Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Pelukan


__ADS_3

"Mas, bangun! Tolong bangun! Jangan biarkan masalah besar menimpa kita. Kamu dengar aku kan? Dan nanti kalau kamu bangun, terbukalah sama istrimu. Jangan menyembunyikan apa pun. Siapa pun orangnya saat di posisi aku pasti nggak akan mau menerima hal begini. Aku tahu kamu itu punya kedok buruk dan kamu menyembunyikan itu. Bagaimana aku bisa diam saat aku tahu semua itu? Ayo, bangunlah!" Chesy sesenggukan.


Ia rasanya lelah sekali, bukan hanya pikirannya saja yang lelah, tapi batin dan raganya juga lelah.


Chesy tersentak kaget saat tanpa sadar terjaga, rupanya ia tertidur selama satu menit. Dan ia mencium aroma asing yang ternyata bersumber dari badan Cazim.


Chesy membelalak menyadari kepalanya yang nyender manis di leher Cazim.


Tepat saat Chesy mengangkat kepala dari senderannya, Cazim pun membuka mata.


"Mas Cazim, kamu udah sadar! Syukurlah!" Chesy tersenyum senang.


Cazim menggerakkan manik mata, mengedarkan pandangan. Meringis saat badannya bergerak hendak bangun.


"E ee eeh... Jangan bangun dulu. Kamu sedang dalam proses penyembuhan. Kamu barusan kena tembak. Ingat kan?" Chesy takut Cazim melupakan itu.


Cazim terdiam sebentar. Kemudian melirik jarum infus yang menusuk punggng tangannya. Tak peduli dengan semua itu, Cazim mencabut jarum infus dan bangkit berdiri sesaat setelah menyambar ponselnya.


Loh? Kok Cazim mendadak sehat begini saat terbangun dari pingsan?


"Mau kemana kamu?" Chesy mengejar Cazim yang berjalan menuju pintu.


Cazim berhenti. Meringis merasakan nyeri yang luar biasa di dada dan perut saat ia melangkahkan kaki.

__ADS_1


"Stay di sini!" Cazim melanjutkan langkah.


"Hei, ini tengah malam. Kamu mau kemana?" Chesy mengikuti keluar kamar.


Langkah Cazim tertatih dengan badan sedikit membungkuk.


"Arrrgkh...." Cazim mengerang dan menjatuhkan lututnya ke lantai.


"Mas, kamu jangan kemana mana. Masuklah ke kamar!" Chesy meraih pundak Cazim.


"Bawa aku ke tempat Alando."


"Enggak. Kamu di sini aja. Mau ngapain ke sana?"


Chesy akhirnya merangkulkan lengan Cazim ke lehernya. Tubuh mungilnya memapah Cazim berjalan keluar rumah. Di jam operasi para tuyul begini memang situasi sangat hening. Cocok sekali untuk Cazim yang akan kabur dari rumah.


"Aku ambil motor dulu. Tunggu sini ya! Kita nggak akan kuat kalau jalan kaki sampai rumahmu, badanmu berat," ucap Chesy kemudian meninggalkan Cazim di halaman rumah. Ia menjemput motor di garasi. Ia mendorong motor sampai ke hadapan Cazim, barulah menyalakan mesin motor supaya deru mesinnya itu tidak berisik dan takutnya malah membuat Yunus terjaga.


"Ayo!" ajak Chesy.


Cazim membonceng, duduk di belakang Chesy.


Motor pun bergerak meninggalkan halaman rumah.

__ADS_1


Chesy terkejut melihat lengan kokoh Cazim yang melingkar di perutnya. Mendadak kulit tubuhnya meremang hebat. Ada sesuatu yang bergelenyar mengalir di tubuhnya. Entah apa itu.


"Mas, kamu jangan begini! Aku nggak bisa bawa motor kalau gini!" Entah kenapa tangan Chesy jadi gemetar. Tenaganya pun entah kemana.


"Aku tidak mengganggu tanganmu. Ayolah! Aku sudah tidak tahan!" Cazim meletakkan kepalanya ke pundak Chesy.


Duh... Chesy makin gugup. Ia menarik gas. Tapi tenaganya yang lemas itu malah membawa ban motor meliuk- liuk tak tentu arah.


Chesy mengerem motor saat kuda besi yang dia tunggangi itu hampir ambruk.


"Kenapa lagi?" Suara Cazim terdengar parau, hampir seperti orang mau pingsan.


Chesy berusaha menahan motor dengan kedua kakinya suoaya tidak tumbang, tidak lucu jika mereka sampai ambruk berdua di motor itu. Gara- gara merasakan lingkaran lengan di perut, gerakan tangan Chesy jadi tak tentu arah.


Cazim masih nyender nyaman di caruk leher Chesy dengan mata terpejam. Badannya yang lemas membuat Chesy kesulitan menahan motor karena berat.


Namun akhirnya Chesy berhasil mengatasi kesulitannya. Motor berhasil jalan setelah ia mengegasnya dan menyeimbangkan motor.


Di tengah suasana sunyi yang hanya diterangi lampu jalanan, dingin yang menyapu kulit, ditemani embusan angin malam yang menampar tubuh, Chesy berusaha menyeimbangkan motor yang ternyata beban di belakangnya cukup berat.


Sesampainya di depan rumah kontrakan Cazim, Chesy menekan klakson. Berharap Alando cepat keluar. Namun benda bulat itu tak juga keluar meski sudah beberapa kali Chesy menekan klakson.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2