Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Sedih


__ADS_3

Penunggang motor yang mengenakan helm itu tak lain adalah Cazim. Mesin motor masih dalam keadaan menyala, dan Cazim siap menarik gas motornya.


Alando berdiri di dekat tubuh Yunus yang terkapar.


Chesy menghambur mendekati ayahnya yang sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Hei jangan kabur kamu! Biad*b!" Chesy menatap Cazim tajam. Namun ia tidak punya waktu untuk melanjutkan makian. Tatapannya beralih kepada sang ayah. "Abiiiiii....!" Chesy menjatuhkan lututnya ke tanah, meraih tubuh sang ayah. Ia menangis meraung, meratapi keadaan ayahnya yang mengenaskan, darah keluar dari hidung dan mulutnya, juga telinga. Matanya terpejam. Tangis jerit Chesy memecah keheningan di jalan sepi itu. Ketakutan dan kehancuran seketika menghantui Chesy. Ia mendengar suara Alando mengajak Cazim kabur, namun ia tidak begitu mempedulikan suara- suara di dekatnya. Melihat kondisi sang ayah saja hatinya hancur berantakan, ia tidak punya waktu untuk mengurus kondisi di sekitarnya.


"Bang, ayo kabur, Bang. Ayo kabur! Nanti bahaya kalau warga melihat!" ajak Alando.


Melihat kondisi sang ayah, tangis pilu Chesy tak terbendung. Isakan berbaur jeritan Chesy meratapi sang ayah membuat para warga berdatangan. Hingga ambulan muncul dan warga membantu tubuh Yunus untuk dimasukkan ke mobil ambulance.


***

__ADS_1


Di koridor panjang itu, Chesy duduk di kursi tunggu, menunggu dengan resah. Tangisnya masih pecah. Ia sesenggukan. Menunduk dan menutup wajahnya yang sembab dengan kedua telapak tangannya.


Beberapa orang tetangga sudah pergi setelah menemaninya di sana cukup lama.


Marni juga menyusul dan menemani Chesy, tapi dia sedang pergi mencari minuman. Tinggal lah Chesy seorang diri.


Masih terngiang di ingatannya bagaimana Yunus terpejam lemas di mobil yang melaju menuju ke rumah sakit, kepalanya di pangkuan Chesy. Tangan Yunus beberapa kali terjatuh ke bawah dan Chesy memeganginya erat.


Tak peduli bercak darah mengotori baju bagian perut Chesy, ia terus menjaga dan memegangi sang ayah di sepanjang jalan.


Chesy hampir tidak tahu apa yang dibicarakan oleh para warga saat mendapati Yunus dalam kondisi sekarat, pikiran Chesy sangat kacau hingga tidak tahu apa yang terjadi di sekitarnya.


Chesy ingat perkataan Cazim terakhir kali padanya di tengah kemarahan lelaki itu.

__ADS_1


'Aku bisa saja memberimu peringatan keras atas perbuatanmu ini. Jangan menyesal jika sampai terjadi sesuatu pada orang yang kau sayangi.'


Jahat! Hanya demi menunjukkan kesombongan dan menakut- nakuti lawan, Cazim dengan sadis melakukan kejahatan ini. Sungguh keterlaluan. Tidak akan aku ampuni kau! Chesy membatin emosi.


Di tengah keresahan dan kegelisahan yang membungkus jiwanya, kemarahan pada Cazim membuat darahnya mendidih. Tangannya mengepal mengingat wajah Cazim.


Suara langkah kaki yang mendekat membuat Chesy mengangkat wajah dan menatap sosok yang datang. Cazim.


Mata Chesy langsung melebar menatap lelaki yang semakin lama semakin mendekat hingga kini berada di hadapannya.


"Biadab!" Chesy bangkit berdiri.


Bersambung ....

__ADS_1


Cuma kalian yang selalu setia baca yang bikin Emma Shu juga setia update setiap hari. Makasih buat kalian yang udah setia kasih hadiah. Kalian luar biasa. 🥰🥰🥰


__ADS_2