Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Tidak Sendiri


__ADS_3

"Jangan pernah kamu salahkan Dalsa, Dalsa melakukan itu juga ada alasannya. Di muka bumi ini hanya kaulah orang paling bersalah dan jangan lagi meminta maaf karena seribu kata maaf mu pun tak bisa membayar semua penderitaan anakku," ucap Candini tegas dengan bibir bergetar.


"Aku kecewa sama kamu Reva, aku sudah menganggap mu sepeti adikku sendiri dan aku sudah menaruh harapan padamu berharap kaulah yang akan membahagiakan adikku ternyata justru kau yang menyakiti adikku dengan cara sesadis ini. Menikahinya lalu berpikir cara untuk membunuhnya," ungkap kekecewaan Yakub pada Revalina.


Sungguh Revalina sudah semakin tak betah dengan situasi ini, terpaksa ia tak bisa lagi memegang harga dirinya dengan perlahan setelah tadi bersimpuh di hadapan Rival, kini ia berganti bersimpuh di hadapan Candini.


"Ma, maafkan aku aku sudah sangat menyesal. Maafkan aku," ucap Revalina lirih sendu.


Candini tak menyahuti Revalina, dia terus meraung menangisi keadaan Rival sedangkan Rival sendiri masih sama tak mengeluarkan sepatah katapun untuk siapapun di sana membuat Revalina cemas akan psikologinya. Kemungkinan dia masih shock dan tak terima dengan keadaannya sekarang dan itu semua gara-garanya.


Tiba-tiba saja Chesy membuatnya terkejut dengan ikut bersimpuh di sampingnya, menghadap ke arah Candini dan perlahan menunduk.


"Umi," panggil Rafa memegang kedua lengan Chesy dari belakang, memintanya untuk kembali beranjak.


"Umi jangan lakukan ini," pinta Revalina kembali menangis melihat pengorbanan Chesy padanya.


Namun Chesy tak menggubris ucapan kedua anaknya, dia terus bersimpuh dan menunduk dihadapan Candini.


"Mbak, atas nama Revalina aku minta maaf. Ku mohon kau mau menerima permintaan maaf ini, dan kita sama-sama perbaiki semua. Aku berjanji akan rubah putri ku akan berjanji akan selalu ada untuk putra mu, aku mohon maafkan aku yang sudah gagal mendidik anak," ucap Chesy dengan derasnya kucuran air mata.


Candini tetap membisu kaku, enggan mengeluarkan sepatah kata pun. Kekecewaannya sudah terlanjur di puncak ubun-ubun, sementara Yakub terlihat masih welas asih meski di satu sisi juga menelan kekecewaan.


"Umi, mohon maaf sebelumnya. Aku minta Umi dan sekeluarga kasih waktu buat kami. Sekarang ini sedang memanas jadi percuma mengajak kami bicara," ucap Yakub dengan tutur kata lembut.


"Sudah Umi, bangun," pinta Rafa cepat-cepat membangunkan Chesy dari simpuhannya.


Hari itu benar-benar hari terburuk dalam hidupnya, sempat terlintas dalam kepalanya meminta pada Tuhan untuk menjadikan kejadian hari ini adalah mimpi sehingga dirinya terbangun dan memulai hidup tanpa adanya masalah seperti ini.


Saat malam pertama Rival di rumah sakit semua keluarga menjaga Rival termasuk Revalina meski dirinya tak dianggap di sana namun ia terus ingin berada di samping Rival.


Di dalam keramaian kamar rawat inap Rival, Revalina merasa sendiri kesepian tak ada yang mengajaknya berbicara semua asik sendiri dan sepetinya memang sengaja begitu karena sudah tak nyaman dengan kehadirannya.


'Ya Tuhan, kuatkanlah aku. Aku tak masih ingin berada di sini. Aku ingin menemani Rival,' ucap Revalina dalam hati.


"Reva, kamu sudah makan belum?" tanya Sarah dengan lembut menyentuh pundak Revalina.


Revalina terpaku menatap kebaikan Sarah.


"Pasti belum, kita makan dulu yuk," ajak Sarah dengan lembut menarik tangan Revalina.


"Terimakasih Kak, tapi aku nggak lagi pengen makan," sahut Revalina tak menepis tangan lembut Sarah.


"Hey jangan begitu, menunggu orang sakit itu badan harus fit, harus makan. Sekarang gimana Rival mau cepat sembuh kalau yang menunggu dia saja nggak mau makan begini," tegur Sarah.


"Ayo, aku sudah belikan makanan untuk mu," ajak Sarah kembali.


Saat hendak beranjak dari kursi tiba-tiba Revalina mendadak tak tega meninggalkan Rival meski Rival sendiri enggan di ajak bicara, meliriknya pun seperti tak sudi.


"Rival baik-baik saja, tenang saja," ucap Sarah kembali menarik tangan Revalina.


Malam itu Revalina menyantap sedikit makanan sebab ia tak merasakan apapun pada makanan itu, terasa hambar seperti hidupnya sekarang. Setelah makan ia pun kembali ke kursi tepat di samping Rival, ia benar-benar tak ingin meninggalkannya meski sekejap saja tak peduli suara-suara sumbang Candini menyindirnya ribuan kali dirinya tetap ingin bersama Rival.


"Mas, aku harus lakukan apa supaya kamu mau memaafkan ku?" tanya Revalina lirih menatap sayu sang suami yang masih enggan menatapnya.


Rival tetap membisu, tak menggubris pertanyaan dan celotehan Revalina sepanjang hari dan terus membiarkannya tersiksa keadaan ini.


"Baiklah aku tak akan mendesakmu, aku akan sabar menunggu kamu mau memaafkan ku. Sekarang istirahat lah kesehatan mu lebih penting dari apapun," ucap Revalina pasrah sambil berulang kali menghembuskan nafas beratnya.


"Mas, tidur ya sudah malam. Maafkan aku," ucap Revalina mengucapkan permintaan maaf sebelum Rival menutup matanya hari ini.


Malam itu Revalina tertidur dengan posisi duduk, menenggelamkan kepalanya pada lipatan tangan yang tersangga di ranjang Rival. 


***


"Baik Dok, saya akan segera proses biaya administrasi. Terimakasih sudah izinkan putra saya pulang," ucap Candini.


Samar-samar Revalina mendengar perbincangan terakhir mertuanya, dengan cepat Revalina membuka kedua matanya melihat punggung Dokter keluar dari pintu kamar rawat inap Rival.


"Ada apa Ma?" tanya Revalina kebingungan.


"Rival sudah diperbolehkan pulang, aku akan urus administrasinya sekarang dan tebus obat supaya siang ini Rival bisa benar-benar pulang," jawab Candini ketus.


"Alhamdulillah," ucap Revalina lega mendengarnya yang berarti kondisi Rival sudah lebih membaik sehingga Dokter memperbolehkannya pulang.


"Tapi Kak Rival pulang ke rumah Mama, bukan ke rumah mu," ucap Dalsa dengan sinis menatap Revalina.


Sontak kedua mata Revalina membesar, terkejut dengan ucapan Dalsa sekaligus kesal dengan cara bicaranya yang seperti orang yang tak berdosa padahal kemarin ia sudah kuliti habis kelakuannya di depan keluarganya.


'Kalau bukan karena di sini ada Mama dan Kakakmu pasti kau sudah habis ku jambak sampai botak,' gerutu Revalina dalam hati.


Sekejap ia mengalihkan perhatiannya ke masalah utama yang terjadi saat ini. "Kenapa ke rumah Mama, Mas Rival kan sudah punya rumah sendiri bukannya setelah menikah kita tinggal di rumah itu?"


"Jangan tanyakan kenapa, Reva. Kau tahu jawabannya apa. Mama mana yang tega membiarkan anaknya dalam kondisi seperti ini tinggal dengan istri pembunuh macam kau," jawab Candini dengan nada ketus.


"Ma," tegur Yakub langsung menahan kedua bahu Candini.


Sementara Sarah mulai aktif mengusap kedua bahu Revalina menenangkan tangis yang tak tertahankan.

__ADS_1


"Biarkan, biarkan Mama menjawab semua pertanyaan ipar mu itu," ucap Candini dengan nada bicaranya yang mulai meninggi.


"Ma, Reva janji akan urus Mas Rival dengan baik. Reva bersumpah atas nama Allah, kali ini kasih kesempatan buat Reva Ma," rengek Revalina meminta agar Rival tap bersamanya.


"Aku mau sama Mama," ucap Rival tiba-tiba menyela pembicaraan.


Sontak seluruh pasang mata tertuju pada Rival. Saat itu juga dada Revalina terasa begitu sesak, air mata kembali mengucur deras melihat penolakan Rival. 


"Sabar Reva, kasih waktu buat Rival menenangkan diri. Aku yakin seyakin-yakinnya Allah akan kembalikan Rival padamu jika memang Rival tercipta untukmu," bisik Sarah sambil terus mengusap kedua lengan Revalina.


Kalimat penenang Sarah kali ini tak hanya menyentuh hatinya tapi juga menenangkan dalam kesedihan yang luar biasa Rival torehkan.


Candini dan Dalsa nampak begitu bahagia mendengar ucapan Rival seakan memberi kemenangan padanya, sedang Revalina terima kalah telak.


"Dengar sendiri Rival tak mau bersama mu," singgung Candini dengan wajah sinisnya.


"Sudahlah Ma, kita cepat urus administrasi saja sekarang," ajak Dalsa.


Mereka pun bergegas pergi meninggalkan kamar rawat inap, sementara Yakub dan Sarah tetap berada di kamar menemani Rival.


"Biar aku yang bereskan baju bekas Rival kemarin," ucap Sarah melenggang ke arah lemari kecil yang ada di kamar.


Terlihat tangannya mulai meraih gagang lemari paling bawah, mengambil potongan pakaian yang sudah tercuci bersih lalu memasukkannya ke dalam paper bag.


"Reva, kau nanti langsung saja pulang jangan ikuti kami. Beri kami waktu, terlebih Rival dan Mama mereka masih butuh waktu untuk menelan semua yang terjadi dan aku selaku Kakak dari Dalsa aku meminta maaf atas apa yang sudah dia lakukan ke Rajani," ucap Yakub menatap Revalina dengan sangat dalam.


Yakub menghentikan ucapannya sebentar, mengulum salivanya sambil menata hati untuk kembali berbicara.


"Permintaan maaf ku memang tak bisa membuat Rajani kembali, tapi dengan kedamaian dan doa yang bertubi-tubi akan membuat Rajani tenang di sana. Maafkan sikap Dalsa, aku berjanji akan menyeretnya ke hadapan mu dan keluargamu untuk segera meminta maaf," sambung Yakub.


"Iya Kak, aku titip Rival," sahut Revalina mulai melirik Rival.


Sepersekian detik ketika ia beralih meliriknya, tak sengaja ia melihat Rival tengah menatapnya namun sekejap kembali memalingkan muka.


'Jaga dirimu baik-baik Rival, aku janji akan menjenguk mu setiap hari,' ucap Revalina dalam hati.


Tiba saatnya Rival pulang, semua telah Candini persiapkan mulai dari administrasi, obat, surat izin dari Dokter dan akomodasi.


Ketika Rival mulai beranjak dari ranjang nampak Yakub kesusahan memindahkan Rival ke kursi roda dengan sigap Revalina membantunya namun lagi-lagi Rival menolak sentuhan Revalina.


"Mama," panggil Rival sambil menatap Candini.


"Biar Mama yang bantu," ucap Candini menyingkirkan Revalina dengan cara menyelinap ke sisi kanan Rival lalu perlahan membopongnya menuju ke kursi roda.


Ribuan penolakan tak mempan bagi Revalina, ia tetap berusaha membantu Rival sebisa mungkin. Kini ia kembali membantunya dengan memegangi kursi roda itu agar tidak goyah ketika Rival mulai duduk di sana.


"Gimana Nak, bisa?" tanya Candini melirik ke arah kaki Rival yang  sangat susah di gerakkan sementara kini dia harus memutar balik badan sebelum duduk di kursi roda.


Perlahan namun pasti dengan bantuan Yakub dan Candini akhirnya Rival berhasil duduk di kursi roda dengan lega.


"Ma, aku mau Mama yang dorong kursi roda ku," pinta Rival dengan wajah kaku, menolak segala hal yang berbau campur tangan Revalina.


Seketika kedua tangan Revalina jadi lemas perlahan turun tak lagi memegangi gagang kursi roda itu, seperti biasa Candini langsung menghempas Revalina mengambil alih kendali atas Rival.


Melihat hal itu Revalina hanya terdiam kaku membiarkan Rival pergi dengan keluarganya, meski tak pantas jika dirinya sakit hati atas perlakuan Rival tapi tak bisa dipungkiri sebagai manusia ia masih punya hati yang bisa merasakan sakitnya mendapatkan penolakan yang bertubi-tubi. 


"Reva," panggil Sarah lirih lembut, melempar kode melalui kedipan matanya.


Paham akan maksud Sarah, Revalina pun segera mengikuti langkah keluarga Rival menuju ke lobi rumah sakit.


Terlihat di depan lobi, nampak mobil terparkir di sana dengan supir yang sudah menunggu kedatangan Rival. Hari ini ia baru sadar ternyata mertuanya mengunakan jasa supir entah dari kapan.


Kali ini Yakub dan supir itu membantu, menggendong Rival, meletakkannya ke dalam mobil dengan berbagai upaya mengingat kedua kaki Rival yang sudah benar-benar tak lagi bisa menyangga tubuh, apalagi naik ke atas mobil.


"Pelan-pelan, badan adik mu masih sakit semua," ucap Candini sambil mengerutkan keningnya, merasa ketar ketir pada setiap gerakan Rival.


"Arghhh," rintih Rival seketika tubuhnya diletakkan ke kursi mobil.


"Aduh Yakub, sudah Mama bilang kan," gerutu Candini langsung panik mendengar rintihan putra keduanya.


Rival mulai memberi kode pada Candini untuk tidak mendekat sekaligus kode bahwa dia baik-baik saja.


"Sudah ya, sudah enak duduknya?" tanya Candini pada Rival.


"Sudah," jawab Rival singkat.


"Baiklah, semua masuk ke dalam mobil cepat-cepat kita tinggalkan rumah sakit ini," ucap Candini tak melirik Revalina sedikitpun.


Sadar akan posisinya Revalina enggan ikut bersama mereka, ia tetap di samping mobil itu sambil memandangi Rival yang perlahan memilih untuk menutup pintu mobil.


Ketika semua bergegas masuk ke dalam mobil, Sarah justru berjalan mendekati Revalina menepuk bahunya dengan lembut.


"Reva, kamu langsung pulang ya. Kabari Tante kalau sudah sampai rumah," ucap Sarah.


"Iya Tante," sahut Revalina menganggukkan kepala.


"Ya sudah kalau begitu aku pamit pulang dulu ya," pamit Sarah pada Revalina, dia langsung membalikkan tubuhnya hendak melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu mobil sebelah kiri.

__ADS_1


"Tante," panggil Revalina langsung menahan tangan Sarah, menghentikan langkah kakinya.


Sontak Sarah kembali membalikkan badan dan kembali menatap Revalina tak peduli orang-orang di dalam mobil tengah menunggunya.


"Tolong titip Mas Rival, kabari kalau ada apa-apa," ucap Revalina dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.


"Pasti," sahut Sarah ikut dengan mata yang sama, tertular Revalina.


Setelah berpamitan kembali Sarah akhirnya masuk ke dalam mobil ikut salam satu mobil keluarga Candini pulang, perlahan mobil itu mulai meninggalkan rumah sakit, meninggalkan Revalina yang masih berdiri di sana seorang diri.


Saat itu juga hati terasa remuk hancur melihat Rival di bawa keluarganya pulang tanpa Reva, mereka seolah tak memberi kesempatan untuk Reva bisa menebus semua kesalahan fatal yang sudah ia perbuat pada Rival juga tak memberi kesempatan untuknya menunjukkannya bakti sebagai seorang istri. Hak-hak itu terlanjur di renggut oleh Candini, mertua sadis itu.


Revalina kembali menangis, meraung di sana tak peduli semua orang menyaksikan kerapuhannya ia benar-benar tak peduli terus meluapkan sedikit rasa sakit dihatinya.


"Reva," panggil seseorang dari arah selatan.


Suara itu tiba-tiba membuat tangisannya terhenti, seketika Revalina coba mencari sumber suara itu dengan melirik kesana kemari tanpa henti.


Tak disangka dari arah selatan sekitar 20 meter darinya ia melihat Rafa berdiri di sana dengan tatapan sendu seolah merasakan apa yang tengah ia rasakan sekarang.


"Kak Rafa," panggil Revalina lirih, sedih.


Tak tunggu lama Revalina bergegas lari ke arah Rafa, memeluk erat tubuhnya seraya menumpahkan seluruh air mata di dadanya. Sedangkan Rafa pun membalas pelukan itu lebih erat lagi, menciumi kepala Revalina sambil terisak tangis.


"Aku tak membenarkan perlakuan mu terhadap Rival, tapi aku tetap Kakak mu yang sayang padamu. Jangan khawatir jangan takut ada aku di sini," bisik Rafa lirih lembut mengusap kepala Revalina.


"Maafkan aku Kak, maafkan kebodohan ku," ucap Revalina terus terisak-isak.


"Aku sudah memaafkan mu, sudahlah jangan terus menangis aku kesini mau menjemput mu," sahut Rafa perlahan melepaskan tangan Revalina yang sedang melingkar di pinggangnya.


Setelah menumpahkan air matanya Revalina pun ikut pulang bersama Rafa, meninggalkan mobilnya yang memang sudah rusak akibat tabrakan dengan Akram kemarin.


Selama dalam perjalanan tak sedikitpun Rafa melepas genggaman tangannya meski hanya tersisa satu tangan untuk memutar setir mobil tapi tangan kirinya terus menggenggam tangan sang adik, usapan pada genggaman tangan itu terus mencoba menguatkan Revalina dalam menghadapi situasi ini.


"Kak, kira-kira nanti Umi marah lagi nggak sama aku?" tanya Revalina menatap cemas.


"Sepetinya iya, tapi kau jangan takut. Dengarkan saja semua amarah Umi biarkan dia meluapkan semua amarahnya sampai tak ada yang tersisa di dadanya, setelah itu semua akan kembali membaik percayalah," jawab Rafa dengan pembawaannya yang tenang.


Meski begitu Revalina tetap cemas sebab masalah yang ia hadapi bukan main, ia telah membuat celaka suaminya sendiri, ia telah salah sasaran dalam melupakan rasa dendamnya.


"Kalau nanti Umi marah sampai usir aku gimana Kak?" tanya Revalina mulai menduga-duga apa yang terjadi ke depan.


Rafa terkejut langsung melirik Revalina dengan mata terbelalak, namun beberapa detik kemudian kembali menatap ke depan.


"Jangan menduga yang tidak-tidak, berpikir positif saja lagi pun Umi nggak mungkin mengusir anak apapun kesalahannya," jawab Rafa dengan jelas.


"Tapi kesalahan ku sangat fatal, di tambah aku membuat malu Umi di hadapan Mama Candini," rengek Revalina terus gelisah memikirkan berbagai kemungkinan terburuk yang akan ia alami setelah pulang dari rumah sakit.


Tiba-tiba suasana di dalam mobil mendadak hening, rengekan Revalina tak langsung mendapatkan sahutan dari Rafa. Nampak Rafa terdiam dalam kurun waktu berpuluh-puluh detik lamanya.


"Minta maaflah, sujud di kaki Umi dan katakan bahwa kau mau berubah dan mau menebus semua kesalahan mu pada Rival," ucap Rafa dengan tegas.


Melihat ketegasan Rafa, seketika Revalina jadi terdiam merenungkan ucapannya. Ia tahu di balik ketegasan Rafa padanya dia sangat menyayanginya bahkan saat ini genggaman tangannya tak pernah terlepas sedikitpun. Revalina tahu bahwa Rafa hanya ingin yang terbaik untuknya, untuk hidupnya dan untuk kebahagiaannya.


Perlahan Revalina mulai menyandarkan kepalanya di bahu Rafa, kembali menumpahkan air matanya di sana.


"Terimakasih Kak, aku sangat beruntung memiliki Kakak seperti mu. Aku sangat sayang padamu," ucap Revalina lirih menahan tangis.


"Sama-sama," sahut Rafa mengusap kepala Revalina dengan tangan kirinya.


Rafa benar-benar tak ingin melepaskan genggaman tangannya meski itu hanya sebentar untuk mengusap kepala Revalina, dia justru membiarkan mobil melaju tanpa kendali tangannya.


'Aku pikir aku akan menghadapi dunia ini sendiri, ternyata aku salah. Ada Kak Rafa yang selalu menyambut ku dengan uluran tangannya ketika aku terperosok ke jurang yang paling dalam,' ucap Revalina dalam hati


Selama dalam perjalanan menuju ke rumah banyak hal yang Rafa ceritakan setelah kejadian kemarin, mulai dari Umi hingga chat Yakub yang mengatakan tengah berjuang untuk mendamaikan kedua keluarga namun memerlukannya waktu yang tidak sebentar.


Ada kekerasan hati Candini yang sama halnya seperti hati Dalsa yang tetap menganggap dirinya tak bersalah dalam kasus ini hanya berfokus pada apa yang tengah terjadi pada Rival.


Dari sini mata Revalina semakin terbuka, ia jadi tahu karakter satu persatu keluarga Rival. Mungkin untuk perkara kekejamannya terhadap Rival memang wajar saja mereka marah, memakinya bahkan membalas hal yang sama namun berbeda pada konteks permasalahan Dalsa yang telah melakukan pembunuhan berencana pada Rajani ketika Candini mengetahui hal itu justru membela Dalsa mati-matian.


"Di balik permasalahan yang ada, aku sudah bilang padamu sebuah pernikahan itu pasti ada saja ujiannya, entah itu di ekonomi, anak, suami, mertua atau ipar sekalipun. Jadi jangan heran kalau kau akan banyak berbeda pendapat dengan mertua dan ipar mu apalagi suami mu itu semua hal yang wajar. Tidak semua kepala sama isinya seperti isi kepala mu," ujar Rafa panjang lebar menasehati adik kesayangannya.


"Meski pun mertua ku membela putrinya mati-matian padahal putrinya itu salah?" tanya Revalina masih tak terima dengan permasalahan yang satu ini.


"Terkadang kita perlu mundur beberapa langkah untuk bisa memenangkan keadaan," jawab Rafa.


Jawaban sang Kakak membuat Revalina kembali berpikir keras, terlalu sulit untuk membayangkan bagaimana ia menerapkan kalimat Rafa barusan, tak semudah membalikkan telapak tangan. Sungguh, satu-satunya hal paling berat dilakukannya cuma satu, berperang melawan ego dalam diri.


"Huhh," Revalina menghembuskan nafas beratnya.


Tak terbayangkan dalam pikirannya ia akan benar-benar menjalani yang namanya pernikahan, tak sekalipun terbayangkan akan memiliki ipar kematian seperti Dalsa. Kini ia seperti terjebak oleh takdir namun bukan berarti ingin memutus takdir yang ada ia justru meminta semua kembali dipulihkan untuknya bisa menebus kesalahan fatal yang sudah ia perbuat.


Tak ingin terus memikirkan masalah dalam kepalanya yang bisa membuatnya gila, ia pun mulai mengalihkan pandangan matanya menatap ke arah jendela kirinya mencoba menikmati pemandangan kota.


Tiba-tiba tanpa ia duga melihat mobil yang terlihat tak asing, mobil itu terparkir dengan garis police line melintang mengelilingi mobil itu.


Sekejap ingatannya terbawa satu hari kemarin dimana ia menabrakkan mobilnya untuk menghentikan laju mobil Akram, sontak kedua netranya terbelalak melihat merk mobil itu sama dengan merk mobil Akram, dan ada atu lagi yang membuatnya makin terkejut adalah mengetahui hancurnya mobil itu pada bagian depan. Pemandangan itu membuatnya sampai memutar badannya ke belakang terus melihat ke arah mobil itu.

__ADS_1


'Persis mobil Akram, apa jangan-jangan itu memang mobilnya Akram,' ucap Revalina dalam hati bertanya-tanya.


Bersambung


__ADS_2