Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Bahaya Mengancam


__ADS_3

"Sarah!" Chesy memasuki rumah Sarah sesaat setelah mengucap salam, mencari keberadaan sahabatnya di rumah yang pintunya dalam keadaan terbuka.


Rumah itu sudah seperti rumahnya sendiri. Sejak kecil, ia dan Sarah sudah seperti kakak beradik yang melakukan apa pun berdua. Bermain bersama di rumah itu. Keluar masuk rumah pun sudah seperti rumah sendiri. Mereka sering bertukar malam untuk menginap di rumah salah satunya, terkadang di rumah Sarah, terkadang di rumah Chesy. Maka tidak heran bila Chesy memasuki rumah itu seperti memasuki rumahnya sendiri. Bahkan rumah Sarah adalah rumah satu- satunya tempat Chesy kabur kalau sedang ngambek sama abinya. Pokoknya rumah itu merupakan tempat persembunyian ternyaman bagi Chesy.


"Sarah sedang keluar, Nduk!" ibunya Sarah menyahuti, menyambut Chesy di ruang tamu dengan senyum ramah.


"Dih, Sarah tuh kok ya keluar mulu, Bu?" Chesy mengusap pipinya yang bercahaya itu dengan lengan baju. Air matanya terseret mengikuti lengannya hingga terhapus.


"Loh, kok nangis? Ada apa?" tanya Marni, ibunya Sarah dengan lembut.


"Enggak ada apa- apa, Bu. Justru inilah aku mau ketemu Sarah."


"Walah, mau curhat ya? Kebiasaan nih, mesti curhat sama Sarah kalau ada masalah. Wih, anak muda memang unik ya, suka curhat- curhatan. Nggak mau curhat sama ibu aja?" Marni menawarkan.


"Enggak deh, Bu. Nanti nggak nyambung," celetuk Chesy nyablak. Sudah terbiasa ngomong begitu.

__ADS_1


Marni hanya tersenyum saja menanggapinya. Chesy sudah seperti anaknya sendiri, yang sering makan bersama dengannya. Sering pula gadis itu mengantar lauk pauk ke rumah Marni. Kehidupan Chesy yang berasal dari keluarga berada, membuat Chesy tidak sulit bila harus mengeluarkan beberapa rupiah untuk urusan makan kepada tetangganya.


"Ya udah deh Bu, aku nunggu di kamarnya Sarah aja." Chesy masuk kamar. Menghabiskan waktu di kamar itu dengan resah. Bagaimana tidak? Sudah beberapa jam menunggu, Sarah tak kunjung datang. Bahkan sampai Chesy menyelesaikan shalat maghrib, Sarah belum juga datang.


Chesy akhirnya keluar kamar, menghampiri Marni yang sedang menyiapkan lauk dan sayur matang di meja makan.


"Ayo makan! Ibu sudah masakin tempe mendoan dan tumis kangkung pedes, dikasih terasi loh. enak." Marni menawarkan.


Chesy menatap meja yang di atasnya tersaji tumis kangkung dan tempe mendoan. Sebenarnya ia sangat lapar dan bernafsu untuk menyantap hidangan itu. Meski sederhana, namun tampilannya menggugah selera. Kangkungnya tifak layu, hijau dipadu cabe merah yang membuat warna kuah pun menjadi merah.


"Hmmm.... roman- romannya putus cinta ini. Kok lemes dan nggak bersemangat gitu. sampe makan pun nggak doyan." Marni meledek. ledekannya salah tebak.


"Aku mana pernah pacaran, Bu. boro- boro kenal sama lelaki, deket aja pasti udah digaplok sama abi."


"Ya tapi kan siapa yang tau kalau kamu tuh sama kayak Sarah, dilarang pacaran tapi sembunyi sembunyi pacaran juga."

__ADS_1


"Trus ini kenapa Sarah bisa pergi nggak pulang pulang sampai malam begini? Jangan jangan dia mojok tuh sama pacarnya. Ibu harus awasi dia loh. Jangan sampai Sarah gimana- gimana gitu. Kan gawat kalau sampai kecolongan."


"Tadi tuh Sebenarnya ibu yang suruh Sarah ke gang Melati, tempat budenya. Ada urusan."


"Oh. Ibu nggak bilang dari tadi. Kalau bilang dari tadi kan Aku nggak perlu nungguin selama ini. Ya sudah, aku pergi, Bu. Nanti kasih tau Sarah kalau aku ke sini ya, Bu. Atau suruh Sarah nanti ke rumahku untuk nginep."


"Iya. Ya sudah, kamu pulang dulu sana. Nanti ibu sampaikan."


Chesy menghambur keluar rumah, berjalan dengan muka sembab menuju ke rumahnya. Ia memang sudah tidak menangis lagi, tapi sembab di wajahnya masih tersisa.


Tiba- tiba ia membelalak saat melihat pemandangan dari kejauhan. Jantungnya berdegup hebat menyaksikan sosok yang terkapar di tepi jalan. Tak lain abinya.


Di sisi abinya, seorang lelaki tampak menunggangi motor kawasaki ninja di dekat tubuh Yunus yang terkapar bersimbah darah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2