian.
__ADS_1
Bersambung