Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Satu Pertanyaan


__ADS_3

Dengan degup jantung yang mulai tak karuan perlahan Revalina mulai menarik surat itu, membaca keseluruhan isi surat tersebut yang ternyata benar dari rumah sakit tempat Rival melakukan fisioterapi.


Dari raut wajah Sarah yang kaku membuat Revalina kebingungan, perlahan ia menurunkan surat itu dari hadapan kedua matanya.


"Hasilnya bagus Mbak," ujar Revalina menatap bingung.


"Rival sekarang ada di mana?" tanya Sarah masih dengan wajah kakunya.


"Di kamar," jawab Revalina makin bingung.


"Justru karena hasil fisioterapi dua kali terakhir ini bagus, menunjukkan peningkatan yang sangat pesat membuat ku memanggil mu kesini," ucap Sarah lirih.


"Ada apa Mbak?" tanya Revalina.


"Aku lihat Rival masih bergantung sama kursi rodanya, aku jadi ragu sama rumah sakit ini," jawab Sarah.


Jawaban Sarah justru membuat Revalina makin kebingungan, beberapa detik tak mampu menimpali jawabannya yang serasa perlu mendapat elakan.


"Tapi Mbak, rumah sakit ini adalah rumah sakit terbaik di kota ini. Peralatan canggih dan tenaga medisnya bukan sembarangan," ucap Revalina tak setuju dengan keraguan Sarah.


"Kalau begitu kenapa Rival tak sembuh-sembuh, mereka cuma kasih surat kalau Rival mengalami progres yang bagus nyatanya dia berpindah dari kursi roda ke sofa saja kesulitan," elak Sarah tetap enggan percaya pada rumah sakit itu.


"Rumah sakit itu cuma banyak omong, kalau Yakub tahu hal ini pasti dia akan meminta kamu pindahkan terapi Rival ke rumah sakit lain," sambung Sarah.


Revalina terdiam, meresapi ucapan Sarah yang terkadang ada benarnya juga.


Malam harinya Yakub datang menjemput Sarah, dia sudah tahu isi kepala istrinya sejak sore tadi dan mengatakan hal yang sama pada Revalina. Kakak kandung dari suaminya ini meminta untuk Rival dipindahkan rumah sakit yang lebih bagus lagi.


Saat itu Revalina hanya bisa mengangguk setuju dengan Sarah Yakub, meski dalam hati masih berat untuk mempercayai bahwa rumah sakit terbaik itu telah membuat rekayasa seburuk ini.


Di hadapan Rival, Revalina terus bungkam dengan apa yang dibicarakannya dengan kedua ipar. Mereka semua tak ingin membuat Rival drop karena mengetahui dugaan rekayasa ini. Meski ujung-ujungnya percuma karena ketika mereka memutuskan untuk memindahkan Rival di rumah sakit baru artinya mereka harus kasih penjelasan logis pada Rival.


Semalaman Revalina hampir tak bisa tidur memikirkan hal ini sampai pada akhirnya keesokan hari tepat di hari libur kerjanya ia memutuskan untuk mendatangi rumah sakit tersebut.


Pagi-pagi Sarah dan Yakub datang ke rumah membawa makanan untuk sarapan, mereka sama-sama tahu apa yang akan dilakukannya pagi ini.


"Reva, jam segini sudah rapi saja kau. Nggak lupa kan kalau hari ini hari libur?" tanya Rival sambil menaikkan sebelah alisnya.


Revalina yang tengah membantu Sarah memindah makanan dari kotak makan ke piring mulai mengangkat dagunya, menatap Rival yang ada di meja makan paling ujung.


"Aku nggak lupa Mas," jawab Revalina tersenyum.


"Terus mau kemana?" tanya Rival kembali makin kebingungan.


Revalina lebih kebingungan lagi, bingung mau jawab apa sementara sejak kemarin dirinya tak memikirkan akan adanya pertanyaan ini.


'Bodohnya aku, bisa-bisanya aku nggak mikir kalau bakal ada pertanyaan begini dari Rival,' gerutu Revalina dalam hatinya.


Nampak Sarah pun ikut kebingungan, terlihat pada gelagatnya yang terlihat jelas tengah gelagapan menyendok makanan dengan tantan gemetar.


"Ini Mas, aku kau ke rumah Umi," jawab Revalina berusaha bersikap biasa saja.

__ADS_1


"Kenapa nggak ajak aku?" tanya Rival kembali terus mencercanya tanpa henti.


"Karena aku sama Mama mau pergi berdua," jawab Revalina secara asal.


"Mau pergi kemana?" tanya Rival.


"Ke salon sama mau ke market," jawab Revalina dengan debaran jantung yang mulai berdebar kencang.


Ia merasa pertanyaan-pertanyaan Rival menunjukkan bahwa dia tengah berada di fase tidak percaya atau bahkan tengah mencurigainya.


"Ke salon jam segini?" tanya Rival enggan melepas Revalina dari jerat pertanyaannya.


"Sudahlah, jangan jadi suami posesif begitu," ledek Yakub tiba-tiba datang dari arah belakang Rival, menepuk punggung Rival sembari terus melanjutkan langkah kakinya.


"Orang aku cuma tanya memangnya kamu, suka posesif," sahut Rival meledek balik Abangnya.


Baru saja Yakub terduduk, dia langsung menoleh ke arah Rival dengan cepat, terkejut dan seolah tak terima dengan ledekan itu. Di samping itu Sarah sekuat tenaga menahan tawanya.


"Nggak ada ceritanya aku posesif ke istri, aku mah percaya seribu persen," elak Yakub meninggalkan lirikan mautnya beralih ke arah Sarah sembari melempar kode.


Sarah langsung mengangguk "iya betul itu betul."


"Nggak posesif cuma marah-marah nggak jelas saja," sambung Sarah sambil melirik Yakub.


Seketika raut wajah Yakub yang semula tenang merasa ucapannya selaras dengan sahutan Sarah, namun tiba-tiba berubah terkejut serta gelisah ketika Sarah menyambung sahutannya sendiri.


"Lebih parah," ledek Rival dengan keras ke arah Yakub.


Seketika setelah itu tak ada lagi pertanyaan keluar dari mulut Rival, akhirnya Rival mengizinkannya pergi dengan catatan harus terus berkabar dengannya.


Dengan cepat Revalina bergegas pergi dengan membawa surat hasil pemeriksaan awal dan hasil fisioterapi dua hari terakhir ini ke rumah sakit.


Saat-saat diperjalanan banyak hal yang membuatnya kembali teringat ke masa-masa dulu dimana ia masih menjadi mahasiswi yang tengah di jodohkan oleh seorang Dosen tampan, sesekali ia menyesali karena tak menikmati moment-moment itu dengan perasaan justru membungkus hatinya rapat-rapat dengan seluruh dendam yang ia rasakan selama ini.


"Andai aku di kasih kesempatan buat mengulang waktu, aku akan merubah saat-saat menyakitkan bagi Rival," gumam Revalina.


Ketika teringat hal ini Revalina langsung teringat pada Akram, mantan sahabatnya yang kini entah dimana. Semenjak hari itu ia tak lagi melihat batang hidungnya dan berharap selamanya pun begitu. Kalaupun takdir membawa Akram ke dalam sel tahanan, ia tetap pada doanya untuk tak lagi bertemu dengannya.


Seperti pada niatnya, ia langsung menuju ke rumah sakit mengambil nomor antrian untuk berkonsultasi dengan dokter yang menangani Rival. Setelah mengambil nomor antrian yang di jadwalkan kira-kira di jam 8, akhirnya Revalina beranjak pergi menuju ke rumah Uminya.


Tok tok tok tok tok.


"Assalamu'alaikum," ucap Revalina sembari mengetuk pintu rumah Chesy.


"Waalaikumsalam," jawab salam Chesy dari dalam rumah.


Klekkk.


Perlahan pintu mulai terbuka, Chesy terkejut melihat kedatangan putrinya lantas langsung memeluk tubuh Revalina dengan sangat erat.


"Reva, Umi sampai kaget kamu kesini tumben sekali nggak kasih kabar dulu," ucap Chesy dalam pelukan Revalina.

__ADS_1


"Hehe, sengaja Umi. Reva mau kasih kejutan tapi tadi nggak ada toko buka jadi belum beli sesuatu buat Umi," sahut Revalina perlahan mengikuti gerakan Chesy yang mulai melepas pelukannya.


Chesy tersenyum memandangi wajah Revalina sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Umi nggak perlu juga, yang Umi perlu cuma kamu datang kesini sering-sering bukan jajan itu mah nggak penting," ucap Chesy pada Revalina.


Perbincangan mereka di tengah pintu di tutup oleh tawa bahagia lalu berlanjut sampai di dalam rumah bersama Rafa juga yang baru saja selesai sarapan.


"Tumben pagi-pagi sudah kesini, ada apa?" tanya Rafa keheranan.


Sontak pertanyaan Rafa mendapat sorotan tak mengenakkan dari Chesy terutama Revalina yang merasa disudutkan.


"Kenapa sih adik sendiri main ke rumah di tanya-tanya begitu," gerutu Chesy kesal.


"Ya habisnya dia aneh Mi, biasanya nggak pernah kesini tapi sekalinya kesini pagi-pagi buta," ucap Rafa berusaha membela diri.


"Pagi-pagi buta gimana sih Kak, nggak lihat matahari sudah mulai naik," sahut Revalina berusaha meluruskan kalimat Rafa yang rasanya terlalu hiperbola.


Rafa terkekeh setelah melihat sinar surya dari celah gorden yang menutupi tembok kaca rumahnya.


"Ketahuan kan jadinya kalau Kakak bangun kesiangan," ledek Revalina sembari tersenyum-senyum.


Sekejap senyum di bibir Rafa langsung hilang merubah wajah nya menjadi sangat tegang.


"Mana ada, aku bangun selalu sebelum subuh ya," elak Rafa dengan tegas.


"Iya sebelum subuh tapi baru selesai sholat subuh langsung balik lagi ke kasur," ucap Chesy memperjelas keadaan yang terjadi pagi ini.


Rafa mendadak mati kutu, tak berani mengelak ucapan Chesy membuat Revalina tertawa tanpa henti melihat ekspresi pasrah pada wajahnya.


"Nggak boleh seperti itu Kak, padahal dulu Kakak yang selalu menegurku," tegur Revalina dengan mengingatkan ajaran Rafa dulu saat masih serumah.


"Namanya juga mengantuk mau gimana lagi, tapi itu bukan jadi alasan ya. Kita sendiri yang pilih hidup mau bagaimana jadi kita juga harus tahu konsekuensinya," ucap Rafa dengan kerendahan hatinya mau mendengarkan teguran Umi dan adik perempuannya.


"Itu sudah tahu masih saja dilakukan, memang dasar," gerutu Chesy untuk yang kedua kalinya.


"Memangnya lagi banyak kerjaan Kak?" tanya Revalina mengingat kemarin Rafa datang ke ruangan Joseph tengah membicarakan hal yang sangat penting kedua wajah mereka nampak kusut seperti tengah menanggung beban.


"Lumayan, sebenarnya sudah Joseph sudah bantu banyak cuma aku kan kalau cross check harus sepuluh kali. Itu yang bikin lama," jawab Rafa dengan jelas.


Seketika Revalina teringat dengan pekerjaannya kemarin yang hanya mengerjakan beberapa berkas saja, sedangkan pada aslinya seorang ajudan pasti selalu ditimbun gundukan pekerjaan.


"Yah, padahal harusnya aku juga bantu. Kenapa Pak Joseph nggak kasih aku kerjaan lagi sih kemarin," ucap Revalina sedikit kecewa sekaligus kasihan dengan mereka.


Chesy yang duduk di tengah-tengah kedua anaknya hanya bisa menoleh kesana kemari mendengar cerita mereka.


"Ya gimana, kau baru adaptasi kemarin mana bisa langsung di hajar. Kemungkinan itu seminggu lagi baru kena hajar pekerjaan," jelas Rafa.


Mata Revalina mulai melirik ke atas mengingat-ingat perkejaan terakhir yang berhasil ia kerjakan kemarin, setelah beberapa kali bertanya untuk beberapa berkas yang ia kerjakan rasa-rasanya semua bisa ia kerjakan meski tak efisien karena Joseph harus menjelaskan kembali.


"Nah kalau sudah seminggu, bisa tuh kamu ikut Joseph ke luar kota," ujar Rafa dengan santainya.

__ADS_1


Sontak kedua mata Revalina terbelalak "keluar kota, sama aku?" 


Bersambung


__ADS_2