Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Nasib Malang


__ADS_3

Tak langsung menjawab pertanyaan Revalina, Rafa kini mulai menarik nafasnya dalam-dalam seakan begitu berat menjawab pertanyaan sang adik.


"Aku harap kau nggak kecewa setelah aku kasih tahu kabar buruk ini," ujat Rafa lirih lemas.


"Jadi makin penasaran aku, sebenarnya ada apa?" tanya Revalina mulai mendesak sang Kakak untuk bercerita.


Dengan cepat Revalina mulai menaikkan atensinya, lalu tak lama terasa seluruh oksigen mengendap dalam dada, membuatnya sesak menanti apa yang akan dikatakan Rafa padanya.


"Akram sudah ditemukan, polisi sudah terbang ke negri sebrang buat menjemput dia," jawab Rafa dengan nada berat.


Mendengar hal itu Revalina langsung menghembuskan nafas lega setelah beberapa menit merasakan sesak di dada yang teramat menyiksa.


"Alhamdulillah, syukur kalau dia sudah tertangkap berarti keadilan Rajani semakin nyata," sahut Revalina sembari tersenyum lega.


Saat itu Revalina berulang kali mengucap syukur pada Tuhan karena telah memberikan keadilan pada almarhum kembarannya.


"Nggak menyangka aku Kak, aku sudah tenang bahas Akram sama Mas Rival saat pertama kali dikabarkan kalau dia kabur lewat pelabuhan itu, aku pikir, dia nggak akan pernah tertangkap ternyata akhirnya tertangkap juga," ujar kebahagiaan Revalina. "Dia dengan sadisnya memperkosa Rajani, bahkan sampai Rajani meregang nyawa. dia lupa kalau dia selalu diawasi oleh Tuhan. Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan Maha Adil."


Setelah berbicara seorang diri, Revalina baru menyadari bahwa selain Rafa tak lagi merespon, ia melihat wajah Rafa nampak muram dalam diam.


"Kak," panggil Revalina perlahan menyentuh tangan Rafa.


"Akram memang sudah tertangkap tapi tertangkap dalam keadaan mati," ujar Rafa dengan wajah datarnya menatap Revalina.


Mendengar hal itu, sontak Revalina membelalakkan mata dengan degup jantung yang berdetak sangat kencang, perasaannya kini sudah tak karuan hingga membuat tubuhnya lemas.


"Ternyata selama ini Akram di sana jadi gelandangan, entah bagaimana ceritanya, yang jelas dia jadi gelandangan dan mati kelaparan di bawah kolong jembatan. Sepertinya jembatan itu memang sudah jadi tempat dia berteduh selama ini," ujar Rafa dengan pelan menceritakan pada Revalina tentang Akram.


"Satu lagi, Akram ditemukan dalam keadaan sekujur tubuh di penuhi dengan luka memar dan retak di tulang kakinya," sambung Rafa.


Revalina makin tercengang mendengar cerita itu, terlalu miris untuk di dengar meski Akram adalah salah satu pembunuh Rajani.


'Sebelumnya aku bisa tega membiarkan para pemerkosa almarhum Rajani mati dengan sendirinya di hadapanku, tapi entah kenapa mendengar kabar kematian Akram yang mengenaskan itu membuatku merasa sedikit iba,' ucap Revalina dalam hati kebingungan.


"Innalilahi wainnailaihi raji'un," ucap Revalina lirih.


"Dia sudah mendapatkan balasnya dan sekarang tinggal mempertangungjawabkan semua kesalahannya pada Rajani di atas sana" ucap Revalina mendadak geram.


Tak terasa amarahnya kembali menggebu saat teringat kembali betapa sadisnya Akram memperlakukan Rajani, menyakiti tanpa ampun, lalu tanpa berdosa dengan beraninya menjebak Rival lalu menuduhnya sebagai pembunuh. Hidup Rival sempat hancur karena Akram begitupun hidup Revalina.


"Kalau sudah begini kau harus bisa maafkan Akram, kasihan dia sudah meninggal, takutnya nggak tenang di alam sana," tegur Rafa lirih lembut.


Seketika Revalina langsung menoleh ke arah Rafa dengan tatapan terkejut sekaligus bingung, bagaimana ia tak bingung, Rafa sejak awal nampak mengaum dengan sangarnya seakan tak ada yang bisa membuat hatinya luluh sedikitpun, namun sekarang justru berbanding terbalik dia terlihat begitu lemah hanya karena mendengar kabar kematian Akram yang mengenaskan.


"Kak, kalau dibilang shock dan rasa kasihan pasti ada, aku juga manusia biasa tapi kalau soal memaafkan rasanya aku nggak bisa, kehidupan buruk yang Akram alami tak sebanding dengan kesadisan yang Rajani alami," jelas Revalina dengan nada bicaranya yang sedikit tinggi.


Rafa terdiam menatap Revalina dengan tatapan terkejut, namun dapat ia lihat jelas dari binar kedua mata Rafa yang menunjukkan kekecewaan yang mendalam.


"Aku nggak pernah mengajarimu jadi orang pendendam," tegur Rafa dengan nada menyinggung.


Mendengar hal itu kini giliran Revalina yang terdiam, jika sudah ajaran yang di pakai senjata Revalina benar-benar pasrah tak lagi berani untuk berbicara.


"Biarlah nanti soal maaf memaafkan jadi urusanku pada Tuhan," sebut Revalina.


"Orangnya sudah mati. Tidak ada yang perlu didendami. Tapi nanti hatimu pasti akan luluh juga. Suatu saat nanti, kau pasti bisa memaafkannya seiring berjalannya waktu. Tuhanlah yang akan membalas semua perbuatan manusia, kita nggak perlu ikut campur dalam memberikan hukuman itu."


Sore itu suasana di dalam kantor jadi semakin aneh, sesekali ketika tengah fokus bekerja menatap layar monitor tiba-tiba bulu kuduknya merinding hebat.


Saat merasakan keanehan itu seketika otaknya membawa ke beberapa jam terakhir ketika Rafa memberi kabar kematian Akram.

__ADS_1


"Aku nggak bisa terus-menerus berada di kantor sendirian, aku harus minta izin sama Pak Joseph buat membawa pulang semua sisa pekerjaan yang ada."


Dengan perdebatan dan drama yabg ada akhirnya ia diperbolehkan membawa sisa pekerjaan ke rumah dengan catatan harus benar.


Setelah mendapatkan izin dari Joseph dengan cepat Revalina berkemas, membawa beberapa berkas lalu segera berlari keluar dari ruangan kerjanya.


*****


POV Dalsa.


Di dalam sel yang dingin Dalsa meringkuk di ujung dalam sel dengan raut ketakutannya melihat para narapidana lain yang terlihat sangat menakutkan, bahkan lebih menakutkan dari hantu yang pernah ia lihat dalam film-film.


Di tengah sana sudah ada satu narapidana berpenampilan tomboy dan urakan tengah di kipasi oleh narapidana lain dari segala sisi.


'Sudi kali mereka mengipasi wanita itu seperti ratu saja, padahal kita semua di sini sama-sama narapidana,' gumam Dalsa dalam hati.


Lirikan matanya tak lepas melirik ke arah mereka yang sejak tadi mencuri perhatian terutama wanita yang berad di tengah itu.


"Hey," bentak wanita itu dengan gaharnya.


Sontak mendengar bentakan sekeras itu membuat tubuh Dalsa terasa bergetar dalam beberapa detik, ketakutannya sudah tak dapat terbendung lagi namun Dalsa hanya terdiam meringkuk di sudut ruangan sana.


'Aku sudah berapa kali dipindahkan sel, kalau aku dipindahkan kembali ancaman para polisi di sini untuk memberatkan hukumanku jadi berlaku,' ucap Dalsa dalam hati.


Meski semula ia tak pernah takut dengan narapidana lain akan tetapi untuk narapidana yang satu kali ini berbeda, tubuh gempal dengan tatapannya yang sadis membuatnya takut walaupun hanya sekedar beradu tatap.


"Lihat-lihat saja dari tadi bukannya ikut mengipasi ku," gerutunya dengan nada kesal.


Tak di sangka itu yang menjadi kemarahan wanita itu, benar-benar menunjukkan kebodohannya sebagai seorang wanita.


'Sialan, dia pikir aku babunya. Uhh baru kali ini aku lihat wanita menyebalkan setelah Rajani dan Revalina di muka bumi ini,' gerutu Revalina dalam hati.


"Aku capek, aku butuh istirahat," jawab Dalsa perlahan mulai merebahkan tubuhnya di atas lantai dingin sel tahanan dengan posisi tubuh yang meringkuk kedinginan


"Kurang ajar, aku nggak suka dengan penolakan," geram wanita itu.


Terlihat wanita itu mulai murka setelah sesaat setelah mendengar jawaban penolakan darinya yang agaknya membuat wanita itu begitu shock.


Sementara itu Dalsa tak mau menggubris bentakan wanita itu, ia benar-benar tak ingin lagi berbuat masalah dengan narapidana lain apalagi dengannya.


"Bangun kau anak baru," bentaknya dengan kegeraman.


Perlahan Dalsa mulai melirik ke arah wanita itu yang kini ternyata sudah berdiri di hadapannya sehingga membuatnya harus mendongak.


"Aku capek, bukanya kamu sudah di kipasi banyak teman-teman yang lain," ujar Dalsa mulai kesal.


Sekuat apapun dirinya menahan amarah nyatanya kini lepas juga.


"Wah membantah bocah ini," ucap wanita itu sembari melirik ke arah teman-teman yang lain seolah menunjukkan sikap penolakan Dalsa pada mereka semua.


Bughhhh.


Tiba-tiba satu tendangan melesat di perut Dalsa, wanita itu nampak tak mengeluarkan tenaga sama sekali tapi sekali tendangan rasanya mampu membuat seluruh organ dalamnya terguncang.


"Argghhh," rintih Dalsa kesakitan.


Rasa sakit yang ia rasakan berkali-kali lipat dari segala pukulan yang ia terima selama di tahanan, dan kali ini lagi-lagi ketika ada yang bertengkar narapidana lain menyorakinya dan lebih memilih berada di kubu lawan.


"Kambing," umpat Dalsa geram dengan monster wanita yang ada di hadapannya ini.

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga ia coba berdiri sembari terus menahan rasa sakit di perutnya yang sebenarnya sudah membuat seluruh tubuhnya lemas tak berdaya.


"Wah masih bisa berdiri ternyata," singgung wanita itu dengan tersenyum sadis.


Tanpa basa-basi Dalsa mulai melayangkan pukulan pada wanita itu dengan kepalan tangan yang sudah diselimuti amarah serta segala dendam yang ada, namun sialnya tangannya langsung di tangkap dan di cengkram oleh wanita itu dengan sangat kuat.


"Arghhh," rintih Dalsa kesakitan pada pergelangan tangannya.


Tak menyerah begitu saja, Dalsa beralih memberi perlawanan dengan melayangkan tendangan yang sama ke arah perut monster itu.


Bughhhhhh.


Satu tendangan melesat tepat di tengah perut si monster yang sontak membuatnya sedikit berjingkat ke belakang dan reflek melepaskan cengkraman tangannya untuk memegangi perut yang sepetinya tengah kesakitan.


"Arghhh," rintihnya.


"Stop!" teriak Polisi berlari menuju ke sel tahanan khusus seorang narapidana dengan kalau pembunuhan.


Saat itu juga Dalsa merasa sedikit lega karena setelah mengalahkan dendamnya akhirnya sebentar lagi dirinya akan terbebas dari hantaman wanita itu.


"Nggak tahu kau siapa aku," geram wanita itu.


Bughh bughhh bughh.


Sontak wanita itu langsung melayangkan pukulan bertubi- tubi pada Dalsa dan disaat yang bersamaan Polisi tengah membuka gembok sel tahanan.


Dalsa tak sanggup melakukan perlawanan dan pada akhirnya lemas tersungkur di lantai dengan hantaman yang terus menghujaninya.


"Hey, sudah," bentak Polisi itu.


Tatapan Dalsa tepat menatap ke arah sepatu polisi yang masih terlihat ada di luar sel, ia berharap polisi itu bisa menolongnya.


Ditengah tendangan dan hantaman yang bertubi-tubi melayang ditubuhnya, perlahan penglihatan Dalsa mulai terasa kabur makin lama semakin tak terlihat apapun.


********


POV Revalina


Sepulang dari kantor ia langsung bersih-bersih lalu kembali menatap layar monitornya di ruang tengah sembari membuka dokumen yang ada di sisi kiri tangannya.


"Aku buatkan teh hangat untukmu," ucap Sarah sembari meletakkan secangkir teh hangat ke meja yang ada di hadapan Revalina.


Perlahan ditengah kesibukannya Revalina mulai melirik ke bukti perhatian Sarah padanya, melihat teh hangat itu datang untuknya seketika membuat hatinya terenyuh.


"Terimakasih Mbak, jadi merepotkan terus padahal aku bisa buat sendiri," ucap Revalina pada Sarah.


"Sama-sama. Aku lihat kau sangat sibuk sekali jadi aku buatkan sekalian tadi lagi di dapur," sahut Sarah.


"Terimakasih ya Mbak," ucap Revalina kembali mengulang ucapannya.


"Sama-sama, sudah cepat diminum dulu," sahut Sarah sembari tersenyum manis.


Perlahan Revalina mulai meraih cangkir teh itu, menyeruput dengan perlahan.


Klekkkk.


Druk druk druk druk.


Di saat yang bersamaan, pandangannya mengikuti kemana arah perginya Rival dari dalam kamar, yang kemudian keluar dengan langkah kaki terburu-buru menuju ke belakang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2