Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Senyaman ini


__ADS_3

Gludug.. gludug.. gludug.. ctdarrr.


Tiba-tiba suara guntur disusul petir menyambar, tak terasa atap dunia yang menaunginya kini berubah hitam menakutkan dengan suara-suara mencekam. Revalina yang tengah asik menyantap mi ayam tiba-tiba terdiam mematung menatap langit.


"Tiba-tiba mendung dan sepertinya ini mau hujan," gumam Revalina sambil berulang kali melirik tiang kecil yang menopang atap area makan pembeli mi ayam tersebut.


"Cepat kita habiskan biar bisa pulang," ajak Rival sambil mempercepat suapannya.


Tak mendengarkan ajakan Rival untuk segera mempercepat suapanny, Revalina justru sibuk menata ulang riasannya. 


Gluduk.. gludug.. ctdarrr.


Suara gemuruh lahir kembali terdengar.


Satu per satu pelanggan mi ayam itu mulai berkurang, berlari dengan langkah cepat masuk ke dalam mobil masing-masing.


"Mereka berlari seperti mau hujan saja, padahal di ramalan hujan tidak akan hujan hati ini di seluruh oenjur kota," gumam Revalina lirih.


Brsshhhhh.


Tak disangka tiba-tiba hujan mengguyur dengan sangat deras, sontak Revalina terjingkat namun Rival malah memberi kode padanya untuk tetap makan menyantap mi ayam.


"Habiskan," perintah Rival dengan mukut penuhnya.


"Iya," sahut Revalina dengan raut wajah terpaksa.


Tak ada pilihan saat itu, Revalina pun langsung menyantap sisa mi ayam yang hanya memeeluka beberapa menit saja untuk melahapnya habis. Namun, yang menjadi pertimbangannya adalah air hujan yang terus mengguyur sementara atap yang diteduhinya sangat kecil. Terpaksa ia meninggalkan mangkoknya, beranjak dengan kedua tangan saling mengusap lengan.


"Sudah, aku tidak mau makan lagi," ucap Revalina dengan nada kesal.


Revalina berdiri tepat di samping Rival, tak lama Rival pun ikut beranjak dan bahkan tak hanya itu saja ia melepas jaketnya hanya untuk melindungi Revalina dari derasnya hujan.


"Jangan siksa dirimu, pakai saja," Revalina cepat-cepat menolak jaket yang sudah melingkar di tubuhnya.


"Justru aku akan tersiksa kalau sampai melihatmu kehujanan, kesakitan karena hujan ini," sahut Rival dengan tatapan khasnya.


Seketika Revalina terdiam kembali memikirkan kegundahannya tadi, ia jadi memiliki banyak perbandingan tentangnya.


'Kenapa senyaman ini? Bahkan jaket ini juga sangat hangat,' ucap Revalina dalam hatinya.

__ADS_1


"Sweet sekali suaminya masunkasih jaket ke istrinya, kamu itu harusnya seperti dia," bisik-bisik salah satu pelanggan lain tentang Revalina dan Rival.


Mendengar hal itu entah kenapa keduanya justru malu-malu, terdiam tak saling menatap dengan bibir tak berhenti tersenyum. Ada kata yang menggelitik dari perbincangan itu di mana dirinya di anggap sebagai kilatnsambungan.


Alhasil mereka seperti sampai hujan, setelag dengan posisi sudah membayar Revalina berjalan cepat ke arah mobil melintasi genangan-genangan air sisa hujan hari.


Brummm.


Wshhhhh.


Tiba-tiba ada satu motor melintasi di jalanan cukup kencang. Namun tanpa arah air di jalanan itu meluap dan hampir mengenai Revalina.


"Kurang asem, sumpah menyebalkan orang itu tak tahu apa kalau di sini itu ada orang," gerutu Revalina kesal.


Tak ingin menjadi korban terguyurnya endapan air di jalanan, Revalina cepat-cepat masuk ke dalam mobil dengan jaket yang terus melindunginya.


Bragghhh.


Pintu mobil tertutup.


"Langsung aku antar pulang ya, sepetinya hari ini mau hujan lagi," ucap Rival samhil sibuk mengenakan sealt belt untuk dirinya sendiri.


Tanpa sahutan mobil itu pun melaju beriringan dengan mobil-mobil lain yang mulai meninggalkan perkiraan. Rintih gerimisnya hati menjadi saksi bahwa saat itu kebimbangan Revalina menghadirkan rasa tak mau kehilangan terutama kehilangan Rival.


"Ya," sahut Rival singkat, sibuk menarik setir mobil kan.


"Aku boleh tanya sesuatu?" Izin Revalina terlebih dahulu, ia tidak mau pestanyanya tertolak atau bahkan sengaja tak di jawab olehnya dengan pertimbangan saalh satu hal.


Sontak Rival mengeriyitkan keningnya, terkejut lalu refelek memundurkan kepalanya ketika menatap Revalina. 


"Tanya ya tanya saja Rev, aku tidak pernah melarang mu bertanya. Silahkan mau tanya apa," jawab Rival membuka lebar kedemoata untuk Revalina bertanya-tanya padanya.


Entah jawaban ini keluar dari mulut Rival atau Dosen muda yang gigih itu, tapi tak peduli kini ia harus memanfaatkan moment ini untuk bertanya lebih jauh.


"Pak, aku mau tanya sesuatu. Mungkin akan terdengar aneh tapi aku ingin saja bertanya seperti ini," ucap Revalina mulai membuka sesi pertanyaan.


Rival mengangguk paham.


"Apa yang membuat Pak Rival memilih jadi orang baik, bahkan terbaik buat calon istri Bapak?" tanya Revalina dengan tatapan serius, ia sangat menanti jawaban dari Rival.

__ADS_1


Kebimbangan tergantung suasana hati, saat ini  ia jadi kembali kesal pada Rival sebab isi kepalanya berputar menunjukkan memory sedihnya ketika pertama kali mengetahui kondisi Rajani pertama kali.


'Sungguh, jika jawaban mu nanti bertele-tele akan aku gampar habis-habisan. Itu masih tak sebanding dengan rasa sakit yang di rasakan almarhum Rajani,' ucap Revalina dalam hati.


Entah Rival mengetahui atau tidak, tiba-tiba dia menarik nafasnya dalam-dalam lalu perlahan merubah posisi menjadikan dirinya kini saking berhadapan dengan Revalina.


"Re, jawabannya simpel karena pada dasarnya aku ini tidak bisa jahat. Jahat hanya buang-buang energi dan waktu, sementara' kebaikan bisa ditebar denfan mudahnya," jawab Rival sambil tersenyum tipis.


Seketika mulut Revalina terkunci, tubuh terdiam kaku disusul dengan tatapan mata yang enggan bergeser atau bahkan berkedip sekalipun. Segala pertanyaan yang ada di kepalanya pun kini mendadak hilang sudah, merasa Rival sudah menebas habis segala pertanyaan dalam kepalanya.


"Jangan lagi tanya kenapa aku memilih menjadi orang baik, karena aku sekarang juga masih berusaha. Aku belum baik Rev, aku belum bisa menjaga baik segala keinginanmu salah satu effort untuk mengajanya adakalanya dengan menurutu kemauan mu tapi itu saja belum bisa aku lakukan," jelas Rival kembali lebih jelas lagi.


Mendengar hal itu Revalina jadi terharu. "Maafkan aku Pak, tapi aku tidak serius meminta ganti cincin itu."


Rival hanya tersenyum tanpa suara.


Tiba di rumah, Rival selalu memulangkannya dengan cara baik-baik menemui Umi dan Kakak bermaitan lalu pergi pulang.


Beberapa puluh menit kemudian.


"Ckling," bunyi notifikasi pesan masuk dari ponsel Revalina.


Reflek Revalina langsung mengecek notifikasi tersebut. Tak disangka ia mendapatkan pesan dari Rival.


Rival : aku sudah sampai rumah.


Revalina : Alhamdulillah.


Rival : tadi kata Umu aku harus kasih kabar ke kamu kalau aku sudah tiba di rumah.


Membaca pesan itu Revalina tak mampu menahan senyumnya.


Revalina : Halah alasan, kau sendiri saja yang ingin chattingan dengan ku.


Rival : sungguh aku nggak bohong, tanya saja Umi.


Revalina : malas ah tanya-tanya Umi tentang kamu,.nanti jadi kemana-mana.


Rival : kemana-mana gimana?,, Kamu takut diminta nikah sekarang?.

__ADS_1


Revalina terbelalak, menghentikan jarinya jarinya sejenak. Beberapa detik tubuhnya ngebleng mendapat pertanyaan yang sama sekali tak ada di kepalanya.


Bersambung


__ADS_2