
"Kita punya rumah Reva, masa masih tanya," jawab Yakub dengan jelas.
"Hih," gerutu Sarah sembari menyenggol tangan Yakub dengan sikunya.
Sarah langsung beralih menatap Revalina dengan senyum manisnya.
"Hem, bukan seperti itu Reva," ralat Sarah atas jawaban Yakub.
"Jangan pulang, tidur di sini saja," bujuk Revalina dengan nada merengek.
Sarah nampak kebingungan, menatap Yakub seolah keberatan dengan bujukan Revalina namun tak enak hati menolak.
"Mana bisa Reva, besok Kak Yakub harus kerja. Kan besok pagi Mbak Sarah juga bakal kesini," ucap Rival tak setuju dengan kemauan Revalina.
Seketika kening Revalina mengerut tajam, disusul bibir yang mulai manyun seperti bebek pms. Kesal karena keinginannya tak terkabul malam ini sekaligus takut akan kesunyian malam jika Yakub dan Sarah pulang.
"Nanti kalau aku libur, bisa deh menginap di sini," bujuk Yakub.
"Masih lama, hampir semingguan lagi," gerutu Revalina kesal.
"Istri mu seperti anak kecil," ucap Candini pada Rival dengan nada ketus.
Candini mulai beranjak pergi dari ruang makan menuju ke ruang tengah, dia telah selesai makan lebih dulu.
Mendengar ucapan Candini membuat semuanya terdiam kaku.
"Tuh seperti anak kecil katanya," ledek Rival sembari tersenyum-senyum.
Berbeda dengan Rival, Sarah justru menggenggam lembut tangan Revalina memberi kekuatan padanya.
"Tenang Reva, nggak akan ada apa-apa," ucap Sarah dengan lembut.
Malam itu Yakub dan Sarah benar-benar pulang, dan tepat seperti pada dugaannya setelah isya suasana rumah jadi sepi dan horor. Suara televisi pun tak mampu mengusir kesunyian malam itu.
"Reva, kamu nggak mau tidur?" tanya Rival yang sudah terbaring di atas ranjang.
"Iya sebentar aku mau siapkan baju buat besok kita ke kantor," jawab Revalina.
Di depan lemari suasana semakin tak karuan, pikirannya terus membayangkan jika hantu itu bisa saja keluar dari lemarinya.
Dengan cepat ia mengambil baju kerjanya dan baju untuk Rival, lalu cepat-cepat menutup kembali lemari tinggi itu.
Brakkkk.
Suara bantingan pintu lemari beriringan dengan langkah kaki Revalina yang makin cepat melesat.
Tiba di depan ranjang, terlihat Rival menoleh ke arahnya dengan tatapan terkejut.
"Ada apa?" tanya Rival.
"Nggak ada apa-apa," jawab Revalina sambil menelan salivanya.
"Ya sudah tidur!" perintah Rival.
__ADS_1
Revalina pun memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di samping Rival setelah semuanya sudah selesai, namun sialnya mata tak bisa langsung terpejam sedangkan Rival sudah mimpi indah sekarang.
"Lebih baik aku nonton film, biasanya suka langsung ketiduran," gumam Revalina kembali meraih remote yang ada di meja kecil samping kirinya.
Ia mulai berpindah chanel, menyaksikan film paling membosankan supaya matanya cepat tertidur namun sepuluh menit pertama belum juga ada reaksi apa-apa.
"Coba sepuluh menit lagi pasti juga ketiduran," gumam Revalina.
Tok tok tok tok tok.
Suara ketukan pintu tepat di depan kamar, sontak kedua mata Revalina terbelalak pikirannya langsung menjurus ke hantu yang diceritakan Kakak-kakak iparnya sore tadi.
"Jangan-jangan," ucap Revalina mulai menduga-duga.
"Reva," suara serak itu mulai memanggil nama Revalina.
Revalina makin terkejut dan makin ketakutan, tanpa suara ia masuk ke dalam selimut bersembunyi di sana hingga sang fajar tiba.
********
Pagi harinya selepas subuh seperti biasa Revalina mengurus rumah dibantu Sarah, setelah memastikan cucian sudah dijemur dan rumah sudah bersih rapi kini saatnya Revalina membantu Sarah untuk memasak.
"Sudah, kamu siap-siap sana jangan sampai kamu telat masuk kantor lagi," tegur Sarah sembari menyingkirkan bahan-bahan masakan dari hadapan Revalina.
"Nggak Kak, ini masih jam berapa lagi pun kamar mandi masih dipakai Rival," sahut Revalina menarik kembali bahan-bahan masakan itu.
Sarah pun akhirnya pasrah membiarkan Revalina membantunya memasak, tak lama terlihat Candini mulai keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi sembari menenteng tasnya.
"Mau belanja piring," jawab Candini dengan nada ketus.
Seketika kening Revalina dan Sarah mengerut tajam, saling beradu pandang bingung dengan jawaban Candini.
"Memangnya kenapa beli piring Ma, bukannya piring di rumah ini sudah banyak?" tanya Revalina kebingungan.
"Oh mungkin Mama bosan ya?" tanya Sarah dengan pemikiran positifnya.
"Banyak apanya, bosan apanya. Orang piring semalam pada pecah semua makanya semalam Mama ketuk pintu kamar mu mau tanya apa itu ulah mu tapi kau sudah tidur," jawab Candini pada Revalina.
Mendengar jawaban itu Revalina langsung teringat dengan kejadian malam itu yang ia kira seseorang dibalik pintu adalah hantu, sekarang ia sangat menyesal tidak keluar kamar pada malam itu.
"Masa semua Ma?" tanya Sarah panik mulai membuka laci yang berisi piring-piring dan mangkuk.
Revalina yang masih dilanda shock mulai melirik laci itu dan benar apa yang dikatakan Candini, semua piring itu pecah tak ada satu pun yang selamat.
"Ya Tuhan," ucap Sarah terkejut reflek menutup mulutnya dengan satu tangan.
Sekejap pandangan Sarah beralih ke arah Candini yang kini mulai mendekat ke arah dapur.
"Ma, tapi semalam itu aku juga ikut cuci piring dan nggak ada satu pun yang pecah semuanya sudah aku sama Revalina masukkan ke laci ini," jelas Sarah dengan kedua matanya yang makin membesar.
"Ya sudahlah, mungkin ada hewan masuk dapur ini secara pintu ke arah belakang kan ada di sebelah dapur dan tadi malam memang lagi kebuka," sahut Candini dengan santainya.
Mendengar arah belakang disebut oleh Candini, seketika bulu kuduk Revalina berdiri, buka hewan yang menjadi gambaran pelaku pemecahan piring semalam melainkan hantu.
__ADS_1
"Jadi takut," rengek Revalina.
"Mama pergi dulu, sekalian beli perangkap kalau begitu," pamit Candini pada kedua menantunya.
"Ma, mau kau temani?" tanya Sarah mulai menawarkan diri.
Candini menggeleng sembari tersenyum ke arahnya "nggak perlu, Mama bisa sendiri."
"Ya sudah Ma, hati-hati," ucap Sarah.
"Assalamualaikum," ucap salam Candini.
"Waalaikumsalam," jawab salam Revalina dan Sarah bersamaan.
Tak lama setelah Candini pergi, Rival keluar dengan pakaian rapi sudah bersiap untuk menemaninya ke kantor.
Singkat cerita mereka telah tiba di kantor dengan disapa setumpuk berkas yang siap untuk dikerjakan hari ini.
"Banyak juga ya hemm," gerutu Revalina.
"Semangat, aku bantu sedikit-sedikit," ucap Rival sembari mengepalkan tangannya sebagai simbol semangat untuk Revalina.
"Jangan sedikit Mas, semuanya saja gimana," Revalina malah menego bantuan Rival.
"Hahahaha," keduanya kompak tertawa bersama.
"Nego terus jadi orang, sudah kerjakan sana belajar. Biar kalau aku nanti nggak ada kamu bisa semuanya sendiri," ucap Rival sembari terus tertawa.
Seketika Revalina terdiam kaku, dadanya terasa sesak mendengar ucapan tak terduga keluar dari mulur Rival. Reflek ia langsung memeluk erat tubuh sang suami sambil menyembunyikan kesedihan di bahu bidangnya.
"Jangan bilang begitu, kamu akan selalu ada di samping ku. Aku nggak mau kamu kemana-mana," ucap Revalina lirih, coba sekuat tenaga menahan kesedihannya.
Tak lama tangan Rival menyambut pelukannya, mengusap punggung dengan usapan yang seakan berusaha memberi ketenangan.
"Insyaallah, aku tak mau mendahului takdir. Ingin ku juga begitu, aku ingin selalu ada di samping mu tapi semua di tangan Tuhan," sahut Rival dengan tenangnya.
Revalina semakin tak bisa lagi memendam dan mengundur-undur waktu untuk membahas terkait pengobatan Rival, ia semakin dilanda ketakutan saat Rival sudah membahas tentang kepergian ia benar-benar tak ingin kehilangannya.
Perlahan Revalina mulai melepaskan pelukannya, begitupun Rival. Keduanya saling beradu pandang cukup lama.
Di dalam kedua mata yang saling tertaut itu Revalina tengah mengumpulkan seluruh keberaniannya membicarakan tentang perpindahan rumah sakit untuk pengobatan sang suami.
"Mas, aku ingin bicara," ucap Revalina meminta izin pada Rival dengan rasa takut yang masih tersisa.
"Iya, bicara saja," sahut Rival sedikit kebingungan.
Tak langsung bicara, Revalina lagi-lagi kembali mengumpulkan keberaniannya.
'Aku harus mulai dari mana, aku takut dia akan menolak,' ucap Revalina dalam hati.
"Em, aku rasa di rumah sakit yang sekarang ini kau belum ada perubahan. Bagaimana kalau kita pindah rumah sakit?" tanya Revalina dengan sangat hati-hati menanyakan hal ini.
"Pindah?" tanya Rival terkejut.
__ADS_1