
POV Revalina
Keesokkan hari, secara tiba-tiba Rival mengajak Revalina membesuk Dalsa ke lapas, tanpa bicara sepatah katapun ia mengangguk pasrah. Semoga akan ada banyak berkah untuk istri yang selalu menuruti suami. Slebew.
Sebenarnya bukannya pasrah, dua hari ini diam-diam Revalina memikirkan kalimat Dalsa sewaktu di rumah sakit. Dalam lubuk hati terdalam, sebenarnya ia juga ingin bertemu dengannya untuk menanyakan kalimat yang hanya sepenggal tersampaikan.
Sampai detik ini Revalina masih enggan bercerita dengan Rafa tentang apa yang terjadi beberapa hari ini, apalagi bercerita dengan Chesy.
"Mas, kau nggak bawa apa-apa?" tanya Revalina melirik kebelakang. Melihat sang suami yang lenggang kangkung tanpa membawa apa- apa.
"Enggak, Mama baru saja kesana sudah banyak makanan di sana," jawab Rival.
"Oh," gumam Revalina mengangguk tipis.
Setibanya di sana, ketika memasuki gerbang utama, mobil yang dikendarai Rival bersimpangan dengan mobil Candini.
"Itu Mama baru keluar," celetuk Revalina menunjuk mobil Candini dengan jari telunjuknya.
"Iya, katanya sudah dari tadi aku pikir sudah pulang ternyata baru," sahut Rival.
Melihat hal ini, Revalina merasa sedih, tak hanya dirinya yang berjarak dengan Candini, Rival pun terlihat berjarak juga.
Namun untuk sekarang ia berusaha mengesampingkan rasa sedih itu, sekarang ada satu hal yang sudah di depan mata, yang akan menjawab segala pertanyaannya dalam dua hari ini.
Tiba di ruang besuk, hanya dalam beberapa menit menunggu, akhirnya Dalsa keluar dengan satu orang penjaga mengantarnya sampai ke depan meja lalu penjaga itu beranjak pergi, berjaga tak jauh dari sana.
Lagi-lagi penjagaan di sekitar ruang besuk itu dijaga sangat ketat, meminimalisir terjadinya hal-hal yang tak diinginkan.
Perlahan Dalsa terduduk di kursi yang saling berhadapan, secara mengejutkan Dalsa tersenyum ke arah Revalina lalu beberapa detik menundukkan kepalanya.
'Apa maksud senyumnya, aku tak pernah dapat senyuman seteduh itu dari dia,' ucap Revalina dalam hati.
"Gimana kabarmu?" tanya Rival sembari tersenyum memandangi adik kesayangannya itu.
"Baik Kak, bahkan jauh lebih baik," jawab Dalsa lirih dan lembut.
"Oh ya, aku mau bilang terimakasih, karena Kakak, aku dipertimbangkan buat masuk ke sel khusus, sekarang aku sudah dapat kamar. Yahh walaupun sempit tapi aku suka," ujar Dalsa dengan senyum termanisnya.
"Bilang terimakasih juga sama Reva, dia yang punya ide buat minta ke polisi untuk pertimbangan ini," sahut Rival melirik ke arah Revalina.
Reflek Revalina pun membalas lirikan Rival dengan tatapan bingung, ia bingung kenapa suaminya ini harus mengatakan hal ini pada Dalsa.
"Mas," panggil Revalina lirih, melempar kode melalui kedipan matanya.
Sialnya Rival justru menertawakan kedipannya bukannya diam atau bahkan meralat kalimatnya tadi.
"Terimakasih Reva," ucap Dalsa menatap Revalina sembari tersenyum.
Seketika suasana dalam ruang besuk untuk mendadak hening, tak ada suara sedikitpun yang terdengar mana kala Dalsa berbicara bahkan tawa Rival pun tak terdengar lagi.
"Sama-sama," sahut Revalina masih dengan wajah datar.
Bagaimana tidak, ia masih merasa kaku tak terbiasa dengan perbicangan baik-baik antara dirinya dengan adik iparnya ini.
Masih dengan posisi yang sama, Dalsa terus menatap Revalina hingga lama kelamaan terlihat dari kedua matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
Karena malas bertanya dengannya Revalina hanya bisa bertanya di dalam hati 'kenapa dia,'
"Reva, aku sudah dapatkan karmanya," ujar Dalsa menunduk meneteskan air matanya.
Tibalah kalimat itu diulang kembali, sontak Revalina menaikkan atensinya mendengar dan memperhatikan kalimat lanjutan yang akan keluar kembali dari mulut Dalsa.
"Selama ini aku sudah egois, aku selalu mengedepankan rasa sakit ku tak tak seberapa ketimbang rasa sakit yang aku torehkan ke Almarhum Rajani dan semua keluargamu. Aku menganggap tindakanku benar, menganggap kalian semua jahat sampai aku lupa kalau akulah penjahat sadis yang sesungguhnya," ujar Dalsa panjang lebar.
Revalina yang mendengar hal itu sontak tercengang tak percaya dengan apa yang telah didengarnya, tak terpikirkan sedikitpun jika Dalsa akan mau mengakui kesalahannya seperti ini.
Di menit-menit pertama Revalina masih terdiam, membiarkan Dalsa menangis di hadapannya. Sementara itu Rival sibuk menenangkan dengan usapan lembut pada punggung tangannya.
"Hiks hiks," Isak tangis Dalsa.
Di tengah aksi diamnya memperhatikan Dalsa, ia merasa salut dengan Rival yang tak pernah memintanya untuk mengerti kondisi Dalsa bahkan dari tatapannya terlihat begitu pasrah.
'Terimakasih Mas, aku tahu posisi mu jauh lebih sulit dariku. Aku salut kamu bisa bersikap objektif dalam situasi ini,' ucap Revalina dalam hati.
"Reva," panggil Dalsa.
Revalina tetap terdiam namun terus menatap Dalsa.
"Aku minta maaf, aku minta maaf atas segala yang sudah ku perbuat. Permintaan maaf ku ini bukan mengharap keringanan hukuman tapi aku hanya berharap maaf darimu dan keluarga mu, aku minta maaf, Reva," ucap Dalsa diiringi isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi.
"Aku akan tanggung semuanya, aku akan jalani masa tahanan berapa lama pun demi menebus kesalahan ku. Jika itu masih kurang, aku rela melakukan apapun itu untuk menebus kesalahan ku," sambung Dalsa. "Aku sudah berdosa. Aku melajukan dosa besar. Belakangan ini aku menyadari hal itu. Aku sempat berpikir bahwa aku akan mati di tangan para senior tahanan. dan aku takut. Aku takut akan mati dalam keadaan berdosa pada keluargamu. Aku sadar, aku salah."
Mendengar ucapan Dalsa, rasanya jantung ini serasa seperti tersambar petir. Ia benar-benar tak menyangka seseorang yang ia anggap mustahil mengakui kesalahannya saja kini tengah memohon maaf darinya.
Tubuh Revalina serasa membeku dalam beberapa menit, melongo mendengar kalimat-kalimat permintaan maaf yang Dalsa sampaikan. Entah kenapa ia merasa apa yang Dalsa katakan jujur dari dalam hati, bukan kepura-puraan.
"Aku terima permintaan maaf mu," sahut Revalina singkat.
Tanpa berbasa-basi Revalina mulai beranjak dari duduknya, berjalan mendekati Dalsa dan di saat itu Dalsa juga ikut beranjak.
Tiba keduanya saling berhadapan Revalina langsung mendekap memeluk tubuh Dalsa tak cukup erat namun memberi usapan lembut pada punggung kurusnya.
"Terimakasih," ucap Dalsa sembari menghembuskan nafas leganya di dalam dekapan Revalina.
"Berubahlah jadi pribadi yang lebih baik lagi, jadikan masa dalam tahanan jadi masa-masa indah untuk mencari ilmu di dalamnya. Banyak hal yang bisa kamu pelajari di sini, Tuhan menyayangimu buktinya kau diberi teguran di dunia sebelum menjadikan mu bersih di akhirat nanti. Aku memaafkan mu," ucap Revalina sembari terus mengusap lembut punggung Dalsa.
"Terimakasih Reva, terimakasih," sahut Dalsa secara berulang-ulang. "Aku ikhlas jalani semua ini. Aku akan terima resiko apa pun itu. Aku terima hukuman Tuhan melalui hukuman di sel ini."
Nampak rona bahagia terpancar dari wajah Rival melihat Revalina dan Dalsa sekarang telah akur.
Saat itu juga Revalina sendiri merasa lega, telah membuang dendamnya bersamaan dengan kalimat permintaan maaf yang keluar dari mulut Dalsa.
Semua terjadi terasa begitu cepat, akhirnya segala pertanyaan yang ada di kepalanya sejak dua hari yang lalu telah terjawab sekarang tak disangka-sangka Dalsa kak menyampaikan ini padanya.
'Sepertinya Dalsa sudah mau minta maaf sejak aku besuk di rumah sakit waktu lalu, tapi karena tiba-tiba dia merasakan sakit jadinya terpotong,' ucap Revalina dalam hati menduga-duga sendiri.
Siang itu setelah jam besuk telah selesai, akhirnya Revalina dan Rival pulang dengan perasaan lega.
Sepanjang jalan pulang Rival tak berhenti tersenyum-senyum, terlihat begitu bahagia dari biasanya. Melihat hal itu Revalina hanya menggeleng sembari tersenyum pula.
"Kelihatanya bahagia sekali hari ini," singgung Revalina.
__ADS_1
Rival yang tengah menyetir mobil langsung melirik ke arah Revalina sesekali dengan senyum nyengir.
"Gimana aku nggak bahagia coba lihat istri dan adikku akur," sahut Rival.
"Sebenarnya kau sudah tau kan kalau Dalsa mau minta maaf dengan ku," tuduh Revalina setelah mengingat seluruh gelagat Rival sebelum tiba di lapas.
Tak langsung menjawab, Rival malah terus tersenyum-senyum tak jelas. Namun di balik senyumannya Revalina bisa menebak kalau dugaannya benar adanya.
"Sudah tahu kenapa nggak bilang dari kemarin-kemarin, tahu nggak aku sudah kepikiran sejak dari rumah sakit," gerutu Revalina dengan nada kesal.
"Biar surprise saja, kalau aku bilang dari awal yang ada kamu banyak mikir. Tapi kalau dengar langsung dari Dalsa kau bisa rasakan sendiri ketulusannya," jelas Rival masih dengan senyumannya.
"Aku juga nggak mau memaksamu untuk melakukan apa yang aku mau, karena jujur yang aku mau kita semua berdamai, rukun," sambung Rival.
Mendengar penjelasan Rival, Revalina pun mengangguk paham. Binar-binar matanya kini kembali tertuju pada sang suami yang tetap ia kagumi sebagai sosok suami sempurna di matanya.
'Entah apa jadinya aku kalau menikah selain sama kamu Mas,' ucap Revalina dalam hati.
Sedewasa itu Rival dalam menyikapi permasalahan ini, bahkan ia sendiri jika dalam posisi tersebut tak akan mampu menahan ego apalagi amarah. Tapi Rival begitu tenang meski sesekali nampak tak berdaya melihat Dalsa.
Tiba di rumah Revalina disambut hangat oleh Sarah yang baru saja selesai menyiram seluruh tanaman yang ada di depan rumah.
Baghhh.
Revalina keluar dari mobil, tersenyum menyapa Sarah.
"Assalamualaikum Mbak," ucap salam Revalina.
"Waalaikumsalam," jawab salam Sarah.
Seperti orang yang lama tak berjumpa, tiba-tiba Sarah dan Revalina kompak cipika-cipiki manja di saksikan Rival yang baru saja keluar dari mobil.
"Ihhh, apa kabar kamu?" tanya Sarah dengan senyum girang.
"Baik Mbak," jawab Revalina ikut girang.
"Kalian itu seperti berpisah dua puluh tahun saja, padahal baru dua haru sudah selebay itu," ledek Rival melintas di hadapan mereka sembari melempar lirikan.
"Oh sirik saja jadi orang," sahut Sarah meledek balik Rival.
"Hiiiiiiik," Rival bergidik kegelian.
Tanpa menunggu Revalina, Rival terlebih dahulu mengerakkan tungkainya masuk ke dalam rumah lalu tak lama dari belakang Regina dan Sarah berjalan bersama-sama masuk ke dalam rumah.
"Mbak Sarah sudah nggak temani Mama lagi di sana?" tanya Revalina penasaran.
"Enggak Rev, Mama bilang aku di suruh kembali kesini urus Yakub. Ya sudah aku kesini tapi nanti sesekali aku harus bolak-balik ke rumah Mama," jawab Sarah dengan santainya.
"Terus kondisi Mama sekarang memangnya memungkinkan buat ditinggal Mbak?" tanya Revalina menatap heran.
"Memungkinkan lah, Mama saja sudah bisa naik mobil kesana kemari," jawab Sarah.
Seketika Revalina tersadarkan dengan apa yang ia lihat sewaktu akan masuk ke dalam lapas, tepatnya di tengah-tengah gapura dirinya memang tengah berpapasan dengan Candini.
"Oh iya, aku lupa tadi Mama memang ke lapas," ucap Revalina.
__ADS_1
Tiba-tiba Sarah membelalakkan kedua mata. "Hah, kamu lihat Mama baru saja ke lapas?"
Bersambung