Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Dingin dan Lembut


__ADS_3

"Baiklah, kalau kau mau melakukannya. Silakan saja." Cazim berpaling dan duduk di kursi jauh dari bed.


Mana mungkin Chesy berani menggugat cerai. Cazim yakin Chesy tak akan mungkin mau menggugat cerai karena ini bukanlah hal mudah dan bahkan melibatkan banyak orang, mempertaruhkan nama baik keluarganya, juga berkaitan dengan nama baik ayahnya.


Disamping rasa cintanya itu, wanita itu pasti akan mempertahankan nama baiknya di depan semua orang sebagai anak ustad terpandang. Akan menjadi buruk jika Chesy bercerai dari suami. Perceraian tentu membawa nama dan dampak buruk bagi keluarganya.


Lihat saja, Chesy pasti hanya mengancam saja. Ini trik wanita.


Cazim memejamkan mata. Ia tidak bisa tidur, jadi memilih untuk keluar kamar menghirup udara segar di luar.


Selama tiga puluh menit berada di luar, Cazim pun kemudian kembali ke kamar. Dan saat berada di ambang pintu yang setengah terbuka, ia mendengar Chesy sedang berteleponan.


"Sarah, aku minta tolong hubungi pengacara Bayu ya. Aku mau menggugat cerai Mas Cazim," ucap Chesy serius.


"Apa? Cerai? Kenapa mendadak bilang begitu? Ada apa, Chesy? Tapi Kemarin pas aku jenguk kamu di rumah sakit, kalian baik-baik aja. Kamu beneran nggak mau bertahan sama dia karena nggak suka sama dia atau gimana?"


"Ceritanya panjang dan aku nggak mungkin bilang ke kamu lewat hp. Udah, kamu kasih tau aja pengacara, sutuh bantu aku persiapkan perceraianku."


"Memangnya kamu idah bilang ke abi? Apa kata abi nanti kalau kalian cerai? Kamu pasti bakalan dogodok habis-habisan sama abi."

__ADS_1


"Enggak mungkin. Abi pasti akan mengerti. Sudahlah kamu ikuti aja semua ini. Jangan sampai abi tau dulu, dan abi akan tau saat kami sudah resmi berpisah. Aku nggak kuat, Sarah."


"I iya."


Chesy menutup ponsel yang kemarin dibelikan oleh abinya supaya ia bisa berkomunikasi. Kemudian Chesy kembali memejamkan mata.


Cazim memasuki kamar, mendekati Chesy dan mengusap kening istrinya.


Sentuhan itu membuay Chesy langsung membuka mata.


"Jadi kau sungguh ingin menggugat aku?" tanya Cazim.


Tiba-tiba Chesy terkejut saat Cazim mengangkat punggungnya hingga memposisikannya menjadi duduk. Dia peluk erat tubuh Chesy.


Getaran hebat menyusuri tubuh Chesy merasakan pelukan hangat itu. Bukankah ini bukan pelukan yang oertama kalinya? Tapi kenapa rasanya dahsyat menggetarkan kalbu?


"Mas, jangan! Jangan beri aku harapan seperti ini, lepaskan! Kamu nggak perlu bersikap begini untuk menunjukkan kalau kamu kasihan sama aku. Aku nggak perlu dikasihani. Aku hanya ingin membahagiakan diriku sendiri. Jangan sampai jatuh terlalu jauh karena itu justru akan menyengsarakan aku. Siapa yang bisa memilih kebahagiaan kalau bukan diri kita sendiri? Dan aku nggak bisa bergantung pada perintah abi jika itu nggak membuatku senang. Lepaskan, Mas!"


"Tidak."

__ADS_1


Pelukan Cazim sangat kuat.


"Ini gips di leherku bisa geser kalau kamu peluk terlalu kuat begini!" tegas Chesy membuat Cazim langsung melepaskan pelukan.


"Aku udah minta Sarah menghubungi pengacara untuk...."


"Mengurus perceraian kita?" potong Cazim.


Chesy mengangguk.


"Tidak. Aku tidak akan ijinkan," tegas Cazim.


"Aku yang berhak menentukan kebahagiaanku, Mas. Kalau aku sudah berjuang dengan maksimal, karena nyawa bagiku adalah ujung tombak dari sebuah usaha, nggak ada lagi yang lebih tinggi dari perjuangan selain mengorbankan nyawa, itu saja tidak mengubah apa pun, lantas usaha apa lagi yang bisa aku lakukan? Aku ikhlas melepaskanmu."


"Tidak. Biarkan aku menjadi suamimu. Biarkan aku memulai semuanya. Aku tidak mau kehilanganmu, aku menyayangimu." Cazim menyentuh dagu Chesy. Kepalanya maju dan mendaratkan cepat bibirnya.


Deg. Jantung Chesy hampir berhenti berdetak merasakan tautan itu. Dingin dan lembut.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2