Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Tembakan


__ADS_3

"Kau memerasku?" tegas Cazim dengan tatapan tajam ke mata lelaki berseragam.


"Aku sedang butuh uang, bukan mau memeras mu."


"Tidak ada bedanya."


"Baiklah, kalau kau tidak mau memberikannya, aku tidak akan menjamin rahasiamu akan tersimpan rapi."


"Kau sudah menelan banyak uang dariku dan sekarang masih terus memeras ku, licik!" geram Cazim.


"Bedakan antara memeras dan butuh."


"Aku tidak akan berikan."


"Istrimu akan menyesal sudah menikah dengan pria sepertimu, jika dia tahu siapa kau yang sesungguhnya." Pria berseragam melangkah mundur hendak keluar dari kamar namun dengan langkah waspada.


Chesy yang sudah berada di balik pintu itu pun langsung masuk, membuat kedua manusia itu terkejut.


"Katakan yang sebenarnya, rahasia apa yang kamu sembunyikan dariku?" Chesy menatap Cazim dan pria berseragam bergantian. "Katakan padaku, apa yang sebenarnya disembunyikan dariku?" Chesy kali ini menatap pria berseragam dengan tatapan emosi.

__ADS_1


Chesy meyakini bahwa pria berseragam itu bukanlah orang baik, jelas dia tadi terdengar sedang memeras Cazim. Pria itu sedang memanfaatkan kesulitan Cazim dengan seragamnya itu. Jika saja ia mengetahui sesuatu yang tidak baik pada Cazim, seharusnya dia tidak malah memalak Cazim, tapi menjalankan tugasnya untuk menumpas apa yang seharusnya dia tumpas.


"Hamdan, pergilah!" titah Cazim.


Oh, Chesy baru ingat nama Hamdan yang dulu pernah disebut dalam perbincangan antara Cazim dan Alando. Ternyata inilah orangnya, dia seorang anggota polisi.


"Bagaimana aku akan pergi jika kau tidak penuhi permintaanku?" Hamdan enggan melangkah.


"Pergilah! Kau akan dapatkan apa yang kau mau!" tegas Cazim dengan geram.


Chesy menahan dada Hamdan dengan mendorongnya sangat kuat saat pria itu hendak pergi. "Banci! Kamu nggak akan bisa pergi sebelum menjawab pertanyaanku!" hardik Chesy marah.


"Tidak ada apa apa." Hamdan berusaha menutupi.


"Katakan apa yang sebenarnya telah terjadi? Katakan apa yang kamu sembunyikan dariku. Aku istrimu dan aku harus tahu latar belakangmu!" tegas Chesy penuh ancaman.


"Tenang, Chesy. Turunkan senjata itu. Berbahaya!" pinta Cazim.


"Enggak. Kalau kamu nggak mau bicara, aku akan menembakmu," ancam Chesy.

__ADS_1


"Chesy, kau hanya salah paham. Turunkan itu!" bujuk Hamdan melangkah maju.


"Jangan maju atau aku akan menekan pelatuk!"


"Berhenti, Hamdan!" titah Cazim yang tidak mau ambil resiko mengingat Chesy sedang dalam keadaan emosi dan bahkan ia juga tidak mengerti penggunaan senjata api. Jika khilaf, maka resikonya malah akan sangat buruk.


"Mas Cazim, katakan padaku atau aku akan menembakmu!" pekik Chesy geram sekali.


"Tidak ada apa pun, Chesy. Aku dan Hamdan adalah teman. Turunkan dulu senjatamu, kita bicara baik baik."


"Udah cukup selama ini dan kamu nggak pernah mau bicara. Apakah jika aku turunkan senjata lantas kamu mau buka suara? Enggak kan?"


"Chesy, jangan terpancing emosi hanya karena sepenggal kalimat yang hanya akan membawamu dalam sebuah kesalah pahaman." Cazim melangkah maju perlahan.


"Jangan mendekat!" Chesy berteriak panik namun cazim masih terus maju sambil memberikan kata bujukan.


Dor! Dor!


Dua kali tembakan terlepas dari moncong senjata api.

__ADS_1


Tubuh Cazim membeku di tempat, ia menunduk menatap cairan merah yang mencuat keluar dari dua lubang di dada dan perut. Detik berikutnya tubuh itu terhuyung dan berlutut sebelum akhirnya ambruk ke lantai.


Bersambung


__ADS_2