
Wajah itu mendongak ke atas dengan tatapan penuh harapan. Tubuh Chesy menggantung berpegangan pada batu yang jaraknya sekitar tiga belas meter dari bibir jurang.
"Chesy! Bertahanlah! Bertahan sebentar. Aku akan membantumu!" Cazim terseok mencari tali, dan ia mendapatkan tali berupa akar pohon yang mencuat ke permukaan. Ia menarik kuat akar pohon itu dan berusaha memutusnya dengan sentakan kuat pula. Tapi ternyata akar tersebut sangat kuat hingga tidak putus meski sudah ditarik berkali- kali.
Cazim mengambil sepotong kayu yang runcing dan menghunuskan kayu tersebut ke arah akar. Berhasil. Akar tersebut terputus dari pangkalnya. Ukuran akar yang cukup panjang itu diulurkan ke arah Chesy. Ternyata tidak cukup panjang. Ujung akar berada di jarak dua meter dari posisi Chesy.
Wanita itu kemudian menggapai bebatuan di lereng jurang dan berusaha terus merayap naik, sayangnya kondisi hujan membuat bebatuan itu licin saat disentuh. Hampir saja ia tergelincir jika tidak kuat berpegangan. Tidak ada ruginya juga ia hobi dengan kegiatan panjat tebing. Hanya saja kali ini tidak ada safety apa pun.
Chesy tidak berani menoleh ke bawah, jurang itu teramat dalam untuknya menguji nyali.
"Ayo, Chesy! Raihlah ini! Kau pasti bisa!" seru Cazim.
Tepat saat ujung akar hendak terjangkau oleh tangannya, ia malah tergelincir dan meluncur jatuh.
"Aaaaaa....." Chesy menjerit bersamaan dengan Cazim yang berteriak memanggil namanya.
Untung saja Chesy berhasil meraih batang pohon dan kembali bergantung di sana.
__ADS_1
Jantung chesy berdegup kencang, bukan jatuh cinta, tapi ketakutan. Ia menelan air hujan untuk menuntaskan haus di tenggorokan. Kemudian ia kembali berusaha merayap naik dengan mengerahkan sisa tenaga yang ada. Tubuhnya gemetar hebat, lemas. Kakinya ngilu sekali setelah tadi terhantam di lereng. Meski begitu, ia memiliki segelintir kekuatan untuk tetap terus merayap naik.
"Chesy, ayo!" Cazim menganggukkan kepala.
"Aku nggak kuat." Tangan Chesy gemetaran. Sehingga ia harus berhenti untuk kemudian melanjutkan naik ke atas.
Bismillah.
Hup!
Chesy akhirnya berhasil meraih ujung akar yang diulurkan ke arahnya.
Cazim menjulurkan tangannya ketika Chesy sudah berada di dekat bibir jurang. Chesy tidak menyambut uluran tangan itu. Dia membeku di tempat. Bukan karena terharu, tapi tangannya sakit, pahanya juga nyeri bukan main. Dia hampir tak bisa melepaskan pegangannya pada ujung akar tersebut. Kepalanya pusing sekali. Pandangannya mulai buram. Rasa takut dan ngilu di tubuhnya menyatu.
"Chesy, ayo cepat! Cepat sambut tanganku!" seru Cazim.
Chesy pun menyambut uluran tangan Cazim sebelum akhirnya pandangannya gelap dan tubuhnya terasa lemas tak bertenaga.
__ADS_1
Cazim mempererat pegangannya pada tangan Chesy ketika wanita itu hendak meluncur jatuh ke bawah karena pingsan.
Cazim mengerahkan tenaganya sekuat mungkin untuk menarik tubuh Chesy ke atas. Ia lalu memeluk tubuh Chesy ketika badan mungil itu sudah menyembul naik ke permukaan, ia merangkul dan terus membawanya naik.
Cazim berhasil. Kini badan kecil Chesy tergeletak di atas badan Cazim dalam keadaan menelungkup dan tak sadarkan diri.
Hujan masih mengguyur dengan derasnya.
Cazim melingkarkan lengannya ke punggung Chesy. Beberapa detik pria itu mematung. Hingga akhirnya ia bergerak untuk bangkit bangun, berdiri sambil mengangkat tubuh Chesy, menggendong istrinya yang tak sadarkan diri. Lalu mulai melangkah meninggalkan bibir jurang dengan langkah lebar. Rasa ngilu yang sejak tadi mengganggu di kakinya, kini hilang entah kemana. Cazim seakan tidak mempedulikan rasa sakit itu lagi.
Senja mengikuti di belakang dengan langkah terseok, tatapannya terus tertuju ke arah Cazim yang tengah menggendong Chesy.
***
Bersambung
Update satu bab aja, pemberian hadiah buat Chesy dikit 😪😪😂😂
__ADS_1
Klik tombol permintaan update di bawah ya kalau ingin cerita ini update, kalau banyak yg klik berarti banyak yg nungguin. Salam sayang