Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Baper


__ADS_3

Revalina terus melanjutkan chatinganya dengan Rival, makin lama ia makin tak bisa menahan senyum salah tingkahnya.


"Dasar," celetuk Revalina terkekeh menatap benda pipih di tangannya.


"Bahagia sekali agaknya Rev," singgung Chesy tersenyum-senyum.


Revalina terkejut seketika mematung hanya kedua mata yang coba bergerak melirik ke sumber suara, dan betapa terkejutnya ia melihat Umi ada di hadapannya.


'Ya Allah, sejak kapan Umi ada di depan ku,' Revalina bertanya-tanya dalam hatinya.


"Hehehe, bukan apa-apa Umi permisi Umi. Reva mau lanjut kerjain skripsi," Revalina pamit undur diri dari hadapannya.


"Dasar, anak muda," ledek Chesy


Ia bergegas masuk ke dalam kamar, melanjutkan chatinganya dengan Rival. Entah sejak kapan jadi suka chatingan dengan Dosen satu itu.


Rival : oh ya, aku sudah sisipkan namaku di kata pengantar mu. Aku tulis terimakasih untuk calon suamiku Rival yang sudah mendukung dalam penyusunan skripsi ini.


Revalina : jangan macam-macam ya, bisa di tanya-tanya aku pas sidang nanti.


Rival : biarkan saja, bagiku kekonyolan lebih menarik.


Lagi-lagi ia kembali salah tingkah hingga tersungkur ke atas ranjang sambil memandangi ponsel. Dengan posisi awal terlentang kini perlahan berganti posisi dengan tengkurap sambil mengayun-ayunkan kaki.


Rival : kamu tahu apa persamaan kamu sama tasbih?


Revalina : tidak tahu, memangnya apa persamaannya?


Rival : sama-sama ku genggam dalam doa.


"Aaaaaaaaaa," teriak Revalina salah tingkah abis, membaca pesan gombal dari Rival.


"Tok tok tok tok tok," suara ketukan pintu Dengan suara menggebu.


"Reva, kamu kenapa nak?" tanya Chesy dari balik pintu.


Sontak kedua mata terbelalak, tangan melemas sampai ponsel kini terjatuh di atas ranjang. Ia.baru sadar mulutnya sudah tidak beraturan teriak sembarangan, namun tak ingin membuat Uminya khawatir dengan cepat ia membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


"Klek," pintu kamar terbuka.


Revalina terkejut begitu pun Uminya, yang Revalina kejutkan karena melihat wajah Uminya begitu pucat ditambah kepanikan yang luar biasa.


"Kamu kenapa Reva, kenapa sampai muka mu merah begitu?" tanya Chesy makin panik.


Refleks ia memegang kedua pipinya, coba berkaca di cermin berukuran sedang yang ada di meja kamarnya.


"Ya Tuhan, aku sudah benar-benar salah tingkah," gumam Revalina lirih sambil terus memandangi wajahnya.


"Apa Reva, salah tingkah?" tanya Chesy menanyakan kembali dua kata yang samar-samar terdengar di telinganya.


Revalina terbelalak, cepat-cepat tangan kanannya memegangi gagang pintu.


"Tidak Umi serius tidak ada apa-apa aku tadi lagi nonton film horor jari teriak-teriak," jelas Revalina sambil perlahan membatasi jarak pandang Uminya dengan sedikit demi sedikit menutup pintu menyisakan tubuh dan wajahnya yang masih mengganjal pintu itu.


"Mana, ponsel mu saja buka aplikasi chating," Chesy enggan percaya.


Pintu sudah hampir tertutup tapi masih saja ia tak bisa membohongi tajamnya mata sorang Ibu, jika sudah sepeti ini saatnya memaksa otak berputar cepat mencari alasan.


"Ya kan tadi kaget Umi, jadi reflek aku pindah ke aplikasi lain," jelas Revalina sebagai upaya ngeles dari keraguan Uminya.


Malam itu tak ada menit di mana Rival tak menggombalinya sampai tak sadar ia pun tertidur membawa senyum-senyum wanita yang kena umpan buaya.


********


Di kampus, Revalina sudah telanjur tiba namun Dosen pembimbing tiba-tiba mengundurkan jadwal bimbingan 1 jam lagi. Dan sekarang baru ia sadari betapa menyedihkannya berjalan mengitari gedung ekonomi sambil mengontang-anting tote bag tanpa arah tujuan.


"Kalau bukan karena dia Dosen pembimbing ku, aku tak akan mau menunggu selama ini," gerutu Revalina kesal.


Revalina terus melangkah berharap dengan dirinya berjalan keliling kampus akan membuat 1 jam penantiannya terasa cepat, ia hanya ingin segera konsultasikan skripsinya lalu pulang sebab bantal kesayangan sudah menanti kepulangannya.


"Kenapa aku kesini, lebih baik ke kantin lebih jelas," Revalina baru sadar ia sudah berada di taman dalam kampus.


Ia pun segera berbalik arah, berputar. Numun sekelebat melihat ada Akram di sana tengah duduk seorang diri, sontak Revalina kembali berputar arah lalus begegas menemuinya.


"Tumben berangkat ke kampus pagi sekali, apa dia juga ada bimbingan. Tapi bukannya fakultas dia terkenal nggak suka masuk pagi-pagi," gumam Revalina lirih sembari terus menggerakkan tungkainya.

__ADS_1


Dari belakang nampak Akram tengah memandangi ponselnya, tangannya terus mengusap-usap kedua sisi pipinya. Karena penasaran Revalina mulai mengintip.


"Akram," panggil Revalina dengan kedua mata berkaca-kaca.


Mendapat suara Revalina yang memecah keheningannya sontak Akram kelabakan menutup ponsel lalu menengok ke belakang dengan wajah panik.


"Aku boleh duduk?" tanya Revalina dengan nafas tersendat ingus.


"Tentu boleh, biasanya kan juga boleh," jawab Akram santai sambil tersenyum.


Ia pun duduk, tertunduk malu mengingat diri sendiri sudah mulai jauh. Jauh dari misi yang sudah disepakati dari awal, akan sangat berdosanya ia jika meninggalkan Akram dalam kesedihan yang mendalam dengan melihat ia menikah dengan seseorang yang diduga telah menghabisi Rajani.


"Eh tapi ini kau sudah bimbingan atau belum?" tanya Akram dengan pandainya mengalihkan cerita.


"Belum, masih satu jam lagi," jawab Revalina.


Sadar Akram sedang mengalihkan pembicaraan, Revalina segera kembali ke arah pembicaraan seharusnya.


"Aku kesini bukan mau bahas itu," ujar Revalina mulai mencoba masuk ke dalam topik pembicaraan.


"Lalu, mau bahas apa?" tanya Akram dengan santai.


Tiba-tiba dada terasa sesak, mulut terasa kaku tak mampu memulai kata. Ia masih terbayang bulir-bulir air mata Akram yang hampir jatuh akibat hanyut dalam kesedihan mengingat sosok Rajani.


"Rajani," jawab Revalina singkat menatap kedua mata Akram.


Sontak Akram tersentak, tak menyangka bahwa ia tahu apa yang dilihatnya barusan.


"Aku hanya rindu, cuma itu saja," jelas Akram dengan bibir bergetar.


Tak pernah sebelumnya ia melihat Akram seperti ini, tak bisa dipungkiri ketulusan Akram tiada tandingannya bahkan Revalina sekalipun tak mampu menandingi. Buktinya ia sudah hanyut akan perasaan dan gombalan-gombalan maut si Dosen itu.


Makin lama rasa bersalah semakin membesar, selama ini terlalu banyak main-main bahkan mulai terbawa perasaan, tidak sungguh-sungguh dalam menjalankan misi. Ia pun juga bersalah sebab merasa Akram seperti berdiri sendiri dalam masalah ini, berupaya mati-matian untuk mengungkap kasus berbeda dengan dirinya.


"Sabar Akram, aku akan berusaha mencari bukti itu," ucap Revalina sambil mengusap bahu Akram.


Akram hanya mengangguk lemas sembari menunduk. Melihatnya seperti ini Revalina semakin tak tega, seketika hatinya mulai tergerak untuk segera menyelesaikan ini semua, sekaligus mencari kebenaran dari keragu-raguannya selama ini.

__ADS_1


"Bimbingan ku tinggal 20 menit lagi, bagaimana kalau kita bahas langkah selanjutnya sekarang," Revalina mulai menawarkan pilihan pada Akram.


Bersambung


__ADS_2