Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Sejauh Mana


__ADS_3

Perlahan Rafa mulai duduk di kursi singgasana dalam ruangan kerjanya, menatap Revalina dengan tatapan serius. Sejenak dia menghela napas panjang.


"Sebenarnya aku nggak butuh flashdisk ini, aku cuma mau bicara sama kamu Kak," ucap Revalina dengan nada serius. Tatapannya intens ke mata Rafa.


Terlihat Rafa mulai menaikkan atensinya, melipat kedua tangan sembari terus menatap sang adik dengan seksama.


"Apa? kamu mau bicarakan apa?" tanya Rafa kembali mengulang pertanyaannya.


"Aku mau tanya tentang perkembangan kasus pembunuhan Rajani, perkembangannya sudah sampai mana?" tanya Revalina.


Rafa yang semula duduk tegap tiba-tiba langsung menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, raut wajah yang semula tegang kini terlihat begitu santai.


"Kalau soal itu jawabannya masih sama belum ada perkembangan, orang buronannya saja belum ketangkap," jawab Rafa dengan nada kesal. Dia menyisir rambut dengan jarinya sekali usap. Rambut belahan tengah itu tetap rapi meski diterpa angin.


Melihat respon Rafa yang seperti ini membuat Revalina berpikir bahwa dia seperti orang yang hampir menyerah sebelum peperangan di mulai.


"Tapi kamu masih terus lanjut kasus ini kan?" tanya Revalina khawatir.


"Pasti lah, aku nggak mungkin biarkan Dalsa hidup bebas setelah apa yang sudah dia perbuat ke Rajani," jawab Rafa dengan cepat menunjukkan tak ada keraguan.


Mendengar jawaban Rafa seketika membuat hatinya lega, tepat sepeti keinginannya yang juga menginginkan kasus ini terus di proses sampai titik darah penghabisan.


"Syukurlah kalau kamu masih berjuang untuk keadilan Rajani, semoga Dalsa cepat ketangkap. Aku sempat khawatir tadi karena kita sudah lama nggak bahas masalah ini," ujar Revalina.


"Apa yang kamu khawatirkan Reva, aku sudah pasti terus usahakan bagaimanapun caranya Dalsa cepat tertangkap bahkan polisi sudah persiapkan poster sejak lama tinggal minta persetujuan saja karena wajah Dalsa akan tertampang di mana-mana," ucap Rafa dengan jelas.


Seketika Revalina terkejut mendengar bahwa polisi telah mempersiapkan langkah baru dalam usaha pencarian Dalsa, sekaligus bingung dengan persetujuan yang di maksud Kakaknya ini.


"Memangnya kenapa harus minta persetujuan?" tanya Revalina menatap bingung.


"Polisi tahu Dalsa itu adik iparmu jadi pastinya perlu persetujuan karena sekali ke up wajah Dalsa bakal malu tujuh turunan juga keluarga suamimu," jelas Rafa.


Akhirnya Revalina paham dengan penjelasan Rafa, ia pun baru terpikirkan akan imbas dari penyebaran poster wajah Dalsa.


Setelah mendapatkan jawaban dari segala pertanyaan yang bergejolak dalam kepalanya sejak semalaman, Revalina pun bergegas ke ruangan kerjanya untuk memulai pekerjaan.


Kali ini ruangannya terasa begitu sunyi, pandangan kita dai tembok kaca dan indahnya interior ruangan kerjanya seakan tak dapat mengalihkan kesepiannya.


Makin lama kesunyian ini membuatnya semakin tak tahan, tanpa banyak berpikir ia langsung meraih benda pipihnya.


"Lebih baik aku sambil nonton film biar nggak sunyi-sunyi amat," gumam Revalina.


Supaya lebih ramai ia sengaja menonton film komedi lalu mengeraskan volume, sesekali netranya melirik ke arah layar ponsel beberapa detik kemudian cepat-cepat beralih menatap layar monitornya.


Tok tok tok tok.


Suara ketukan pintu mulai terdengar, dengan cepat Revalina memencet tombol pause untuk menghentikan film itu berputar.


"Masuk!" seru Revalina dalam hati.


Perlahan orang dari balik pintu itu mulai masuk ke dalam ruangan, terlihat office girl tengah mengantarkan kopi panas dan satu gelas air putih di atas nampannya.


"Permisi Bu Reva, saya mau antar kopi sama air putih," ucap office girl itu dengan senyum ramahnya.

__ADS_1


"Terimakasih," sahut Revalina sembari tersenyum ke arahnya.


Setelah meletakkan kopi dan air putih ke atas mejanya, office girl itu bergegas pergi, saat itu juga Revalina kembali melanjutkan filmnya.


"Reva, aku tadi lihat jadwal yang kamu input salah seharunya siang ini kita itu ada meeting di luar," ucap Joseph.


Sontak Revalina langsung kelabakan menghentikan filmnya, terkejut setengah mati melihat Joseph tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya tanpa ada suara pintu terbuka.


Sementara itu Joseph langsung terdiam kaku menatap Revalina, beberapa detik kemudian kembali mengerakkan tubuhnya.


"Maaf aku sudah mengganggu mu ya, tadi aku lihat pintu mu sudah terbuka jadi aku langsung masuk saja," ucap Joseph menatap bingung.


"Nggak papa Pak, aku cuma kaget saja," sahut Revalina sembari tersenyum.


"Lain kali aku bakal ketuk pintu," ucap Joseph kembali melanjutkan langkah kaki ke arah Revalina yang tinggal beberapa langkah lagi.


"Its okey Pak," sahut Revalina sembari terus tersenyum ke arahnya.


Tiba-tiba pandangan mata Joseph beralih dan tertuju pada ponsel Revalina yang masih terlihat jelas menampakkan film ter-pause.


"Lagi nonton film apa?" tanya Joseph sembari tersenyum-senyum.


"Oh enggak ini emm," ucap Revalina terbata-bata. 


Ia kembali kelabakan menyembunyikan layar ponsel miliknya, malu dengan apa yang sudah ia lakukan di tengah jam kerja.


"Santai Reva, nggak masalah kamu mau nonton film juga yang terpenting nggak teledor dan tanggung jawab sama kerjaan," ucap Joseph sembari terus tersenyum.


"Enggak Pak, sudah selesai filmnya tadi," sahut Revalina meringis menahan malu.


"Oh iya, tadi kenapa Pak?" tanya Revalina cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.


Joseph langsung menyodorkan tab miliknya yang sudah membuka satu file berisi jadwal hariannya, lalu menunjuk hari ini berikut dengan agendanya dengan pena.


"Ini, kau lupa input jam makan siang hari ini ada agenda kita meeting di luar," ujar Joseph dengan tutur kata lembut.


"Hah, aku nggak tahu Pak," sahut Revalina terkejut sekaligus kebingungan.


"Ya Tuhan. Maaf Pak, sumpah aku nggak tahu kalau ada meeting siang ini," jelas Revalina tak enak hati dengan Joseph.


"Masih ada waktu nggak papa, cuma lain kali harus teliti ya kamu harus selalu catat dan selalu cek ulang," sahut Joseph.


"Baik Pak, sekali lagi mohon maaf," ucap Revalina masih tak enak hati.


"Kalau begitu, tinggalkan pekerjaanmu sekarang ikut aku ke ruangan kerjakan berkas yang harus di bawa siang nanti," ajak Joseph.


Mendapat ajakan dari Joseph, ia pun langsung menyudahi pekerjaannya lalu bergegas menuju ke ruangan CEO muda itu.


Di sana Revalina dan Joseph membagi tugas untuk mengerjakan berkas-berkas penting yang harus dibawa siang nanti.


Josep membagi meja kerjanya dengan Revalina, memberinya satu laptop untuk mengerjakan bagiannya.


"Pak, aku jadi takut nggak keburu," ujar ketakutan Revalina.

__ADS_1


"Pasti keburu," sahut Joseph dengan santainya.


Joseph begitu optimis akan menyelesaikan bekas-bekas ini, tatapnya terlihat santai sementara jari-jarinya tak ada jeda untuk berhenti mengetik.


"Gimana Reva, ada kesulitan?" tanya Joseph perlahan melirik ke arah Revalina.


"Emm ada ini Pak," jawab Revalina membalikkan posisi layar laptop ke arah Joseph.


Revalina menunjukkannya lembar kontrak yang Joseph kirim padanya, ia kebingungan harus mengubah di bagian mana.


"Saya harus ubah di bagian mana?" tanya Revalina kebingungan.


"Ini di bagian sini saja sama kasih tanggal dan bulan sekarang," jawab Joseph.


Mendengar jawaban Joseph, Revalina langsung mengeksekusi lembar kontrak itu mengubahnya sesuai dengan arahan.


Sesekali Revalina coba mencuri-curi pandang ke arah Joseph, suka dengan cara kerja dan sikapnya terhadap ajudan yang masih baru memulai karir seperti dirinya namun suka yang ia rasakan berbeda dengan suka salam konteks ingin memiliki melainkan hanya suka dengan adanya dia di perusahaan ini.


'Andai bukan dia CEO nya pasti aku sudah kena marah dari kemarin-kemarin apalagi soal agenda yang lupa aku catat kalau bukan dia pasti aku sudah diadukan Kak Rafa,' gumam Revalina dalam hati sembari terus memandangi Joseph.


Tak lama secara tiba-tiba Joseph menatapnya juga, saat itu beberapa detik keduanya terlibat adu tatap hingga Revalina yang merasa kegep memilih mengalihkan pandangan matanya.


"Ada apa Reva?" tanya Joseph sembari menahan senyumannya.


"Enggak, aku cuma membayangkan saja kalau seandainya kita ada dalam satu ruangan pasti pekerjaan akan cepat selesai," jawab Revalina membicarakan hal lain, kontras dengan apa yang ada di dalam kepalanya.


Seketika Joseph tak bisa lagi menahan senyumnya, kini lolos begitu saja bahkan sepetinya sulit berhenti.


"Kenapa senyum-senyum begitu Pak, ada yang salah?" tanya Revalina ikut tersenyum-senyum, terkena tularan dari Joseph.


"Nggak ada, cuma tumben saja kamu bilang begitu. Tapi akhirnya kau merasakan juga, sebenarnya aku juga capek kalau harus bolak-balik ke ruangan mu, sementara kalau terus memanggilmu ke ruangan ku terus-terusan aku juga kasihan," jawab Joseph sembari terus tersenyum-senyum.


Revalina merasa lega akhirnya tak hanya dirinya yang merasakan lelahnya ruangan sekarang Ajudan di pisah dengan ruangan CEO.


"Kalau dulu di kantor lama ajudannya Pak Joseph satu ruangan atau enggak?" tanya Revalina penasaran coba membandingkan dengan perusahaan lain.


"Enggak sih, tapi ruangan dia itu tepat di sisi kiri pintu keluar ruangan ku jadi terasa dekat kalau kamu kan enggak aku harus jalan sekitar sepuluh sampai lima belas langkah dari pintu buat ketemu kamu," jawab Joseph ikut membandingkan.


"Memang kalau perusahaan besar dan perusahaan yang benar itu ya begini ruangan CEO sama ajudannya di pisah, beda sama di film-film yang kamu tonton," sambung Joseph.


Revalina langsung terkekeh sadar dirinya saat ini tengah disindir oleh Joseph, memang terkadang dirinya terlalu mendambakan kehidupan seperti pada film yang ternyata tak bisa diterapkan untuk memenuhi ekpektasi.


"Tahu saja kalau aku lagi lihat film itu," ucap Revalina lirih, ia batu tersadarkan jika sudah mengalami sindiran keras semacam ini.


"Makanya aku suruh lanjutkan biar tahu makna dari film itu, kalau setengah-setengah yang ada pesannya nggak sampai.


Setelah Joseph selesai dengan pekerjaannya yang bersamaan dengan jam istirahat, dengan cepat ia bergegas beranjak.


Sedangkan tiga yang di garap Revalina tak kunjung selesai.


"Pak Joseph mau berangkat sekarang?" tanya Revalina dengan tatapan bingung sekali, dan masih terkejut.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2