Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Menjadi Batu


__ADS_3

Jawaban Rafa membuat Revalina kembali bertanya-tanya dalam hatinya tentang siapa yang berhasil menduduki jabatan itu.


Tak lama pikirannya beralih ke rasa kagum ketika mulai memasuki ruang kerjanya, benar-benar sempurna.


Sejak awal tatapannya tertuju pada meja kerjanya membelakangi kaca besar yang menampilkan indahnya pemandangan kota, tak hanya itu ruangan yang bernuansa modern klasik itu memiliki sentuhan khusus pada setiap sudut ruangan termasuk pada furniturnya.


"Sekarang ini jadi ruanganmu, sementara kau pelajari dulu apa yang kamu kerjakan dan nanti setelah jam 10 aku akan kasih beberapa pekerjaan padamu," ujar Rafa pada Revalina.


"Kenapa Kakak yang kasih aku pekerjaan, memangnya CEO itu nggak suka anak baru?" tanya Revalina sambil mengerutkan keningnya.


"CEO lagi ada perlu di luar kota, kemungkinan besok baru bisa masuk ke kantor," jawab Rafa.


Revalina langsung mengangguk kecil, paham dengan jawaban Rafa yang langsung menepis dugaan konyol dari dirinya.


"Baiklah kalau begitu," sahut Revalina.


Tak lama setelah menjelaskan dan menunjukkan dimana rak tempat buku-buku dan file yang harus Revalina pelajari, akhirnya Rafa pergi dari ruang kerja Revalina dengan alasan masih banyak yang harus ia kerjakan pagi ini.


Di sebuah ruangan kerja dengan disodorkan buku-buku dan berkas-berkas kantor bersama seorang Dosen, rasanya seperti kembali menjalani masa-masa kuliah.


Saat itu Revalina memilih membawa buku-buku itu ke atas meja yang ada tepat di depan sofa panjang, ia mulai membuka salah satu buku yang berada di tumpukan paling atas. Sementara itu Rival justru masik sibuk mencari-cari buku di rak itu.


"Mas, jangan banyak-banyak otakku nggak muat," rengek Revalina.


"Enggak, cuma sedikit," sahut Rival.


Padahal sudah ada tiga buku di pangkuannya, sedangkan tangan terus mencari-cari buku baru.


Dalam satu buku terdapat makna yang sulit ia pahami, padahal itu adalah kata kunci untuk menentukan langkah yang akan ia pecahkan di dalamnya. Pertama-tama ia masih berusaha untuk memutar otaknya untuk memahami makna tersebut namun makin lama justru bukannya membuat dirinya mendapat jawaban justru mendapatkan sakit kepala yang tak tertahan.


"Mas, ini itu apa ya aku nggak paham?" tanya Revalina pada akhirnya menyerah.


"Coba aku lihat," ucap Rival cepat-cepat mengerakkan kursi rodanya ke arah sofa panjang yang membentang beberapa meter dari rak tersebut.


Rival mulai membaca kalimat yang ditunjuk Revalina, tak lama Rival langsung paham dan menjelaskan secara rinci sampai Revalina mampu memahaminya.

__ADS_1


Saat-saat di mana Rival tengah menerangkan secara tak sengaja mata Revalina tertuju pada kedua binar indah di kata Rival.


'Beruntung sekali aku punya suami pintar seperti mu Mas, gimana jadinya aku kalau nggak punya kamu," ucap Revalina dalam hati sambil terus memandangi Rival tanpa henti.


"Reva, bukannya lihat buku malah melihat ke arah ku," tegur Rival seketika langsung menghentikan penjelasannya.


Seketika tatapan Revalina beralih kembali buku yang ada di hadapannya, dengan malu-malu ia mulai memperhatikan kalimat yang tengah di tunjuk Rival dengan jarinya.


"Enggak, aku lagi lihat buku," elak Revalina padahal tahu dirinya sudah ketangkap basah tengah memandangi Rival.


Tiba-tiba tak ada lagi suara Rival membuat Revalina penasaran, pada akhirnya netranya nekat melirik-lirik ke arahnya. Terlihat saat ini dia tengah tersenyum-senyum sendiri. 


"Malah senyum-senyum gimana sih," gerutu Revalina.


"Ayo cepat lanjutkan," ajak Revalina dengan penuh antusias.


Akhirnya Rival pun kembali menjelaskan kalimat demi kalimat yang belum di pahami Revalina. Tak lama Revalina memanggut-manggut di akhir kalimat Rival, menandakan bahwa ia telah paham dengan penjelasan darinya.


"Nah, nanti kalau kamu masih ada yang nggak paham tanya lagi ke aku atau aku saja yang kerjakan. Kamu lihat gimana cara mengerjakannya," ujar Rival.


"Jangan, aku tanya saja," sahut Revalina dengan cepat.


"Sudah istirahat sana," ucap Revalina sembari menyingkirkan buku-buku dari hadapan Rival.


Tak langsung menyahut, Rival justru ternganga melihat tangan Revalina sekejap menyapu buku-buku itu pergi dari hadapannya.


"Nggak di rumah, nggak di sini kau selalu menyuruhku untuk istirahat terus. Lama-lama jadi batu aku," gerutu Rival dengan nada kesal.


"Hahahaha," sontak tawa lepas keluar dari mulut Revalina.


"Nggak habis pikir lagi aku kenapa kau harus jadi batu, kenapa nggak yang lain," ucap Revalina sembari terus tertawa membayangkan Rival menjadi batu sungguhan.


"Ya kan istirahat terus, nggak bergerak apa namanya kalau nggak jadi batu," jelas Rival mulai menahan senyumnya.


"Bisa-bisanya," gumam Revalina sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Hari itu Revalina tak banyak pekerjaan, ia hanya di berikan beban ringan yang hanya beberapa saja sebagai pengenalan dalam dunia kerja di kantor tersebut dan seperti yang dikatakan Rafa tadi jika CEO itu akan masuk esok hari.


Sore itu Revalina kembali membawa Rival pulang dengan mendorong kursi rodanya secata perlahan keluar dari lift.


Semua karyawan di sana menyapa dengan hangat layaknya keluarga namun sesaat ketika Revalina dan Rival melaluinya mereka semua langsung berbisik-bisik, bodohnya bisikan itu terlalu keras sehingga membuat Revalina mendengar semua.


"Eh, itu suaminya Bu Reva ya. Kasihan sekali Bu Reva punya suami cacat seperti itu," celoteh orang-orang dibelakang Revalina.


"Iya kasihan sekali, kalau aku jadi Bu Reva pasti sudah gugat talak ya kali mau nerima kondisinya.


Mendengar segala suara-suara sumbang itu Revalina cepat-cepat melajukan kursi roda Rival dengan lebih cepat lagi, yang ia inginkan hanya dirinya saja yang mendengar suara-suara panas itu namun melihatnya langsung menunduk ketika dirinya sesaat setelah menjauh dari mereka dua.


'Mampus, pasti Mas Rival dengar ucapan mereka. Pasti hatinya sedang hancur sekarang,' ucap Revalina dalam hatinya.


'Memang kurang ajar mereka, bisa-bisanya aku kena gibahan lama-lama aku adukan ke Kak Rafa baru tahu rasa,' ucap Revalina kembali dalam hati.


Tiba di lobi menunggu mobilnya di ambilkan, Revalina mulai mengajak Rival berbicara kembali sebagai pengalihan rasa yang Rival rasakan sekarang.


"Mas, kita ke cafe dulu yuk aku ingin ngopi," ajak Revalina dari sisi kanan telinga Rival.


"Nggak langsung pulang saja, aku bukannya nggak mau tapi kamu juga harus istirahat Reva," sahut Rival enggan berbicara tidak namun sahutannya jelas menuju ke penolakan.


"Aku nggak capek Mas, plis lah aku lagi pengen sekali," rengek Revalina.


Seakan tak mampu mendengar rengekan Revalina, Rival langsung mengangguk pertanda setuju akan ajakan Revalina.


"Yes," ucap Revalina kegirangan.


"Tapi ingat, jangan lama-lama," ucap Rival mulai memperingatkan Revalina.


"Siap," sahut Revalina sembari menunjukkan sikap hormatnya.


Rival hanya bisa menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah tak biasa dari sang istri.


Tak lama tiba-tiba nampak mobil sedan hitam berhenti tepat di depannya, keluarlah sosok laki-laki bertubuh tegap tinggi berjalan cepat masuk ke dalam kantor.

__ADS_1


"Siapa dia?" tanya Revalina lirih dengan tatapan terus menyorot ke arahnya.


Bersambung


__ADS_2