
“Saya memang keras kepala. Setidaknya Bapak bisa memahami sifat saya sebelum bapak menikah dengan saya. Saya rasa waktu beberapa bulan cukup untuk bapak mengenal saya!” ucap Revalina dengan datar sekali.
“Aku tidak perlu mengenalmu, Re.”
Inilah yang Revalina tidak sukai, Rival memanggil namanya dengan potongan ‘Re’ saja. kedengaran tidak enak. Tapi mau diprotes juga percuma. Rasanya terlalu sepele.
“Jadi bapak nggak mau mengenali saya lebih dalam lagi?” tanya Revalina.
“Aku sudah cukup mengenalmu.”
Revalina mnegernyit heran.
“Intinya aku tidak begitu perlu mengenalmu, karena bagaimana pun kamu, aku pasti akan terima,” ucap Rival.
Lah? Sok baik nih orang. Sayangnya Revalina sudah mengetahui belang pria ini. Mungkin Rival sedang ingin mencari jitu untuk menutupi kejahatannya. Sayangnya semua itu tidak berlaku untuk Revalina. Gadis itu mengikuti saja permainan Rival. Setelah Rival menggagahi Rajani, tak akan mungkin dia mendapatkan kembarannya yang hanya diperalat sebagai barang untuk perluasan bisnis. Cih!
“Bapak sedang merayu saya?” tanya Revalina polos.
“Kamu pikir saya rajanya perayu? Saya tidak butuh pendamping dengan syarat ini dan itu. asal ada pendamping hidup, ya sudah. Tidak perlu harus begini dan begitu.”
“Kenapa bapak mau menikah dengan saya? Hanya karena ingin perluasan bisnis? Bapak tahu kalau perusahaan kakek saya adalah perusahaan raksasa dan bapak ingin menjadi bagian dari itu, begitu?”
Rival menatap Revalina dengan intens.
Entah kenapa tatapan itu terasa menusuk di mata Revalina hingga gadis itu mengalihkan pandangan.
__ADS_1
“Rasanya pertanyaanmu kurang beretika.” Rival tampak tenang. Dia meneguk minuman di botol sampai habis. Lalu mengembalikan botol kosong ke meja. Dia duduk setengah berbaring dengan kedua tangan ditumpuk menjadi satu ke belakang dan dijadikan alas bantal untuk kepalanya. “Tidak munafik, aku suka dengan yang namanya hal baru, termasuk untuk nantinya memulai bisnis di perusahaan abangku. Kamus sudah sepakati pembicaran mengenai pernikahan ini. Jadi tidak perlu pertanyakan lagi semua itu. aku pun tidak peduli alasanmu mau menjadi istriku itu apa. apakah karena jatuh cinta kepadaku, ataukah karena mau nebeng tenar di kampus, ataukah karena tidak mau mendapat hukuman- hukuman ekstrim dariku. Atau apa pun itu. whatever. Intinya, kita punya alasan masing- masing yang membuat kita bisa sampai di posisi ini.”
“Bapak yakin menikah itu hanya sebatas kalimat ‘yang penting ada pendamping hidup’?”
“Pertanyaanmu terlalu dalam. Aku tahu perempuan itu selalu berurusan dengan perasaan, sedangkan laki- laki hanya butuh akal untuk menjalani hidup. Hidup itu mudah, suka dijalani, kalau tidak suka ya tidak usah dijalani.” Rival memejamkan mata.
Tatapan Revalina kini tertuju ke wajah Rival, menatap penuh kebencian. Bayangan tentang peristiwa menyayat yang menimpa Rajani kembali menari di otaknya. Ia ingat betul bagaimana pria bertato di punggung itu menggoyang pinggulnya dengan cepat sambil melenguh panjang. Semua itu mengerikan.
Beberapa menit terpejam, Rival merasakan keheningan. Tidak ada perbincangan. Ia lalu membuka kelopak matanya. Seketika terkejut melihat pisau yang sudah terangkat di udara, tepat dua jengkal dari hidungnya. Pisau dipegangi oleh tangan Revalina.
“Re!” hardik Rival sambil bangkit bangun.
Jleb!
Pisau menusuk tepat sasaran.
Revalina mengernyit heran menatap Rival meringis menahan sakit.
“Pak, ini kalajengking yang saya tusuk. Kok bapak yang teriak?” Revalina kembali menusuk kalajengking yang yang dengan enaknya melintas di samping badan Rival. Posisi kursi yang pendek, dengan ukuran sekitar dua jengkal dari tanah itu membuat Revalina dengan mudah membunuh binatang pencapit berbisa itu.
“Hei, lututmu!” geram Rival.
Revalina terkejut melihat lututnya yang ternyata menekan paha Rival. Saking geram dengan kalajengking, ia sampai tidak sadar sudah maju dan menekan paha pria itu.
Revalina segera mengangkat paha dan menjauh dari Rival.
__ADS_1
“Oh ya ampun, apa yang kamu lakukan?” Rival menatap heran.
“Kelepasan, Pak. Gemes sama kalajengking. Lagian rumah bagus begini kok bisa kedatangan kalajengking sih.”
“Kupikir kamu mau membunuhku, pisau yang kamu angkat itu berada tidak jauh dari ujung hidungku!”
Belum tahu dia, memang itulah tujuan Revalina. Sekarang kalajengking yang kena tusuk, lusa pasti jantung Rival yang kena.
“Kalajengking, Pak.” Revalina menunjuk kalajengking di bawah kursi Rival yang sudah mati ditusuk pisau. “Lagian, hidup dan mati manusia itu udah ditentukan. Hanya jalannya aja yang berbeda- beda. Ada yang mati dibunuh, mati karena sakit, mati karena kecelakaan, atau bahkan mati diperk*sa.” Mata Revalina melirik ke arah Rival saat mengucapkan kalimat terakhir.
“Semua garis kematian yang kamu sebutkan itu sangat menakutkan. Tidak ada yang beres.”
Pandangan Rival dan Revalina kini tertuju ke arah pintu, dimana Chesy, rafa dan Sarah keluar dari rumah. Mereka pun tersenyum menatap Rival dan Revalina yang duduk berdua di kursi taman, mengira mereka sedang saling mengakrabkan diri.
“Senang sekali melihat kalian dekat begini. hari pernikahan kalian sudah ditentukan, akan cepat berlangsung,” seru Chesy dengan gembira.
“kalian pasti sedang membicarakan masa depan kan?” tebak Sarah tak kalah girang.
Seketika itu, Rival dan Revalina bertukar pandang.
“Ya sudah, Sarah, kami permisi pulang dulu!” Chesy berpamitan.
Sarah mengangguk.
Revalina bergegas memasuki mobil, menyusul Chesy dan Rafa.
__ADS_1
***
Bersambung