
Chesy terkejut, tak menyangka jemarinya lepas kontrol dan menekan pelatuk tanpa sadar. Semua terjadi begitu cepat, emosi telah menguasainya.
Tangan Chesy turun dengan gemetar. Senjata api terlepas dan terjatuh. Tubuhnya lemas sekali dan ia tidak bisa berpikir apa pun. Otaknya keruh sekali.
Hamdan menghambur menuju pintu ketika melihat handle pintu ditekan dari luar, ada yang mau masuk kamar.
Hamdan cepat meraih pintu sebelum orang lain yang lebih dulu mendorong pintu tersebut.
Tiga orang sudah berada di depan pintu dengan raut cemas, mereka mendengar suara tembakan. Ada Alando diantara tiga orang yang menghampiri kamar. Sedangkan para tamu lainnya tidak mendengar mengingat suara hadroh di luar yang menggunakan speaker mengalahkan suara tembakan. Salawat terdengar merdu mengisi acara.
"Ada tikus besar dan aku menembaknya. Kupikir ekor ular, ternyata tikus. Tapi sudah ku selesaikan," ucap Hamdan membuat dua bapak yang tengah melintas dekat kamar itu pun mengangguk lega.
"Oh, begitu. Kami kira ada apa. Ya sudah, Pak. Kalau begitu. Permisi." Dua lelaki paruh baya berlalu pergi.
"Alando, masuk!" ajak Hamdan membuat Alando mengernyit namun tetap mematuhi perintah Hamdan. Dia masuk ke kamar Chesy dan terkejut saat melihat Cazim sudah dalam keadaan terkapar bersimbah darah.
__ADS_1
Hamdan mengunci pintu kamar.
"Kenapa bisa begini? Ya Tuhan, apa yang kau lakukan pada bang Cazim?" tanya Alando panik.
"Jangan banyak tanya, nanti akan aku jelaskan. sekarang yang harus kita lakukan adalah menyelamatkan Cazim. Cepat bantu aku! Kita harus keluarkan secepatnya peluru dari badan Cazim!" ucap Hamdan.
Alando pun tak bisa bicara lagi.
Chesy duduk di sisi Cazim, meraih kepala pria itu dan menaruh di pangkuannya.
Cazim menatap Chesy dengan tatapan lemah, sesekali mengerang menahan sakit pada lukanya.
"Jangan marah!" bisik Cazim.
Chesy menggeleng. "kenapa kamu nggak mau bicara? Kenapa kamu membungkam sampai kejadian ini harus terjadi? Kenapa?" Chesy sesenggukan.
__ADS_1
Mata Cazim terpejam, tangannya terhempas ke lantai.
"Mas, jangan lakukan ini padaku! Tolong bangun!" Chesy menangis sesenggukan.
"Chesy, aku akan panggil dokter untuk menangani ini. Tapi untuk pertolongan pertama, aku akan keluarkan peluru ini secepatnya. Tunjukkan padaku peralatan medis. Pisau steril dan lainnya." Hamdan duduk di sisi Cazim.
"Ini hanya bisa dilakukan oleh tim medis. Lebih baik bawa saja dia ke rumah sakit!" ucap Chesy.
"Jangan sampai ada yang melihat ini, urusannya akan panjang. Apa lagi jika sampai diliput wartawan bahwa ada pasien tertembak, bukan hanya kau saja yang akan terlibat, tapi aku juga. Ini masalah besar. Tentu kau juga tidak mau ada yang melihat suamimu begini kan? Termasuk ayahmu. Ini akan menjadi masalah besar. Biarkan aku menangani. Percayakan padaku."
Chesy masih termenung, bingung. Apakah ia harus mempercayai perkataan Hamdan, ataukah harus memilih keputusannya sendiri?
Ia masih berpikir keras sampai akhirnya Alando bergegas mengambil peralatan medis di lemari. Ia menemukan sebuah kotak yang di dalamnya benar- benar lengkap nyaris seperti kotak dokter, di dalamnya ada jarum jahit, pisau, perban dan berbagai macam lainnya.
Dengan gerakan cepat, Hamdan melakukan operasi manual dengan tangannya sendiri. Mengambil peluru dengan pisau.
__ADS_1
"Enggak, enggak. Ini harus dilakukan oleh tenaga profesional. Kamu nggak bisa melakukannya sendiri!" Chesy menahan.
Bersambung ...