Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Menyesal


__ADS_3

Mobil Revalina seketika tersentak, hampir saja terguling beruntung Allah masih melindunginya saat itu. Nampaknya Akram terkejut melihat Revalina menghadang mobilnya secara brutal, dia cepat-cepat turun dari mobil dengan wajah kebingungan. Sementara Revalina yang melihat batang hidung Akram, ia pun bergegas turun dengan emosi yang sedikit terkontrol.


"Reva, apa kau sudah gila?" tanya Akram menatap bingung.


Tapi Revalina membisu terus melangkah dan tanpa izin membuka pintu mobil, dilihatnya tak ada siapa-siapa di dalam mobil. 


"Kenapa Rev, kau cari apa?" tanya Akram makin bingung.


Revalina tetap diam tak menggubris pertanyaan Akram, ia sudah sangat marah dengannya kekecewaan sudah terlanjur memuncak hingga ke ubun-ubun.


'Dimana dia sembunyikan Rival apa jangan-jangan di bagasi mobil,' ucap Revalina dalam hati mulai menduga-duga.


Tanpa basa-basi ia bergegas menuju bagasi mobil Akram, membukanya dengan gerakan kaki di bawah bagasi seketika bagasi mobil mewah itu bereaksi membuka dan betapa terkejutnya Revalina melihat Rival tengah sekarat di sana dengan tubuh yang masih terikat.


"Kau mau apa Reva, jangan bilang kau mau aku kembalikan laki-laki brengsek ini ke gedung tua itu?" tanya Akram berujung menduga-duga sendiri.


"Aku nggak mau kita di penjara hanya karena kecerobohan meninggalkan dia di gedung tua itu entah hidup atau mati, tapi tetap saja akan terendus polisi," jelas Akram panjang lebar namun Revalina tetap memilih diam.


Bughhhhhh.


Secepat kilat Revalina memutar badan dan menggebuk perut Akram dengan seluruh kekuatannya.


"Arghhh," rintih Akram kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Reva, kenapa kau kesurupan?" tanya Akram kebingungannya.


Geram melihat wajah tak berdosanya tanpa ancang-ancang tangan kirinya mulai bereaksi mengepal melayangkan pukulan di pipi Akram namun Akram dengan sigap menahan pukulan Revalina.


Tidak pendek akal Revalina membanting tangan Akram ke kiri lalu memelintir kedua tangannya ke belakang.


"Argghhh Reva, stop Reva ampun. Kau kerasukan setan apa sih," rintih Akram kesakitan.


"Nggak usah bicara kerasukan-kerasukan, aku sekarang sudah tahu semua kebusukan mu jadi jangan belaga nggak tahu," bentak Revalina kesal.


"Kau ini bicara apa, aku nggak ngerti?" tanya Akram terus dilanda kebingungan.


"Aku sudah tahu kalau selama ini kau adalah salah satu dari pelaku pembunuhan Rajani, kau adalah pelaku yang memperkosa Rajani dan kau adalah pelaku yang teriak pelaku ke orang lain," bentak Revalina menjabarkan kesalahan-kesalahan utama yang sudah dibuat Akram.


Nampak Akram terdiam kaku, melongo mendapati Revalina tahu semua. Bahkan tangannya yang semula meronta kini lemas tak berdaya.


"Jangan bercanda Rev aku nggak suka, aku bukan pelaku itu ada-ada saja kamu," sahut Akram berkelit.


Mendengar sahutan Akram sepeti itu membuat Revalina berulang kali menghembuskan nafas beratnya, tentunya ia tak percaya dengan omong kosong Akram lagi sudah cukup kebodohannya kemarin terkena hasutan Akram dengan begitu hebatnya mampu membuat kedua matanya buta akan kebenaran yang ada.


"Aku nggak menyangga teganya kamu fitnah Rival padahal kamu sendiri yang melakukan itu dan teganya kamu hajar Rival habis-habisan padahal kamu sendiri pelakunya," ungkap kekecewaan Revalina untuk yang kedua kalinya.


"Rev, sungguh aku bukan salah satu dari pelaku. Sumpah demi apapun, kau sudah salah paham. Coba sekarang kau tunjuk siapa yang sudah menghasut mu, siapa yang iri dengan persahabatan kita," ucap Akram terus mengelak.


Tak tahan lagi mendengar elakan Akram kini kedua netra 


Revalina tertuju pada punggung putih Akram dari balik kaosnya, tanpa aba-aba menarik kaos itu.


"Krakkkkk," bunyi baju kaos tersobek dengan keras, membuka lebih dari setengah.


Terlihat jelas tato di punggung itu sama dengan tato milik Akram, sudah tak diragukan lagi memang Akram lah pelakunya.


"Apa ini Akram, masih mau mengelak?" tanya Revalina dengan nada semakin meninggi.


"A-apa Reva, aku tak mengerti dengan pertanyaanmu?" tanya balik Akram dengan mulut terbata-bata.


Revalina semakin meradang minat Akram yang sampai detik ini masih menutupi kebusukannya, berlagak tak tahu dan terus menerus tak tahu.


Bughhh bughhh.


Dua pukulan melayang tak beraturan entah mengenai tubuh Akram bagian mana, Revalina hanya ingin melampiaskan amarahnya saat ini juga hingga membuat Akram tergeletak di aspal.

__ADS_1


"Sudah jelas punggung mu punya tato yang sama, masih saja mengelak," geram Revalina makin tak tahan ia pun melempar Akram dengan ponsel yang ia temukan di gedung tua tadi.


Plakkkk.


Ponsel itu mendarat tepat di dada Akram.


"Aku sudah tahu semua," ucap Revalina menusuk Akram dengan sorot matanya yang tajam.


Seketika Akram menunduk, merenung, entah merenungi kesalahannya atau justru merenung memikirkan kalimat yang pas untuk mengelak lagi.


"Sekarang kau sudah tahu semua, percuma juga kalau aku terus berkelit. Aku minta maaf Reva, aku memang salah, aku memang pelakunya," ucap Akram mulai mengakui perbuatannya.


"Huhh," Revalina menghembuskan nafas leganya mendengar Akram akhirnya mengakui perbuatan buruknya.


"Apa yang kau lakukan katakan!" bentak Revalina ingin mendengar langsung apa saja yang sudah Akram lakukan pada Rajani ia tak ingin membayangkan perbuatan keji itu sendiri.


Lagi-lagi Akram menunduk malu, enggan menatap mata elang Revalina. Dengan tubuh gemetar ia kembali mengakui perbuatannya.


"Aku memperkosa Rajani dan aku juga yang membunuhnya, pada akhirnya aku mengkambing hitamkan Rival," ujar Akram membuka satu persatu perbuatannya di hadapan Revalina.


"Kenapa kau lakukan itu semua, apa alasannya?" tanya Revalina dengan nada bicara memuncak tinggi.


Akram langsung mengangkat kepalanya mendongak dengan berani menatap kedua mata Revalina.


"Cinta ku ditolak Rajani, tapi tak cuma itu aku pun cemburu mengetahui Rajani suka sama  Rival, selama ini aku mencintai Rajani tapi cintaku bertepuk sebelah tangan," jawab Akram dengan amarah membara.


Nampak Akram meluapkan sisa-sisa amarah yang sudah selama ini ia tahan di hadapan Revalina setelah mendengar jawaban Akram, sedikit ingatan terlintas di kepalanya teringat akan kerasnya tolakan Akram ketika ia meminta untuk menunggu bukti agar semua jelas.


Ada satu point lagi yang ia dapatkan dari sini ternyata ia cukup mudah terpengaruh dengan mulut seorang teman tanpa memikirkan keraguannya selama ini yang sesungguhnya petunjuk dari Allah agar matanya terbuka.


Di depan Akram Revalina mulai menangis, meraung, menyesali semua yang sudah ia perbuat juga menyesal telah mengenal Akram dalam hidupnya.


"Aku membenci mu Akram, sungguh aku membenci mu," teriak histeris Revalina.


Bughhhh bughh bughh.


Sekejap dia tersungkur dengan mata terpejam, tak sadarkan diri. Tuhan seakan telah memberinya waktu untuk mengajar Akram dengan leluasa dengan membuat jalan raya itu tak ada kendaraan lalu lalang sama sekal.


Setelah berhasil menghajar Akram, ia pun segera menolong Rival yang sudah sekarat di dalam bagasi terbuka itu.


Tak ingin membuang waktu lagi dengan cepat ia melepas tali yang mengikat tangan dan kaki Rival berusaha tak menyentuh luka-luka di tubuhnya.


"Arghhh," rintih Rival dengan kondisi tak sadarkan diri.


Sontak membuat Revalina terkejut sekaligus takut, pasalnya Rival tengah tak sadarkan diri, sedang kritis namun mampu merasakan kesakitan. Terbukti rasa sakit yang sudah ia torehkan begitu luar biasa.


Dengan yakin Revalina mulai menarik kedua kakinya menapakkan kaki penuh luka itu ke aspal lalu berlanjut pada tangannya sambil memegangi tubuh perlahan demi perlahan mengeluarkannya dari bagasi. 


Lagi-lagi tangan Tuhan kembali membantu Revalina untuk mengatasi masalah ini, antara percaya dan tidak ia seperti memiliki kekuatan untuk membawa Rival ke mobilnya.


Setelah berhasil memasukkan Rival ke dalam mobilnya, ia pun bergegas melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit tak menghiraukan penyok pada mobil apalagi menghiraukan Akram yang tengah terkapar di jalanan. Fokusnya sekarang hanyalah Rival.


Selama dalam perjalanan Revalina tak berhenti beristigfar, meminta ampun pada Allah atas segala yang sudah terjadi terutama kesalah pahaman yang berujung maut seperti ini. 


"Astaghfirullahalazim," ucap Revalina dengan derai air mata yang enggan berhenti.


Sesekali netranya melirik ke arah belakang, berulang kali mengecek kondisi Rival namun sama saja tak ada bedanya tetap tak sadarkan diri.


"Ya Allah aku mohon jangan ambil dia, aku akan sangat menyesal kalau dia sampai mati. Beri aku kesempatan untuk meminta maaf padanya," ucap Revalina dengan sesak di dada yang tak kuasa terus ia tahan.


Tak lama ia menemukan rumah sakit besar yang terletak di tengah kota, ia yakin rumah sakit ini bisa menyembuhkan Rival dengan alat-alat canggihnya. 


Setibanya di sana para tenaga medis berlarian menggeruduk mobil Revalina, semua cekatan dalam menjemput pasien darurat. 


Tanpa basa-basi mereka bergegas membawa Rival ke IGD dengan pengawalan ketat dari para suster yang mengerubunginya.

__ADS_1


"Mbak, tolong nanti langsung ke meja administrasi untuk proses kelengkapan data pasien juga proses kamar inap," ucap suster mengarahkan Revalina.


"Baik Sus, tolong suami saya selamatkan dia," pinta Revalina sambil memegang kedua bahu suster bertubuh kecil itu.


"Insyaallah," sahut Suster tak lama bergegas menyusul ke ruang IGD.


Sementara itu Revalina harus memarkirkan mobilnya terlebih dahulu, setelah itu berlari menuju ruang administrasi agar Rival segera ditangani. Seluruh kartu debit ia keluarkan tak peduli berapa pun biayanya ia siap mengeluarkan tabungannya yang sudah dikumpulkannya selama bertahun-tahun.


"Aku yakin biayanya akan sangat mahal, sementara itu aku nggak tahu Rival punya asuransi kesehatan apa enggak," gumam Revalina menunggu data Rival di proses.


Beberapa lama kemudian akhirnya proses administrasi selesai, Revalina hanya dikenakan biaya awal sedangkan untuk kelanjutannya akan dibebankan nanti di akhir.


Dengan langkah kaki terseret lemar Revalina berjalan menuju ke ruang IGD, di sana ada beberapa orang tengah menunggu keluarganya di luar. Ia pun bergabung bersama mereka duduk di deretan kursi yang sama dengan ekspresi wajah yang sama pula. Sedih, dan ada rasa penyesalan yang tak bisa diungkapkan kata.


'Rival aku mohon bertahanlah, lawan rasa sakit mu. Jangan bunuh kesempatan ku untuk meminta maaf padamu,' ucap Revalina dalam hati, menunduk menenggelamkan mukanya di tengah lipatan kedua tangan.


Sungguh ia tengah rapi serapuh-rapuhnya, tak terbayangkan jika selama ini ia sudah termakan adu domba Akram dan tak terbayangkan pula ia bisa sangat percaya Akram dari pada perasaan ragunya sendiri.


"Mbak."


"I-iya," sahut Revalina terbata-bata, terkejut dengan sentuhan tangan wanita juga dengan suaranya yang tiba-tiba memecah keheningan.


Dengan cepat Revalina mendongakkan kepalanya, melirik ke sisi kirinya, terlihat seorang wanita paruh baya bertubuh tinggi besar namun memiliki wajah dan gestur keibuan tengah menatapnya dengan tatapan sendu.


"Bersabarlah, Tuhan pasti menolong suami mu. Jangan takut dengan hal yang belum terjadi, berdoalah semoga suami mu bisa lolos dari masa kritisnya dan cepat sembuh," ucap Ibu itu sambil tersenyum teduh.


Revalina diam terpaku mendengar ucapan Ibu itu, tanpa bertanya-tanya dari mana Ibu itu tahu jika ia tengah menunggu suaminya dan dari mana dia tahu jika ia tengah membayangkan kemungkinan terburuk yaitu meninggalnya Rival dari dunia ini. Ia terpaku karena kalimatnya begitu mengena di hati dan bisa ia terima dalam keadaan seperti ini.


"Dimana orang tua kalian, apa sudah tahu dengan kejadian ini?" tanya Ibu itu sambil menaikkan satu alisnya.


"Belum," jawab Revalina singkat, menggeleng.


"Kabari nak, keluarga kalian pasti cemas di rumah. Asal kamu tahu antara ibu dan anak itu ada satu hal yang tak bisa di jelaskan dengan nalar, seorang Ibu dan anak itu seperti punya telepati dan sekarang Ibu dari suami mu tengah merasa sakit di dadanya, gundah, cemas, khawatir begitupun dengan Ibu mu," tegur Ibu itu panjang lebar.


"Terimakasih Bu, setelah ini aku akan kabari keluarga kami," sahut Revalina.


Ia pun menunduk merenungi semua kalimat Ibu itu, sebelumnya ia tak ingat sama sekali dengan keluarga rasanya seperti dunia ini hanya ada dirinya dan Rival, sejak tadi ia tengah berdiri sendiri melancarkan setiap aksi dan mengakhirinya dengan penyesalan.


"Kriettt," suara pintu kaca ruang IGD terbuka.


Terlihat sosok berjas putih keluar dari sana di dampingi satu suster yang tadi mengarahkan Revalina untuk menuju ruang administrasi.


"Keluarga dari pasien Rival," panggil Suster itu.


Mendengar nama Rival disebut dengan cepat Revalina beranjak, berjalan cepat ke arah Dokter dan Suster itu.


"Saya Sus," sahut Revalina sambil menahan degup jantung yang tiba-tiba berdegup kencang.


"Anda keluarga dari pasien?" tanya Dokter.


"Iya saya Istrinya," jawab Revalina mengangguk 


"Ikut ke ruangan saya, ada yang mau saya bicarakan," ajak Dokter.


Mendengar ajakan itu perasaan Revalina makin tak karuan, segala bayangan terburuk kembali hadir dalam pikirannya mengiringi setiap langkah menuju ke ruangan Dokter itu.


'Ada apa dengan Rival, kenapa aku sampai di ajak ke ruangan Dokter apa kondisinya seburuk itu,' ucap Revalina dalam hati bertanya-tanya.


Tiba di ruangan Dokter, Revalina langsung di persilahkan untuk duduk. Di sana Dokter tak langsung masuk dalam inti pembicaraan, dia justru mengajak Revalina berbincang ringan sambil mengeluarkan hasil rontgen.


Selembar hasil rontgen itu ditatap Dokter sampai tak berkedip, kerung di kening seakan menjelaskan betapa parahnya hasil yang sudah dia ketahui.


Saat itu juga tak ada sepercik pikiran positif dalam kepala Revalina, yang ada hanya hal-hal terburuk yang bisa Rival alami akibat penyiksaan tadi.


"Sebelum saya bacakan hasil rontgennya, saya mau tanya sebenarnya apa yang terjadi pada Pak Rival?" tanya Dokter beralih menatap kedua mata Revalina dalam-dalam.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2