
Senja langsung menarik tangannya dari pegangan Cazim. Ia tampak sedikit kikuk. Ia merapikan rambut pirangnya dan menyelipkan ke daun telinga sebagai tingkah untuk menutupi kecanggungannya.
Berbeda halnya dengan Cazim yang tetap tampak tenang, sedikit pun tidak terlihat canggung.
Tatapan sengit jelas terlihat di mata Chesy. Di kamar itu, ia mendengar kalau badan suaminya baru saja dilap oleh wanita lain. Juga disuapi.
"Apa yang dilakukan wanita ini di sini, Mas?" tanya Chesy dengan datar. Ia berusaha menahan emosi, jangan ngamuk! Jangan ngamuk! Itulah kalimat memerintah dari otaknya.
"Aku baru saja siuman dan Senja membantuku. Badanku gerah, dia mengelapi badanku, dia juga menyuapiku."
Ya ampun, rupanya dia jujur. enteng sekali Cazim menjawab begitu. Seakan tidak ada rasa salah.
"Senja itu bukan mahram kamu, nggak boleh sentuh badan kamu, apa lagi sampai mengelapi kamu begitu. Kamu kan udah paham dengan hukumnya," ucap Chesy berusaha dengan nada rendah. Walau pun batinnya gondok sekali, tapi ia tetap berusaha rileks.
"Aku ini pendosa, Chesy. Kau juga tahu itu. Aku tidak sebaik yang kau pikir. Seorang pendosa itu pasti tidak akan peduli dengan yang namanya haram dan halal, dosa dan amal. Sama seperti seorang para tikus di anggota dewan, mereka tahu bahwa menggerogoti uang rakyat itu adalah dosa besar, tapi tetap mereka lakukan bukan? Dan aku tidak mengatakan bahwa aku ini orang alim yang paham agama, aku pendosa."
Chesy menghela napas. Sabar, Chesy. Sabaaar! Orang sabar anunya lebar. Eh?
"Jadi Senja menjengukmu setiap malam?" tanya Chesy.
"Ya. Sebab pagi dan sore sudah ada kau yang membesukku."
"Apa nggak ada waktu untuk membesuk selain malam? Siang kan bisa."
__ADS_1
"Suasana malam hari lebih baik."
Jawaban yang semakin membuat naik darah. Namun Chesy berhasil menguasai emosinya.
"Senja, pulanglah!" tegas Chesy menatap Senja yang masih duduk di samping kasur.
Senja pun tersenyum. Ia menatap Cazim dan berkata, "Aku pulang dulu ya. Kamu lekas sembuh! Baay!" Senja berdiri sambil mengangkat piring dan gelas kotor.
"Biar aja barang itu di situ!" tegas Chesy.
Senja pun kembali meletakkan peralatan kotor itu. Gadis itu lalu melangkah meninggalkan kamar.
"Tumben kau kemari malam- malam begini?" tanya Cazim.
"Aku hanya ingin melihat keadaanmu," jawab Chesy sambil mengedarkan pandangan ke sekitar. Ada baju kotor milik Cazim yang teronggok di lantai. Senja belum sempat memungutnya. Keburu Chesy datang. Ada air di baskom dengan kain lap badan.
Cazim diam saja.
"Kamu di sini dikenal sebagai suaminya Chesy, menantu ustad Yunus. Bagaimana pandangan orang kalau sampai mereka tahu kamu malam- malam bersama dengan seorang wanita selain istrimu?"
"Ada Alando di sini. Mereka pasti beranggapan bahwa aku tidak hanya berduaan dengan Senja."
"Aku hanya mau kamu menjaga nama baik keluargaku! Kamu mau menikah denganku, artinya kamu mau menjaga nama baik keluargaku."
__ADS_1
"Ya. Aku paham itu. Aku juga tidak berniat merusak nama baik keluargamu. Aku sudah pikirkan ini." Cazim menegakkan punggungnya dan berusaha menyingkirkan bantal supaya tidak menumpuk. Ia ingin berbaring dengan satu bantal.
Chesy bergegas membantu. Meraih pundak Cazim dan merebahkan badan itu ke kasur dengan alas satu bantal saja.
"Senja itu siapa?" tanya Chesy sambil pura- pura membereskan meja samping kasur supaya rapi. Ia tidak mau pandangannya bertemu dengan mata Cazim saat menanyakan itu.
"Sahabatku. Sudah lama."
"Kamu yakin hanya sahabat?"
"Ya. Jika suatu saat nanti ada hubungan lebih, mungkin dialah yang seharusnya menjadi pendamping hidupku. Aku paham diantara kita tidak ada hubungan khusus. Kita menikah hanya sebatas untuk abi. Dan kau tidak pernah menganggap ini adalah sungguhan. Kau anggap aku ini bukan suamimu sejak awal. Dan aku menghargai itu. Kau bebas beranggapan apa pun." Cazim memejamkan mata. "Aku lelah sekali. Aku mau tidur. Kau pulanglah!"
Chesy sebenarnya ingin bicara banyak lagi, tapi melihat Cazim yang sudah terpejam, semuanya urung.
Lihatlah Cazim cepat- cepat ingin tidur. Bahkan meminta Chesy untuk pulang. Sedangkan Senja tadi diminta untuk menemaninya sampai dia tertidur. Bahkan Cazim juga ingin berlama- lama bersama dengan Senja untuk bersenda gurau.
Chesy menarik selimut dan menutup badan Cazim sampai ke perut. Ia kemudian berlalu keluar kamar membawa semua barang kotor yang perlu disingkirkan dari kamar Cazim, termasuk baju kotor, baskom berisi air dan piring kotor.
Chesy berpapasan dengan Alando di ruang tamu.
"Aku titip Mas Cazim. Kabari aku apa pun tentang Mas Cazim, termasuk jika Senja datang kemari." Chesy menyerahkan barang- barang di tangannya kepada Alando.
"Baik!" jawab Alando sambil mengambil barang- barang itu.
__ADS_1
***
Bersambung