
"Aku masih nggak habis pikir sama Mama, bagaimana bisa mama menyembunyikan tentang keberadaan Dalsa dari kami semua padahal Mama mengetahuinya."
"Dia itu sudah melakukan tindak kejahatan, Ma ... Tapi kenapa Mama masih saja membela dan melindunginya!" Yakub menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, tepatnya di samping ibundanya yang kini sedang terduduk sambil mengusap air mata yang menetes deras di pipinya.
Jujur saja, Candini melakukan semua itu juga karena rasa sayangnya terhadap sang putra.
Mana ada seorang ibu yang rela anaknya dipenjara walaupun semua itu karena kesalahannya sendiri. Sudah mati- matian candini membela dan menyembunyikan Dalsa, tapi ujung- ujungnya malah seperti ini.
Hati Candini hancur, sedih sekali.
Ya, setelah berminggu-minggu menjadi buronan polisi, Dalsa akhirnya tertangkap juga saat dia berada di dalam rumah kontrakannya di pinggiran kota, hal yang lebih mengejutkan lagi bagi semua orang adalah ternyata Candini mengetahui dimana keberadaan Dalsa dan dia memilih untuk menyembunyikannya.
Candini juga setiap hari meluangkan waktunya untuk mengunjungi Dalsa dan membawakan makanan untuknya, padahal semua semua orang sudah bekerja keras siang dan malam untuk mencari keberadaan anak itu guna mempertanggungjawabkan perbuatannya membunuh Rajani.
"Maafkan Mama, Yakub ... Mama tidak punya pilihan lain selain menyembunyikan keberadaan adikmu." Candini terisak- isak. Mukanya makin sembab. Suaranya hampir tidak jelas karena berbaur dengan suara tangis.
"Mama tidak rela adikmu dipenjara, Yakub ... Mama tidak bisa membayangkan satu anak Mama tidur di atas dinginnya lantai penjara sedangkan Mama tertidur nyenyak di atas kasur yang nyaman," ucap Candini dengan terisak dan kepala menunduk ke bawah.
"Kalau saja kejadian yang menimpa Rajani terjadi pada Dalsa, mungkinkah mama masih bersikap baik pada pelaku?" tanya yakub. "Ini konsekuensi, Ma. Supaya Dalsa bisa berubah, supaya dia bertaubat."
"Intinya mama yang melahirkan Dalsa. Mama tidak rela anak mama dipenjara," ujar Candini sedih dan tersu menunduk, ia tidak sanggup menatap putra sulung dan putra keduanya yang tengah menatap dirinya dengan pandangan yang penuh kekecewaan.
Ya, Rival juga berada di tempat yang sama dengan mereka.
Pria itu hanya mampu terdiam tanpa suara melihat Yakub dan Candini yang terus menerus beradu argumen, Yakub yang terus menyatakan kekecewaannya terhadap Candini.
Sedangkan Candini yang terus membela dirinya dengan dalih kasih sayang terhadap Dalsa, kasih sayang yang sangat keliru menurut Rival.
Kini, Rival juga hanya bisa terduduk di atas kursi roda sebab kakinya yang sekarang lumpuh.
Jika bisa, saat ini juga dia ingin sama-sama meluapkan kekecewaannya terhadap Candini seperti Yakub.
Namun jangankan untuk melakukan itu, menggerakkan tubuhnya saja dia sudah sangat kesulitan.
Lelah dengan segala hal yang menyudutkannya sebab telah melindungi Dalsa, Candini pun merasa jengah.
Padahal menurutnya dia hanya ingin menyelamatkan putranya.
Wanita itu kemudian bangkit berdiri dan memandang Revalina dengan tatapan tajam.
Seketika ingatan tentang Rafa yang telah melaporkan Dalsa ke kantor polisi dan membuat putra bungsunya kini mendekam dibalik jeruji besi mengusik ingatannya.
Membuat dirinya dilanda emosi yang begitu besar terhadap istri dari Rival.
"Ini semua salahmu, salah kakakmu yang sok itu yang telah melaporkan Dalsa ke kantor polisi!"
"Belum cukup kamu membuat kaki Rival lumpuh, hah!"
"Sekarang kamu juga meminta kakakmu yang sok bertingkah sebagai pahlawan kesiangan itu untuk melaporkan Dalsa dan menangkapnya, padahal aku sudah bersusah payah menutupi keberadaannya!" cecar Candini pada Revalina, membuat semua orang memandang wanita itu dengan tatapan yang berbeda-beda.
Termasuk dengan Yakub yang semakin dibuat tidak mengerti dengan sikap ibunya, seharusnya wanita itu meminta maaf dan mengakui kesalahannya yang telah membantu menyembunyikan Dalsa dan bukannya balik menyalahkan Revalina atas semua yang menimpa Dalsa.
Namun sepertinya Candini tidak mau mengakui hal itu sehingga dirinya justru membalikkan fakta dan malah menyalahkan Revalina yang sejatinya adalah korban sejak awal.
Dimana Revalina harus kehilangan saudari kembarnya karena Dalsa, dan sekarang tidak bolehkah dia jika ingin membalaskan kematian Rajani dengan melihat di pembunuh itu dipenjara?
"Katakan padaku apakah dengan membuat kaki Rival menjadi lumpuh itu belum cukup untuk menebus kesalahan yang Dalsa lakukan!" Candini kembali menyerang Revalina dengan kalimat bernada tinggi yang terlontar dari mulutnya.
Seolah tidak berdaya untuk melawan atau membantah perkataan ibu mertuanya, Revalina hanya bisa menangis tergugu dengan Darah yang membantu menenangkannya.
Istri Yakub itu duduk di samping Revalina dan mengelus pelan pundak wanita itu, memberikan kekuatan untuk menenangkan dan membuat sosok yang sedang menangis tergugu itu sedikit tegar dengan keadaan yang kini berbalik menyerang dan memojokkannya.
"Maaf, Ma ... Tolong maafkan aku, aku tidak bermaksud-"
"Tidak bermaksud bagaimana!"
"Jelas-jelas Rafa yang telah melaporkan Dalsa pada kepolisian, itu semua pasti ulahmu kan!"
"Kau sudah membuat hidupku berantakan, Revalina ... Kau membuat satu anakku dipenjara dan satu lainnya cacat!" cerca Candini kembali, membuat Revalina semakin terisak-isak dalam tangisnya yang tak kunjung reda.
"Sabar Revalina." gumam Sarah dengan lirih dan tangan yang pernah berhenti mengelus dan mendekap tubuh rapuh Revalina.
"Maaf, Ma ...." Entah sudah berapa kali kata maaf itu keluar dari mulut Revalina, namun semua itu tetap saja tidak mampu merobohkan keegoisan Candini yang terus menyalahkan Revalina.
Sontak saja hal itu membuat Sarah yang berada di samping Revalina menjadi geram, dia yang selama ini tidak pernah berani melawan ibu mertuanya itu mendadak berani untuk mengeluarkan opininya.
Berani mengatakan pendapatnya yang tidak sesuai dengan pendapat Candini.
"Ma, berhenti menyalahkan Revalina ... Semua ini memang berawak dari Dalsa yang telah membunuh Rajani, wajar kalau Rafa sebagai kakak tertua mereka tidak terima dan ingin menuntut balas."
"Seharusnya Mama sebagai seorang ibu juga tidak membela anak Mama yang sudah jelas-jelas bersalah ... Jika mama saja tidak terima anak Mama diperlakukan demikian, lalu bagaimana dengan Tante Chesy yang harus kehilangan salah satu putrinya karena ulah anak Mama?" sahut Sarah.
Sontak saja setelah mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Sarah membuat Candini menatap istri Yakub itu dengan tatapan tak percayanya.
Bagaimana mungkin seseorang yang selama ini tak pernah menentang perkataannya tiba-tiba berani menentang dirinya demi membela seseorang yang sudah membuat Dalsa dipenjara, pikirnya.
"Sarah, kah berani menentang perkataanku?" tanya Candini dengan lirih.
"Maaf, Ma ... Bukan maksud Sarah untuk menentang atau melawan mama."
"Tapi rasanya tidak adil jika Revalina yang sebenarnya adalah korban dari semua kejadian ini justru malah terus disalahkan oleh Mama hanya karena Dalsa yang kini tertangkap dan masuk ke dalam penjara." lanjut Sarah, wanita itu masih saya menunjukkan rasa hormatnya terhadap Candini meski dirinya tengah tidak setuju dengan sikap wanita itu.
"Lebih baik kamu diam Sarah, kamu itu tidak tahu apa-apa!"
"Aku yang merasakan, aku yang kehilangan putraku ... Kau tak pantas mengatakan kalimat apapun, bahkan untuk membela wanita ini!" Candini menunjuk Revalina dengan jari telunjuknya, menegaskan pada semua orang jika dia yang dimaksud olehnya adalah Revalina.
"Dalsa memang pergi, tapi kepergiannya hanya sementara ... Nanti setelah masa hukumannya selesai, dia pasti akan kembali ke rumah ini."
"Laku bagaimana dengan Tante Chesy, putrinya pergi karena ulah Dalsa dan dia tidak akan pernah kembali lagi."
"Sarah mohon, Ma ... Berhenti menyalahkan Revalina terus menerus atas kejadian ini."
"Sarah benar, Ma ... Mama tidak seharusnya menyalahkan Revalina karena tertangkapnya Dalsa, itu memang sudah menjadi konsekuensi atas perbuatannya sendiri." sahut Yakub membenarkan perkataan Sarah, istrinya.
Namun rupanya hal itu membuat Candini semakin marah pada semua anak-anaknya.
Dia tidak mempedulikan Rival yang kini menatapnya dengan tatapan yang teramat menyiratkan kekecewaan, tidak percaya sosok ibu yang begitu dia hormati bisa bersikap sedemikian egoisnya demi Dalsa.
Menyalahkan Revalina tanpa ada hentinya.
Rival akui istrinya itu memang berjalan karena telah membuat kakinya menjadi lumpuh, namun Rival tidak menyalahkan wanita itu.
Mungkin saja Revalina juga menyimpan kemarahan pada keluarganya sebab kematian Rajani, namun dia tidak mampu mengungkapkannya.
Sehingga dengan tanpa sengaja dia membuat kakinya menjadi lumpuh, Rival tidak marah.
Pun pria itu juga tidak kecewa dengan sang istri, dia berpikir mungkin dengan keadaan dirinya sekarang bisa mengobati sedikit api kemarahan atas kematian saudari kembar Revalina.
Namun apa yang dipikirkan olehnya lagi-lagi tidak sejalan dengan ibunya.
Candini justru terus menerus menyalahkan Revalina dengan semua rentetan kejadian yang menimpa mereka.
Terlebih, orang yang telah membuat laporan dan berakibat tertangkapnya Dalsa adalah Rafa.
Seorang pria yang notabene adalah kakak kandung dari Revalina dan Rajani.
Kini Rival pun merasa yakin jika pria itu tahu Revalina diperlakukan seperti ini oleh Candini, dia tidak akan rela.
Rival yakin Rafa tidak akan diam saja melihat Revalina yang menyimpan beban mental berat dalam hatinya, bahkan Rival sendiri pun merasa tidak sanggup membayangkan sehancur apa Rafa andai dia tahu Revalina diperlakukan demikian.
"Tidak, Yakub ... Wanita ini adalah wanita iblis, wanita tidak punya hati yang dengan tega membiarkan seorang ibu menanggung kepedihan ketika harus melihat putranya hidup menderita!" ucap Candini tetap pada pendiriannya.
"Ma, sadarlah ... Kenapa Mama begitu egois dan mau menang sendiri!" kesal Yakub, dia tidak habis pikir dengan sikap Candini yang kelewat arogan.
"Kamu tidak mengerti, Yakub ... Kamu tidak mengerti betapa perihnya hati ini melihat Dalsa kedinginan di lantai penjara." Candini kembali meneteskan air matanya, berusaha membuat Yakub berpihak padanya dengan menggunakan air matanya walaupun sebenarnya semua itu tidak mempengaruhi Yakub sedikitpun.
Dia sudah merasa begitu kecewa dengan Candini yang memilih menyembunyikan Dalsa dan melindunginya dari kesalahan yang sudah dia lakukan.
Tidak apa jika kesalahan itu hanya kesalahan kecil, namun kali ini kesalahan Dalsa sangatlah fatal dan Yakub merasa sangat tidak pantas jika Candini masih berniat melindunginya juga.
"Terserah apa kata Mama, Mama memang sejak dulu terlalu memanjakan Dalsa hingga membuatnya menjadi urakan dan kurang ajar ... Bahkan dia menjadi tanpa ragu menghilangkan nyawa seseorang!" ucap Yakub mengakhiri perbincangannya dengan Candini.
Melihat situasi yang tak pernah berpihak padanya, Candini pun pada akhirnya memilih untuk meninggalkan ruangan itu dan berlari menuju kamarnya.
__ADS_1
Wanita itu kemudian mengambil sebuah koper besar yang terletak di bawah ranjang tidurnya, membuka lemari dengan cepat lalu mengeluarkan pakaiannya dari dalam.
Candini juga kembali menyusun pakaian yang telah dia keluarkan dari lemari di dalam koper.
Dia berniat untuk pergi meninggalkan rumah itu, rumah yang menurutnya tidak ada seorangpun yang berpihak terhadap dirinya di dalamnya.
Beberapa saat menghabiskan waktu untuk mengemas semua pakaiannya, Candini pun akhirnya selesai.
Dia telah selesai memasukkan semua barang-barangnya ke dalam koper besar yang akan dia bawa untuk pergi meninggalkan rumah itu.
Candini kemudian segera berjalan keluar dari kamarnya, berniat untuk segera pergi malam itu juga.
Saat sampai di ruang tamu, rupanya mereka semua masih berada di sana.
Begitu pula dengan posisi mereka yang sama sekaki tidak berubah satu centi pun.
Sejenak ragu menyambangi hatinya, Candini merasa ragu jika dia pergi meninggalkan rumah itu akankah ada seseorang yang mencegahnya?
Apakah Yakub akan mencegah kepergiannya?
Apakah rival akan berkata lirih dan memohon agar dirinya tidak pergi meninggalkan rumah itu.
Namun melihat betapa kecewanya Yakub dan Rival, rasanya tidak mungkin mereka akan menahan kepergiannya.
Perlahan, Candini mulai melangkahkan kakinya mendekati mereka.
Bukan bermaksud untuk mengucapkan kalimat pamit pada mereka semua, namun untuk berjalan keluar dari rumah.
Benar saja, meskipun semua orang melihat dirinya yang membawa sebuah koper besar.
Namun tak satupun dari mereka yang berniat untuk mencegahnya.
Mereka hanya menatap Candini dengan datar, tidak ada seorangpun yang bahkan sekedar bertanya mau kemana pada Candini.
Tapi hal yang berbeda justru dilakukan oleh Revalina, wanita itu segera beranjak dari duduknya saat melihat Candini yang keluar dengan membawa koper besar di tangannya.
Melangkah dengan cepat menghampiri Candini dan menanyakan dengan baik-baik kemana wanita itu akan pergi.
"Ma, Mama mau kemana malam-malam begini?" tanya Revalina setelah sampai di dekat Candini.
"Tidak penting kamu tahu aku mau kemana, lagi pula kalau aku pergi kamu pasti senang kan?"
"Tidak akan ada lagi orang yang menyudutkan dan menyalahkanmu!" jawab Candini dengan ketus, lagi-lagi tidak mempedulikan perasaan Revalina sedikitpun.
"Ma, apa yang mana bicarakan ... Revalina tidak masalah dengan perlakuan Mama terhadapku, sama sekali tidak keberatan, Ma."
"Tolong jangan pergi dari sini, ini adalah rumah mama ... Sudah sepantasnya Mama yang tinggal di sini." ucap Revalina mencoba mencegah kepergian Candini.
"Buat apa aku tinggal di sini, biar Yakub dan Rival bisa terus meluapkan kekesalan mereka yang tidak berdasar itu padaku?"
"Atau sebenarnya kamu itu senang kan kalau anak-anakku itu membantah ucapanku dan selalu memihak kepadamu!" cerca Candini.
"Tidak, Ma ... Bukan seperti itu maksudku."
"Tidak apa, Revalina ... Kamu memang wanita yang jahat, kamu sudah tega memisahkan aku dengan anakku!" sentak Candini.
Revalina bergegas meraih pegangan koper Candini saat melihat wanita itu hendak melangkahkan kakinya hingga adegan tarik menarik pun tidak dapat terelakkan.
"Lepaskan, Revalina! Tidak usah berpura-pura menahanku di sini, aku tidak butuh kebaikanmu yang pura-pura itu!" bentak Candini sambil menarik kopernya agar segera terlepas dan dia bisa segera pergi.
Namun Revalina pun tidak ingin menyerah begitu saja.
Dengan bibir yang terus menggumamkan kata maaf, wanita itu terus berusaha mempertahankan Candini agar tetap berada di dalam rumah itu.
Bukan sekedar kepura-puraan seperti yang dipikirkan oleh Candini, Revalina benar-benar tulus melakukan semua hal untuk membuat Candini terus berada di dalam rumah itu.
Sampai pada akhirnya, Candini menarik koper itu dengan sekuat tenaganya.
Membuat Revalina terhuyung ke depan dan berakhir dengan menabrak tembok yang memang berada tak jauh di depannya.
"Revalina!"
Meski matanya melihat keadaan Revalina yang tergeletak tidak berdaya di atas lantai, hal itu tetap tidak membuat Candini tersentuh sama sekali.
Hati wanita itu sama sekali tak tersentuh dan merasa panik sedikitpun, tidak sama sekali merasa takut terjadi sesuatu pada Revalina.
Sementara yang lainnya juga sana sekali tidak peduli pada Candini yang terus berjalan meninggalkan rumah, mereka justru langsung menghampiri tubuh Revalina yang tergeletak tidak sadarkan diri.
Tak lama setelah itu, Rafa dan Chesy terlihat memasuki rumah yang pintunya masih terbuka bekas kepergian Candini tadi.
Kedatangan ibu dan anak itu sebenarnya berniat untuk menyelesaikan perselisihan antara mereka dan Candini saat berada di kantor polisi tadi.
Namun saat mereka sampai di kediaman keluarga Candini, mereka justru melihat Revalina yang terbaring di atas lantai dengan kedua mata yang terpejam erat.
Sontak saja hal itu membuat Chesy histeris, wanita itu sontak berlari menghampiri Revalina dan menangis di samping putrinya.
Berbeda dengan Chesy yang tampak begitu histeris melihat keadaan Revalina, Rafa justru terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Kedua matanya juga menatap mereka yang ada di sana dengan tajam, dia murka dengan apa yang terjadi pada adiknya.
"Apa yang kalian lakukan pada Revalina!" serunya.
"Maaf, Rafa ... Semua ini diluar prediksi kami." sahut Yakub dengan kepala menunduk ke bawah.
"Aku tidak ingin tahu apa alasan kalian, aku hanya ingin tahu apa yang telah kalian lakukan pada Revalina hingga menyebabkan dia seperti itu!"
"Maafkan kami, Rafa ... Maaf, Tante."
"Maaf karena kami telah lalai menjaga Revalina sehingga menyebabkan dia menjadi seperti sekarang." ucap Yakub, pria itu bahkan tidak berani menatap Rafa sebab rasa bersalahnya yang teramat besar.
Sama seperti Rival yang juga terus mengatakan permintaan maaf terhadap saudara iparnya, namun reaksi yang ditunjukkan oleh Rafa tampak seperti enggan untuk memaafkan perbuatan yang diakibatkan Candini.
Terlebih belum selesai dengan masalah Dalsa yang menghabisi Rajani, kini justru Candini ikut membuat masalah dengan membuat Revalina tidak sadarkan diri dari aksi tarik menarik koper yang dia lakukan.
Akhirnya, saat itu juga Revalina dilarikan ke rumah sakit sebab tak kunjung membuka matanya.
Semua ikut mengantar Revalina ke rumah sakit, begitu pula dengan Rival yang juga ikut bersama Yakub dan Sarah.
Sampai di rumah sakit, Revalina segera mendapat perawatan.
Begitu juga dengan Rafa yang langsung membawa Rival menjauh dari ruang rawat rawat Revalina.
"Semua ini salahmu, kamu tidak bisa menjaga Revalina dengan baik, Rival!" ucap Rafa setelah mereka cukup jauh dari ruang rawat Revalina.
"Maafkan aku, Rafa ... Kejadian ini diluar kehendakku," sahut Rival menundukkan kepalanya.
"Diluar kehendakmu atau memang sebenarnya kamu memang tidak berniat menjaga adikku!"
Dingin dan datar nada bicara Rafa saat mengatakan kalimat itu lada Rival.
Sementara Rival sendiri hanya bisa menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah yang sedikit banyak menelusup relung hatinya.
Dilema dengan perasaannya saat ini, di satu sisi ada ibunya yang harus dia bela.
Sementara di sisi lainnya juga ada istrinya yang juga tidak boleh dia abaikan.
"Aku tahu Rival, dari sikapmu ini mengatakan jika kamu memang tidak pernah membela adikku dihadapan ibumu!"
"Kamu selalu menerima seperti apapun perlakuan ibumu terhadap istrimu, tanpa pernah berusaha membelanya!" cerca Rafa pada Rival, membuat Rival langsung menengadahkan kepalanya menatap Rafa tidak percaya.
Bagaimana mungkin pria itu bisa langsung berkesimpulan seperti itu terhadap dirinya, pikir Rival.
"Tidak, Rafa ... Aku tidak selalu hanya pasrah dan menerima apa yang dilakukan ibuku pada Revalina, aku juga selalu membelanya." bantah Rival tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Rafa.
"Jika demikian, lantas kenapa Revalina bisa sampai tidak sadarkan diri seperti itu!" Kini Rival hanya bisa terdiam dengan pertanyaan yang dikatakan oleh Rafa, sebab Menag faktanya dia tidak melakukan apapun untuk mencegah tindakan ibu dan istrinya itu.
Dia tidak melakukan apapun saat Candini bersikeras untuk pergi dan Revalina yang bersikeras untuk membuat Candini tetao berada di rumah itu.
"Tidak bisa menjawab bukan, itu berarti kamu memang tidak pernah melakukan apapun untuk membela istrimu di rumahmu, Rival." tukas Rafa sebelum melangkah pergi meninggalkan Rival seorang diri, dia tidak mempedulikan pria itu yang mungkin saja akan kesulitan untuk kembali ke ruang rawat Revalina.
Perasaannya sebagai seorang kakak tentu saja amat terluka dengan apa yang terjadi pada adik satu-satunya.
Ya, Revalina memang menjadi adik Rafa satu-satunya setelah Rajani tiada.
__ADS_1
Setelah kepergian Rafa, Rival harus berusaha keras untuk kembali ke ruang rawat Revalina.
Kondisinya yang harus menggunakan kursi roda, tentu menyulitkan dirinya untuk bergerak dengan leluasa.
Sehingga hanya sekedar untuk berjalan beberapa meter saja dirinya akan sangat kepayahan.
Tiada usaha yang sia-sia, begitu juga dengan usaha Rival yang berjuang keras untuk kembali, pada akhirnya berhasil membawanya kembali ke depan ruang rawat Revalina.
Semua orang yang ada di sana sama-sama menunggu dengan raut wajah panik yang sangat kentara, namun meski begitu tidak ada satupun yang peduli pada Rival.
Mereka semua acuh dengan kedatangan pria itu, tidak peduli meskipun wajahnya banjir keringat sekalipun.
Bahkan Yakub pun tidak bertanya sama sekali dari mana dia pergi.
Beberapa jam kemudian, Revalina dikabarkan tersadar.
Sontak semua orang langsung berbondong-bondong masuk ke dalam ruang rawat wanita itu.
Terutama Chesy hang sudah tentu sangat mengkhawatirkan putrinya, dia masuk ke ruang rawat Revalina untuk pertama kali.
Disusul dengan Rafa, Yakub, dan kemudian dirinya dengan didorong oleh Sarah.
Sebenarnya Sarah pun awalnya ingin abai pada Rival seperti Yakub dan Rafa, hanya saja nalurinya sebagai seorang perempuan tentu tidak tega melihat seseorang yang kesulitan di depan matanya.
Terlebih orang itu adalah keluarganya sendiri, meskipun hanya keluarga ipar.
Chesy langsung mendekat ke samping bankar Revalina dan menggenggam erat tangan putrinya itu, menantikan saat sang putri membuka matanya.
Beberapa saat lalu saat dikabarkan sadar, Revalina hanya menggerakkan beberapa jarinya bergantian dan sama sekali belum membuka matanya.
Karena itulah Chesy sangat antusias untuk melihat saat Revalina membuka matanya.
Sedangkan Rival sendiri hanya bisa duduk di kursi rodanya dengan jarak yang cukup jauh dari bankar Revalina, sebab keterbatasannya.
Perlahan kelopak mata yang indah itu mulai mengerjap dan bulu mata lentik itu mulai terangkat ke atas, menandakan jika si pemilik mata itu hendak membuka matanya.
Namun semua yang ada di dalam ruang rawat itu sontak tercengang saat mendengar kalimat pertama yang terlontar dari mulut Revalina setelah dia tersadar.
"Dimana mama Candini, dia tidak benar-benar kabur dari rumah bukan?"
Ya, Revalina menanyakan tentang keberadaan Candini saat dirinya baru saja sadarkan diri.
Tentu hal itu membuat Chesy dan Rafa tidak bisa menyembunyikan raut tak sukanya dihadapan Yakub dan Rival serta Sarah.
Mereka tentu tidak habis pikir bagaimana mungkin Revalina justru lebih mengkhawatirkan orang yang menjadi penyebab dirinya terbaring di atas ranjang rumah sakit seperti itu.
Bukan hal yang sulit untuk Rafa menebak jika Candini memiliki andil dalam keadaan adiknya saat ini mengingat wanita itu bahkan tidak terlihat batang hidungnya sejak dia tiba di rumah tadi.
"Kak, katakan padaku dimana mama Candini?"
"Dia masih ada di rumah kan?"
"Dia tidak benar-benar pergi dari rumah kan?" cecar Revalina pada Yakub dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
Namun yang ditanyai justru hanya bisa menundukkan kepalanya, bukan karena dia tidak bisa menjawab pertanyaan Revalina.
Namun Yakub merasa sangat malu pada Rafa dan Chesy, terlebih saat mendengar perkataan Revalina yang justru bertanya dimana keberadaan Candini setelah dia baru saja sadar dari pingsannya.
"Kak ...." panggil Revalina lagi, tampaknya wanita itu belum juga menyerah untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
"Revalina, sebaiknya kamu pikirkan saja kesehatanmu lebih dulu ... Mama memang berwatak keras kepala dan tidak mau diatur, lebih baik kau tak usah pedulikan dia." ucap Yakub membalas ucapan Revalina.
"Tapi bagaimana mungkin akh tidak mempedulikan mama, dia pergi karena aku kak." lirih Revalina.
Perkataan wanita itu tentu membuat Yakub semakin merasa tak enak hati dengan Chesy dan Rafa di hadapannya, sama seperti Rival yang juga merasa tidak enak hati pada ipar dan mertuanya.
Biar bagaimanapun keadaan Revalina saat ini adalah karena ibunya, meskipun dalam hatinya yang terdalam Rival tetap tidak bisa menyalahkan ibunya seratus persen.
Menurutnya Revalina tetap saja memiliki andil dalam keadaannya kali ini, tidak semuanya salah Candini.
"Sudahlah, Revalina ... Lebih baik sekarang kau fokus saja pada dirimu sendiri, fokus pada kesembuhanmu." putus Yakub yang langsung disetujui oleh Rafa.
"Benar Revalina, sebaiknya kamu fokus saja pada dirimu sendiri sekarang ... Jangan membuat kami khawatir lagi." sahut Rafa sambil mengelus kepala Revalina dengan penuh kasih sayang.
Sangat terlihat bagaimana pria itu menyayangi adiknya dari setiap perlakuannya.
Begitu pula dengan Revalina yang kini hanya bisa menunduk, mematuhi apa yang dikatakan oleh Rafa.
Wanita itu tidak sekalipun berani membantah Rafa, sebab dia tahu apa yang dilakukan oleh pria itu semata-mata untuk keselamatannya.
Semua yang dilakukan oleh Rafa juga semata-mata karena pria itu ingin menunjukkan jika dirinya menyayangi Revalina amat sangat dan tidak ingin melihatnya terluka.
Tidak meski luka itu hanya seujung kuku.
Bagi Rafa, sudah cukup dirinya kehilangan Rajani dan tidak ingin lagi kehilangan Revalina untuk yang kedua kalinya.
Hatinya terlalu tidak siap untuk menerima kehilangan lagi dalam hidupnya.
Setelah itu suasana sangat hening, tidak ada seorangpun yang bersuara atau berdebat.
Semua sibuk dengan pikiran masing-masing, termasuk Rival yang juga sibuk berperang dengan dirinya sendiri.
Sampai detik ini dia belum tahu lada siapa dirinya akan berpihak, pada ibunya atau pada Revalina istrinya.
Dia tidak tahu jika dalam diamnya, Rafa masih menatap dirinya dengan tatapan mata yang begitu tajam dan menusuk.
Yang tidak mereka ketahui adalah, Rafa sebenarnya sudah mencium gelagat Rival yang tidak sepenuhnya berpihak pada mereka.
Tidak sepenuhnya berpihak pada Revalina dan dia yang sedang berjuang untuk keadilan Rajani, saudari kembar Revalina.
Rafa tahu Rival tidaklah seperti Yakub yang dengan tegas berani mengakui kesalahan keluarganya dan siap membawa Dalsa ke kantor polisi, Rival meskipun dia bicara tidak keberatan dengan dijebloskannya Dalsa ke dalam penjara.
Namun Rafa tahu jika jauh di dalam hatinya, Rival sama seperti Candini yang memiliki rasa tidak rela dengan masuknya Dalsa ke balik jeruji besi.
Hanya saja, pria itu begitu pandai menyembunyikan isi hatinya beserta mimik wajahnya yang bisa dia buat sedemikan rupa agar tidak ada yang mencurigai jika dirinya sudah mencium gelagat Rival.
Malam itu juga Revalina sudah diperbolehkan pulang oleh dokter yang menanganinya.
Beruntung tidak ada yang luka serius yang berada di tubuhnya sehingga Revalina dapat segera pulang lebih cepat dari rumah sakit.
Sesaat setelah Revalina diperbolehkan untuk pulang, Rafa langsung menarik Rival menjauh dari ruang rawat Revalina.
Pria itu bermaksud mengatakan keinginannya untuk membawa Revalina pulang bersamanya, ke rumah milik Chesy.
"Tidak, aku tidak memperbolehkan kalian membawa Revalina pulang ke rumah kalian." ucap Rival dengan tegas saat Rafa mengatakan keinginannya untuk membawa pulang Revalina.
"Kenapa tidak?"
"Adikku sudah terluka saat berada di rumah kalian, mau menunggu sampai bagaimana lagi baru kamu memperbolehkan aku membawa Revalina pulang me rumah kami!" jawab Rafa tak kalah lantangnya.
"Pokoknya aku tidak setuju kalian membawa Revalina kembali ke rumah kalian, aku ini masih suaminya dan aku tidak mengijinkan kalian untuk membawanya pergi tanpa seijinku!" ujar Rival.
Entah apa yang membuat pria itu bersikukuh untuk tetao mempertahankan Revalina di rumahnya, padahal sudah jelas-jelas dia masih bingung dengan dirinya sendiri yang hendak membela siapa.
"Jangan keras kepala Rival, aku juga punya hak atas Revalina ... Aku ini kakaknya, wali Revalina adalah aku." seru Rafa tetap mempertahankan pendapatnya untuk tetap membawa pergi Revalina bersamanya.
"Aku tidak keras kepala, aku hanya mempertahankan hakku sebagai suami yang ingin mempertahankan istrinya!"
"Aku hanya ingin membawa Revalina kembali ke rumah kami, bukan membuat Revalina bercerai darimu ... Hak mana yang ingin aku ambil?" Rafa kini menggelengkan kepalanya setelah melihat betapa keras kepalanya Rival, dia hanya ingin membawa Revalina kembali ke rumah dan merawatnya hingga adiknya itu benar-benar telah sembuh.
Namun reaksi yang ditunjukkan oleh Rival benar-benar berlebihan, Rival bersikap seakan dirinya mau memisahkan mereka berdua.
Meski begitu, meninggalkan Revalina bersama dengan Rival di rumah itu juga bukan pilihan yang baik.
Rafa takut kejadian seperti ini akan kembali terjadi pada adiknya dan malah lebih parah dari ini.
Setidaknya jika Revalina berada di dekatnya, dia bisa memantau dan menjamin keselamatan sang adik.
"Tidak bisa, pokoknya aku tidak akan pernah membiarkan kalian membawa pergi Revalina dari rumahku."
"Aku tidak perlu ijinmu untuk membawa adikku, Rival ... Sebelum menikah denganmu akulah yang paling berhak atas diri Revalina, setelah menikah denganmu pun aku tetap berhak atas Revalina."
"Suka atau tidak, aku akan tetap membawa Revalina ikut bersamaku pulang ke rumah mama!"
__ADS_1
Bersambung