
"Enggak Mas, aku pesan taxi online," jawab Revalina dengan nada kesal. Kenapa harus sampai begini kecurigaan rival padanya? Revalina sebenarnya suka jika Rival cemburu, karena itu tandanya cinta, tapi tidak sampai harus selalu curiga.
Setelah sholat subuh, Revalina pun berpamitan dengan Candini dan Rival namun hanya Rival yang mengantarnya sampai depan.
"Hati-hati, jangan lupa kabari kalau sudah sampai," ucap Rival sembari menatap Revalina intens.
"Iya Mas," sahut Revalina.
Meski keduanya masih dingin dan kaku tapi satu sama lain masih memberi perhatian, hal ini membuat Revalina sedikit lega sisanya masih menyimpan kekesalan.
Pagi itu Revalina coba berulang kali melirik ponselnya, melihat posisi taxi online yang dilacaknya tak kunjung bergerak sejak tadi.
"Gimana, sudah sampai mana taxi mu?" tanya Rival.
Revalina mendadak panik mengingat jam terbang pesawatnya tinggal setengah jam lagi, mendengar pertanyaan Rival semakin membuatnya panik.
"Belum bergerak dari tadi Mas," jawab Revalina resah.
"Lah, terus gimana?" tanya Rival ikut panik.
"Atau mau naik mobil Mama," ucap Rival menawarkan mobil Candini yang terparkir di garasi.
Perlahan Revalina melirik mobil mertuanya, dilihatnya lampu mobil itu seperti mata Candini yang tengah meliriknya dengan lirikan tajam.
"Masalahnya aku ini mau ke bandara Mas, mana mau Mama antar aku," sahut Revalina.
"Memang tak mau," ucap Candini dari arah belakang melenggang menuju ke garasi.
Terlihat wanita paruh baya itu sudah memakai baju rapi dan tas jinjing berwarna coklat, serta riasan tebal.
"Mama mau kemana?" tanya Rival keheranan.
"Mama mau ke rumah saudara Mama, ada acara syukuran pagi ini," jawab Candini.
"Pasti agak siangan acaranya, Mama bisa antar Reva ke bandara dulu," ucap Rival coba mengusahakan keberangkatan Revalina.
Harap-harap cemas menanti jawaban Candini, meski mustahil namun Revalina masih sangat berharap mendapat tumpangan. Tak terbayangkan bagaimana jika ia telat.
"Nggak mau, bandara sama rumah saudara Mama itu jauh yang ada Mama terlambat. Suruh saja istri mu itu pesan taxi online jangan bisanya cuma menyusahkan mertua," jawab Candini dengan nada ketus.
Candini pun bergegas pergi mengendarai mobilnya meninggalkan Revalina.
Benar dugaannya, mendapat pertolongan dari Candini adalah suatu hal yang mustahil terjadi. Kini ia mulai frustasi tak tahu lagi harus berbuat apa.
"Tenang Reva, aku coba telfon Kak Yakub," ucap Rival mulai mengeluarkan ponselnya.
"Mana keburu Mas, aku kalau telfon kak Rafa juga nggak bakal keburu," rengek Revalina.
Seolah tak peduli dengan rengekan Revalina, Rival tetap menghubungi Yakub untuk meminta pertolongan. Namun tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di depan rumah seketika membuat rengekan Revalina terhenti.
"Taxi pesanan mu bukan?" tanya Rival menatap ke arah mobil tersebut.
"Sepertinya iya Mas, tapi di aplikasi dia belum bergerak," jawab Revalina masih kebingungan berulang kali menatap ponsel dan mobil itu.
Perlahan pintu mobil pada bagian belakang terbuka, sosok yang berada di dalam mobil itu pun keluar dari sana.
Betapa terkejutnya Revalina mendapati sosok itu adalah Joseph, tak menduga atasannya itu akan datang ke rumah ini.
'Kenapa Pak Joseph kesini sih, bukannya aku sudah bilang semalam kalau kita ketemu di bandara saja,' ucap Revalina dalam hati bertanya-tanya.
__ADS_1
Perlahan Joseph mulai menggerakkan tungkai menuju ke arahnya, pagi petang itu seketika terasa sunyi sepi dan mencekam.
"Assalamualaikum," ucap salam Joseph sembari tersenyum lebar ke arah Revalina dan Rival.
"Waalaikumsalam," jawab salam Revalina dan Rival serentak.
"Aku mau izin jemput Reva, apa kau memperbolehkan?" tanya Joseph pada Rival.
"Silahkan," jawab Rival tanpa pikir panjang.
Jawaban Rival justru membuat Revalina bingung antara menerima tawaran Joseph atau tidak, posisinya sekarang begitu sulit untuk menentukan langkah apa yang harus diambilnya.
"Terimakasih Rival," ucap Joseph pada Rival.
Rival pun langsung mengangguk namun masih dengan wajah kakunya.
"Ayo Reva, kita sudah nggak ada waktu lagi," ajak Joseph.
Benar-benar sudah tak ada pilihan lain, taxi online pesanannya tak kunjung datang sementara kini di depan mata sudah ada pertolongan.
"Em, Mas aku berangkat ya," pamit Revalina mulai mencium punggung tangan sang suami.
"Iya, hati-hati," sahut Rival dengan wajah datar.
"Assalamualaikum," ucap salam Revalina.
"Waalaikumsalam," jawab salam Rival.
Revalina mulai menggerakkan tungkainya menuju ke mobil Joseph, sementara itu dengan sigap Joseph membawakan koper miliknya.
Kedua kakinya terus melangkah dengan rasa ragu, saat serba salah menghadapi antara rasa cemburu Rival dengan kewajiban pekerjaannya.
Dihadapan Rival, Joseph malah membukakan pintu untuknya. Hal ini makin membuatnya pusing harus memberi respon apa, sementara itu Rival masih memandanginya tanpa berkedip sekalipun.
'Aku bingung Mas, kamu ini sekarang sedang marah atau gimana. Kalau marah kenapa kasih izin,' ucap Revalina dalam hati sembari terus memandangi Rival.
"Ayo Reva," ucap Joseph menunggu Revalina masuk ke dalam mobil.
Sekejap ucapan Joseph membuat Revalina tersadar dari lamunannya, dengan cepat masuk ke dalam mobil menggeser pantatnya ke arah kursi paling kanan.
Tak lama Joseph pun masuk ke dalam mobil menduduki kursi bagian kiri.
Baghhh. Pintu ditutup.
Supir masuk ke dalam mobil setelah selesai memasukkan koper ke dalam bagasi.
"Jalan Pak!" perintah Joseph pada supir pribadinya.
"Siap Pak," sahut supir sembari menjalankan mobil.
Perlahan mobil mulai melaju meninggalkan pemandangan rumah mertuanya sekaligus meninggalkan Rival yang masih berada di teras.
Rasanya berat sekali meninggalkan Rival seorang diri di rumah meski tak lama lagi Sarah akan datang, tugas kantor kali ini sangat berat untuk dia laksanakan karena harus berpisah dengan Rival. Beginilah efek seseorang yang memiliki perasaan cinta. Bawaannya resah saat harus jauh- jauhan.
"Reva, kamu kenapa?" tanya Joseph mendelik kebingungan.
Ia terkejut dengan pertanyaan Joseph, tak terasa ternyata keningnya tengah mengerut. Kerutan di keningnya lah yang memicu pertanyaan Joseph.
"Nggak kanapa-kanapa Pak," jawab Revalina sembari tersenyum.
__ADS_1
"Serius nggak papa?" tanya Joseph kembali.
"Iya," jawab Revalina menganggukkan kepalanya.
Selama dalam perjalanan menuju ke bandara tak henti-hentinya Revalina melamun memandangi kaca jendela di sampingnya memandangi jalanan yang sepi kendaraan.
Tak sengaja mobil yang ditumpangi Revalina melintasi jalanan yang pernah Ia dan Rival lalui bahkan singgahi, terlihat trotoar tempat di mana para pedagang kaki lima memperdagangkan makanan melihat trotoar yang masih sepi itu seketika membuatnya teringat sewaktu dulu Rival mengajaknya makan di sana.
'Aku rindu kita yang dulu Mas, aku rindu kamu yang nggak cemburuan, yang nggak gampang marah,' ucap Revalina dalam hati.
Beberapa puluh menit kemudian tiba di bandara, Revalina dan Rival bergegas masuk ke dalam dengan membawa koper masing-masing.
Mereka benar-benar hampir saja terlambat, akhirnya mereka berhasil masuk ke dalam pesawat tepat beberapa menit sebelum keberangkatan. Nampak kursi-kursi dalam pesawat sudah dipenuhi penumpang, bahkan beberapa orang sudah tertidur pulas.
"Untung saja kita nggak ketinggalan pesawat," ucap Revalina sembari menghembuskan nafas leganya.
"Iya, untung saja," sahut Joseph sembari tersenyum.
*******
Tibalah mereka di kota tujuan, mereka lebih dulu cek in hotel sebelum menuju ke perusahaan yang akan melakukan kerja sama dengan perusahaan milik keluarganya.
Terlihat dari parkiran mobil nampak hotel itu sudah dipadati pengunjung, melihat hal itu awalnya Revalina ragu namun karena Joseph begitu yakin akhirnya mereka nekat masuk ke dalam hotel.
"Bagaimana kalau ternyata sudah penuh Pak?" tanya Revalina cemas.
"Kalau nggak ada ya kita cari yang lain tapi kalau bisa ya yang di sini, karena hotel ini satu-satunya hotel yang ada di tengah kota," jawab Joseph dengan santainya.
Mendengar jawaban Joseph, Revalina hanya bisa pasrah tak lagi mendebat ucapan CEO muda itu.
Tibalah mereka di meja resepsionis Joseph langsung memesan dua kamar untuk dia dan Revalina.
"Kebetulan hotel kami tinggal dua kamar connecting room, bagaimana?" tanya resepsionis cantik itu pada Joseph.
Sontak Revalina dan Joseph menatap secara bersamaan, sama-sama terkejut dengan ucapan resepsionis itu.
"Hah, kalau yang nggak ada connecting room ada nggak Kak?" tanya Revalina panik.
"Nggak ada, tinggal dua kamar itu saja," jawab resepsi itu dengan senyum ramahnya.
"Sebentar ya Kak," ucap Joseph pada resepsionis sementara tangan kanannya langsung menarik Revalina ke belakang.
Terpaksa Revalina mengikuti kemana Joseph membawanya, di ujung pintu utama Joseph menghentikan langkah kakinya serta melepas genggaman tangannya.
"Lebih baik kita cari hotel lain," ucap Joseph pada Revalina.
"Kata Pak Joseph tadi hotel ini satu-satunya yang ada di tengah kota," singgung Revalina dengan ucapan Joseph tadi.
"Iya memang benar, tapi kalau adanya cuma connecting room lebih baik kita cari hotel lain," jelas Joseph.
Revalina memutar mata. Bingung harus menanggapi apa.
"Yuk, kita cari yang lain," ajak Joseph.
Joseph terlihat takut untuk mengambil dua kamar itu hanya karena ada connecting room, berbeda dengan Revalina yang berpikir panjang karena ketepatan waktu akan mempengaruhi keberhasilan kerja sama yang akan dilakukan perusahaannya.
Setelah berucap Joseph langsung menggerakkan tungkainya.
"Pak," panggil Revalina menghentikan langkah kaki atasannya itu.
__ADS_1
Bersambung